"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETELAH BADAI MEREDA
Aroma karpet masjid yang khas dan sisa-sisa air wudhu yang mengering di wajah perlahan meredakan gemuruh di dada Zaid. Sholat Ashar berjamaah tadi terasa begitu magis. Untuk beberapa menit, Zaid berhasil melupakan fakta bahwa di luar sana ada Raka dan antek-anteknya yang siap menerkam. Di atas sajadah, saat mendengar amin yang lirih dari Khadijah di belakangnya, Zaid merasa dunianya terkunci dengan aman.
Namun, realitas Jakarta segera menyambut begitu mereka kembali ke dalam mobil. Hujan gerimis telah berubah menjadi hujan deras yang mengguyur ibu kota, menciptakan genangan air di sepanjang jalan dan kemacetan yang mulai mengular.
"Mas Zaid, wajahnya masih tegang," celetuk Khadijah memecah keheningan, matanya menyipit jenaka di balik cadar hitamnya.
Zaid yang sedang memindahkan gigi mobil menoleh sekilas, lalu mendengus pelan. "Bagaimana tidak tegang? Aku sedang membawa penumpang paling berharga di dunia, di tengah jalanan Jakarta yang macet dan dikelilingi musuh."
Khadijah terkekeh. Suara tawa kecilnya yang renyah selalu sukses menjadi obat penenang instan bagi saraf-saraf Zaid yang menegang. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita mampir sebentar?"
"Mampir? Ke mana? Dalam kondisi seperti ini lebih aman langsung pulang ke rumah Abi, Khadijah."
"Ke kedai es krim di dekat perempatan depan, Mas. Dulu... Kak Farhan sering menjanjikan saya ke sana, tapi belum pernah kesampaian karena beliau selalu sibuk di pesantren," ujar Khadijah, suaranya melembut di akhir kalimat.
Mendengar nama Farhan disebut, Zaid sempat terdiam. Ada denyut cemburu yang aneh, namun segera ia tepis. Zaid mencengkeram setir lebih erat, matanya menatap tajam ke depan.
"Baik. Kita ke sana. Tapi bukan karena Farhan pernah menjanjikannya," cetus Zaid dengan nada posesif yang kentara.
"Lalu karena apa?"
"Karena suamimu yang sekarang ingin membelikanmu es krim," jawab Zaid ketus namun sukses membuat pipi Khadijah di balik cadar memerah sempurna.
Kedai es krim kuno itu untungnya tidak terlalu ramai karena faktor cuaca. Mereka memilih meja di pojok ruangan yang agak temaram, jauh dari jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Zaid sengaja mengambil posisi duduk yang menghadap langsung ke pintu masuk insting pelindungnya tidak pernah mati.
Khadijah perlahan membuka cadarnya setelah memastikan posisi mereka cukup privat dan tidak terjangkau pandangan pengunjung lain. Wajah bidadari itu kembali terpampang nyata di depan Zaid, disinari lampu gantung kuning yang hangat.
"Mas Zaid tidak pesan?" tanya Khadijah saat pelayan hanya mengantarkan semangkuk es krim vanila dengan taburan stroberi di depannya.
"Tidak. Melihatmu makan saja sudah cukup," jawab Zaid santai, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap Khadijah lekat-lekat.
Khadijah merona, ia menyuapkan sendok pertama ke mulutnya. Sensasi dingin dan manis langsung menyebar, membuat senyum manis terukir di bibir pink ranumnya. "Enak sekali. Mas harus coba."
Tanpa diduga, Khadijah menyodorkan sendok yang baru saja ia gunakan ke depan mulut Zaid. Zaid tertegun sejenak, menatap sendok dan wajah istrinya bergantian. Di jalanan, ia adalah pria yang ditakuti, tapi di depan sesendok es krim dari istrinya, Zaid mendadak kaku.
Dengan canggung, Zaid memajukan wajahnya dan menerima suapan itu.
"Bagaimana, Mas?"
"Terlalu manis," jawab Zaid jujur, namun matanya tidak lepas dari wajah Khadijah. "Tapi... boleh lah."
Tawa Khadijah kembali pecah. Momen sederhana ini terasa begitu kontras dengan ketegangan yang mereka alami satu jam lalu di kampus. Di luar, hujan badai dan ancaman Raka mungkin mengintai, namun di dalam kedai kecil ini, hanya ada Zaid dan Khadijah yang sedang merajut dunia mereka sendiri.
Kebahagiaan kecil itu terusik ketika ponsel Zaid yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal memanggil. Zaid langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin. Ia memberi kode pada Khadijah untuk tetap diam, lalu mengangkat telepon tersebut.
"Siapa?" tanya Zaid dingin.
Suara tawa yang berat dan serak terdengar di seberang sana. Suara yang sangat Zaid kenali.
'Raka.'
*"Gimana es krimnya, Zaid? Manis?"* Tanya Raka dengan nada mengejek yang kental.
Jantung Zaid berdegup kencang. Matanya langsung menyapu ke arah jendela luar, menembus tirai hujan. Raka mengawasinya.
"Jangan tegang begitu, Pangeran Jalanan. Gue cuma mau bilang... jaket flanel lo yang lo kasih ke cewek bercadar itu kelihatan bagus dari kejauhan. Tapi bakal lebih bagus kalau warnanya berubah jadi merah darah," bisik Raka dengan nada mengancam.
Zaid mengepalkan tangan kirinya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Raka. Urusanmu denganku. Kalau kau berani menyentuh sehelai rambutnya, aku bersumpah akan menyeretmu kembali ke neraka yang lebih dalam dari penjara waktu itu."
"Hahaha! Kita lihat seberapa hebat pertahanan lo sekarang, Zaid. Nikmati sisa waktu tenangmu."
Tut. Sambungan diputus sepihak.
Zaid langsung berdiri, wajahnya mengeras sempurna. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang, meletakkannya di atas meja tanpa menunggu kembalian. "Khadijah, pakai cadarmu. Kita pulang sekarang."
Khadijah yang melihat perubahan drastis suaminya tidak banyak bertanya. Ia segera memasang cadarnya dengan cepat dan mengikuti langkah lebar Zaid menuju mobil.
Di dalam mobil yang melaju membelah banjir Jakarta, Zaid tidak mengatakan sepatah kata pun. Auranya kembali menjadi Zaid yang dingin dan menakutkan. Khadijah tahu, suaminya sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
Perlahan, Khadijah mengulurkan tangannya, menyentuh lengan kaku Zaid yang mencengkeram tuas transmisi.
"Mas Zaid..." panggil Khadijah lembut. "Demi Allah, saya tidak takut pada Raka atau siapa pun di luar sana. Saya memiliki Allah, dan saya memiliki Mas Zaid. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat saya merasa aman."
Zaid menoleh sedikit, menatap mata bening Khadijah yang memancarkan keyakinan mutlak. Perlahan, ketegangan di bahu Zaid mengendur. Ia membalikkan telapak tangannya, menggenggam jemari Khadijah dengan erat.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, Khadijah. Bahkan jika aku harus menjadi monster jalanan sekali lagi demi menjagamu," bisik Zaid penuh tekad.
Malam itu, di bawah guyuran hujan Jakarta, Zaid tahu bahwa perang besar sudah di depan mata. Namun kali ini, ia tidak akan maju dengan kemarahan yang buta, melainkan dengan cinta yang suci sebagai perisainya.