NovelToon NovelToon
Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kultivasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: JokyWong

Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Menuju Awal yang Baru

Kedua pemuda itu menyusuri jalan setapak berbatu yang perlahan

melebar, bertransisi menjadi jalan tanah liat kering yang mengarah ke luar

wilayah Desa Yin Yang.

Gerbang selatan Kota Qingfeng berdiri kokoh sekitar lima ratus meter di depan

mereka, berupa struktur batu abu-abu setinggi enam meter dengan sepasang pintu

kayu tebal yang dilapisi pelat besi hitam. Dua orang pengawal klan berbaju zirah

kulit tampak berdiri tegak di sisi kiri dan kanan gerbang, memegang tombak

panjang dengan mata pisau yang berkilau di bawah pancaran cahaya siang hari.

Sambil melangkah melewati pintu gerbang tanpa hambatan dari para pengawal, Luo

Chen menghentikan langkahnya sesaat demi memperhatikan deretan bangunan toko

kayu berlantai dua yang berjejer rapi di sepanjang jalan utama kota.

Di sepanjang jalan pasar yang ramai, aroma rempah-rempah kering dan asap dari

pembakaran logam berbaur menjadi satu, diiringi suara riuh dari para pedagang

kaki lima yang menawarkan barang dagangan mereka di atas meja kayu sederhana.

Tumpukan batu roh kualitas rendah yang berkilau redup di dalam kotak kayu

dipajang berdampingan dengan deretan botol porselen berisi pil tingkat satu.

Satu kios kayu besar yang menjual berbagai macam bahan tanaman obat spiritual

menarik perhatian Luo Chen saat mereka berjalan menyusuri area pasar tengah.

Langkah kakinya mendekati meja pajangan, di mana seikat tanaman dengan daun

berbentuk gerigi tipis diletakkan di dalam wadah anyaman bambu.

"Jangan menyentuh barang itu jika kau tidak memiliki uang untuk membayarnya!"

seru seorang pedagang paruh baya berjubah sutra hijau dari balik meja, menatap

jubah katun abu-abu Luo Chen yang telah memudar dengan pandangan meremehkan.

"Rumput Qi Hijau tingkat satu itu bernilai tiga koin perak per ikat. Praktisi

fana dari desa miskin sepertimu hanya akan merusak khasiat obatnya jika

menyentuhnya dengan tangan kotor."

Sambil menarik kembali tangannya dengan tenang, Luo Chen menatap wajah pedagang

tersebut tanpa menunjukkan kemarahan sedikit pun. "Aku hanya ingin melihat serat

daunnya," ujarnya dengan suara datar.

"Aduh, Paman Pedagang, rumput layu yang hampir membusuk ini kau sebut sebagai

herbal spiritual?" sela Ye Feng melangkah maju, berdiri di antara Luo

Chen dan sang pedagang dengan senyum lebar yang jenaka. "Di halaman belakang

gubukku, kambing-kambing bahkan menolak untuk mengunyah tanaman sekering ini.

Tiga koin perak? Aku bahkan ragu apakah ada orang yang mau menukarnya dengan

satu koin tembaga."

"Apa katamu, bocah lancang?" teriak pedagang tersebut dengan wajah yang mulai

memerah padam akibat kesal, jarinya menunjuk lurus ke arah wajah Ye Feng. "Ini

adalah Rumput Qi Hijau segar yang baru dipanen dari kebun klan dua hari yang

lalu!"

"Dua hari yang lalu?" Ye Feng tertawa keras mengetuk ujung daun tanaman

tersebut menggunakan jari telunjuknya hingga selembar daun kering terjatuh dan

hancur menjadi bubuk di atas meja. "Lihat ini, daunnya bahkan sudah hancur

menjadi debu hanya dengan satu sentuhan ringan. Paman, jika kau ingin menipu

pembeli, setidaknya siramlah barang daganganmu dengan sedikit air agar tidak

terlihat seperti rumput kering untuk bahan bakar tungku."

Beberapa pembeli di sekitar kios tersebut mulai berbisik-bisik dan tertawa kecil

setelah melihat daun yang hancur, membuat pedagang itu semakin kehilangan muka

di depan umum. "Pergi dari kiosku sekarang juga sebelum aku memanggil pengawal

klan untuk mengusir kalian berdua!" teriaknya mengibaskan lengan jubahnya

dengan kasar.

"Ayo pergi, Chen'er," ujar Ye Feng merangkul pundak sahabatnya,

membalikkan tubuh mereka menjauh dari kios tersebut dengan langkah santai.

"Berdebat dengan orang yang menjual rumput pakan kambing hanya akan membuat

perutku semakin lapar."

Sambil menarik jubah abu-abunya yang sedikit bergeser akibat rangkulan Ye Feng,

Luo Chen kembali berjalan menyusuri jalanan kota yang berdebu. "Terima kasih,

Feng'er. Kau tidak perlu bertindak sejauh itu tadi."

"Aku tidak bisa membiarkan pedagang bermata satu itu menghinamu," sahut Ye Feng

menunjuk ke arah sebuah bangunan kayu dua lantai dengan papan nama bambu

yang tergantung di atas pintu masuknya. "Lihat, kita sudah sampai di Kedai Bambu

Hijau. Ini adalah tempat terbaik untuk mengisi perut kita hari ini."

Bangunan kayu dua lantai tersebut tampak cukup ramai oleh para pelanggan yang

sebagian besar adalah praktisi tingkat rendah dari klan-klan kecil di sekitar

kota.

"Selamat datang, Feng'er," ujar seorang gadis pelayan berusia sekitar tujuh

belas tahun dengan jubah katun hijau rapi yang melangkah mendekati meja kosong

di sudut ruangan. "Apakah hari ini kau membawa uang untuk membayar makananmu,

atau kau ingin mencuci piring lagi di dapur kami seperti minggu lalu?"

Dengan mata berbinar dan senyum lebar yang paling ramah, Ye Feng segera

mengambil posisi duduk di kursi kayu panjang. "Aduh, Lin'er yang cantik,

bagaimana bisa kau meragukan kejujuranku? Hari ini aku membawa koin perak murni

hasil dari menjual beberapa herba liar kemarin. Tolong siapkan dua porsi mi

rebus dengan kuah kaldu daging tebal dan teh hangat untuk kami."

"Hanya mi rebus biasa?" tanya Lin'er mencatat pesanan tersebut di atas

papan kayu kecil dengan senyum tipis di bibirnya. "Kira-kira kapan kau akan

memesan menu daging panggang premium kami yang mahal itu?"

"Tentu saja setelah aku berhasil menembus ranah baru dan menjadi praktisi kaya

raya," sahut Ye Feng dengan nada jenaka mengedipkan satu matanya ke arah

gadis pelayan tersebut. "Tunggu saja saat hari itu tiba, Lin'er."

Sambil tertawa kecil, Lin'er berbalik arah menuju ke dapur untuk menyiapkan

pesanan mereka, meninggalkan kedua pemuda itu di sudut meja yang sunyi.

Dua mangkuk besar mi rebus hangat yang mengepulkan uap harum disajikan di atas

meja sepuluh menit kemudian.

"Bagaimana menurutmu tentang Kota Qingfeng setelah dua belas tahun tidak

berkunjung, Chen'er?" tanya Ye Feng membelah sumpit kayunya dan mulai

menyantap mi rebus tersebut dengan lahap.

Sambil mengunyah sepotong mi rebus di mulutnya, Luo Chen menatap mangkuknya

dengan pandangan mata yang tenang namun dalam. "Kota ini masih sama megahnya

seperti dalam ingatanku yang kabur, Feng'er. Banyak hal yang berubah, tetapi

kesibukan para praktisinya tetap sama."

"Apakah kau benar-benar tidak tertarik untuk memulai berkultivasi?" tanya Ye

Feng dengan nada suara yang mendadak melunak, meletakkan mangkuk minya sejenak

ke atas meja batu untuk menatap wajah sahabatnya. "Aku tahu dantianmu kosong,

tetapi setelah melihat semua bahan spiritual di pasar tadi... apakah tidak ada

sedikit pun keinginan di dalam hatimu untuk mencoba membangun kekuatan fisikmu menggunakan energi Qi?"

Dengan pandangan mata yang lurus menatap cairan kaldu di dalam mangkuknya, Luo

Chen terdiam selama beberapa saat sebelum perlahan mengepalkan tangan kanannya

di bawah meja kayu hingga otot-otot di lengannya menegang keras. "Setiap hari

aku memikirkan hal itu, Feng'er," bisiknya dengan suara yang sangat rendah,

hampir tenggelam oleh hiruk-pikuk suara pelanggan lain di dalam kedai. "Tetapi

tanpa adanya metode kultivasi yang cocok untuk meridianku yang lemah, berlatih

fisik adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat ini."

"Aku mengerti," sahut Ye Feng kembali mengambil sumpit kayunya dengan

senyum tipis, mencoba mengembalikan suasana santai di antara mereka. "Makanlah

yang banyak hari ini, Chen'er. Siapa tahu setelah perutmu kenyang, kau bisa

memikirkan solusi yang hebat untuk masalah meridianmu itu."

1
🌹🌹Alika Moi🌹🌹
sangatbagus isi ceritanya tapi sayang tidak di lanjutkan.
Joe Maggot Curvanord
bagus cuma terlalu sedikit bab oer hari nya
JokyWong: oke makasih ya masukkan nya, nanti di up ya 2 bab per hari 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!