NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Sinar matahari mulai menghangat jingga, menandakan sebentar lagi waktu Maghrib akan tiba.

Azel keluar dari kamar sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas. "Opa."

"Iya, Nak?"

"Azel anterin Arjun pulang dulu, ya."

Athar yang sedang menyiram bunga menoleh sambil menganggukkan kepala. "Iya, Nak. Kamu jadi menginap lagi?"

Azel menggeleng pelan.n"Nggak, Opa. Besok ada kuliah pagi. Tadi baru ingat kalau buku-buku buat besok ketinggalan di rumah. Kalau nggak diambil nanti malah repot."

Athar tersenyum memahami. "Ya sudah. Yang penting hati-hati di jalan."

"Iya, Opa."

Athar lalu menatap Arjun yang sedari tadi berdiri di samping Azel sambil memegang tangan gadis itu.

"Arjun."

"Iya, Opa?"

"Hati-hati juga sama Kak Azel."

"Iya."

Athar kembali menoleh kepada cucunya. "Selepas mengantar Arjun langsung pulang. Jangan berlama-lama di rumahnya."

Azel mengangguk patuh. "Iya, Opa."

Athar menambahkan dengan nada lembut namun penuh makna, "Ingat, Nak, kamu mengantar karena Arjun masih kecil. Bukan bertamu. Kalau ayahnya mengajak masuk, sampaikan salam dengan baik dan bilang lain kali saja."

Azel tersenyum kecil. "Siap, Opa."

"Bagus." Athar kemudian mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih.

"Hati-hati di jalan. Semoga Allah menjaga kalian."

"Aamiin."

Arjun ikut mengangkat kedua tangannya. "Aamiin."

Melihat tingkah polos bocah itu, Athar tersenyum geli.

"Nanti kalau sudah sampai rumah jangan lupa cium tangan Ayah."

"Iya, Opa."

"Dan salat Maghrib jangan ditunda."

"Iya!"

"Masya Allah."

Athar mengusap kepala Arjun sekali lagi. "Anak saleh."

Arjun tersenyum bangga. Azel pun menggandeng tangan bocah itu menuju motor matic miliknya.

"Yuk. Helm dulu."

"Iya, Kak."

Setelah memastikan helm Arjun terpasang dengan benar, Azel membantu bocah itu naik ke bagian depan motor.

"Pegangan yang kuat."

"Siap!"

Motor pun perlahan keluar dari halaman rumah. Athar masih berdiri di teras, memperhatikan keduanya hingga menghilang di tikungan jalan.

Di dalam hatinya, ia kembali memanjatkan doa. "Ya Allah... lindungilah cucuku di mana pun ia berada. Dan jagalah pula anak kecil itu. Mudahkan langkah mereka dalam kebaikan, serta jauhkan mereka dari segala keburukan."

***

Begitu motor Azel berhenti di depan rumah Arjun, ia melihat sebuah BMW hitam sudah terparkir rapi di garasi.

"Alhamdulillah... berarti Ayah Arjun sudah pulang," gumamnya pelan.

Arjun langsung turun dari motor dengan wajah ceria. "Ayo, Kak. Masuk dulu."

Azel tersenyum sambil melepas helmnya. "Nggak, deh. Kakak cuma mau nganter Arjun sampai ketemu Ayah. Habis itu Kakak langsung pulang. Ingat pesan Opa tadi, kan?"

Arjun mengangguk. "Ingat."

"Pesannya apa?"

"Nggak boleh lama-lama di rumah Arjun."

"Nah, pinter."

Arjun lalu berlari kecil menuju pintu rumah. "Assalamu'alaikum, Ayah!"

Azel yang berdiri beberapa langkah di belakang ikut berseru dengan suara pelan.

"Assalamu'alaikum, Pak Kutub Utara."

Arjun langsung menoleh bingung. "Kak..."

"Iya?"

"Kenapa Ayah dipanggil Pak Kutub Utara?"

Azel cekikikan. "Soalnya Ayah kamu dinginnya kayak di Kutub Utara."

Belum sempat Arjun menjawab, pintu rumah terbuka. Ibra muncul dari balik pintu.

Rambutnya masih sedikit basah seolah baru selesai mandi. Ia hanya mengenakan celana training hitam dan singlet putih yang memperlihatkan lengan serta bahunya yang tegap.

Begitu melihat itu, mata Azel langsung membulat. Refleks ia menutup kedua matanya dengan telapak tangan.

"Ya Allah..." ringisnya dalam hati.

"Ini Pak Kutub Utara kenapa bukanya pintu pakai singlet doang, sih?"

Ibra mengernyit melihat tingkah Azel. "Kenapa kamu?"

Azel masih menutupi matanya. "Bapak..."

"Iya?"

"...bisa nggak lain kali pakai baju dulu baru buka pintu?"

Ibra melihat dirinya sendiri sekilas. "Lho? Saya pakai baju."

"Itu singlet, Pak."

"Tetap baju."

"Itu... beda."

"Bedanya?"

Azel membuka sedikit sela-sela jarinya. "Ya... ya beda aja."

Ibra menatapnya datar. "Pikiran kamu ke mana-mana, ya?"

"Hah?!" Azel langsung menurunkan tangannya. "Ya Allah, enggak! Saya cuma kaget. Masa buka pintu dalam keadaan begitu."

Ibra mengangguk pelan. "Oh... Besok saya pakai jas kalau buka pintu."

Azel melongo. "Loh gak gitu juga maksud saya. Itu berlebihan."

"Jadi maunya bagaimana?"

"Ya..." Azel menggaruk pelan pipinya. "...kaus biasa kek."

Ibra mengangguk lagi dengan wajah datar. "Baik."

Azel justru bingung. "Lho, kok nurut?" batinnya.

Sementara itu, Ibra mengalihkan pandangan kepada putranya. "Arjun."

"Iya, Ayah."

"Dari mana saja?"

"Main sama Kak Azel di rumah Opanya."

"Kenapa tidak izin ke Ayah dulu?"

Senyum Arjun perlahan menghilang.

Azel buru-buru menyela. "Maaf, Pak. Tapi tadi saya sudah titip pesan ke Bu Hesti. Saya bilang Arjun ikut ke rumah Opa saya sebentar. Rumah Opa juga dekat kok."

Azel menunjuk ke arah ujung jalan. "Itu, satu perumahan. Tinggal belok kiri."

Ibra memperhatikan wajah Azel beberapa detik. "Kenapa kamu dari tadi menunduk?"

Azel refleks menunduk lagi. "Lah kan gara-gara Bapak."

"Saya?"

"Iya."

"Bapak masih pakai singlet."

Ibra menatap singletnya lagi. "Lalu?"

Azel mengembuskan napas. "Ya malu kek. Saya bukan keluarga Bapak."

Sudut bibir Ibra bergerak tipis, nyaris tak terlihat. "Kamu aneh."

"Bapak yang aneh."

"Kamu."

"Bapak."

"Arjun."

"Iya, Ayah?"

"Masuk. Mandi."

"Iya." Arjun mengangguk patuh. Sebelum masuk ke rumah, ia sempat melambaikan tangan kepada Azel.

"Bye, Kak Azel."

Azel ikut melambaikan tangan. "Dadah, anak ganteng."

"Jangan lupa salat Maghrib."

Arjun tersenyum lebar. "Ayo ayah Kutub Utara!"

Senyum di wajah Azel langsung membeku. Matanya membulat sempurna.

"Ya Allah..." batinnya. "Kenapa anak ini malah ngomong begitu di depan ayahnya sendiri? Mati aku..."

Ibra yang semula hendak masuk kembali menghentikan langkahnya.

Ia menoleh kepada Arjun. "Arjun."

"Iya, Ayah?"

"Kenapa kamu panggil Ayah seperti itu?"

Arjun menjawab dengan polos. "Aku ngikutin Kak Azel. Kan tadi Kak Azel manggil Ayah 'Pak Kutub Utara'."

Hening. Azel menelan ludah.

Sementara Ibra perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Azel. Tatapannya datar seperti biasa. Namun entah mengapa justru itu yang membuat Azel semakin gugup.

"Baik." Ibra kembali menatap putranya. "Sekarang masuk, mandi. Nanti kita bicara lagi."

"Iya, Ayah." Arjun pun berlari kecil masuk ke dalam rumah.

Begitu Arjun sudah tidak ada. Azel langsung berbalik. Ia tak ingin berlama-lama disini.

"Oke. Pulang. Selamat tinggal." Gumamnya.

Belum sempat ia melangkah dua langkah, tali ranselnya tiba-tiba ditarik dari belakang.

"Ehh!" Azel menoleh. "Pak! Lepasin!"

Ibra masih memegang tali tasnya dengan tenang. "Kita belum selesai."

"Apa lagi, Pak?"

"Kamu mengajari anak saya apa?"

Azel langsung menggeleng cepat. "Saya nggak ngajarin apa-apa. Dia denger sendiri."

"Dia meniru dan itu karena kamu."

Azel mengembuskan napas panjang. "Ya Allah, Pak. Namanya juga anak kecil. Kalau denger sesuatu ya ditiru."

Ibra menyilangkan kedua tangannya. "Hei... Jangan mentang-mentang anak saya menyukai kamu lalu kamu merasa bebas mengajarinya sembarangan."

Azel langsung mendelik. "Lho? Saya ngajarin apaan?"

"Memanggil ayahnya 'Pak Kutub Utara'."

"Itu kan cuma julukan."

"Itu bukan contoh yang baik."

Azel mulai kesal. "Ya terus Bapak juga jangan nyalahin saya semua. Saya kan nggak nyuruh Arjun manggil Bapak begitu. Saya cuma bercanda."

Ibra tetap memasang wajah datar. "Sebagai orang dewasa, kamu harus tau bahwa anak kecil mudah meniru."

Kalimat itu membuat Azel terdiam sejenak. Ia sadar ucapan Ibra ada benarnya. Namun gengsinya terlalu tinggi untuk langsung mengaku.

"Iya... tapi..." Azel masih berusaha membela diri. "...Bapak juga terlalu serius."

"Saya memang serius."

"Iya, tau. Makanya saya kasih julukan Pak Kutub Utara agar ada sedikit kehangatan."

Ibra menghela napas pelan. "Kamu ini..."

"Apa?"

"Selalu punya jawaban."

Azel langsung mendengus. "Ya habis Bapak nyudutin saya terus. Di kampus juga begitu. Kenapa harus saya terus yang ditanya-tanya?"

Ibra mengangkat sebelah alis. "Kamu merasa saya mengincar kamu?"

"Lah iya. Baru juga pertama masuk kelas Bapak, langsung saya yang kena. Telat sedikit..."

"Sedikit?" Ibra memotong datar. "Sebelas menit empat puluh lima detik."

Azel mengerjapkan mata. "Ya Allah... Bapak masih hafal?"

"Saya terbiasa mengingat angka."

Azel memutar bola matanya. "Pantes, namanya juga dosen perpajakan."

Ibra mengabaikan sindiran itu. "Dan kamu memang mahasiswa pertama yang terlambat masuk kelas."

"Ya kan gara-gara Kakak saya bawa motor saya."

"Itu urusan kamu. Mahasiswa yang baik mempersiapkan diri sebelum berangkat."

Azel mendengus kesal. "Kalau gitu besok saya nginep aja di kampus."

"Itu pilihan yang baik."

"Lah, Bapak ini susah diajak bercanda."

"Saya tidak sedang bercanda."

"Nah, kan! Makanya saya bilang Bapak cocok dipanggil Pak Kutub Utara."

Tatapan Ibra kembali datar. "Arzelia."

"Iya?"

"Kalau kamu berada di kelas saya, saya harap mulut kamu tidak seaktif ini."

Azel langsung menyilangkan kedua tangannya. "Kalau Bapak berada di luar kampus saya juga berharap wajah Bapak jangan sedatar itu. Sesekali senyum, Pak. Gratis."

Ibra menatapnya beberapa detik. "Lalu?"

"Bapak kelihatan serem."

"Itu tujuan saya."

Azel melongo. "Hah? Serem itu tujuan Bapak?"

"Supaya mahasiswa disiplin."

Azel menggeleng-gelengkan kepala. "Pantes aja satu fakultas takut sama Bapak."

"Bukan takut."

"Lalu?"

"Menghormati."

Azel berdeham pelan. "Hm... Kayaknya lebih banyak takutnya, deh."

Ibra hampir saja membalas, tetapi urung ketika melihat Azel yang masih berdiri sambil memegangi tali tasnya.

"Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?"

Azel menggeleng cepat. "Nggak."

"Yakin?"

"Iya."

Ibra mengangguk. "Bagus karena kalau masih ada saya khawatir Maghrib keburu masuk dan kamu belum sampai rumah."

Azel spontan melihat langit yang mulai menggelap. "Ya Allah! Iya lagi!"

Ia buru-buru mengenakan helm. "Pak, saya beneran pulang."

Ibra mengangguk singkat. "Hati-hati."

Azel yang sudah hendak menyalakan motor tiba-tiba berhenti. Ia menoleh dengan wajah penuh curiga.

"Lho... Bapak tadi bilang apa?"

"Hati-hati."

Azel berkedip beberapa kali. "Pak..."

"Hm?"

"Bapak ternyata bisa juga ngomong baik."

Ibra menarik napas pelan. "Saya dari tadi juga berbicara baik."

"Bukan."

"Bedanya?"

"Tadi nadanya nggak kayak dosen killer."

Ibra menggeleng kecil. "Kamu memang banyak komentar."

Azel nyengir. "Ya biar Bapak nggak kaku-kaku amat." Assalamu'alaikum, Pak."

"Wa'alaikumussalam."

Kali ini Azel benar-benar melajukan motornya keluar dari halaman rumah.

Ibra tetap berdiri di teras sambil memperhatikan hingga motor itu menghilang dari pandangan. Beberapa detik kemudian, tanpa sadar ia mengembuskan napas pelan.

"Berisik..." gumamnya.

***

Suasana ruang makan malam itu terasa tenang. Di atas meja hanya ada dua piring, semangkuk sayur bening, ayam kecap, dan sepiring buah yang sudah dipotong.

Ibra duduk berhadapan dengan Arjun. Sejak tadi bocah itu makan dengan lahap, sesekali memainkan sendoknya sambil mengingat kejadian hari ini.

Tiba-tiba Arjun mengangkat kepalanya. "Ayah."

"Hm?"

"Ayah tadi marahin Kak Azel?"

Ibra mengunyah makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab. "Tidak."

Arjun tampak lega. "Alhamdulillah."

Ibra menatap putranya. "Kenapa memangnya?"

"Jangan marahin Kak Azel ya, Ayah."

"Kenapa?"

Arjun menundukkan kepalanya. "Kan salah Arjun. Aku yang maksa mau main sama Kak Azel. Bukan Kak Azelnya."

Ibra terdiam.

"Terus... Hari ini Arjun senang banget."

"Kenapa?"

"Soalnya Arjun main ke rumah Opanya Kak Azel. Seru. Opanya baik. Beliau ceritain banyak kisah nabi. Terus Arjun diajak salat Ashar berjamaah."

Senyum kecil muncul di wajah Arjun. "Enak ya, Ayah kalau punya kakek."

Sendok di tangan Ibra perlahan berhenti bergerak. Ia memandang wajah polos putranya tanpa berkedip.

Beberapa detik kemudian Arjun kembali bertanya. "Ayah..."

"Hm?"

"Kenapa Ayah nggak pernah ngajak Arjun salat?"

Pertanyaan sederhana itu entah mengapa terasa menghantam tepat ke dalam hati Ibra. Tangannya yang semula memegang sendok perlahan terhenti.

Ia tidak bisa langsung menjawab. Bukan karena tidak tahu jawabannya. Melainkan karena ia sadar bahwa pertanyaan putranya itu memang benar.

Sejak Arjun lahir, ia selalu disibukkan dengan pekerjaan. Berangkat sejak pagi. Pulang menjelang malam.

Saat tiba di rumah, tenaga dan pikirannya sudah terkuras habis. Ia memang mengajarkan Arjun untuk disiplin, mandiri, dan menghormati orang lain.

Namun ia hampir tidak pernah meluangkan waktu untuk mengajarinya mengaji ataupun mengajaknya salat berjamaah.

Dulu... Semasa almarhum ibunya, Bu Zulfa, masih hidup. Beliaulah yang dengan sabar mengajarkan Arjun huruf hijaiyah, doa-doa harian, dan membiasakannya salat.

Setelah sang ibu meninggal, kebiasaan itu perlahan memudar. Bukan semata-mata karena kesibukan.

Ada luka yang selama bertahun-tahun ia simpan rapat. Luka yang membuat hubungannya dengan Tuhan ikut menjauh. Pandangannya kosong menatap meja makan.

Tanpa sadar, ingatannya kembali berputar ke masa belasan tahun lalu. Saat usianya baru menginjak tiga belas tahun. Ia harus meninggalkan kota tempat ia dibesarkan karena ayahnya dipindahtugaskan ke Jakarta.

Awalnya kehidupan mereka berjalan baik. Tidak ada yang terasa berbeda.

Hingga suatu hari... Dunia mereka runtuh. Ayahnya terbukti melakukan tindak pidana korupsi di tempatnya bekerja. Vonis penjara dijatuhkan.

Sejak hari itu... Nama keluarganya menjadi bahan gunjingan.

Ibra yang masih remaja harus menahan tatapan sinis teman-temannya.

Ibunya, Bu Zulfa, memilih pindah dari rumah dinas ke sebuah kontrakan kecil agar bisa memulai hidup yang baru. Demi menyambung hidup, wanita itu berjualan dari pagi hingga malam. Padahal Bu Zulfa dulunya seorang guru tapi karena berita suaminya, jadi tidak ada orang yang mau mempekerjakannya lagi.

Meski hidup serba kekurangan, Bu Zulfa tak pernah meninggalkan salat malamnya. Tak pernah berhenti mengingatkan putranya.

"Nak... Kita memang sedang diuji. Tapi jangan pernah menjauh dari Allah."

Ibra hanya mengangguk saat itu. Namun seiring bertambahnya usia, hatinya justru semakin dipenuhi amarah. Bahkan sajadah yang dulu selalu dibentangkan ibunya kini terlipat rapi di sudut kamar. Debu tipis mulai menempel di permukaannya, pertanda sudah lama tak lagi disentuh.

Saat duduk di bangku SMA, ia mengenal seorang gadis bernama Celine. Untuk pertama kalinya, ia jatuh cinta.

Bu Zulfa pernah menasihatinya dengan lembut. "Nak, kamu tahu pacaran itu tidak dibenarkan dalam agama. Kalau memang serius, perbaiki dulu dirimu. Dekatkan diri kepada Allah. Nanti kalau sudah siap, datangilah keluarganya dengan cara yang baik. Tapi sekarang, Mama lihat kamu semakin jauh dari Allah."

Sayangnya... Saat itu Ibra merasa dirinya sudah cukup dewasa. Ia mengabaikan semua nasihat ibunya. Bahkan ia sering membantah dengan nada tinggi.

Hubungannya dengan Celine terus berlanjut hingga mereka lulus sekolah. Namun hubungan itu ditentang keras oleh kedua orang tua Celine.

Bagi mereka, Ibra bukan laki-laki yang pantas. Selain berasal dari keluarga sederhana. Status ayahnya sebagai mantan narapidana kasus korupsi menjadi alasan utama penolakan mereka.

Meski begitu Ibra dan Celine tetap menikah. Tanpa restu keluarga Celine. Awalnya Ibra yakin cinta mereka akan mampu mengalahkan semuanya. Namun kenyataan tidak seindah harapannya.

Celine yang sejak kecil hidup bergelimang kemewahan, harus beradaptasi dengan kehidupan yang serba pas-pasan.

Lambat laun pertengkaran mulai sering terjadi. Hingga akhirnya... Celine memilih pergi.

Ia berselingkuh dengan sahabat Ibra sendiri. Seorang pria yang jauh lebih kaya. Tak lama kemudian, Celine kembali kepada kedua orang tuanya, meninggalkan Ibra dan Arjun yang masih bayi.

Sejak saat itu hati Ibra dipenuhi kemarahan. Bukan hanya kepada manusia. Tetapi juga kepada takdir yang menurutnya begitu kejam.

Ia sempat mempertanyakan semua yang terjadi. Bahkan pernah melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada Tuhannya saat larut dalam keputusasaan.

Meski waktu terus berjalan... Rasa bersalah atas sikapnya kepada Allah tidak pernah benar-benar hilang.

Lamunan Ibra buyar ketika sebuah tangan kecil menggenggam jemarinya.

"Ayah..."

Ibra tersadar. Ia menatap Arjun yang sedang memandangnya penuh khawatir.

"Kenapa, Jun?"

"Maaf ya... Kalau pertanyaan Arjun tadi bikin Ayah sedih."

Hati Ibra kembali terasa sesak. Ia mengusap pelan kepala putranya.

"Bukan salah Arjun. Justru... Pertanyaan Arjun mengingatkan Ayah kalau selama ini masih banyak yang harus Ayah perbaiki."

Arjun tersenyum kecil. "Berarti Ayah nggak marah?"

Ibra menggeleng. "Tidak. Sekarang habiskan dulu makanannya. Nanti Isya ayah yang akan mengajak Arjun salat berjamaah."

Mata Arjun langsung berbinar. "Janji?"

Ibra menatap putranya dengan penuh kesungguhan. "Insya Allah."

1
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lngsung di lamar sndiri sama anak nya 😁😁😁smoga azel bisa membuka hati nya ya untuk mnerima prmintaaan Arjun 😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!