Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : Badai di perbatasan pengunungan Frostbite
Kereta kuda berlogo mawar emas Oakhaven terguncang keras saat roda-rodanya yang dilapisi besi melintasi jalanan berbatu yang terjal dan menanjak. Udara hangat dan harum bunga dataran rendah khas Veridia telah lama lenyap di belakang mereka, digantikan oleh embus angin pegunungan yang menusuk hingga ke tulang. Mereka kini telah resmi memasuki wilayah netral Pegunungan Frostbite—sebuah labirin tebing batu dan jurang curam yang menjadi batas alami pemisah antara Oakhaven dan dataran beku Kerajaan Valenica.
Di dalam kereta yang temaram, Putri Aurelia merapatkan jubah wol tebal berbulu serigala putih ke tubuhnya. Meskipun pemanas portabel berbasis batu sihir diletakkan di lantai kereta, hawa dingin tetap berhasil menyusup melalui celah-celah jendela kayu. Aurelia menatap jemarinya yang mulai memucat, mencoba mengusir rasa cemas yang terus menggerogoti hatinya sejak mereka meninggalkan ibu kota dua hari lalu.
Di hadapannya, duduk Pangeran Cassian dengan ketenangan yang hampir membuat Aurelia jengkel. Pria itu melepaskan jubah bulunya, hanya mengenakan kemeja hitam ketat berlapis zirah ringan pada dadanya. Dengan gerakan ritmis dan santai, ia sedang membersihkan sebilah belati perak berukir lambang elang utara menggunakan selembar kain sutra. Cassian tampak sama sekali tidak terpengaruh oleh suhu ekstrem yang sanggup membekukan napas manusia biasa ini.
"Kita akan mencapai pos perbatasan pertama Valenica sebelum matahari terbenam sepenuhnya," ujar Cassian tanpa mengalihkan pandangannya dari bilah belati yang berkilau tajam. "Namun, jangan lengah. Jalur tebing di depan adalah tempat paling rawan bagi para penyamun... atau mereka yang berpura-pura menjadi penyamun."
Aurelia mengalihkan pandangannya keluar jendela, menyaksikan kabut tebal berwarna abu-abu yang mulai turun menyelimuti hutan pohon pinus purba di sisi jalan. Batang-batang pohon itu berdiri kaku seperti barisan prajurit mati. "Apakah menurutmu pamanku benar-benar akan bertindak sejauh ini? Mengirim pembunuh ke wilayah netral yang dijaga ketat?"
"Duke Valerius kehilangan momentum terbaiknya begitu kita memutuskan untuk meninggalkan istana Oakhaven lebih cepat dari jadwal," Cassian mendongak, sepasang mata abu-abunya yang sewarna badai kini mengunci pandangan Aurelia. Tatapannya begitu tajam, seolah mampu membaca ketakutan terdalam sang Putri. "Jika dia ingin menghentikan pernikahan politik ini dan merebut takhta dari ayahmu yang sekarat, membunuhmu di jalanan sepi ini dan mengambinghitamkan bandit lokal adalah pilihan paling bersih serta tak berisiko yang dia miliki."
Tepat setelah Cassian menyelesaikan kalimatnya, takdir buruk seolah langsung menjawab ucapan tersebut. Kereta kuda mendadak berhenti dengan sentakan yang sangat hebat hingga membuat Aurelia hampir terlempar dari kursinya jika Cassian tidak dengan cepat menangkap lengannya.
Dari luar, terdengar pekikan kuda-kuda jantan yang panik, disusul oleh suara teriakan para pengawal dan denting logam pedang yang saling beradu dengan bising. Suasana damai pegunungan seketika pecah menjadi medan pertempuran yang kacau.
"Tetap di posisi rendah dan jangan keluar," perintah Cassian. Suaranya tidak lagi santai; nada bicaranya berubah menjadi dingin, tegas, dan penuh otoritas mutlak seorang panglima perang. Dalam satu gerakan yang nyaris tak terlihat oleh mata, ia menyarungkan belatinya dan menarik pedang panjang berhulu hitam dari sarungnya di lantai kereta.
Namun, sebelum Cassian sempat membuka pintu kereta untuk memimpin pasukannya, benturan keras menghantam bagian atas kereta. Atap kayu jati yang kokoh itu hancur berantakan menjadi serpihan tajam. Dua orang pria bertopeng hitam dengan pakaian zirah ringkas melompat turun ke dalam kabin kereta, langsung menghunuskan belati panjang yang berlumur racun hijau pekat ke arah dada Aurelia.
Cassian bergerak bagai kilat yang menyambar di malam hari. Ia memutar tubuhnya, menangkis serangan penyerang pertama dengan bilah pedangnya. Benturan dua logam itu memicu percikan api di ruang sempit kabin yang kini dipenuhi debu kayu. Memanfaatkan momentum, tangan kiri Cassian yang bebas mencengkeram kerah zirah penyerang kedua, mengangkat tubuh pria itu, dan melemparkannya keluar melalui jendela kereta yang hancur hingga terdengar suara berdebam di atas tanah berbatu.
Aurelia yang terdesak di sudut kursi tidak tinggal diam begitu saja. Ketika penyerang yang pertama kali ditangkis Cassian mencoba merangkak kembali dan mengarahkan belati cadangan ke arah pergelangan kaki sang Pangeran yang sedang lengah, tangan Aurelia bergerak secara insting. Ia meraih lentera besi berat berisi minyak menyala yang tergantung di dinding kereta, lalu menghantamkannya sekuat tenaga ke bagian belakang kepala pria bertopeng itu.
PRAKK!
Lentera itu pecah, memercikkan minyak panas dan membuat pria bertopeng itu melolong kesakitan sebelum akhirnya ambruk tak sadarkan diri di lantai kereta yang mulai terbakar kecil.
Cassian melirik ke belakang sekilas, menatap pria yang pingsan lalu beralih pada Aurelia yang masih memegang sisa gagang lentera dengan napas terengah-engah. Sudut bibir sang Pangeran terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang berbahaya sekaligus penuh apresiasi. "Kerja bagus, Putri Oakhaven. Ternyata mawar ini benar-benar memiliki duri."
Dengan satu hentakan pedang yang presisi untuk memastikan penyerang di bawahnya tidak bangun lagi, Cassian kemudian melompat keluar dari atap kereta yang hancur. Ia bergabung ke tengah badai salju yang mulai turun, membantu sisa prajurit Valenica memburu para pembunuh bayaran yang kian terdesak.
Aurelia menatap punggung tegap Cassian yang mulai menjauh di antara kabut dan serpihan salju yang menghapus jejak darah di atas tanah beku. Di tengah kengerian itu, Aurelia menyadari satu hal: perjalanan menuju Utara ini baru saja dimulai, dan ia harus terus mengasah durinya jika ingin tetap hidup di sisi sang serigala Valenica.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"