Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 34
"Aku hari ini nggak ke kantor ya, Wan. Nggak ada rapat kan? Jadi handle aja semampu mu."
Tanpa mendengar jawaban dari Rowan, Kael menutup panggilan telponnya. Ia lalu kembali melanjutkan acara bermainnya dengan sang putra.
Tidur bersama Al tadi malam, seolah belum puas bagi Kael. Dia masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama putranya.
Padahal sejak Al bangun tidur, Kael melakukan banyak aktivitas bersamanya. Dia memandikan Al, makan bersama, dan kini bermain bersama. Kael juga mengajak Al bermain piano yang ada di ruang tamu kediaman Danurwenda.
Al yang berada di pangkuan Kael, matanya mengikuti gerak tangan Kael ketika menekan tuts-tuts piano. Bocah itu juga menggoyangkan kepalanya pelan mengikuti alunan yang dihasilkan dari tekanan tuts.
Sesekali mulut Al ikut terbuka, dia ikut menyanyi, meski kadang berhenti karena lupa atau belun bisa lanjutan lagu anak-anak yang Kael nyanyikan.
Kael mengganti lagunya, sebuah lagu tentang seorang ibu ciptaan salah satu hits maker Indonesia itu tanpa sadar membuat air mata Kael luruh.
Selain mengingat ibunya, Kael juga mengingat tentang perjuangan Rosa yang pastinya tidak mudah.
Hamil sendirian, melahirkan sendirian dan juga mengurus bayi sendirian tanpa sosok suami dan keluarga di sisinya, pasti akan sering merasakan sakit oleh kesendirian yang begitu dalam.
"Ayah nannis?" Al melihat ke arah Kael. Bocah kecil yang tak paham dengan apa yang saat ini dirasakan Kael, memiliki inisiatif untuk memeluk.
"Janan nanis Ayah, Ibu cuda celing nanis. Jadi Al nda mau Ayah juda itut-itut nanis."
Bukannya berhenti, air mata Kael malah semakin deras. Tenggorokannya tercekat, dan nafasnya tak beraturan.
Rasa bersalah yang membelenggu Kael kembali hadir. Ia berusaha menghentikan tangisnya namun bukannya berhenti tapi malah semakin menambah sesak di dada.
"Dia pasti kesakitan, dia pasti kesulitan. Maaf, maafkan aku."
Kael berkata lirih, sedangkan Al hanya bisa terus menepuk tubuh sang ayah.
Disisi lain, Rosa menyaksikan semua yang terjadi pada Kael. Dia sudah berada di sana sejak tadi, bahkan sejak Kael dan Al bermain. Rosa tak ingin menggangu waktu ayah dan anak itu karena tahu bahwa Al sangat menikmati waktunya.
Nafas Rosa tertahan ketika melihat Kael yang berurai air mata. Ditambah pria itu terus saja mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar akan tetapi rasa sesak yang ada di sana tak juga kunjung usai.
Rosa bisa mengerti bagaimana tidak nyamannya hal itu karena dia juga mengalaminya.
"Rasanya pasti nggak enak banget," ucapnya lirih. Ada sedikit perasaan tidak enak dalam diri Rosa ketika melihat Kael yang kesakitan seperti ini. Dia pikir Kael baik-baik saja, tapi ternyata keadaannya tak jaug beda dengannya.
Perlahan Rosa melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Kael berada. Dia berhenti tepat di samping Kael. Namun matanya menatap ke arah Al.
Kael yang sedari tadi menunduk langsung mengangkat kepalanya saat melihat kaki Rosa yang berbalut kaos kaki. Dadanya berdegup cepat.
"Ros?"
Kael mengusap pipinya cepat. Melayangkan senyuman sebaik mungkin dan menutupi perasaannya. Malu dan gugup bercampur menjadi satu.
"Nggak apa kalau mau nangis ya nangis aja, nggak ada larangan. Maaf karena aku menganggap kamu baik-baik aja selama ini. Bahkan aku mengutuk mu dengan buruk."
Mata Kael kembali berair dan akhirnya tumpah. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Nggak, jangan. Jangan katakan maaf atau sejenisnya. Kamu boleh dan bebas mengutukku karena memang aku yang salah. Kamu nggak perlu menyesal karena sudah mengutukku," ucap Kael sambil mengusap air matanya.
Wajah tampan Kael sangat sendu dan terlihat begitu sakit. Sedangkan Rosa tak jauh beda. Namun Rosa tak menangis. Mungkin wanita itu sudah sangat sering menangis sehingga sekarang dirinya bisa jauh lebih merasa tenang.
Rupanya, dua orang itu sama-sama merasakan sakit akibat malam laknat itu. Rosa dengan traumanya atas pemaksaan yang dilakukan Kael, lalu Kael yang larut dalam rasa bersalahnya yang tak berujung.
Kael merutuki dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa kemarin dia merasa tenang karena Rosa sudah tak lagi takut dengannya.
"Aku beneran nggak tahu diri. Masa aku udah lega cuman karena Rosa nggak lari saat melihat ku. Nggak pantes banget rasanya aku ngerasa bahwa semua udah baik-baik aja."
Hati Kael berkecamuk, ada rasa yang campur aduk di sana. Tapi kesemuanya tetaplah berakar dari rasa bersalah.
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara