Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: 1973
Kotak besi itu diletakkan di meja ruang tamu seperti benda suci.
Eve duduk di sofa, masih memakai perban di tangan. Edric duduk di seberangnya dengan buku sejarah perang terbuka di pangkuan, tetapi Eve tahu ia tidak benar-benar membaca. Ia hanya memberi ruang.
"Password-nya 1973," kata Eve.
"Restoran?"
Ia menoleh. "Kamu ingat?"
"Kamu pernah cerita semur daging Mama."
Hal-hal kecil yang ia ingat selalu membuat pertahanan Eve lemah.
Ia memutar angka. Satu. Sembilan. Tujuh. Tiga.
Klik.
Kotak terbuka.
Di dalamnya tidak ada perhiasan. Tidak ada surat cinta panjang. Hanya dua map plastik yang sudah menguning dan satu foto lama. Di foto itu, Mama Lili memeluk Eve kecil di depan papan kayu bertuliskan Restoran 1973.
Eve mengambil map pertama.
Akta Pengalihan Saham.
Ia membaca perlahan. Kalimat hukum terasa kaku, tetapi maknanya menampar jelas. Lilian Ong telah mengalihkan empat puluh persen saham PT Lim Jaya kepada Suliana Ong sebagai wali, untuk diserahkan kepada Evelina Lim saat berusia delapan belas tahun.
Di halaman berikutnya ada salinan pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM, lampiran daftar pemegang saham, dan kuitansi biaya notaris. Mama Lili tidak hanya menulis niat. Ia menutup celah dengan rapi. Bahkan ada catatan kecil dari notaris yang menyebutkan bahwa penyerahan hak tidak boleh dibatalkan sepihak oleh Gunawan Lim.
Eve sekarang dua puluh empat.
Enam tahun.
Ia membaca ulang pasal yang sama tiga kali. Nama notaris, nomor akta, tanggal pengesahan, tanda tangan Mama Lili, dan nama Suliana Ong sebagai wali. Semuanya rapi. Tidak seperti surat pribadi yang bisa diabaikan Gunawan sebagai kenangan sentimental. Ini hukum. Ini pagar yang dibangun Mama dengan tinta dan cap resmi.
Map kedua berisi SHM Rumah Lim di Pondok Indah. Nama pemiliknya bukan Gunawan Lim.
Evelina Lim.
Rumah tempat ia diusir pelan-pelan setelah Mama meninggal. Kamar yang diberikan kepada Jess. Tangga tempat ia pernah duduk menunggu Papa pulang. Semua itu secara hukum miliknya, sementara ia sendiri pernah merasa seperti tamu yang tidak diinginkan.
Dadanya sakit oleh ironi.
Eve menatap huruf-huruf itu sampai kabur.
"Mama tahu," bisiknya. "Mama tahu Papa tidak bisa dipercaya."
Edric pindah duduk di sampingnya. Tidak memeluk dulu. Menunggu.
Eve menekan dokumen ke dada, lalu tangisnya pecah tanpa suara. Mama Lili sudah pergi bertahun-tahun, tetapi ternyata masih menaruh pagar di sekelilingnya, diam-diam, jauh sebelum Eve mengerti dunia bisa sekejam ini.
Edric akhirnya merangkulnya.
"Dia melindungimu."
"Aku bahkan tidak tahu."
"Sekarang kamu tahu."
Setelah tangisnya reda, Eve mengusap wajah. "Aku mau ke Restoran 1973."
"Sekarang?"
"Sekarang."
Kota Tua pada sore hari berwarna keemasan. Jalanan sempit, bangunan kolonial tua, suara sepeda dan pedagang kaki lima bercampur dengan klakson jauh. Restoran 1973 bersembunyi di gang kecil dengan papan kayu tua dan lampion merah pudar.
Begitu pintu terbuka, aroma kecap, bawang putih, dan kaldu membawa Eve pulang ke usia delapan tahun.
"Loh, Eve?" Seorang perempuan paruh baya di balik kasir menatapnya. "Sudah lama sekali. Terakhir kamu datang sama Mama kamu..."
Kalimat itu berhenti saat melihat mata Eve merah.
"Meja delapan masih ada?" tanya Eve.
"Selalu."
Meja delapan berada di dekat jendela. Di sudut permukaannya, ada goresan kecil berbentuk E. Di sebelahnya, L. Eve menyentuh dua huruf itu dengan ujung jari.
"Aku yang mengukir E pakai kunci," katanya pada Edric. "Mama bukannya marah, malah menambah L. Katanya supaya mejanya tahu kami datang berdua."
Kursi di sisi kanan meja sedikit lebih rendah daripada yang lain. Eve ingat pernah berdiri di atasnya untuk melihat dapur, lalu hampir jatuh karena ingin tahu kenapa api wajan bisa setinggi itu. Mama Lili menariknya turun sambil tertawa, lalu memesan es teh manis ekstra karena Eve menangis bukan karena takut, melainkan karena malu dilihat pelayan.
Pelayan lama membawa semangkuk sup ikan jahe tanpa diminta. "Dulu Mama kamu selalu pesan ini kalau kamu pilek."
Eve menatap mangkuk itu. Uapnya naik, membawa aroma jahe yang menusuk mata. Ia tidak sedang pilek, tetapi tenggorokannya langsung terasa penuh.
Edric mengambil sendok kecil dan meletakkannya di dekat tangan Eve yang tidak terluka. Tidak memaksa makan, hanya menyiapkan. Gerakan sederhana itu membuat pemilik restoran menatap mereka dengan senyum diam.
Edric duduk di depannya, diam mendengarkan.
Eve bercerita tentang Mama yang mengajarinya memakai sumpit, tentang ulang tahun sederhana dengan mie panjang umur, tentang kalimat Mama bahwa Eve berarti awal baru. Semakin banyak ia bicara, semakin ringan napasnya.
Di tengah makan, Jerry Oei muncul dari arah belakang sambil membawa piring.
Ia berhenti.
Edric menatapnya.
Jerry tersenyum terlalu cepat. "Ah, Edric. Kebetulan. Aku juga makan di sini."
Manajer restoran datang tergopoh. "Pak Asis..."
Jerry menoleh dengan mata yang bisa membekukan sup.
Manajer menelan ludah. "Pak... Jerry. Meja Anda sudah siap."
Eve mengangkat alis.
"Pak Asis apa?"
Jerry tertawa kecil, kering. "Asisten acara. Saya sering bantu event restoran ini."
"Bukannya kamu bos Edric?"
"Bos juga bisa bantu acara."
Edric minum teh dengan wajah datar. Eve menatap mereka bergantian. Ada yang aneh, tetapi hari ini hatinya terlalu penuh dengan Mama untuk mengejar kebohongan itu.
Saat keluar dari restoran, matahari hampir tenggelam.
Eve berhenti di depan pintu. "Aku pernah dengar CEO Kho Group itu jelek dan sombong."
Langkah Edric tersendat.
"Siapa bilang?"
"Teman kantor. Katanya karena orangnya misterius, pasti jelek. Kalau tampan pasti sering muncul."
"Logika yang buruk."
"Mungkin. Tapi aku memang tidak tertarik orang kaya." Eve menoleh padanya, senyum kecil muncul. "Aku lebih suka kamu. Sederhana. Jujur."
Edric diam tiga detik.
Jerry, yang masih bisa mendengar dari jarak aman, menutup wajah dengan dua tangan. Ia pernah melihat Edric memimpin rapat akuisisi bernilai triliunan rupiah tanpa berkedip. Ia pernah melihat direktur senior berkeringat hanya karena Edric menatap angka yang salah. Namun malam ini, bosnya hampir kalah oleh satu kalimat sederhana dari istrinya sendiri.
"Mungkin CEO itu sebenarnya tampan dan ramah."
Eve tertawa. "Kok kamu membela dia?"
"Saya hanya membela prinsip bahwa rumor tidak selalu benar."
"Kamu terdengar tersinggung."
"Saya peduli pada keadilan untuk pria yang tidak hadir."
"Baik sekali kamu pada pria kaya misterius itu."
"Saya orangnya memang murah hati."
Eve tertawa lebih lepas. Edric menyimpan wajah datar dengan susah payah. Di seberang ruangan, Jerry menunduk di balik menu, bahunya bergetar karena menahan tawa.
"Baiklah. Kalau suatu hari aku bertemu dia, aku akan cek sendiri."
Edric membuka pintu mobil untuknya. "Semoga kamu tidak terlalu kecewa."
Eve masuk tanpa memahami maksudnya.
Di luar, Edric menatap papan Restoran 1973, lalu dokumen di tas Eve. Mama Lili sudah menyiapkan senjata untuk putrinya.
Sekarang tinggal memastikan Eve berani menggunakannya.