Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Terjebak
Wajah Sherly seputih kertas. Ia melirik jam di dinding, lalu kembali menatap Adnan dengan napas yang memburu. Kakinya melangkah cepat mendekat, tangannya mencengkeram lengan baju Adnan dengan cengkeraman yang gemetar namun tegas.
"Cepat... ke kamar mandi!" suruhnya dengan suara nyaris tak terdengar, matanya melirik panik ke arah pintu. "Bersembunyilah di sana. Jangan bersuara sedikit pun, apa pun yang terjadi. Aku akan mengurusnya."
Adnan menelan ludah. Ia melirik pintu kayu itu, lalu kembali menatap Sherly yang menatapnya memohon. Pikirannya berputar cepat. Di luar sana, kelompok Gladys pasti masih berpatroli, menunggu dia keluar. Jika ia nekat lari sekarang, kemungkinan besar ia akan langsung berhadapan dengan mereka. Di dalam sini, setidaknya ada dinding yang melindunginya. Kamar mandi itu mungkin sempit, namun itu satu-satunya tempat aman yang tersisa.
"Pergilah!" desis Sherly lagi, mendorong bahu Adnan pelan namun pasti.
Adnan mengangguk pelan. Tanpa membuang waktu, ia meraih tas dan kameranya, lalu melangkah berjinjit menuju pintu kamar mandi di sudut ruangan. Ia menyelinap masuk, memutar kunci pintu itu perlahan hingga terdengar bunyi klik yang samar, lalu bersandar lemas di balik pintu dingin itu. Ruangan itu sempit, berbau sabun dan uap air yang masih tersisa. Hanya cahaya remang dari lampu di cermin yang menerangi tempat itu.
Tak lama setelah dia sembunyi, suara kunci pintu kamar utama diputar. Pintu terbuka.
"Kau lama sekali membukanya," suara berat dan parau itu terdengar masuk, disertai bunyi langkah kaki yang berat dan sempoyongan. "Aku hampir saja berpikir kau melarikan diri."
"Maaf, Pak Herman... tadi aku sedang merapikan diri," jawab Sherly. Suaranya berubah drastis, kini terdengar lembut, merayu, dan penuh kepatuhan, jauh berbeda dari nada bicara saat berbicara dengan Adnan tadi.
Pintu kamar tertutup dan dikunci kembali. Adnan menahan napas, telinganya menempel di dinding kamar mandi, mencoba menangkap setiap suara dari luar.
"Kemarilah," perintah Herman. Suara kain yang bergesekan terdengar, diikuti desahan panjang pria itu. "Sangat lama aku menantikan ini. Kemarilah, biarkan aku melihatmu."
"Tentu saja," bisik Sherly lembut.
Dan kemudian suasana berubah. Suara ciuman yang basah dan berisik mulai terdengar, disusul rintihan pelan yang sengaja dikeluarkan Sherly. Pria itu tertawa rendah, suara yang terdengar kasar dan rakus. Adnan mendengar suara gesekan kain, baju yang diturunkan, lalu desahan yang semakin lama semakin keras dan berirama.
Adnan memejamkan mata rapat-rapat. Ia duduk di tepi bak mandi yang dingin, kedua tangannya mencengkeram lututnya erat. Di balik pintu itu, pemandangan yang terjadi persis seperti yang ia saksikan di ruangan ritual tadi, namun kali ini tidak ada kengerian entitas gaib, hanya keputusasaan dan kepura-puraan murni.
Suara desahan Sherly terdengar berulang kali, terkadang keras, terkadang tertahan. Ia melakukannya dengan sangat baik, seolah benar-benar menikmatinya, padahal Adnan tahu persis, wanita itu baru saja merayunya dan kini sudah menikmati permainan lelaki lain.
"Kau sempurna..." gumam Herman di luar sana, suaranya terputus-putus. "Lebih baik dari yang kubayangkan..."
Suara tubuh yang beradu, napas yang memburu, dan kata-kata kotor yang terlontar dari mulut pria tua itu memenuhi ruangan. Adnan merasa telinganya panas. Ia berusaha memikirkan hal lain, makhluk bertanduk, kamera di tangannya, cara untuk keluar dari sini, namun suara itu terus merembes masuk, mengingatkannya pada posisinya yang sungguh menyedihkan, terkunci di kamar mandi, bersembunyi seperti pencuri, sementara di luar sana seorang wanita yang baru saja menawar hatinya tanpa syarat, kini harus menjual tubuhnya demi orang asing yang mabuk dan kasar.
Adnan menghela napas panjang, napas yang bergetar di udara dingin kamar mandi. Ia menundukkan kepalanya, merasa tak berdaya. Jika ia keluar, bukan hanya dirinya yang akan dicurigai, tetapi Sherly juga bisa terancam bahaya yang jauh lebih besar, baik dari pria mabuk itu maupun dari kelompok Gladys yang masih mengintai di luar.
Ia harus bertahan. Hanya sebentar. Pikirnya. Pria itu pasti akan kelelahan dan pergi.
Menit terasa berjalan sangat lambat. Setiap detik yang berlalu terasa seperti jam. Adnan menatap pantulan dirinya di cermin yang sedikit berembun. Wajahnya pucat, matanya cekung dan lelah. Di luar sana, suara itu masih berlanjut, irama yang monoton, penuh kepura-puraan, dan kesepian yang mendalam.
Hingga akhirnya, setelah terdengar suara erangan panjang dari pria itu, suasana perlahan hening. Terdengar suara napas berat yang tersengal, diikuti bunyi gesekan pakaian yang dikenakan kembali.
"Kau memang hebat," puji Herman, suaranya terdengar lebih tenang meski masih serak karena alkohol. "Ini bayarannya. Sisanya untukmu."
"Terima kasih, Pak," jawab Sherly lembut.
Adnan tetap duduk diam di kamar mandi, menunggu. Ia berharap malam segera berlalu lebih cepat.