NovelToon NovelToon
Please, Menikahlah Denganku!

Please, Menikahlah Denganku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:247
Nilai: 5
Nama Author: Nona Khansa

Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!

Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9-Tunggu? Pacaran?

"Kalo enggak tau apapun jangan sok tau Aska!" Tukasnya kemudian namun tangannya masih stay memegang kerah baju Aska.

Aska hanya terkekeh kecil mendengar pernyataan Lula yang membentaknya. Ia tidak memperdulikan kerahnya yang sudah diremas oleh Lula, ia justru malah memasang wajah santai. "Terus apalagi? Apalagi Lula Khansa kalo bukan itu?"

Lula melepaskan kerah baju Aska dengan kasar, dan kembali duduk di kursinya. "Kepo banget sih Lo sama hidup gue. Perlu emang? Penting? Orang kaya Lo itu gak penting buat tau tentang hidup gue! Bulan kemarin mungkin Lo masih bisa bully gue, tapi enggak untuk sekarang!" Kecamnya pada Aska.

Aska tertawa keras beberapa detik. "Karena ada Arhan???." Tanyanya mengejek. "Coba kalo enggak ada dia, sampe sekarang Lo pasti bakal tetep dibully sama anak-anak yang lain Lula! Gitu bangga?"

Lula terbungkam sejenak. Bukannya ia kalah, namun semua yang Aska ucapkan tadi benar adanya. "Pergi dan jangan ganggu gue Aska!" Perintahnya kemudian.

"Kenapa diem soal tadi? Bener ya perkataan gue barusan? Lo bergantungan sama Arhan, liat aja kalo dia udah punya cewek, udah pasti Lo bakal dibuang jauh sama Arhan, dibuang jauh-jauh. Dan yang pasti tipenya bukan gembel jalanan kaya Lo!" Ucapannya yang begitu pedas berhasil menusuk hati Lula dengan begitu tajam. Aska pergi dari hadapannya, membuka kembali pintu kelas dan berjalan untuk duduk ditempat duduknya sendiri.

Perkataan Aska memang mampu membuatnya diam dan berfikir. Belajarnya jadi tidak fokus dan masih terus memikirkan perkataan Aska. Apakah benar ia memang terlalu bergantung pada Arhan? Memang selama hampir sebulan ini Arhan selalu baik dan sangat baik padanya. Bahkan saat ia pulang bekerja saja Arhan sering mengantarkan nya untuk pulang. Aska benar, memang selama ini Lula terlalu banyak bergantung pada cowok itu. Harusnya Arhan juga berhak bahagia dengan cewek yang ia sukai, bukan malah membantu cewek seperti dirinya ini yang masih banyak sekali minusnya.

Sepulang sekolah, tidak seperti biasanya Lula akan menunggu Arhan diparkiran, ia malah berjalan lurus begitu saja. Lula berniat untuk pergi ketempat kerja sendiri dengan jalan kaki seperti sebelum ia mengenal Arhan.

Arhan yang melihat dari kejauhan mengeriyitkan matanya heran karena melihat Lula yang keluar dari gerbang. Apakah Lula lupa jika ia harusnya pulang dengannya? Arhan pun terburu-buru mengambil motornya untuk mengejar Lula sebelum pergi semakin jauh dari pandangannya.

Beruntung Lula belum jauh dan Arhan masih melihat keberadaan cewek itu. Arhan pun melajukan motornya mendekati Lula. "Kak, kamu kenapa duluan pulangnya? Apa kakak masih lupa kalo mulai sekarang bakal pulang bareng aku?" Tanya Arhan yang sudah berhenti disamping Lula.

Lula menghentikan langkahnya. "Aku pulang sendiri aja Arhan mulai sekarang ya?"

Arhan menatap bingung cewek itu. "Kenapa?"

Lula memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali dengan menghembuskan nafasnya pelan. "Aku udah banyak ngerepotin kamu. Kamu berhak bahagia Arhan! Cari cewek yang memang kamu suka, terus kejar dia. Jangan sering-sering ngebantu aku ya?."

Arhan mendesah pelan. "Kenapa ngomong gitu sih kak? Ada yang ngomong ya pasti? Mereka manas-manasin kakak ya? Ayo naik sekarang!" Perintahnya kemudian.

Lula menggeleng. "Pergi aja Arhan. Aku enggak mau terlalu banyak bergantungan sama kamu. Kamu itu enggak capek ya?."

"Kalo enggak gimana? Sekarang naik kak!" Tegasnya lagi.

"Arh-"

"Aku suka kalo kakak bergantungan sama aku. Sekarang naik ke motor aku!" Ucapnya yang memotong perkataannya Lula.

Melihat tatapan Arhan yang tidak mau dibantah, Lula akhirnya menurut dan menaiki motor Arhan yang sudah hampir sebulan itu ia naiki bersama Arhan.

"Kak, besok bantuin aku buat poster tentang organ reproduksi ya?" Tolong Arhan kemudian yang berusaha mencairkan suasana yang begitu hening diatas motor.

"Tapi aku kerja Arhan."

"Besok izin aja, pliss..." Ucapannya yang sedikit kencang karena takut jika tidak terdengar.

Lula pasrah saja dengan permintaan yang yang Arhan mau. Mungkin ini itung-itung sebagai balas budinya selama ini karena Arhan sudah begitu baik padanya walaupun ini hanyalah permintaan sederhana dan tidak mungkin balas budinya ini akan langsung lunas. "Ya udah besok aku izin deh." Sambung Lula kemudian.

Arhan kegirangan dibalik helm yang ia pakai. Padahal ia berniat untuk membawa Lula kerumahnya dan mengenalkan nya pada sang mama.

"Nanti pulang kerja aku jemput lagi ya kak."

Lula tersenyum lebar. "Kamu enggak bosen ya jadi ojek buat aku? Adek yang berbakti banget deh!" Tukas Lula yang mengacak-acak rambut Arhan gemas. Ya, mungkin pendekatan mereka selama sebulan ini membuat Lula jadi semakin berani berkontak fisik dengan Arhan.

Arhan menghentikan aktivitas Lula yang sedang mengacak rambutnya dengan memegang tangan mungil Lula yang sekarang ini semakin putih karena bodycare yang ia belikan waktu itu.

Arhan mengambil tangan Lula dan menggenggamnya dengan erat namun tidak membuat Lula kesakitan.

Lula membeku ditempatnya. Senyumannya yang awalnya mekar kini semakin menghilang karena sikap Arhan sekarang. Dadanya berdegup kencang saat tangannya digenggam oleh Arhan. Dan tanpa ia duga...

Cup!

Arhan mencium tangan Lula dengan cukup lama di bibir nya.

Lula tentu saja kaget melihatnya. Melihat apa yang Arhan lakukan. "Arhan!! Lepas!!" Cicitnya pelan namun menekan kata-katanya karena sikap Arhan. Ia berusaha menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman dan ciuman Arhan. "Apa yang kamu lakukan!" Tukasnya yang masih memegangi tangannya sendiri.

"Cuman cium tangan emang enggak boleh? Aku dulu sering cium tangan almarhumah kakak aku, cium pipi bahkan. Apa kakak mau aku cium pipinya?" Tanya Arhan dengan menaik turunkan alisnya, memasang wajah menggoda pada Lula.

Mendengar Arhan berucap seperti itu membuat rona merah di pipi Lula jadi terlihat seperti tomat merah. "Ish! Dasar mesum!" Pekiknya sedikit keras kemudian tanpa menunggu Arhan bertindak lagi, Lula langsung meninggalkan Arhan sendiri didepan toko bunga tempatnya bekerja.

Melihat kepanikan dan kesalah tingkahan Lula membuat Arhan tertawa kecil. Sangat menggemaskan menggoda kakak tingkatnya itu. Ia kadang bingung, sebenarnya yang tua itu dirinya atau Lula sih? Kenapa jadi dia yang kurang ajar dan tidak sopan pada Lula yang lebih tua darinya? Harusnya ia hormati bukan malah di mesumi seperti itu.

Tapi tidak apalah, Arhan pikir dijaman sekarang banyak berondong yang berpacaran dengan cewek yang umurnya lebih tua. Tunggu? Pacaran? Apa dia ada kepikiran untuk berpacaran dengan Lula? Membayangkan akan berpacaran dengan cewek itu membuat wajahnya jadi salah tingkah sendiri. Apalagi dibayangannya jika dirinya bukan lagi memanggil 'kakak' tapi berganti menjadi 'sayang'. Ahh ia jadi gila sendiri.

Fiks ia sudah memutuskan bahwa hatinya memang benar-benar menyukai perempuan itu. Ia akan berencana untuk menembak cewek itu akhir Minggu ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!