Dirga Harun purnomo Adalah seorang pengusaha muda yang memiliki beberapa buah perusahaan besar. Dalam hidup dia memiliki segalanya.harta melimpah, wajah yang tampan serta istri baru yang sangat cantik dan terkenal.
saat bulan madu ke Hawai pesawat pribadinya terjebak badai hingga mengalami kecelakaan.
Untung saja semuanya selamat karena pilot yang cekatan.
Sayangnya Dirga mengalami kebutaan Akibat matanya terkena serpihan kayu yang berasal dari ledakan pesawat.
Hidup dan perkawinannya hancur, karena istrinya meninggalkan dirinya yang cacat.
Mampukah Dirga bangkit dari keterpurukannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lara hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 berenang dipantai
Udara dingin semakin menusuk kulit, Dirga yang tak mengenakan jaket mulai mengigil kedinginan.
" Anda kedinginan tuan, sebaiknya kita segera kembali ke hotel" saran bening
Dirga tertawa sekilas,
"ya kamu benar, Dinginnya sangat menusuk,.padahal aku masih ingin berjalan-jalan."Dirga nampak kecewa.
"jika memaksakan diri tuan bisa demam" kata bening penuh perhatian
"Baiklah! mari kita kembali saja ke hotel"
Mereka berjalan beriringan Hingga tiba hotel
"Tidurlah yang nyenyak besok pagi-pagi sekali aku ingin mengajakmu berenang di pantai.." kata Dirga sebelum mereka berpisah
Bening mengiyakan
" Selamat Malam tuan Dirga, sampai bertemu besok" Ucap Bening lalu keduanya menghilang dibalik kamar masing-masing.
Bedug subuh dan suara azan bersahutan, pagi yang hening semakin syahdu karena suara Azan yang sangat merdu mengalun menyapa semua kaum muslimin meminta mereka bangun dan memulai hari kembali
Bening bergegas bangun untuk mengerjakan shalat subuh.
Sambil menunggu matahari muncul diufuk timur dia menghabiskan waktu dengan mengaji.
Selesai mengaji, Bening bersiap-siap menyongsong hari yang sudah dirancang oleh Dirga.
Dia sudah rapi memakai rok kulot dan kaos putih ringan dipadu dengan cardigan yang tak terlalu panjang, dan sendal flat.
Selesai membenahi dirinya, Bening menuju kamar Dirga.
Dia tahu jika Dirga butuh bantuan untuk menyiapkan pakaiannya.
Bening mengetuk pintu kamar beberapa kali, Terdengar suara Dirga dibalik pintu memintanya masuk.
Seperti Biasa Dirga masih memakai handuk yang melilit dipingganya, Bening mengalihkan pandangan melihat kearah koper Dirga yang sudah menganga terlihat sedikit berantakan.
Dirga salah tingkah,
" Aku membuat pakaianku berantakan" ucapnya, memperlihatkan wajah memelas minta dikasihani.
" Tidak apa, aku akan merapikannya" sahut Bening, mulai menyusun kembali baju-baju milik dirga
setelah memilih pakaian yang cukup santai untuk dikenakan Dirga
Mereka punya rencana berenang di laut pagi ini.
Dirga memakai t-shirt hijau Army serta dipadu celana cargo short dengan motif kotak-kotak.Terlihat santai tapi bergaya.
Untuk bagian kaki dia memadukan dengan sendal karet , kelihatan lebih santai Dirga juga merasa nyaman untuk berjalan di pasir.
" kita cari sarapan dulu, baru bersenang-senang." kata Dirga bersemangat.
Dirga dan Bening menuruni lift, karena dihotel tak ada restoran. terpaksa Dirga dan bening meminta bantuan Darmo mengantar mereka warung pinggir jalan diluar hotel, Karena Dirga ingin makan bubur ayam
keduanya makan dengan lahap, tak ada percakapan diantara keduanya, sepertinya Dirga sangat menikmati bubur ayam nya
Bening tak ingin mengusik
Pantai belum terlalu ramai, karena memang bukan musim liburan apalagi jam masih menunjukkan pukul delapan pagi
Dirga menyewa sebuah payung tenda sebagai tempat mereka istirahat dan menaruh barang-barang mereka.
"kau tidak takut jika kulitmu menjadi gosong dan hitam terkena matahari? Biasanya matahari di daerah pantai cenderung lebih panas" Tanya Dirga memancing.
Dirga ingat bagaimana cerewetnya Bianca dulu, Selalu mengeluh jika Dirga mengajaknya liburan kepantai.
Bianca takut kulit nya iritasi dan gosong karena pancaran sinar matahari.
Sehingga Dirga jarang sekali liburan kepantai.
"Tidak! Nanti kulitku juga normal kembali, Aku lebih memilih menikamti liburan ini daripada memikirkan hal-hal yang tidak penting." Sahut bening santai
"Oleskan sun block diseluruh kulit yang terbuka, meski kau tidak takut menjadi gosong, tetap saja paparan cahaya matahari berbahaya bagi kulit" nasehat Dirga penuh perhatian.
Bening menuruti. Membuka cardigan yang dia pakai, menyelampirkan di atas kursi lalu mulai mengoleskan Cream anti radiasi di bagian kulit yang rawan terkena sinar matahari.
" Tolong oleskan juga di kulitku" pinta Dirga.
Mengulurkan kedua lenganya ke arah Bening
Bening mengoleskan cream itu keseluruhan bagian kulit yang terlihat, wajah leher lengan dan kaki Dirga, sentuhan Bening membuat Dirga merinding.
" terima kasih, dia menelan salivanya.
Bening mengambil lebih banyak Cream meletakan diujung jari kemudian menempelkan diujung hidung Dirga. Hingga hidung Dirga dipenuhi Cream sunblock. Dia ingin mengerjai Dirga.
" Hei? apa yang kau lakukan?" sungut Dirga meraba hidungnya yang berlepotan cream sunblock
Bening tertawa terbahak-bahak, senang niatnya berhasil
" Awas kamu...!"Ancam Dirga Berusaha menangkap Bening
Bening segera berlari menjauhi Dirga.
" Ayo tuan muda tangkap aku.." mengejek Dirga sambil tertawa-tawa.
"lihat saja saat aku menangkapmu..!" Ancam Dirga dengan mata kelam.
"Kalau begitu Ayo tangkap aku tuan Dirga.." tantang Bening.
Dirga dengan susah payah terseok-seok mengejar Bening, Bening terus saja memancing Dirga mendekat dengan menyeru berkali-kali memanggil nama Dirga. Meski sudah berusaha Dirga gagal membalas Bening, kondisinya yang tidak bisa melihat membuat ia kesulitan menangkap gadis itu, Dirga geram sendiri.
Dia lalu memikirkan sebuah ide.
Buuuk!!
Dirga terjungkal diatas pasir
" Aduuuhh! sakit...!!???" Dirga merintih pelan sambil berakting memegang dadanya karena posisinya jatuh terlungkup
Bening tertegun sejenak, menghentikan tawanya, Berlari cepat ke arah Dirga tanpa curiga karena khawatir sekali.
" Tuan baik-baik saja, ada yang luka?" tanyanya cemas
Dirga tersenyum licik.
" i catch you babe.." Ucap Dirga penuh kemenangan menarik pinggang ramping Bening dan menguncinya ketat.
Bening kaget sekali, ternyata Dirga berpura-pura jatuh hanya untuk menjebaknya.
Tangan Dirga dengan lincah menggelitik.
" Ampun...Ampun Tuan..." Jerit bening geli disela tawa.
" Enak saja minta ampun, ,Berani mencari masalah denganku, rasakan sekarang kau masuk perangkap, aku tak akan melepaskanmu. hahaha..." Dirga terbahak
Nafas Bening ngos-ngosan, suaranya serak karena terus bertetiak minta dilepaskan. Dirga tak menggubris, Lemas sekali harus menahan rasa geli tiada henti akibat gelitikan Dirga di area sensitif bening, pinggangnya
"Ok, maafin aku..aku janji nggak akan melakukannya lagi." Bening memohon-mohon.
" Aku akan menghukummu...!" Dirga menyeringai jahat
Sambil membawa bening kearah pantai.
Bening cemas, firasatnya tiba-tiba tak enak, bisa menebak niat Dirga saat ini
" Ti-tidak!! jangan...!" teriak Bening penuh permohonan tapi bibirnya tertawa.
Dirga menggendong bening dengan cara memegang Pinggang dan mengangkatnya tinggi, membuat kaki Bening menggapai-gapai lalu membawa tubuh itu menjauhi tepian.
Byuuuuur!
Dirga melemparkan begitu saja tubuh Bening, hingga Bening terbenam bersama air laut.
" Rasakan gadis siluman...haha" Dirga tertawa terbahak- bahak puas sekali berhasil membuat bening basah . Bening cemberut melihat baju dan tubuh sudah basah kuyup semua.
Bening tak tinggal diam, merasa harus membalas perlakuan Dirga terhadapnya.
Bening menarik kencang tangan kekar Dirga membuat pria itu hilang keseimbangan dan jatuh terjengkang bersama gelombang air laut.
" Huek!....Asin!!" Dirga memuntahkan air laut yang tak sengaja masuk kedalam mulut dan tenggorokan nya.
Gantian bening yang menertawakan Dirga
" Satu sama tuan..".
' Kau memang gadis yang sangat nakal" umpat Dirga namun hatinya dipenuhi kebahagiaan.
Sejak menjadi buta baru kali ini Dirga merasa bisa tertawa lepas, bebas, tanpa beban.
Ritual mandi Antara bening dan Dirga penuh dengan canda tawa,.mereka saling menggoda, sesekali saling memercikan air,membuat mata perih dan mulut mereka merasakan air laut yang asin. lalu saling mengejar melampiaskan rasa kesal sambil tertawa-tawa tiada henti.
Setelah satu jam lamanya bermain air Bening mulai bosan karena kedinginan dan lelah.
Dia mengajak Dirga keluar dari air mengakhiri season mandi mereka
Dirga patuh saja dan mengekor
Mereka duduk bersama di pasir dan mulai membuat istana pasir bersama
" Perasaanku bahagia sekali, seperti kembali pada masa kanak-kanak dulu." mata Dirga terlihat menerawang.
" Syukurlah jika Tuan bahagia." sahut bening singkat karena tengah konsen membuat bulatan pada atap istana.
"Kamu membuat apa?"
Penasaran Dirga mengulurkan tangan menyentuh hasil karya bening. tangannya meraba raba diatas bangunan berbentuk Puri mini yang hampir setengah jadi.
Sehingga bentuknya menjadi hancur berantakan
" Tuan apa yang sedang anda lakukan? anda menghancurkan istanaku...!" Kata bening dengan wajah masam merasa tak terima dengan perbuatan Dirga. padahal ia sudah susah payah membuat istana itu.
Tawa dirga semakin keras,puas sekali rasanya mengerjai Bening
" Seperti anak-anak, Suka main pasir awas.. nanti cacingan" nasehatnya
" Mana ada pasir laut bikin cacingan.." protes Bening merasa omongan Dirga sangat konyol
Dirga kembali tergelak
"Sudahlah!, ayo istirahat aku ingin tidur sejenak angin disini membuat mataku mengatuk" kata Dirga
Bening tertawa, lalu berdiri dan menuntun Dirga berjalan menuju kursi panjang dibawah tenda
Dirga langsung membaringkan diri Disana
Bening tersenyum,sembari melanjutkan kegiatanya,Membuat istana pasir.
kegiatan yang membuat ia lalai, sehingga melupakan sejenak masalahnya.