Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 - Darah yang Mengkhianati Darah
Ruangan mendadak sunyi.
Tak seorang pun mengucapkan sepatah kata setelah wajah pria di ujung meja itu muncul di layar.
Alea menggeleng pelan.
"Tidak..."
"Itu tidak mungkin."
Matanya berkaca-kaca.
"Itu Paman Surya."
"Beliau tidak mungkin melakukan ini."
Suara Alea terdengar lirih, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Raka menghentikan video.
"Aku tahu ini sulit."
"Tapi kita belum boleh mengambil kesimpulan hanya dari satu rekaman."
Adrian mengangguk.
"Benar."
"Kita harus memastikan konteks pertemuan itu."
Alea mengusap sudut matanya.
"Kalau begitu lanjutkan."
---
Video kembali diputar.
Suara percakapan mulai terdengar.
Namun kualitas audionya buruk.
Beberapa kalimat terputus-putus.
"...pemindahan dana..."
"...rekening cadangan..."
"...Pram tidak boleh tahu..."
Mendengar nama ayahnya disebut, Alea spontan mengepalkan tangan.
Lalu suara Om Surya terdengar lebih jelas.
> "Selama kakak saya masih percaya kepada saya, tidak akan ada masalah."
Kalimat itu membuat napas Alea tercekat.
"Itu..."
"Itu suara Paman."
Raka tidak mengalihkan pandangan dari layar.
Ia memperbesar gambar.
Di atas meja rapat terdapat sebuah map berlogo **Garuda Capital Holdings**.
Perusahaan itu terasa tidak asing.
"Aku pernah melihat logo ini," gumam Raka.
"Di mana?" tanya Adrian.
"Dalam penyelidikan lima tahun lalu."
"Garuda Capital hanya perusahaan investasi di atas kertas."
"Pemilik aslinya tidak pernah diketahui."
---
Beberapa menit kemudian, video selesai.
Tak ada pengakuan langsung.
Tak ada nama dalang utama.
Namun satu hal menjadi jelas.
Om Surya memang hadir dalam rapat rahasia itu.
Alea menundukkan kepala.
Kenangan masa kecil berkelebat di benaknya.
Paman Surya yang mengajarinya bersepeda.
Paman Surya yang selalu membela dirinya ketika dimarahi ayah.
Paman Surya yang menangis saat ibunya meninggal.
Apakah semua itu hanya sandiwara?
"Lea."
Suara Raka membuyarkan lamunannya.
"Kita belum tahu apakah dia pelaku..."
"...atau justru dipaksa ikut."
Alea mengangguk pelan.
Ia ingin mempercayai pamannya.
Tetapi bukti di depan matanya membuat kepercayaannya mulai retak.
---
Sementara itu...
Di sebuah rumah mewah di kawasan elite.
Seorang pria tua sedang menikmati secangkir teh.
Di hadapannya, televisi menampilkan berita tentang gangguan sistem di kantor kepolisian.
Ia tersenyum tipis.
Seorang pria bertubuh tegap masuk ke ruangan.
"Pak."
"Hard disk itu gagal kita ambil."
Pria tua itu tidak marah.
Ia justru tersenyum.
"Sudah kuduga."
"Lalu bagaimana?"
"Biarkan mereka membacanya."
Anak buahnya tampak bingung.
"Tapi bukankah itu berbahaya?"
Pria tua itu tertawa pelan.
"Semakin banyak mereka menemukan..."
"...semakin jauh mereka dari kebenaran."
Ia meletakkan cangkir tehnya.
"Karena bukti yang paling penting..."
"...tidak pernah kusimpan di hard disk."
---
Malam harinya...
Raka menerima telepon dari seseorang yang nomornya tidak dikenal.
Begitu diangkat, tidak ada suara.
Hanya terdengar napas pelan.
"Lalu?"
tanya Raka dingin.
Beberapa detik kemudian, suara seorang perempuan terdengar.
"Aku tidak punya banyak waktu."
Raka langsung berdiri.
"Siapa ini?"
"Kamu tidak mengenalku."
"Tapi aku mengenal ibumu."
Wajah Raka berubah.
"Ibuku sudah meninggal."
"Apa kamu yakin?"
Kalimat itu membuat darah Raka seolah berhenti mengalir.
"Apa maksudmu?"
"Kalau ingin tahu kebenaran..."
"...datang sendiri besok pukul sembilan malam."
"Lama Gudang Pelabuhan Timur."
"Jangan membawa polisi."
Sambungan langsung terputus.
Raka masih menggenggam ponselnya.
Tangannya mulai menegang.
Alea yang melihat perubahan wajah suaminya segera menghampiri.
"Raka?"
"Ada apa?"
Raka menatap Alea cukup lama.
Selama bertahun-tahun ia percaya ibunya meninggal karena kecelakaan.
Namun panggilan tadi...
Membuka luka lama yang selama ini telah terkubur.
"Aku mungkin baru saja mendapat petunjuk..."
"...tentang masa lalu keluargaku."
Belum sempat Alea bertanya lebih jauh, laptop di meja mengeluarkan bunyi notifikasi.
Sebuah folder baru muncul sendiri di hard disk.
Padahal sebelumnya tidak ada.
Nama folder itu hanya satu kata.
**"MELATI."**
Raka membeku.
Melati...
Adalah nama ibunya.
**Bersambung...**