Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005
Foto itu memenuhi layar tablet Ethan.
Seorang bocah laki-laki berdiri di taman Hartono Estate, mengenakan kemeja putih kecil dan rompi rajut abu-abu. Wajahnya sama persis dengan Ethan. Bentuk mata, garis hidung, bibir kecil yang tertutup rapat, bahkan cara ia berdiri dengan bahu sedikit tegang.
Hanya matanya yang berbeda.
Ethan selalu punya mata hidup, penuh ide nakal yang bisa membuat server orang dewasa menangis. Bocah di foto itu memiliki mata yang terlalu sepi untuk anak lima tahun.
Keira duduk di sofa hotel suite tanpa berkedip. Tiffany berdiri di sampingnya, memeluk boneka kelinci sampai telinganya tertekuk.
"Namanya Darren Hartono," kata Ethan. "Umur lima tahun. Tinggal di Hartono Estate. Terdaftar sebagai anak Kevin Hartono."
Keira mengulurkan tangan, tetapi jarinya berhenti sebelum menyentuh layar. Ia takut jika disentuh, foto itu akan hilang.
"Kevin Hartono mengadopsinya?"
"Data resmi bilang begitu." Ethan menggeser layar. "Catatan panti asuhan privat. Tapi aneh, Mommy. Banyak bagian dikunci. Nama ibu kosong. Nama ayah biologis kosong. Tanggal masuknya... dekat dengan tanggal kita lahir."
Tiffany menatap Keira. "Mommy, itu Koko?"
Pertanyaan itu sederhana. Jawabannya tidak.
Keira mengingat malam setelah melahirkan. Tubuhnya lemah, kepala masih berat, suara bayi menangis bertumpuk di telinga. Ia ingat diberi tahu salah satu anaknya tidak selamat, lalu beberapa hari kemudian perawat yang membantunya menghilang. Selama lima tahun, luka itu hidup seperti lubang di dada.
Jika Darren benar anaknya, berarti anak itu tidak mati.
Berarti seseorang mencurinya.
"Mommy belum bisa memastikan," kata Keira, tetapi suaranya sudah bergetar.
Ethan menaikkan dagu. "Aku bisa masuk ke Hartono Estate."
Keira langsung menatapnya. "Tidak."
"Aku cuma bilang bisa."
"Eth."
"Mommy, wajahku sama dengan dia. Kalau aku pakai baju yang mirip, aku bisa jadi Darren. Aku masuk, cari bukti, ajak dia keluar, selesai."
Tiffany mengangkat tangan seperti di kelas. "Tiffi bisa jadi penyanyi pengalih perhatian."
"Tidak ada yang jadi apa-apa." Keira menarik napas. "Hartono Estate bukan taman bermain."
Ethan cemberut. "Tapi itu rumah Koko."
Kalimat itu membuat Keira diam.
Di layar, Darren berdiri sendirian di taman yang terlalu luas. Tidak ada anak lain. Tidak ada ibu. Hanya Pak Hadi berdiri beberapa langkah di belakang, memegang jaket kecil.
"Kita akan cari cara yang benar," kata Keira akhirnya. "Mommy tidak akan kehilangan kalian karena terburu-buru."
Ia membuka laci meja hotel dan mengeluarkan amplop lama yang selalu ia bawa ke mana pun. Di dalamnya ada foto USG yang sudah pudar, gelang bayi dari rumah sakit Singapura, dan catatan kecil berisi berat lahir Ethan serta Tiffany. Ada satu baris kosong yang tidak pernah berani ia isi.
Tiffany menyentuh amplop itu. "Ini punya Koko yang hilang?"
Keira mengangguk. "Mommy tidak pernah tahu namanya. Jadi Mommy cuma menulis 'Koko'."
Ethan yang biasanya banyak bicara mendadak diam. Ia menatap baris kosong itu, lalu menatap foto Darren di layar.
"Kalau dia benar Koko," katanya pelan, "kita tulis Ren di sana?"
Keira menutup amplop dengan jari gemetar. "Setelah Mommy yakin. Setelah tidak ada orang yang bisa mengambilnya lagi."
Sementara itu, jauh di Hartono Estate, Darren duduk di dekat jendela kamar. Di luar, taman menyala lembut oleh lampu malam. Mainan mahal tersusun rapi di rak, tetapi tidak ada yang disentuh. Di pangkuannya ada mobil-mobilan hitam yang ia pegang sejak kecil.
Pak Hadi mengetuk pintu pelan. "Tuan muda, makan malam sudah siap."
Darren tidak menjawab.
Pak Hadi menghela napas. Ia sudah biasa. Bocah itu tidak nakal. Tidak pernah membuat keributan. Justru terlalu diam, terlalu mudah diatur, sampai kadang membuat hati orang tua seperti Pak Hadi nyeri.
Di ruang kerja bawah, Kevin baru pulang dari kantor. Jasnya masih melekat, tetapi dasinya sudah longgar.
"Dia makan?" tanya Kevin.
Pak Hadi menunduk. "Sedikit, Tuan Muda. Hari ini lebih diam dari biasanya."
Kevin melepas jam tangannya. "Sejak bandara?"
"Sepertinya begitu."
Kevin menatap jendela lantai dua. Bayangan Darren tampak kecil di balik kaca.
"Ada hasil dari Feng?"
"Belum lengkap, Tuan Muda."
Kevin tidak suka kata belum. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak mendesak. Perempuan di bandara itu mengganggu pikirannya bukan karena ia lolos dari pengejaran. Banyak orang bisa lolos satu kali. Yang mengganggunya adalah cara Darren memandangnya.
Seperti anak yang pulang.
Di hotel suite, Tiffany duduk di lantai dengan ponsel hotel yang disambungkan Ethan ke jalur luar.
"Tiffi, jangan asal bicara," bisik Ethan.
"Aku tahu."
"Kalau ada orang tua jawab, tutup."
"Aku tahu."
"Kalau ada sistem rekam..."
"Koko Eth, Tiffi bukan bayi."
Ethan membuka mulut, lalu menutupnya. "Kamu lima tahun."
"Kamu juga."
Sebelum Ethan bisa membalas, sambungan tersambung.
Di Hartono Estate, telepon meja dekat ruang kecil Darren berbunyi. Pak Hadi sedang turun ke dapur. Darren menatap telepon itu lama, lalu mengangkatnya.
"Halo?" Suara Tiffany terdengar manis dan hati-hati. "Ini rumah Koko Darren?"
Darren memegang gagang telepon lebih erat.
Tidak banyak orang menyebutnya Koko.
"Siapa?" tanyanya.
Di hotel, Tiffany langsung menutup mulut. Ethan membeku. Keira yang sedang berdiri di dekat jendela menoleh cepat.
Darren bicara.
Tiffany berbisik, "Aku Tiffi."
Hening.
"Kamu siapa?" tanya Darren lagi, kali ini lebih pelan.
Tiffany menatap Keira, meminta izin tanpa suara. Keira menggeleng, tetapi terlalu terlambat untuk menghentikan sesuatu yang sudah dibuka oleh darah.
"Aku..." Tiffany menelan ludah. "Aku adik."
Di Hartono Estate, Darren tidak bergerak. Kata adik masuk ke dalam dadanya seperti cahaya kecil dari celah pintu.
"Adik?" ulangnya.
Ethan mengambil ponsel dari Tiffany. "Darren, dengar. Aku Ethan. Wajahku sama dengan kamu."
Darren menutup mata sebentar.
Ia tahu.
Ia melihat anak itu di bandara, hanya sebentar, tetapi cukup untuk membuat dunianya tidak lagi sama.
"Mommy?" tanyanya nyaris tanpa suara.
Keira mencengkeram ujung meja. Air matanya langsung naik.
Ethan menatap ibunya, lalu menjawab dengan suara yang lebih lembut daripada biasanya.
"Mommy ada. Dia mencari kamu."
Telepon di tangan Darren bergetar karena genggamannya terlalu kuat.
Langkah Pak Hadi terdengar dari lorong. Darren panik untuk pertama kalinya.
"Aku harus pergi."
"Tunggu," kata Ethan cepat. "Kami akan cari cara bertemu."
Darren menatap pintu, lalu berbisik, "Aku mau mencari Pretty Mommy."
Sambungan terputus.
Di Hartono Estate, Darren meletakkan gagang telepon dengan sangat hati-hati. Lalu, untuk pertama kalinya sejak lama, sudut bibirnya naik sedikit.
"Pretty Mommy," bisiknya.
Di hotel suite, Keira menutup wajah dengan kedua tangan. Tiffany memeluk lututnya. Ethan menatap layar, matanya menyala dengan tekad.
"Mommy," katanya, "sekarang kita punya nomor rumahnya."
Keira menurunkan tangan. Di wajahnya masih ada air mata, tetapi suaranya sudah kembali tenang.
"Dan mulai sekarang, tidak ada yang bertindak tanpa izin Mommy."
Ethan mengangkat dua tangan kecil. "Aku janji."
Tiffany ikut mengangkat tangan. "Tiffi juga."
Keira menatap foto Darren sekali lagi.
Lima tahun ia mencari bayangan.
Malam itu, bayangan itu akhirnya punya suara.
Dan suara itu memanggilnya Mommy.