NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Suami yang Juga Sibuk

Ponsel Nan Shin masih berada di tangannya ketika ia hampir bertabrakan dengan suaminya di koridor rumah sakit.

Cheng An baru keluar dari area kamar operasi. Penutup kepalanya sudah dilepas, tetapi garis bekas masker masih tercetak di wajah. Jas putihnya terbuka di atas baju operasi berwarna hijau tua. Di tangan kanannya ada segelas kopi dingin dari mesin dekat lobi bedah.

Nan Shin memegang gelas yang sama.

Titik-titik air menempel di kedua gelas plastik sekali pakai itu. Mereka membeli kopi dari mesin yang sama, bekerja di gedung yang sama, dan pulang ke rumah yang sama. Namun Nan Shin tidak ingat kapan terakhir kali mereka duduk untuk menghabiskan satu gelas bersama.

Langkah keduanya berhenti bersamaan.

“Udah makan?” tanya Cheng An.

Nan Shin menggeleng.

“Mama menelepon aku tiga kali.”

Cheng An mengerutkan kening. “Jam berapa?”

“Sebelum subuh. Kamu tahu ada apa?”

“Nggak. Semalam aku juga di kamar operasi.”

“Kamu bisa telepon Mama nanti?”

Cheng An menatap jam di pergelangan tangannya. “Kalau sudah selesai laporan. Kamu pulang dulu dan lihat anak-anak.”

“Aku juga baru selesai kerja, Cheng An.”

“Aku tahu.” Tatapannya bertahan sesaat. “Makanya aku tanya kamu sudah makan atau belum.”

Tatapan Cheng An turun sekilas ke wajahnya, lalu ke seragam perawat yang sudah kusut. Nan Shin sempat berpikir suaminya akan mengatakan sesuatu tentang matanya yang merah atau rambutnya yang mulai lepas dari ikatan. Mungkin juga bertanya kenapa Ibu Kho menelepon tiga kali sebelum subuh.

Namun seorang dokter residen memanggil dari ujung koridor.

“Dok, hasil lab pasien kamar operasi dua sudah keluar.”

Cheng An menoleh. Tangannya langsung mengangkat gelas kopi sedikit, seperti salam singkat yang menggantikan semua hal yang tidak sempat mereka bicarakan.

Nan Shin membalas dengan anggukan.

Lalu mereka berjalan ke arah berlawanan.

Sol sepatu Cheng An menjauh menuju ruang dokter, sementara sepatu Nan Shin membawanya ke lift karyawan. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan di bahu. Bahkan tidak ada pesan agar berhati-hati di jalan.

Pintu lift menutup di antara mereka.

Di dalam kotak logam yang dingin itu, Nan Shin melihat bayangannya pada dinding mengilap. Gelas kopi di tangannya bergetar pelan mengikuti gerakan lift. Ia baru sadar Cheng An juga tidak menjawab pertanyaannya, sebab ia memang tidak sempat bertanya balik.

Sudah hampir sebelas tahun mereka menikah. Dulu satu pertanyaan pendek seperti itu akan disusul banyak hal. Mau makan apa? Pulang bareng? Ada uang untuk belanja? Kapan jadwal libur kita sama?

Sekarang, “udah makan?” terdengar seperti sapaan antara dua rekan kerja yang kebetulan saling mengenal.

Lift berhenti di lantai dasar. Ketika pintunya terbuka, suara rumah sakit menyambut lagi: troli sarapan pasien, pengumuman dari pengeras suara, dan keluarga yang mulai memenuhi loket pendaftaran pagi.

Nan Shin menyingkir untuk memberi jalan kepada seorang petugas yang mendorong kursi roda. Tubuhnya terlambat bergerak. Bahunya hampir tersenggol pegangan besi.

“Maaf, Suster.”

“Nggak apa-apa.”

Jawaban itu keluar otomatis.

Di dekat mesin absensi, Suster Ayu sedang merapikan jaketnya sebelum pulang. Wajah perawat muda itu juga lelah, tetapi langkahnya masih ringan.

“Suster Nan Shin pulang sekarang?”

“Iya. Kamu?”

“Aku dijemput kakakku.” Ayu melirik gelas di tangan Nan Shin. “Itu belum diminum dari tadi, kan?”

Nan Shin baru menyadari es di dalamnya hampir mencair seluruhnya. “Nanti di jalan.”

“Jangan cuma kopi. Makan juga.”

“Kalau aku ketiduran di mobil, bangunnya mungkin sudah siang,” kata Nan Shin.

Ayu mengerutkan hidung. “Jangan bercanda begitu. Suster pucat sekali.”

“Aku cuma kurang tidur.”

“Tadi ketemu dr. Kho, kan?”

Nan Shin melirik ke arah lift yang sudah tertutup. “Ketemu.”

“Terus kalian nggak pulang bareng?”

“Dia masih ada laporan. Aku harus pulang lihat anak-anak.”

Ayu menarik tali jaketnya. “Kalian kerja satu gedung, tapi jadwalnya seperti beda kota.”

“Kadang beda kota malah masih sempat telepon.”

Ayu mengucapkannya sambil tersenyum, tetapi kalimat itu membuat Nan Shin teringat Cheng An. Pertanyaan yang sama, perhatian yang seharusnya sama, hanya saja dari suaminya tidak pernah ada waktu untuk menunggu jawaban.

“Kamu juga,” balas Nan Shin.

Mereka berpisah di pintu karyawan. Ayu berjalan ke area penjemputan, sementara Nan Shin duduk sebentar di bangku dekat lobi untuk memesan mobil lewat aplikasi. Ia terlalu lelah membawa motor setelah jaga malam. Pandangannya beberapa kali kabur saat membaca pelat kendaraan di layar.

Ponselnya masih menampilkan tiga panggilan dari Mama.

Nan Shin menekan nama itu, lalu berhenti sebelum sambungan dibuat. Pukul enam lewat tiga puluh. Di rumah, Yi Ming seharusnya sedang bersiap ke sekolah. Yi Chen biasanya masih harus dibujuk turun dari tempat tidur. Bekal mereka belum ia periksa. Seragam Yi Ming mungkin belum disetrika jika Mama tidak mengingatkan.

Ia mengetik pesan singkat.

Ma, aku baru selesai jaga. Aku pulang sekarang.

Pesan itu terkirim, tetapi tidak langsung dibaca.

Mobil pesanannya tiba tujuh menit kemudian. Nan Shin masuk, menyebutkan tujuan untuk memastikan, lalu menyandarkan kepala ke kursi.

“Habis jaga malam, Bu?” tanya sopir setelah melihat seragamnya dari kaca tengah.

“Iya, Pak.”

“Kalau AC-nya terlalu dingin, bilang saja.”

“Begini sudah pas. Tolong bangunkan saya kalau sudah dekat Cluster Verona.”

“Siap. Ibu tidur saja. Saya jalan pelan.”

Nan Shin belum sempat memejamkan mata ketika ponselnya bergetar. Bukan balasan dari Ibu Kho, melainkan panggilan dari telepon rumah. Ia segera mengangkatnya.

“Mama?” Suara Yi Ming terdengar pelan.

“Iya, Sayang. Mama sedang di jalan pulang. Kamu sudah sarapan?”

“Sudah. Popo cari Mama dari tadi.”

“Ada apa di rumah?”

“Aku nggak tahu. Popo bilang bekalku belum siap, tapi tadi sudah dimasukkan.”

“Kamu jangan khawatir. Periksa buku dan botol minummu saja.”

“Mama sakit?”

Nan Shin menatap bayangannya di kaca mobil. “Cuma lelah setelah jaga malam.”

“Papa pulang sama Mama?”

“Papa masih bekerja.”

“Padahal rumah sakitnya sama.”

Nan Shin menelan sesuatu yang terasa pahit. “Jadwal Papa berbeda. Nanti Mama jelaskan.”

Suara Ibu Kho terdengar mendekat dari belakang. “Yi Ming, jangan main telepon. Cepat pakai sepatu.”

“Popo datang,” bisik Yi Ming.

“Berikan teleponnya.”

Ada bunyi gesekan, lalu suara Ibu Kho terdengar kaku. “Kamu di mana?”

“Sudah dekat rumah, Ma. Tadi saya kirim pesan.”

“Pulang dulu. Kita bicara setelah kamu sampai.”

Sambungan ditutup sebelum Nan Shin sempat bertanya tentang tiga panggilan itu.

Jalan menuju BSD sudah mulai padat. Sepeda motor menyelip di antara mobil. Matahari pagi memantul pada kaca gedung dan membuat kelopak matanya terasa panas. Setiap kali mobil berhenti mendadak, nyeri di pinggangnya kembali berdenyut.

Sopir menyalakan radio dengan volume rendah. Penyiar membacakan berita lalu lintas, tetapi kata-katanya terdengar seperti bunyi jauh. Nan Shin mencoba memejamkan mata. Yang muncul justru wajah Cheng An di koridor, garis masker di pipinya, gelas kopi di tangan, dan langkah yang tidak pernah melambat untuknya.

Ia tahu suaminya sibuk.

Sejak dipercaya menangani lebih banyak operasi, nama dr. Kho semakin sering disebut dalam rapat rumah sakit. Jadwalnya penuh, teleponnya hampir tidak pernah diam, dan setiap pembicaraan keluarga selalu kalah oleh pasien atau pekerjaan.

Nan Shin pun sibuk. Hanya saja kesibukannya tidak pernah dianggap alasan.

Malam sebelumnya, sebelum berangkat jaga, ia sudah mencoba membagi pekerjaan dengan Cheng An.

“Besok pagi kamu bisa cek tas Yi Ming sebelum pergi?” tanyanya sambil memasukkan kotak makan ke rak.

“Aku masuk lebih awal.”

“Lima menit saja.”

“Kenapa nggak minta Mama?”

Nan Shin menutup pintu kabinet. “Karena Yi Ming juga anakmu.”

Cheng An sudah membaca pesan di ponselnya. “Kalau sempat, aku cek.”

“Kalau sempat berarti aku tetap harus menyiapkannya.”

“Nan, aku sedang pegang kasus besar. Jangan mulai sekarang.”

Setelah pulang jaga malam, ia tetap harus memeriksa kebutuhan sekolah dua anak, mencuci seragam, memastikan stok dapur, membayar tagihan bulanan, dan mendengarkan Mama membicarakan apa saja yang belum dikerjakannya. Kalau Cheng An pulang larut, semua orang memaklumi. Kalau Nan Shin terlambat tiga puluh menit, rumah seolah berhenti berfungsi.

Sopir melirik kaca tengah. “Ada yang harus dijemput ke sekolah, Bu?”

“Tidak, Pak. Saya hanya perlu sampai rumah sebelum anak-anak berangkat.”

“Kalau jalur depan macet, saya lewat sisi taman. Lebih jauh sedikit, tapi biasanya bergerak.”

“Silakan. Saya tidak mau anak saya pergi sambil mengira Mamanya hilang.”

Mobil berbelok memasuki Cluster Verona. Deretan rumah bergaya Eropa berdiri rapi di balik pagar pendek. Petugas keamanan mengenali alamatnya dan membuka palang tanpa banyak bertanya.

Nan Shin memandangi rumahnya dari balik kaca.

Cat krem di dinding depan masih bersih. Dua pot tanaman di teras tersusun simetris. Dari luar, rumah itu tampak tenang, milik keluarga mapan dengan seorang dokter, seorang perawat, dua anak, dan seorang ibu yang membantu mengurus rumah.

Hanya orang di dalamnya yang tahu bantuan selalu punya harga.

Mobil berhenti. Nan Shin membayar, mengucapkan terima kasih, lalu turun perlahan. Kakinya kesemutan. Tas kerjanya terasa lebih berat daripada saat berangkat semalam.

Pintu depan tidak terkunci.

Begitu Nan Shin mendorongnya, aroma bubur ayam dan bawang goreng menyambut dari arah dapur. Televisi menyala tanpa suara. Sepasang sepatu sekolah Yi Ming sudah diletakkan dekat rak, tetapi rumah terlalu sunyi untuk pagi hari dengan dua anak.

“Mama?” panggil Nan Shin.

Tidak ada jawaban.

Ia baru melangkah masuk ketika melihat Ibu Kho berdiri di ambang ruang keluarga. Wanita itu sudah berpakaian rapi. Kedua tangannya terlipat di depan dada, wajahnya kaku, seolah telah menunggu sejak lama.

Tatapan Ibu Kho turun pada jam dinding, lalu kembali ke wajah Nan Shin.

“Akhirnya kamu pulang,” katanya.

Setelah itu, bibirnya mengatup lagi, menahan kalimat berikutnya.

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!