Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Di sebelah kiri ranjangnya, terdengar suara bip... bip... bip... yang bernada konstan dan teratur dari sebuah mesin monitor detak jantung. Riyan menolehkan kepalanya secara perlahan ke arah kiri.
Dia menyadari diri sedang berbaring di sebuah ruangan bangsal rumah sakit. Namun, ada satu hal aneh yang membuat dahinya mengernyit.
Saat dia mencoba menggerakkan kedua lengan, jari-jari kaki, dan memutar lehernya, Riyan sama sekali tidak merasakan rasa sakit atau linu sedikit pun.
Padahal, seingat memori terakhirnya sebelum pingsan, kepalanya baru saja dihantam oleh balok kayu proyek dan dijatuhi sekarung semen berbobot puluhan kilogram.
Logikanya, dia harusnya sudah mengalami patah tulang tengkorak, gegar otak stadium berat, atau minimal sedang terbaring koma dengan seluruh tubuh dibalut perban putih selama berbulan-bulan.
Riyan baru saja hendak mendudukkan tubuhnya di atas kasur rumah sakit yang empuk itu ketika sebuah suara mekanis yang bernada dingin, datar, tanpa emosi, namun terdengar sangat jelas di dalam pusat tempurung kepalanya tiba-tiba menggema dengan keras.
[Proses Sinkronisasi Data Selesai...]
[Sistem Konsumsi Absurd Berhasil Terikat Secara Permanen dengan Jiwa Inang: Riyan Sadewa.]
[Status Fisik Inang: Hidup dan Bugar. Seluruh cedera fisik akibat hantaman benda tumpul telah dipulihkan 100% oleh sistem sebagai bonus selamat datang untuk pengguna baru.]
Riyan langsung tersentak kaget sampai badannya menegang. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan pandangan liar, mengira ada orang jahil atau kru televisi yang sedang memasang pelantang telinga tersembunyi di dekat bantal atau di bawah ranjangnya untuk acara komedi.
Namun, ruangan kelas tiga tempat dia dirawat saat itu kosong melompong tanpa ada penunggu. Tidak ada dokter, tidak ada perawat, dan tidak ada Jaka ataupun Kang Asep. Hanya ada dirinya sendiri yang kebingungan.
[Tugas Pertama untuk Inang: Habiskan seluruh saldo uang awal yang diberikan oleh sistem dalam jangka waktu maksimal 24 jam ke depan sejak notifikasi ini muncul.]
[Syarat Mutlak Misi: Anda harus membuang atau menghabiskan uang ini tanpa mendapatkan keuntungan material, investasi jangka panjang, saham, properti produktif, atau bentuk cashback satu rupiah pun. Uang harus habis untuk hal-hal yang tidak bernilai ekonomi.]
[Peringatan Keras: Jika Inang terdeteksi mendapatkan keuntungan dari uang yang dikeluarkan, nominal uang yang wajib dihabiskan pada misi berikutnya akan dilipatgandakan sebanyak sepuluh kali lipat sebagai bentuk penalti kegagalan aturan.]
[Denda Mutlak Kegagalan Misi: Seluruh fungsi organ dalam tubuh Inang termasuk jantung, hati, ginjal, dan paru-paru akan mengalami mogok kerja massal alias kematian mendadak tanpa gejala.]
"Siapa... siapa tuh yang ngomong di dalam kepala gua?! Keluar lo! Jangan bercanda ya! Gua ini cuma kuli bangunan miskin, gak punya duit buat bayar tebusan kalau ini acara prank penculikan atau semacamnya!"
kata Riyan setengah berteriak ke arah ruangan yang kosong. Suaranya terdengar agak serak karena tenggorokannya terasa sangat kering seperti padang pasir.
Tidak ada jawaban suara manusia yang membalas teriakan Riyan. Namun, perhatian pemuda itu langsung teralih sepenuhnya pada sebuah ponsel pintar berspesifikasi rendah dengan merek lokal lama yang layarnya sudah retak seribu di bagian sudut atas.
Ponsel itu tergeletak pasrah di atas meja kayu kecil di samping ranjang rawatnya. Itu adalah ponsel milik Riyan sendiri yang biasanya dia gunakan untuk membuka grup WhatsApp kuli.
Layar ponsel yang retak itu tiba-tiba saja menyala terang, menampilkan sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari aplikasi Mobile Banking resmi miliknya.
Riyan mengernyitkan dahi dengan sisa rasa bingung yang mendalam. Dia mengulurkan tangan kanan, mengambil ponsel jadul itu dengan jari-jari yang sedikit gemetar karena gugup.
Biasanya, isi rekening bank miliknya paling banyak hanya berkisar di angka seratus lima puluh ribu rupiah saja itu pun kalau belum dipotong biaya administrasi bulanan yang sering membuat saldonya tersisa beberapa perak.
Namun, apa yang tertera di layar ponselnya saat ini membuat seluruh pasokan oksigen di paru-paru Riyan mendadak tercekat di tenggorokan.
Ada sebuah angka satu berukuran tebal yang diikuti oleh deretan angka nol yang sangat panjang di kolom informasi saldo tabungan utama. Riyan mendekatkan layar ponsel yang retak itu ke depan matanya, menghitung jumlah angka nol tersebut satu demi satu dengan sangat teliti menggunakan ujung jari telunjuknya agar tidak salah hitung.
Satu, dua, tiga... sembilan, sepuluh, sebelas angka nol di belakang nominal utama.
"Seratus... seratus miliar rupiah?!" pekik Riyan tertahan dengan suara yang mendadak melengking tinggi.
Matanya melotot lebar hampir keluar dari kelopak matanya yang menghitam. Jantung di dalam dadanya langsung berdegup kencang bak dentuman musik bass di kelab malam kelas atas.
Bagi orang waras atau manusia normal di luar sana, melihat angka fantastis bin ajaib seperti itu masuk secara tiba-tiba ke dalam rekening pribadi pasti akan membuat mereka langsung bersujud syukur di atas lantai, menangis histeris karena terlalu bahagia, atau minimal langsung pingsan kegirangan karena tahu nasib miskinnya sudah berakhir.
Tapi bagi seorang Riyan Sadewa, setelah mendengar ancaman hukuman mengerikan dari suara aneh di dalam otaknya tadi, saldo seratus miliar ini tidak ada bedanya dengan sebuah bom waktu aktif berkekuatan tinggi yang siap meledakkan organ tubuhnya kapan saja dia lalai.
Habis tanpa untung? Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam?! Yang benar saja! Orang lain di luar sana bekerja memeras keringat, membanting tulang setengah mati dari pagi sampai malam hanya untuk mencari uang demi menyambung hidup, sementara dia yang status sosialnya cuma kuli bangunan berpenghasilan pas-pasan, malah dipaksa berpikir keras bagaimana cara membuang uang sebanyak itu tanpa boleh menghasilkan keuntungan kembali.
Jika dia membeli rumah mewah di kawasan Dago Atas, itu akan langsung dihitung sebagai kepemilikan aset dan investasi properti oleh sistem.
Jika dia pergi ke toko mas dan membeli puluhan kilogram emas batangan, nilainya di pasar global bisa naik kapan saja dan itu berarti dia mendapatkan keuntungan finansial.
Jika dia gagal menghabiskan uang itu dengan cara yang benar-benar rugi total, taruhannya bukan lagi denda uang, melainkan nyawa mudanya sendiri yang akan melayang.
"Sialan! Ini mah sistem kurang ajar namanya! Ini bukan rezeki nomplok dari langit, ini mah pembunuhan berencana berkedok kekayaan!" umpat Riyan penuh frustrasi sambil mengacak-acak rambutnya yang masih berdebu semen.
Tanpa memedulikan jarum infus yang masih menempel erat di punggung tangan kirinya, Riyan menarik jarum tersebut secara paksa hingga darah segar berwarna merah tua sedikit menetes di atas seprai kasur.
Dia melompat turun dari ranjang rumah sakit, memakai kembali sepasang sandal jepitnya yang sudah tipis dan tipis sebelah akibat keseringan dipakai berjalan di area proyek, lalu langsung berjalan setengah berlari keluar dari kamar rawat inapnya.
Hal pertama yang ada di pikirannya adalah dia harus segera melunasi biaya administrasi rumah sakit ini agar uangnya berkurang.
Namun, saat dia tiba di depan loket pembayaran dan menyerahkan kartu pasiennya, petugas loket mengatakan total biaya pengobatan dan perawatan kepalanya yang bocor tadi hanya habis sekitar satu juta dua ratus ribu rupiah saja.
Angka segitu benar-benar hanya seperti setetes air tawar di tengah luasnya samudra Pasifik jika dibandingkan dengan saldo seratus miliarnya yang utuh.
Waktu terus berjalan mundur dengan kejam di sudut kanan pandangan matanya yang kini memunculkan sebuah angka jam digital transparan berwarna merah bertuliskan: [22 Jam : 45 Menit : 12 Detik].
Riyan tahu betul, dia tidak bisa hanya diam termenung di koridor rumah sakit ini menunggu keajaiban. Dia harus segera keluar ke jalanan kota Bandung yang padat, mencari cara paling bodoh, paling konyol, dan paling merugikan di atas muka bumi ini untuk menghabiskan uang sialan tersebut sebelum organ jantungnya memutuskan untuk berhenti berdetak untuk selamanya.