NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 004

Posisi

"Kamu mirip seseorang."

Kalimat Oma Mei menggantung di ruang keluarga utama seperti asap hio yang belum selesai naik.

Seline tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa menatap wanita tua itu, merasakan gelang giok dingin di pergelangan tangannya, sementara liontin lama di balik bajunya seolah ikut menjadi lebih berat.

Tante Chen lebih dulu tertawa kecil.

"Oma mungkin teringat teman lama," katanya. "Wajah anak muda sekarang memang banyak yang mirip."

Oma Mei tidak membantah. Ia hanya menarik kembali tangannya dari pipi Seline, lalu mengusap permukaan gelang yang baru ia pasangkan.

"Mungkin," ucapnya pelan. "Nanti malam ikut makan malam keluarga."

Seline menunduk. "Baik, Oma."

Saat keluar dari ruang utama, Seline masih merasa pipinya menyimpan sentuhan Oma Mei. Jessica berjalan di sebelahnya dengan langkah ringan, seolah tidak ada badai kecil yang baru saja lewat.

"Jangan terlalu dipikirkan," kata Jessica. "Oma kadang memang suka tiba-tiba mengatakan hal yang bikin orang tidak bisa tidur."

Seline menoleh. "Apa Oma sering bilang seseorang mirip orang lain?"

"Tidak juga." Jessica menyeringai kecil. "Makanya aku bilang, jangan terlalu dipikirkan."

Jawaban itu justru membuat Seline semakin tidak bisa berhenti memikirkannya.

Malamnya, Seline baru mengerti mengapa Tante Chen berkata rumah ini punya banyak aturan. Makan malam keluarga bukan sekadar makan. Itu seperti rapat tanpa map, perang tanpa suara keras.

Meja makan panjang di ruang utama sudah ditata dengan piring porselen putih dan sumpit perak. Di kepala meja duduk Oma Mei. Di sisi kanan dekat Oma, William Hartono, ayah Kevin, duduk dengan wajah tenang seorang pemimpin keluarga. Di sampingnya Lilian Hartono, anggun dan rapi. Kevin duduk tidak jauh dari mereka, punggung tegak, ekspresinya dingin seperti biasa.

Di sisi lain ada Om Richard, Tante Chen, Wilson, Michelle, Jessica, dan beberapa anggota keluarga lain yang Seline baru dengar namanya sore itu. Om Steven dan Tante Liu duduk lebih jauh, bersama Vivian yang tampak sangat nyaman dalam dress lavendernya. Jason dan Ryan berada di ujung yang lebih muda, tetapi posisi mereka tetap jelas lebih dekat ke pusat daripada Seline.

Seline dan Darren ditempatkan di bagian samping, tidak paling ujung, tetapi cukup jauh untuk membuatnya paham bahwa gelang dari Oma tidak serta-merta mengubah tempat duduknya.

"Darren, jangan tegang begitu," bisik Jessica dari seberang meja. "Nanti sendokmu patah."

Darren langsung melonggarkan genggaman. Wajahnya merah.

Seline menahan senyum kecil. "Terima kasih, Jess."

Vivian melirik mereka. "Jessica memang baik pada semua orang. Bahkan pada tamu baru."

Seline pura-pura tidak mendengar. Ia mengambil sayur secukupnya, tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit. Ia belajar dari pagi tadi bahwa di rumah ini, bahkan cara seseorang mengisi piring bisa menjadi bahan penilaian.

Percakapan di meja bergerak dari rencana acara Michelle, jadwal rapat William, sampai pembukaan hotel baru milik divisi Om Richard. Seline tidak ikut bicara. Ia mendengar.

William berbicara sedikit, tetapi semua orang mendengarkan. Om Richard lebih banyak tertawa dan mencari jalan tengah. Tante Chen pandai menyelipkan pujian untuk suaminya sendiri. Tante Liu membela kepentingan cabang keluarganya dengan kalimat lembut. Sementara Kevin hampir tidak mengatakan apa-apa.

Namun anehnya, justru diamnya Kevin membuat orang lain berhati-hati.

Ketika Om Steven menyebut angka penjualan ritel yang menurun, William menoleh pada Kevin.

"Menurutmu?"

Kevin meletakkan sumpitnya. "Tutup dua gerai yang rugi. Pindahkan stok ke online. Jangan tunggu kuartal berikutnya."

Hanya tiga kalimat.

Om Steven tersenyum kaku. "Secepat itu?"

"Kalau lambat, ruginya lebih besar."

Tidak ada yang membantah.

Seline menunduk ke piringnya, tetapi telinganya menangkap segalanya. Pria yang kemarin hanya melihatnya seperti benda asing ternyata bisa membuat satu meja besar diam hanya dengan suara rendah.

Oma Mei tiba-tiba berkata, "Kevin, Seline baru datang dari Surabaya. Kemarin kamu yang menyuruh satpam membiarkan dia masuk?"

Semua mata bergerak.

Seline merasa sendok di tangannya menjadi terlalu licin.

Kevin menoleh sedikit ke arah Oma. "Gerbang sedang terbuka. Mereka menghalangi jalan."

Jawaban itu datar, nyaris tidak peduli.

Darren mengangkat kepala, tampak ingin membantah bahwa mereka tidak menghalangi apa pun. Seline cepat menyentuh lututnya di bawah meja.

Oma Mei tersenyum tipis. "Tetap saja, kamu membantu."

Kevin mengambil gelas air. "Kalau Oma mau menyebut itu membantu."

Di seberang, Jason tertawa kecil. "Ko Kevin memang tidak bisa bilang baik-baik."

Kevin melirik adiknya. Jason langsung pura-pura sibuk mengambil ayam.

Ketegangan kecil itu membuat beberapa orang tersenyum. Untuk sesaat, suasana meja terasa lebih ringan. Bahkan Lilian melihat Seline dan berkata dengan suara halus, "Kalau ada yang kurang nyaman di kamar, bilang pada Bi Zheng."

Seline segera menjawab, "Kamar kami nyaman, Tante Lilian. Terima kasih."

Tante Chen menambahkan, "Saya sudah pastikan mereka ditempatkan dengan baik."

Oma Mei hanya mengangguk, tetapi matanya sempat turun pada gelang giok di tangan Seline. Semua orang yang melihat gerakan itu tampak memahami sesuatu tanpa perlu dijelaskan.

Setelah makan malam selesai, anggota keluarga mulai bubar. Seline membantu Darren berdiri, berniat kembali ke kamar sebelum melakukan kesalahan yang tidak ia sadari.

Di dekat pintu, Wilson Hartono berhenti ketika berpapasan dengannya. Wajahnya lebih dingin daripada Jason, tetapi tidak sekeras Kevin.

"Kamu adiknya Tante Felicia?" tanyanya.

"Iya, Ko Wilson."

"Kalau butuh sesuatu, minta pada pelayan. Jangan berkeliaran sendiri."

Nada itu bukan nasihat. Lebih dekat pada peringatan.

Seline menunduk. "Baik."

Wilson pergi tanpa menunggu jawaban lain.

Darren mendengus pelan. "Semua orang di sini hobi melarang."

"Darren."

"Aku cuma bilang pelan."

Seline baru akan menjawab ketika ia melihat Kevin keluar dari ruang makan lebih dulu. Seorang pria berkemeja gelap sudah menunggu di dekat koridor. Tubuhnya tegap, wajahnya profesional, membawa map tipis di tangan.

"Pak Kevin," ucap pria itu rendah.

Kevin berhenti.

Pria itu mendekat dan membisikkan sesuatu di dekat telinganya. Seline tidak mendengar kata-katanya, tetapi ia melihat perubahan kecil yang hampir tidak terlihat. Jari Kevin yang memegang ponsel berhenti bergerak.

Langkahnya tertahan.

Untuk sesaat, Seline mengira Kevin akan menoleh.

Namun Kevin hanya berdiri diam, punggungnya tetap menghadap ruang makan, seolah kabar yang baru ia dengar jauh lebih penting daripada siapa pun di belakangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!