Miles Sterling hanyalah seorang menantu miskin yang dihina dan direndahkan oleh istri dan keluarganya. Saat ibunya sakit parah dan butuh biaya operasi $250.000, istrinya justru menghabiskan $300.000 untuk pesta mantan kekasihnya.
Namun takdir berkata lain. Miles ternyata adalah satu-satunya pemilik 50 koin NexaChain—mata uang kripto yang nilainya kini melonjak menjadi $40 miliar. Dalam semalam, ia berubah dari pengemis menjadi miliarder sekaligus CEO NexaChain Global. , perusahaan raksasa di balik koin tersebut.
Kini, dengan kekayaan dan kekuasaan yang tak terbayangkan, Miles siap membalas semua penghinaan. Tapi akankah ia mampu mempertahankan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Menerima Pesan!!
Kelvin menyipitkan matanya ke arah Miles lalu membentak, "Apa maksud semua omong kosong itu? Apa kau sudah gila? Satu-satunya orang yang mau menghormatimu hanyalah teman-temanmu dari kawasan kumuh, dan itupun di pinggir jalan, bukan di pesta kalangan atas."
"Pesta ini diadakan untuk sesuatu yang jauh lebih penting, sama sekali bukan untuk menghormati seseorang, apalagi menghormatimu, seorang bukan siapa-siapa yang bahkan tidak akan bisa masuk ke lokasi acara," tambah Kelvin.
Lily mendengus sinis sambil mengarahkan tatapan jijiknya kepada Miles. "Kau benar-benar sudah berhalusinasi," katanya sambil menyilangkan tangan dan mengangkat dagunya. "Pesta VIP Executive Party bukan sirkus yang terbuka untuk anjing liar. Acara itu diselenggarakan oleh kalangan elite di negara bagian ini—para CEO, keluarga kerajaan, gubernur, dan para pebisnis papan atas yang ingin berkontribusi bagi pembangunan negara bagian kami."
Ia masih belum berhenti. "Orang-orang yang hadir menyumbangkan jutaan dolar kepada negara. Mereka mendukung berbagai kegiatan seperti panti asuhan, rumah sakit, pembangunan infrastruktur. Bahkan mereka memberikan penghargaan kepada para miliarder yang telah memberikan kontribusi luar biasa. Lalu apa yang bisa kau sumbangkan, Miles? Pakaian compang-campingmu yang sudah kubakar sampai jadi abu, atau pakaian pinjaman yang akhir-akhir ini kau pakai tetapi tetap terlihat murahan? Seseorang yang bahkan tidak mampu membayar biaya pengobatan ibunya sebesar 250.000 dolar?"
Miles tidak mengatakan apa pun. Kakinya tetap tersilang dengan tenang dan jari-jarinya saling bertaut di atas pangkuannya. Ia hanya membiarkan mereka terus mengomel tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Justru sikap diamnya itu semakin membuat Kelvin dan Lily murka.
Kelvin sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, melewati Lily yang duduk di tengah. "Kau pikir diam membuatmu terlihat misterius? Tidak. Itu hanya membuatmu terlihat lemah, menyedihkan, dan bodoh. Kau duduk disana seolah begitu tenang, padahal kau bukan apa-apa, Miles, bukan siapa-siapa!"
Miles akhirnya berbicara dengan suara yang bahkan lebih tenang daripada sebelumnya. "Kalian berdua akan melihat sendiri bagaimana malam ini berakhir. Aku akan datang kesana. Dan aku akan menerima penghargaan tertinggi yang diberikan dalam acara itu."
Lily langsung meledak tertawa. "Kemiskinan benar-benar sudah merusak otakmu! Saat orang berkata 'bermimpilah setinggi mungkin,' bukan berarti 'jadilah sebodoh mungkin!' Sadarlah, Miles. Jujur saja. Kau dapat semua informasi itu dari Goggle, kan? Begitulah caramu mengetahui lokasi dan waktu acaranya."
Kelvin mencibir. "Benar sekali. Apa? Kau mencuri undangan seseorang? Atau mungkin kau meretas email orang lain lalu kebetulan beruntung?"
Lily masih belum selesai. Ia melambaikan tangan dengan meremehkan. "Sebenarnya aku masih heran bagaimana kau bisa punya paket data. Dengan kondisi miskin sepertimu, apa kau berdiri di pinggir jalan memanfaatkan Wi-Fi gratis dari restoran? Atau mungkin kau memohon kepada satpam mal supaya mengaktifkan hotspot untukmu? Sudahlah, diam saja. Kau hanya sedang mempermalukan dirimu sendiri."
Ia bersiap melanjutkan ocehannya, kata-kata sudah hampir keluar dari bibirnya, tetapi Detektif Theo mengangkat tangan dan langsung memotongnya.
"Cukup," katanya. "Ini kantor polisi, bukan ajang debat. Lily, fokuslah menjawab pertanyaan."
Lily memutar bola matanya lalu bergumam, "Terserah," sebelum akhirnya menyandarkan tubuhnya sedikit di kursinya.
Detektif Theo mengalihkan pandangannya kepada Kelvin dan menyadari pria itu tampak jauh lebih gelisah daripada sebelumnya. Kelvin telah mengeluarkan ponselnya dan sedang mengetik sesuatu dengan sangat cepat. Jari-jarinya gemetar, nyaris panik.
Theo menyipitkan matanya ke arah Kelvin. "Tuan Kelvin, apa kau baik-baik saja?"
Kelvin tidak langsung menjawab. Saat akhirnya ia mengangkat kepala, ia tampak terkejut, bahkan kursinya sedikit bergoyang. Lily pun menoleh kepadanya dengan wajah bingung.
"Tuan Stewart?" tanya Theo sekali lagi. "Ada yang tidak beres?"
Kelvin memaksakan tawa yang terdengar kaku. "Tidak, tidak ada. Semuanya baik-baik saja. Hanya... sedikit lelah, itu saja. Hari ini benar-benar panjang." Suaranya terdengar bergetar.
Detektif Theo tidak mempercayainya. "Itu tadi panggilan atau pesan? Karena ekspresimu langsung berubah. Kau tampak seperti baru saja melihat hantu, atau mungkin sesuatu yang sangat menarik perhatianmu.”
Kelvin kembali tertawa canggung. "Itu cuma pesan singkat, tidak penting. Hanya... urusan pekerjaan."
"Dari siapa?" Theo langsung menyusulkan pertanyaan lain, matanya menyipit seolah banyak dugaan yang sedang berputar di kepalanya.
Miles kini juga memperhatikan Kelvin dengan saksama karena semakin penasaran dengan tingkah lakunya. Ia sedikit memiringkan kepalanya, seolah sudah mulai mencurigai sesuatu.
Kelvin tergagap. "B-bukan siapa-siapa yang penting, hanya seseorang dari tempat kerja. Dia mengirim pesan untuk membahas pekerjaan denganku."
Detektif Marco mencibir dari belakangnya.
"Pekerjaan apa? Apa kau lupa kami semua melihatmu dipecat hari ini?"
Kelvin langsung membeku. Wajahnya seketika pucat pasi. Ia sama sekali tidak memikirkan hal itu sebelum berbohong.
Marco melangkah maju sedikit, suaranya terdengar lebih tegas. "Jangan berbohong di hadapan aparat penegak hukum. Terutama saat kau sudah menjadi tersangka. Bersikap terbuka adalah pilihan terbaikmu saat ini. Kecuali kalau kau memang ingin terlihat bersalah."
Kelvin membuka mulut untuk berbicara, berusaha mencari kata-kata, tetapi tiba-tiba dering ponsel Miles menyelamatkannya.
Miles perlahan memasukkan tangan ke dalam sakunya lalu melihat layar ponselnya. Ada sebuah pesan baru yang masuk.
Ia membukanya, dan jantungnya berdetak keras begitu mengenali pengirimnya.
Pengirimnya masih tidak dikenal, tanpa nama maupun identitas, hanya nomor yang sama seperti saat ancaman sebelumnya. Dan kini ada pesan lain yang membuat bulu kuduk meremang...
"Polisi tidak akan bisa membantumu. Berhentilah membuang waktumu. Sebaiknya pikirkan cara lain jika ingin mendapatkan ibumu kembali."
Genggaman Miles pada ponselnya mengencang. Selama beberapa detik ia tidak mengatakan apa pun. Lalu, tanpa sepatah kata, ia membalikkan layar ponselnya dan menyerahkannya kepada Detektif Theo.
Detektif Theo mencondongkan tubuh untuk membaca pesan itu, dan begitu memahami isi pesannya, kedua matanya langsung membelalak.
"Kevin," panggilnya dengan tajam, dan Kevin segera menghampiri.
Theo memutar layar ponsel itu ke arahnya. Kevin membaca pesan tersebut lalu menggeleng.
Rahangnya mengeras. "Sial. Ini ancaman yang masih berlangsung. Mereka sedang mengawasinya."
"Apa itu?" tanya Lily. Suaranya kini tidak lagi terdengar angkuh, melainkan gugup.
Theo tidak langsung menjawabnya. Ia sudah mengeluarkan sebuah alat perekam kecil. "Miles, apakah ini nomor yang sama dengan ancaman sebelumnya?"
Miles mengangguk. "Ya. Nomor yang sama. Mereka tidak sedang menggertak. Mereka tahu apa yang sedang kita lakukan."
Theo memotret pesan itu menggunakan ponselnya sendiri. "Kami akan melacak nomor ini. Sekarang juga."
Lily memandang mereka semua bergantian, tiba-tiba mulai merasa gugup.
Kelvin tetap diam, tetapi wajahnya semakin pucat. Ia menyandarkan tubuh ke kursinya, dan kali ini bukan karena kesombongan, melainkan karena ketidaknyamanan. Rasa takut yang sesungguhnya mulai tampak jelas di wajahnya.
Detektif Marco menoleh kepada Theo. "Kita harus memberi tahu divisi kejahatan siber dan meminta mereka memantau aktivitas ponsel Miles."
Theo mengangguk. "Aku sudah mengurusnya."
Lily mencoba berbicara lagi, tetapi Theo mengangkat tangan. "Nona Wycliff, untuk saat ini duduk saja dan tunggu. Giliranmu belum selesai."
Kelvin tiba-tiba mencondongkan tubuh ke depan, memanfaatkan kesempatan itu. "Yah, kurasa sekarang semuanya sudah jelas, bukan? Orang yang menculik ibu Miles baru saja mengirim pesan kepadanya. Itu membuktikan bahwa aku dan Lily tidak ada hubungannya dengan semua ini. Jadi kami akan pamit."
Ia berdiri dengan penuh percaya diri sambil menepuk-nepuk jasnya seolah membersihkan debu yang tidak ada, seakan dirinya akhirnya bebas.
Kepala Detektif Theo perlahan menoleh ke arah Kelvin, matanya menyipit. "Permisi? Kau pikir kau mau ke mana?"
Kelvin membenarkan kerah bajunya. "Kau sudah dengar. Pelaku yang sebenarnya baru saja menghubungi Miles secara langsung. Artinya, kami tidak bersalah. Jadi, kalau tidak keberatan, kami masih punya urusan lain."
Lily juga mulai bangkit dari kursinya sambil merapikan tasnya.
Detektif Theo menghantamkan telapak tangannya ke atas meja.
"Kelvin Stewart, kau tidak akan pergi ke mana pun sampai aku memberimu izin.”
miles ceo dingin dn kejam,agar lebih menarik membacanya thorr👍👍