Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Menuju Awal yang Baru
Kedua pemuda itu menyusuri jalan setapak berbatu yang perlahan
melebar, bertransisi menjadi jalan tanah liat kering yang mengarah ke luar
wilayah Desa Yin Yang.
Gerbang selatan Kota Qingfeng berdiri kokoh sekitar lima ratus meter di depan
mereka, berupa struktur batu abu-abu setinggi enam meter dengan sepasang pintu
kayu tebal yang dilapisi pelat besi hitam. Dua orang pengawal klan berbaju zirah
kulit tampak berdiri tegak di sisi kiri dan kanan gerbang, memegang tombak
panjang dengan mata pisau yang berkilau di bawah pancaran cahaya siang hari.
Sambil melangkah melewati pintu gerbang tanpa hambatan dari para pengawal, Luo
Chen menghentikan langkahnya sesaat demi memperhatikan deretan bangunan toko
kayu berlantai dua yang berjejer rapi di sepanjang jalan utama kota.
Di sepanjang jalan pasar yang ramai, aroma rempah-rempah kering dan asap dari
pembakaran logam berbaur menjadi satu, diiringi suara riuh dari para pedagang
kaki lima yang menawarkan barang dagangan mereka di atas meja kayu sederhana.
Tumpukan batu roh kualitas rendah yang berkilau redup di dalam kotak kayu
dipajang berdampingan dengan deretan botol porselen berisi pil tingkat satu.
Satu kios kayu besar yang menjual berbagai macam bahan tanaman obat spiritual
menarik perhatian Luo Chen saat mereka berjalan menyusuri area pasar tengah.
Langkah kakinya mendekati meja pajangan, di mana seikat tanaman dengan daun
berbentuk gerigi tipis diletakkan di dalam wadah anyaman bambu.
"Jangan menyentuh barang itu jika kau tidak memiliki uang untuk membayarnya!"
seru seorang pedagang paruh baya berjubah sutra hijau dari balik meja, menatap
jubah katun abu-abu Luo Chen yang telah memudar dengan pandangan meremehkan.
"Rumput Qi Hijau tingkat satu itu bernilai tiga koin perak per ikat. Praktisi
fana dari desa miskin sepertimu hanya akan merusak khasiat obatnya jika
menyentuhnya dengan tangan kotor."
Sambil menarik kembali tangannya dengan tenang, Luo Chen menatap wajah pedagang
tersebut tanpa menunjukkan kemarahan sedikit pun. "Aku hanya ingin melihat serat
daunnya," ujarnya dengan suara datar.
"Aduh, Paman Pedagang, rumput layu yang hampir membusuk ini kau sebut sebagai
herbal spiritual?" sela Ye Feng melangkah maju, berdiri di antara Luo
Chen dan sang pedagang dengan senyum lebar yang jenaka. "Di halaman belakang
gubukku, kambing-kambing bahkan menolak untuk mengunyah tanaman sekering ini.
Tiga koin perak? Aku bahkan ragu apakah ada orang yang mau menukarnya dengan
satu koin tembaga."
"Apa katamu, bocah lancang?" teriak pedagang tersebut dengan wajah yang mulai
memerah padam akibat kesal, jarinya menunjuk lurus ke arah wajah Ye Feng. "Ini
adalah Rumput Qi Hijau segar yang baru dipanen dari kebun klan dua hari yang
lalu!"
"Dua hari yang lalu?" Ye Feng tertawa keras mengetuk ujung daun tanaman
tersebut menggunakan jari telunjuknya hingga selembar daun kering terjatuh dan
hancur menjadi bubuk di atas meja. "Lihat ini, daunnya bahkan sudah hancur
menjadi debu hanya dengan satu sentuhan ringan. Paman, jika kau ingin menipu
pembeli, setidaknya siramlah barang daganganmu dengan sedikit air agar tidak
terlihat seperti rumput kering untuk bahan bakar tungku."
Beberapa pembeli di sekitar kios tersebut mulai berbisik-bisik dan tertawa kecil
setelah melihat daun yang hancur, membuat pedagang itu semakin kehilangan muka
di depan umum. "Pergi dari kiosku sekarang juga sebelum aku memanggil pengawal
klan untuk mengusir kalian berdua!" teriaknya mengibaskan lengan jubahnya
dengan kasar.
"Ayo pergi, Chen'er," ujar Ye Feng merangkul pundak sahabatnya,
membalikkan tubuh mereka menjauh dari kios tersebut dengan langkah santai.
"Berdebat dengan orang yang menjual rumput pakan kambing hanya akan membuat
perutku semakin lapar."
Sambil menarik jubah abu-abunya yang sedikit bergeser akibat rangkulan Ye Feng,
Luo Chen kembali berjalan menyusuri jalanan kota yang berdebu. "Terima kasih,
Feng'er. Kau tidak perlu bertindak sejauh itu tadi."
"Aku tidak bisa membiarkan pedagang bermata satu itu menghinamu," sahut Ye Feng
menunjuk ke arah sebuah bangunan kayu dua lantai dengan papan nama bambu
yang tergantung di atas pintu masuknya. "Lihat, kita sudah sampai di Kedai Bambu
Hijau. Ini adalah tempat terbaik untuk mengisi perut kita hari ini."
Bangunan kayu dua lantai tersebut tampak cukup ramai oleh para pelanggan yang
sebagian besar adalah praktisi tingkat rendah dari klan-klan kecil di sekitar
kota.
"Selamat datang, Feng'er," ujar seorang gadis pelayan berusia sekitar tujuh
belas tahun dengan jubah katun hijau rapi yang melangkah mendekati meja kosong
di sudut ruangan. "Apakah hari ini kau membawa uang untuk membayar makananmu,
atau kau ingin mencuci piring lagi di dapur kami seperti minggu lalu?"
Dengan mata berbinar dan senyum lebar yang paling ramah, Ye Feng segera
mengambil posisi duduk di kursi kayu panjang. "Aduh, Lin'er yang cantik,
bagaimana bisa kau meragukan kejujuranku? Hari ini aku membawa koin perak murni
hasil dari menjual beberapa herba liar kemarin. Tolong siapkan dua porsi mi
rebus dengan kuah kaldu daging tebal dan teh hangat untuk kami."
"Hanya mi rebus biasa?" tanya Lin'er mencatat pesanan tersebut di atas
papan kayu kecil dengan senyum tipis di bibirnya. "Kira-kira kapan kau akan
memesan menu daging panggang premium kami yang mahal itu?"
"Tentu saja setelah aku berhasil menembus ranah baru dan menjadi praktisi kaya
raya," sahut Ye Feng dengan nada jenaka mengedipkan satu matanya ke arah
gadis pelayan tersebut. "Tunggu saja saat hari itu tiba, Lin'er."
Sambil tertawa kecil, Lin'er berbalik arah menuju ke dapur untuk menyiapkan
pesanan mereka, meninggalkan kedua pemuda itu di sudut meja yang sunyi.
Dua mangkuk besar mi rebus hangat yang mengepulkan uap harum disajikan di atas
meja sepuluh menit kemudian.
"Bagaimana menurutmu tentang Kota Qingfeng setelah dua belas tahun tidak
berkunjung, Chen'er?" tanya Ye Feng membelah sumpit kayunya dan mulai
menyantap mi rebus tersebut dengan lahap.
Sambil mengunyah sepotong mi rebus di mulutnya, Luo Chen menatap mangkuknya
dengan pandangan mata yang tenang namun dalam. "Kota ini masih sama megahnya
seperti dalam ingatanku yang kabur, Feng'er. Banyak hal yang berubah, tetapi
kesibukan para praktisinya tetap sama."
"Apakah kau benar-benar tidak tertarik untuk memulai berkultivasi?" tanya Ye
Feng dengan nada suara yang mendadak melunak, meletakkan mangkuk minya sejenak
ke atas meja batu untuk menatap wajah sahabatnya. "Aku tahu dantianmu kosong,
tetapi setelah melihat semua bahan spiritual di pasar tadi... apakah tidak ada
sedikit pun keinginan di dalam hatimu untuk mencoba membangun kekuatan fisikmu menggunakan energi Qi?"
Dengan pandangan mata yang lurus menatap cairan kaldu di dalam mangkuknya, Luo
Chen terdiam selama beberapa saat sebelum perlahan mengepalkan tangan kanannya
di bawah meja kayu hingga otot-otot di lengannya menegang keras. "Setiap hari
aku memikirkan hal itu, Feng'er," bisiknya dengan suara yang sangat rendah,
hampir tenggelam oleh hiruk-pikuk suara pelanggan lain di dalam kedai. "Tetapi
tanpa adanya metode kultivasi yang cocok untuk meridianku yang lemah, berlatih
fisik adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat ini."
"Aku mengerti," sahut Ye Feng kembali mengambil sumpit kayunya dengan
senyum tipis, mencoba mengembalikan suasana santai di antara mereka. "Makanlah
yang banyak hari ini, Chen'er. Siapa tahu setelah perutmu kenyang, kau bisa
memikirkan solusi yang hebat untuk masalah meridianmu itu."