Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
drama naik lift
Suasana di dalam mall cukup ramai.
Azura dan Leon berjalan beriringan mencari barang yang mereka kan beli.
Sejak kejadian di parkiran tadi, Leon dan Azura lebih banyak diam.
Leon bahkan berkali-kali terpergok curi-curi pandang pada Azura.
Hal itu membuat Azura gugup dan canggung.
Leon memberanikan diri bertanya, sebab mereka dari tadi hanya berkeliling dan belum membeli apapun.
"Ekhem.. apa yang akan kita beli Azura?"
Azura melirik sekilas. "Belum tau, kita liat liat aja dulu"
Azura membawa Leon naik ke lantai dua. Gadis itu berhenti di depan lift yang tertutup.
Leon hanya diam di samping, tak banyak bertanya, walaupun dia merasa heran.
Mata Leon lurus menatap pintu besi di depannya, sesekali melirik Azura yang merunduk pada ponsel.
'untuk apa gadis ini berhenti? Apa hanya untuk menatap tembok?'
Lift berbunyi pelan, dan pintunya perlahan terbuka, dan keluarlah orang-orang yang baru saja dari lantai atas.
Wajah Leon shock, menatapi ruangan sempit di depannya.
Lalu menatap Azura yang nyelonong masuk begitu saja ke dalam lift tersebut.
" Kya.."
Leon langsung menarik lengannya kencang, hingga ponsel di tangan Azura terlempar lumayan jauh.
Azura meringis memegangi pergelangan tangannya, dan menatap Leon tajam.
"SAKIT!" pekiknya. "Ngapain tarik-tarik gue segala sih! Mau mati Lo?"
"Aku sedang menyelamatkan mu, jangan asal masuk, kita tidak tau apa yang akan terjadi di ruangan sempit seperti itu Azura!" Tatapan Leon serius, wajahnya datar, tapi nada pemuda itu menyiratkan kekhawatiran.
Azura berdecak kesal, menyelipkan rambutnya ke belakangan telinga, mencari-cari ponselnya yang jatuh entah kemana.
"Mana si? Lo si ah, ngapain nariknya kenceng, udahmah tangan gue sakit! Ponsel gue jatuh gak tau ke mana lagi."
Leon mendesah panjang, mata tajamnya langsung melihat ponsel Azura yang berada di bawah manekin yang di bungkus baju gaun panjang berwarna hitam.
Dia mengambilnya, menyodorkan ponselnya tepat di depan wajah Azura.
"Ini"
Azura mengambilnya dengan kasar, sekilas menatap Leon sinis.
Tanpa aba-aba, dia menyeret tangan Leon dengan sekuat tenaga untuk masuk ke dalam lift.
"Ayok masuk!"
"Tidak Azura! Aku tidak mau! Lepaskan aku!"
Leon memberontak, sebelah tangannya berpegangan pada sisi lift untuk menahan tubuhnya agar tidak masuk.
Namun, tenaga Azura lebih besar seperti dugaannya.
" Buruan!...jangan malu-maluin Leon!" Azura terus menarik sebelah tangan Leon, karna Leon berusaha untuk keluar, bahkan kini kakinya sudah merangkak keluar.
"Aku tidak mau Azura!"
"Buru enggak!"
"Aku tidak mau! Ku mohon lepaskan aku..." Leon merengek Seperti anak kecil yang di akan di culik olehnya.
Beberapa pengunjung bahkan menatap mereka dengan heran, bahkan ada yang berbisik terang-terangan di depannya.
Azura menyerah, dia melepaskan Leon sekaligus, membuat pria itu terhuyung kedepan.
Leon langsung berdiri di dekat kerumunan dengan wajah takut.
Azura ikut keluar seraya berdecak pinggang, menggigit kecil bibir bawahnya dengan kesal.
Nafasnya memburu, matanya menyipit menatap lurus pada Leon yang menelan ludah kasar dengan nafas tersengal.
Lift di belakangnya kembali tertutup mengarah ke lantai tiga.
"Gak usah di paksa neng kalo gak mau, kasian!"
"Iya, kamu jadi cewe jangan kasar-kasar! Nanti gak laku"
"Apa lagi cowo ganteng kayak gitu, sayang kalo sampe lecet-"
"DIAM!"
Azura menatap ibu-ibu disekelilingnya yang mendadak bungkam.
Mata tajamnya menghunus tepat di mata Leon, membuat pemuda itu menelan ludah kembali dengan seret. Tubuhnya tanpa sadar bergetar pelan.
Azura melangkah perlahan, dengan tatapan tak lepas dari Leon.
Menggulung lengan kemejanya dengan gerakan slowmo, bibirnya tersungging sinis.
Leon tanpa sadar mundur. Menggeleng pelan.
"Azura, aku mohon...." Lirih Leon.
Sialan! Dia tidak pernah se takut ini!
Melihat Leon, iba, salah satu pegawai perempuan langsung menghalangi Azura yang akan mendekati Leon, dia merentangkan tangannya menatap Azura dengan alis menukik.
"Di sini dilarang ada kekerasan mbak" ucap ya tegas.
Azura berhenti, tatapan tajam di berikan pada pegawai itu, yang sedikit menundukkan kepala.
Kok dia jadi di kayak lagi berbuat kriminal ya?
Dia memutar matanya, bernafas kasar. Mengangkat sebelah alis menatap Leon.
"Yaudah kalo Lo mau di sini. Gue pergi sendiri" katanya acuh. Azura berbalik badan, berjalan pada lift yang sudah terbuka lagi.
Leon membelalak panik. "Azura!" Leon segera menyusul Azura yang sudah berada di dalam lift. Tapi dia berhenti di ambang pintu masuk, Azura hanya menatap datar.
Ibu-ibu yang tadi mengomel juga ikut naik, dan menenangkan Leon sebentar.
"Gak apa-apa, ini gak bahaya kok. Buru naik, sebelum dia nyeret kamu lagi" bisiknya, dia mendelik tak suka ketika matanya bersitatap dengan Azura.
Leon menutup mata sejenak, membuang nafas pelan.
"Naik gak sih?" Ketus Azura, Leon langsung buru-buru masuk dan berdiri di samping gadis itu. "Naik lift aja kayak mau ngelepas nyawa" cibir Azura.
Jantung Leon berdetak kencang, dia takut, benar-benar takut.
Di sekelilingnya hanya ada perempuan, dan dia satu-satunya laki-laki yang ada di sana.
Leon mendongkak panik, ketika pintu lift mulai tertutup.
'tolong siapapun, selamatkan aku!' batinnya menjerit.
Apalagi ketika dia merasakan lift itu bergetar, dan kepalanya mendadak pusing. Dia menggeleng keras.
'aku tidak boleh mati di sini, aku belum menemukan jalan pulang! Tidak! Tidak boleh! Bertahanlah Leonard, aku yakin aku bisa'
Azura mencibir menatap Leon yang menderita sekali padahal ini hanya naik lift. "Norak!"
Ibu-ibu yang ada di dalam pun kompak menahan tawa mereka.
"Pantes aja di marahin, ngeselin ternyata" bisik ibu-ibu berbaju hijau.
"Iya, padahal ganteng" mereka terkikik pelan.
Azura yang menyaksikan hanya menatap malas.
Setelah drama masuk lift.
Azura mengajak leon untuk makan terlebih dulu sebelum lanjut berkeliling.
Azur makan dengan normal. sementara Leon, dia hanya mengaduk makanan di depannya tanpa minat.
Azura yang menyaksikan itu mendengus pelan, ada apalagi sih dengan pemuda di depannya.
"Kenapa lagi? Kok gak di makan?" Kata Azura, kembali menyuapkan daging ke mulutnya.
Leon bernafas kasar, mendorong piring di depannya.
"Kurasa, aku tidak lapar" ucapnya lesu.
Bukan makanan ini yang dia inginkan, tapi dia tak berani bilang, Karan Azura pasti akan memarahinya.
Azura melambatkan kunyahan nya, menatap Leon dengan dahi mengkerut. "Katanya mau siomay?" Kata Azura.
Leon langsung mengangguk cepat dengan wajah sumringah. "Ya. Aku mau!"
"Makan dulu itu, siomay ada di atas, jauh dari sini. Sebelum jajan, kita makan dulu"
Leon tersenyum lebar, mengambil kembali piring yang dia dorong tadi.
Dan memakannya dengan cepat.
Azura menggeleng pelan, laki-laki didepannya mendadak seperti Excel.
Kekanakan! Padahal dulu waktu pertama kali bertemu, laki-laki sangat petantang petenteng.
Namun bibir Azura tersenyum tipis, sepertinya, menatap wajah Leon adalah salah satu kesenangannya. Lihat saja, Azura seperti enggan berpaling dari pemuda itu.
'*lo siapa sih sebenarnya? Kenapa hidup Lo serba gak tau*' batin Azura.
Azura menopang dagunya.
Diam-diam memperhatikan Leon yang makan dengan lahap.
Bibirnya tanpa sadar ikut tersenyum.
'*Padahal dulu nyebelin*...'
'*Kenapa sekarang malah lucu ya*?'
Sedangkan Leon...
Masih sibuk memasukkan makanan ke mulut.
Sama sekali tidak sadar sedang diperhatikan.
**Bersambung**...
main2 ke krya lu juga ya kalen🙏
klo nnti smpai rmh joddy mnta ajarin pke hp buat komunikasi, ajarin google map juga sama belajar mengenal dunia modern biar cpt adaptasi , untung leon bsa beladiri