Follow ig:@nafsie
Tomy dan jeny adalah sepasang sahabat dari kecil. Meskipun perbedaan usia mereka cukup jauh namun itu tidak menjadi penghalang kelekatan hubungan persahabatan mereka.
Tomy selalu baik dan bertanggung jawab menjaga dan melindungi jeny. Hal itu yang membuat jeny nyaman dan tidak bisa tanpa tomy.
Suatu ketika tiba tiba orang tua mereka mendadak menjodohkan mereka. Baik jeny maupun tomy mereka sama sama tidak bisa menolak. Itu karena kepatuhan mereka pada orang tua nya masing masing juga karna keadaan papah tomy (Pak cakra).
Merekapun akhir nya menikah.
Namun belum genap seminggu pernikahan mereka tiba tiba tomy memutuskan pergi ke belanda untuk waktu yang tidak bisa di tentukan.
5 Tahun jeny melalui hari harinya tanpa tomy di sisinya. Tanpa komunikasi juga kejelasan tentang hubungan mereka hingga akhir nya jeny mendatangi mertuanya dan mengatakan ingin bercerai.
Saat itu tomy muncul dan menolak dengan tegas perceraian yang di inginkan jeny.
“Dengar baik baik jeny. Mulai saat ini aku akan selalu ada di samping kamu. Tidak ada seorangpun yang bisa memutus pernikahan kita, Kecuali aku.” Tegas nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Menjelang malam jeny keluar dari ruangan nya. Gadis berambut panjang yang masih mengenakan jas putih khas dokter nya itu melangkah gontai di koridor rumah sakit. Aktivitas hari ini cukup menguras tenaga juga pikiran nya. Apa lagi di tambah dengan kehadiran tiba tiba tomy.
Deringan ponsel membuat jeny menghela nafas. Gadis itu sudah tau siapa yang menelpon nya.
Jeny berhenti melangkah kemudian membuka tas nya dan meraih benda pipih yang terus berdering itu.
“Nomor baru?” Gumam jeny mengeryit.
Penasaran jeny pun segera mengangkat telpon dari nomer yang tidak di kenal nya itu.
“Halo..”
“Jen.. Ini aku lorenzo. Kamu udah pulang belum?” Tanya suara di seberang yang ternyata adalah lorenzo.
“Kak.. Kirain siapa. Ini aku udah mau pulang.” Senyum gadis itu sambil melanjutkan kembali langkah nya.
“Aku jemput ya..” Kata lorenzo menawarkan.
“Bo..” Jeny menggantungkan jawaban nya karna kedua matanya menangkap sosok tinggi tegap tomy yang sedang menatap nya.
“Jen.. Gimana? Mau nggak?” Tanya lorenzo dari seberang telpon.
“Eh.. Nggak usah deh kak kayanya. Aku di jemput soalnya. Udah dulu ya kak..”
Jeny langsung memutuskan sambungan telpon nya. Jeny sedang tidak ingin berdebat dengan tomy. Gadis itu menghela nafas kemudian kembali melangkah ke arah dimana tomy berada.
“Telpon siapa?” Tanya tomy begitu jeny sudah berada di samping nya.
Jeny berhenti melangkah. Gadis itu menoleh dan menggelengkan kepala menatap heran pada tomy yang begitu ingin tau dengan siapa dirinya berbicara di telpon tadi.
Malas menanggapi suaminya, jeny pun kembali melangkahkan kakinya melewati pria itu. Jeny tau apa tujuan pria itu datang.
“Kalau suami nanya tuh di jawab..” Kata tomy mengikuti langkah jeny dari belakang.
Jeny tetap saja diam.
Malas jika harus berdebat lagi dengan tomy. Toh akhir nya dirinya juga yang kalah dan akhir nya mengalah.
Merasa geram, tomy pun meraih pergelangan tangan jeny membuat langkah dokter muda dan cantik itu berhenti.
“Lepasin aku tom.. Aku capek..” Ucap jeny tanpa menoleh pada tomy yang berada di belakang nya.
Tomy semakin geram mendengar nya. Rahang nya semakin mengeras melihat jeny yang seolah menganggap nya adalah orang lain.
“Jawab aku, siapa yang tadi kamu telpon.” Katanya penuh dengan penekanan di setiap kalimat nya.
Jeny memejamkan kedua matanya sesaat kemudian membukanya lagi. Dengan pelan jeny membalikan tubuh nya menatap wajah tampan tomy sendu. Jeny sangat merindukan sosok tomy yang dulu. Bukan yang egois seperti sekarang.
“Kamu kenapa sih tom?” Tanya jeny sedih.
“Aku tanya sekali lagi jeny. Siapa yang tadi kamu telpon.”
Jeny menghela nafas.
Tomy bahkan sudah tidak lagi memperdulikan bagaimana perasaan nya.
“Kak lorenzo. Dan bukan aku yang telpon. Tapi dia.” Jawab jeny melengos.
Jeny berusaha menyembunyikan air mata yang sudah memenuhi kelopak matanya. Hatinya berdenyut ngilu melihat perubahan derastis sahabat sekaligus suaminya.
“Udah tau kan? Tolong lepasin tangan aku, Aku mau pulang.” Pelan jeny.
“Kamu pulang sama aku.”
Belum sempat jeny menolak, tomy sudah menarik pergelangan tangan nya dan membawanya melangkah menuju mobil mewah nya.
Jeny hanya bisa menghela nafas dan menurut untuk saat ini. Tenaga juga pikiran nya sudah cukup terkuras hari ini. Dan jeny tidak ingin lagi membuang sisa tenaga nya hanya untuk berdebat dengan tomy.
Tomy membuka pintu mobil nya dan menuntun jeny masuk ke dalam. Setelah itu tomy menutup pelan pintu mobil dan ikut masuk ke dalam kendaraan beroda 4 mewah nya.
“Udah makan?” Tanya tomy ketika hendak menghidupkan mesin mobil nya.
“Udah.” Jawab jeny singkat.
Tomy mengangguk.
Dengan kecepatan sedang pria itu melajukan mobil nya. Mungkin untuk saat ini jeny nya diam. Namun tidak untuk 10 menit selanjut nya.
Jeny pasti akan marah karna tomy membawanya pulang ke rumah yang jeny sendiri tidak tau kapan tomy membelinya.
5 Menit jeny terdiam hingga akhir nya menyadari jalanan yang di lewati nya berlawanan arah dengan jalan yang biasa di lewatinya menuju rumah kedua orang tuanya.
“Tomy, aku mau pulang.” Katanya menoleh dan menatap kesal pada suaminya.
Tomy menoleh sekilas pada jeny kemudian tertawa pelan. Tebakan nya salah. Baru 5 menit jeny sudah menyadari nya.
“Ya kita emang mau pulang.” Balas nya tenang.
Rahang jeny mengeras. Gadis itu kemudian menghela nafas nya kasar lewat mulut.
“Kalau kamu nggak mau anterin aku pulang, aku bisa pulang sendiri. Tolong hentikan mobil nya.” Ujar jeny berusaha menahan kekesalan nya.
Bukan nya menghentikan mobil nya seperti apa yang di minta jeny, tomy justru semakin menambah kecepatan laju mobil nya tanpa mengeluarkan sepatah katapun pada jeny.
“Tomy berhenti aku bilang..!” Pekik jeny tidak bisa lagi menahan emosinya.
Tomy tetap saja diam hingga akhir nya mobil nya berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah dengan gerbang tinggi menjulang bercat putih.
Tomy membunyikan klakson mobil nya dan saat itu juga gerbang bercat putih itu terbuka.
Jeny mengedarkan pandangan nya. Jeny tidak tau dimana sekarang dirinya berada. Tapi jeny tau bahwa daerah sekitar nya adalah kawasan elit tempat hunian para orang kaya.
Tomy menghentikan mobil nya. Pria itu menoleh pada jeny yang masih mengawasi sekitar nya.
“Dengar, Mulai sekarang ini tempat kamu pulang.” Ujar tomy menatap jeny datar.
Jeny menggelengkan kepalanya.
Rumah itu memang sangat mewah dengan halaman luas juga suasana yang begitu asri.
“Apa maksud kamu tomy..” Lirih nya.
Tomy tidak menjawab. Pria tampan itu kemudian keluar dari mobil nya yang langsung di ikuti oleh jeny.
“Tomy tunggu !!” Pekik jeny membuat tomy urung melangkahkan kedua kakinya.
Tomy membalikan tubuh nya. Masih dengan tatapan datar nya pria tampan itu menatap jeny yang sedang melangkah mendekat padanya.
“Kamu tidak bisa seenak nya sama aku. Meskipun kamu memang suami aku, tapi kamu nggak ada hak buat ngatur hidup aku.”
Ucapan jeny membuat rahang tomy kembali mengatup dengan keras. Kedua tangan nya mengepal erat. Jeny selalu saja berhasil membangkitkan emosinya.
“Aku pulang.” Lanjut jeny kemudian berbalik dan melangkah menjauh dari tomy.
“Tutup gerbang nya dan jangan biarkan dia keluar !!” Seru tomy pada pak satpam yang masih berdiri di samping gerbang bercat putih itu.
Mendengar itu jeny langsung berlari cepat. Gadis cantik yang masih mengenakan jas khas dokter nya itu bahkan sampai melepaskan sepatu hak tinggi nya agar bisa cepat berlari dan keluar dari area luas kediaman mewah itu.
“Pak buka pintu nya.. Saya mau keluar..” Kata jeny pada satpam yang sedang mengunci gerbang.
“Maaf bu.. Tapi pak tomy menyuruh saya untuk menutup nya.” Balas satpam tersebut kemudian berlalu menuju pos nya.
Jeny menangis saking kesal nya.
Gadis itu bahkan melempar sepatu nya ke arah gerbang. Jeny tidak percaya tomy bahkan sampai melakukan hal sekejam itu padanya.
“Ayo masuk.”
Jeny mengusap air matanya ketika mendengar suara berat tomy yang mengajak nya masuk. Jeny membalikan tubuh nya menatap penuh kebencian pada tomy yang berdiri tegap di depan nya.
“Aku nggak mau.” Tolaknya tegas.
jika ada bibit pelakor pasti kata2 kasar mereka keluar, pelakor murahan, laknat, menjijikan, mudah mudahan dibinasakan
tapi beda
jika ada pebinor, mereka hanya diam kayak tidak ada apa2
reader2.......