NovelToon NovelToon
Jalan Abadi Sang Pengembara

Jalan Abadi Sang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Wuxia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.

Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.

Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis Pembawa Liontin

​Peringatan Roh Menara di dalam kesadaran Yu Chen terasa seperti hantaman petir di siang bolong. Tatapan pemuda itu terkunci mati pada sebilah liontin batu giok berbentuk bulan sabit yang menggantung longgar di leher kurus gadis kecil di hadapannya.

​Permukaan giok itu sudah kusam, dimakan zaman, dengan ukiran relief burung phoenix yang nyaris tak kasat mata. Namun, bagi Yu Chen, setiap garis ukirannya memancarkan aura dingin yang menggetarkan jiwa. Ada sensasi hangat yang menjalar dari dadanya, sebuah perasaan keterikatan darah yang tak mampu dijelaskan oleh logika fana.

​"Lambang itu tidak mungkin salah, Shen Yu," suara Roh Menara bergetar hebat. "Itu adalah lambang Klan Phoenix Langit. Ibu kandungmu berasal dari garis darah itu. Fakta bahwa anak ini memakainya... bukan sekadar kebetulan."

​Belum sempat Yu Chen memproses ledakan informasi tersebut, gadis kecil itu tersandung akar pohon yang mencuat. Bruk! Tubuhnya menghantam tanah dengan suara yang menyakitkan. Liontin itu berayun di udara sebelum ia kembali memeluknya erat, seolah itu adalah satu-satunya pelindung di dunia yang kejam ini.

​"Ah!" Gadis itu memekik.

​Dari balik rimbunnya pepohonan, lima pria jubah hitam melompat keluar. Aura mereka kotor, penuh dengan kebencian dan kehausan akan uang. Pemimpin mereka, seorang pria dengan parut panjang di wajahnya, memutar rantai besi di tangannya.

​"Hahaha! Lari lagi kalau bisa, Budak Sialan!" raung si pemimpin. "Tidak ada satu pun mangsa yang bisa kabur dari cengkeraman Sekte Budak Hitam!"

​Mendengar nama kelompok itu, Liu Xue yang bersembunyi tak jauh dari sana memucat. "Sekte Budak Hitam? Bajingan-bajingan itu..." gumamnya dengan nada penuh kemuakan. Mereka adalah parasit dunia kultivasi, sekte sesat yang hidup dari menculik anak-anak berbakat untuk dijual sebagai tungku atau budak bagi kultivator gila.

​Yu Chen melihat bekas cambukan merah yang menyilang di lengan kurus gadis itu. Ia melihat pergelangan tangan yang lecet parah karena jeratan rantai besi. Tatapan mata anak itu kosong, bukan karena kebodohan, melainkan karena kengerian yang sudah mencapai batas.

​Yu Chen memejamkan mata sejenak. Ingatan tentang masa lalunya—dihina di Desa Qinghe, dipukuli, dan diusir karena dianggap anak haram—mendadak menyeruak kembali ke permukaan. Darahnya mendidih. Amarah yang selama ini ia tekan di balik topeng jubah abu-abu, kini memuncak.

​Pemimpin Sekte Budak Hitam menarik rambut gadis itu dengan kasar hingga ia terangkat. "Bangun! Harga jualmu sangat tinggi. Jangan sampai aku harus mematahkan kakimu!"

​Gadis itu menangis sesenggukan. "Aku tidak mau... Aku ingin mencari Kakakku..."

​PLAAK!

​Pria itu menampar wajah mungil tersebut hingga berdarah. "Diam!"

​Yu Chen melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Langkahnya berat, namun setiap tapaknya seolah menggetarkan tanah. Ia tidak lagi menatap para tetua di belakangnya. Di matanya, hanya ada lima pria menjijikkan yang berani menyentuh apa yang seharusnya tidak mereka sentuh.

​"Lepaskan tangan kotor kalian darinya," desis Yu Chen. Suaranya rendah, namun dinginnya menusuk tulang hingga ke sumsum.

​Kelima pria itu berhenti, lalu meledak dalam tawa merendahkan. "Hahaha! Lihat siapa yang bicara? Kau bahkan tidak bisa menyelamatkan nyawamu sendiri dari para tetua di sana, tapi kau mau jadi pahlawan untuk budak kecil ini?"

​Yu Chen tidak menjawab. Ia perlahan mencabut pedang besinya. Tanpa gelang pemberat 5.000 jin di tangannya, gerakannya terasa seringan hembusan angin malam.

​"Kau pikir kau siapa?" si pemimpin memutar rantainya, memutar balik energinya dengan kejam. "Mati kau, bocah sombong!"

​SWIING!

​Rantai besi itu melesat cepat ke leher Yu Chen.

​SREET!

​Tebasan pedang yang sangat sederhana. Rantai besi itu putus menjadi dua bagian, jatuh berkeping-keping ke tanah seolah terbuat dari lilin, bukan besi. Kelima pria itu membelalak horor. Artefak mereka hancur hanya dalam satu tebasan?

​"Bunuh dia! Sekarang!"

​Empat anak buahnya menerjang secara bersamaan dari berbagai arah. Tombak, kapak, dan pedang semuanya mengincar titik vital Yu Chen.

​Yu Chen memejamkan mata selama sepersekian detik. Di saat itulah, ia menggunakan Langkah Bayangan Ilusi.

​Tubuhnya menghilang.

​SWISH! SWISH! SWISH! SWISH!

​Hanya empat kilatan pedang yang terdengar di keheningan hutan. Yu Chen muncul kembali di tempat semula, menyarungkan pedangnya dengan gerakan yang sangat elegan dan dingin.

​Klik.

​Keempat pria itu membeku di tengah serangan mereka. Pedang dan kapak jatuh ke tanah. Sebuah garis merah tipis melingkar sempurna di leher mereka sebelum darah menyembur keluar.

​Buk... buk... buk...

​Empat mayat jatuh berdebum ke bumi.

​Pemimpin mereka yang masih hidup gemetar hebat, kakinya lemas hingga ia jatuh bersujud. "Ampun... ampun! Aku hanya menjalankan perintah!"

​Yu Chen menatapnya dengan pandangan hampa. Ia teringat akan ribuan anak-anak lain yang telah mereka jual selama bertahun-tahun. Tidak ada kata maaf bagi iblis dalam wujud manusia.

​"Sampaikan permintaan maafmu pada arwah mereka di akhirat," gumam Yu Chen.

​SREET!

​Satu tebasan maut. Kepala pria itu menggelinding.

​Suasana di tebing itu sunyi senyap. Liu Xue di kejauhan menatap Yu Chen dengan napas tertahan. Ia baru saja melihat pembantaian yang paling bersih dan efisien yang pernah ia saksikan.

​Tetua Bai sedikit terkejut, namun ia hanya mendengus. "Teknik pedang yang menarik untuk ukuran bocah kelas bawah."

​Han Lie justru tersenyum lebar. "Semakin kuat kau, semakin manis kepala yang akan kupenggal nanti."

​Yu Chen tidak peduli. Ia berlutut di depan gadis kecil itu. "Bangunlah. Pegang tanganku."

​Gadis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, menaruh kepercayaan penuh pada pemuda yang baru saja menyelamatkannya. Begitu gadis itu berdiri, Yu Chen dengan sigap meremukkan bola kristal di balik lengan bajunya.

​PRAAAK!

​BOOOM!

​Kabut putih pekat meledak, menyelimuti area tersebut. Kabut ini bukan sembarang asap; ini adalah ramuan pemburu yang diciptakan untuk memutus persepsi spiritual.

​"Sial! Indra spiritualku tidak bisa menembusnya!" teriak Tetua Bai murka. Ia mengayunkan pedangnya membabi buta, menghancurkan pepohonan, namun nihil.

​Yu Chen menggendong gadis itu ke punggungnya. "Pegang erat-erat!"

​"Baik, Kakak!"

​Tanpa membuang waktu, Yu Chen menerobos kabut. Menggunakan sisa Langkah Bayangan Ilusi, ia menghilang dari radius jangkauan para tetua. Mereka terus mengejar, membakar hutan, namun jejak Yu Chen sudah hilang tertelan pekatnya hutan.

​Setelah berlari sejauh belasan kilometer, Yu Chen akhirnya berhenti. Ia merasa napasnya mulai stabil. Di depannya, lembah mati terbentang. Tidak ada suara binatang, tidak ada angin yang bertiup. Semuanya begitu sunyi, seolah-olah tempat ini sudah terhapus dari peta dunia.

​Tepat di hadapannya, berdiri sebuah gerbang batu raksasa yang sudah tua dan penuh retakan. Lumut hijau tebal menutupi relief-relief yang masih tersisa. Di atas gerbang itu, terukir empat aksara kuno yang memancarkan aura tirani.

​[Reruntuhan Dewa Purba]

​Roh Menara, yang selama ini diam, mendadak bergetar di dalam cincin. Ia keluar dengan wujud jiwanya yang transparan, menatap gerbang itu dengan mata membelalak penuh horor. Seluruh tubuhnya yang transparan seolah-olah menjadi semakin tipis karena guncangan emosi yang hebat.

​"Shen Yu... ini mustahil," suara Roh Menara bergetar hebat. "Reruntuhan ini seharusnya sudah musnah puluhan ribu tahun lalu. Tempat ini adalah pusara terakhir bagi para tetua Sekte Dewa Kuno. Bagaimana mungkin tempat yang terkutuk ini justru muncul di dunia bawah?"

​Yu Chen menatap gerbang itu, merasakan detak jantungnya berirama selaras dengan ritme energi kuno di baliknya. "Jika dunia luar sudah tidak memiliki tempat lagi untukku, mungkin tempat ini adalah jawabannya."

​Gadis di punggungnya, yang sejak tadi terdiam, tiba-tiba memegang liontinnya erat-erat. "Tempat ini... tempat ini rasanya seperti rumah."

​Yu Chen tertegun. Ia memandang gadis itu, lalu kembali memandang gerbang raksasa di depannya. Ia tahu, di balik gerbang ini, nasibnya tidak akan pernah sama lagi. Segala rahasia tentang klan phoenix, tentang Sekte Dewa Kuno, dan tentang jati dirinya yang sebenarnya, menunggu untuk dibongkar.

​Tanpa ragu, Yu Chen melangkah mendekat. Pintu batu itu seolah merasakan kehadiran darah warisan dewa yang mengalir di nadinya, perlahan mulai berderit terbuka, mengeluarkan debu-debu ribuan tahun yang beterbangan.

​"Siapapun yang ada di dalam," gumam Yu Chen dengan sorot mata yang membara, "aku datang untuk menjemput apa yang memang menjadi milikku."

​Saat gerbang itu terbuka sepenuhnya, sebuah cahaya keemasan yang jauh lebih terang daripada apa pun yang pernah Yu Chen lihat, menyeruak keluar. Tidak ada lagi jalan untuk kembali. Di dalam sana, bukan hanya harta karun yang menunggu, melainkan kebenaran yang akan mengguncang langit dan bumi.

​Dan bagi para Tetua di luar sana, pencarian mereka baru saja menjadi jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan. Karena di balik gerbang ini, Yu Chen tidak lagi sekadar pemburu kecil yang mencoba kabur. Ia adalah pewaris yang akhirnya pulang ke rumahnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!