Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."
Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.
Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.
Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.
Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.
Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Kematian
Layar laptop di kamar sewa yang remang-remang itu memantulkan cahaya biru di wajah Valeria. Setelah menunggu selama dua jam yang menyiksa, sebuah notifikasi akhirnya muncul di pojok kanan bawah forum dark web.
Pesan dari Alvin.
“Target teridentifikasi: Anita Pratama. Riwayat rute harian sudah di tangan saya. Pembayaran lima puluh persen di muka melalui dompet Bitcoin. Tidak menerima pembatalan setelah dana masuk.”
Valeria membaca pesan singkat itu dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang karena adrenalin yang melonjak. Dia segera meraih tas kosmetiknya, mengeluarkan seluruh simpanan perhiasan emas, gelang, dan cincin terakhirnya yang merupakan pemberian Randy.
Siang itu, Valeria berlari ke toko emas terdekat, menjual semuanya tanpa menawar harga, dan mengubah uang tunai tersebut menjadi aset kripto demi melunasi tuntutan Alvin.
Begitu transaksi dikonfirmasi sukses, sebuah pesan terakhir dari Alvin masuk sebelum akun tersebut langsung menghilang secara otomatis:
“Eksekusi sore ini, pukul empat. Jalur komuter sepi setelah target menjemput anaknya les dari sekolah. Anggap saja ini kecelakaan tragis.”
Valeria menutup laptopnya perlahan. Sambil menyandarkan punggung ke kursi, dia tersenyum menyeringai lebar. Rasa perih di sudut bibirnya akibat tamparan Randy tadi siang seolah menguap begitu saja.
"Mati lo, Anita. Sore ini lo bakal mati," bisik Valeria dengan mata jalang yang dipenuhi kegilaan.
Pukul setengah empat sore, langit Jakarta perlahan diselimuti awan mendung yang tebal. Di depan sebuah sekolah dasar swasta internasional, Anita baru saja menuntun Vano masuk ke dalam mobil putih miliknya.
"Ma, hari ini Vano mau makan es krim yang kemarin lagi, boleh?" tanya bocah itu ceria sembari memasang sabuk pengaman di kursi penumpang samping kemudi.
Anita tersenyum lembut, mengacak rambut anaknya.
"Boleh, Sayang. Nanti kita mampir ke mall dekat rumah ya."
Anita menyalakan mesin mobil dan perlahan melaju membelah jalanan. Namun, baru sepuluh menit meninggalkan area sekolah, sebuah perasaan tidak nyaman mendadak menyusup ke dalam hatinya. Instingnya yang tajam berbisik bahwa ada sesuatu yang salah.
Matanya melirik ke arah kaca spion tengah. Sejak tiga blok lalu, sebuah sepeda motor sport besar berwarna hitam pekat tanpa plat nomor terus menjaga jarak yang konisten di belakangnya.
Pengendaranya bertubuh tinggi tegap, mengenakan jaket kulit hitam tebal dan helm full-face dengan kaca yang sangat gelap, membuat wajahnya mustahil untuk dikenali.
Sosok itu adalah Alvin. Dia bergerak layaknya bayangan yang efisien, mengamati pergerakan mobil Anita dengan ketenangan seorang predator yang sedang menggiring mangsanya.
Mobil Anita kini mulai memasuki jalur komuter pinggiran kota yang searah, sebuah jalanan turunan tajam yang cukup sepi dan dibatasi oleh rimbunnya pepohonan besar di sisi kiri dan kanan. Jalur ini terkenal rawan karena sering dilewati oleh truk-truk muatan besar antar-kota.
"Ma, kok jalannya sepi?" tanya Vano, memeluk boneka astronotnya dengan erat. Rasa peka anak kecil itu mulai menangkap ketegangan ibunya.
"Nggak apa-apa, Vano. Pegangan yang kuat, ya," jawab Anita, suaranya terdengar setenang mungkin meski cengkeramannya pada roda kemudi kini mengencang hingga kuku-kuku jarinya memutih.
Anita sengaja menambah kecepatan mobilnya hingga angka 80 km/jam, mencoba menjauh. Namun, deru mesin motor sport di belakangnya justru ikut meninggi, mengejar dengan sangat lincah.
Tepat saat berada di titik tengah turunan tajam, Alvin melancarkan aksinya. Dengan perhitungan yang luar biasa taktis dan presisi, dia menggeber motornya, melesat maju menyalip mobil Anita dari sisi kanan, lalu dengan sengaja memotong jalan sebuah truk tronton bermuatan besi dari arah berlawanan yang sedang melaju kencang.
Manuver gila Alvin memaksa sopir truk tronton tersebut kaget setengah mati. Supir truk itu secara refleks membanting setir ke kanan untuk menghindari motor Alvin, membuat moncong truk raksasa itu berbelok tajam, melanggar marka jalan, dan meluncur lurus menghantam jalur mobil Anita dengan kecepatan tinggi.
Telolet! Brakkk!
Suara klakson angin truk yang memekakkan telinga berpadu dengan derit ban yang bergesekan keras dengan aspal.
"Mama!" jerit Vano histeris.
Di depan mata Anita, sebuah truk raksasa berbobot puluhan ton melaju lurus ke arahnya hanya dalam jarak beberapa puluh meter. Dalam hitungan detik yang krusial antara hidup dan mati, Anita tidak panik. Alih-alih menginjak rem yang justru akan membuat mobilnya hancur tergilas, Anita mengambil keputusan nekat.
Dia memutar kemudi dengan bantingan kasar ke arah kiri, menerobos pembatas jalan yang landai dan meluncurkan mobilnya masuk ke dalam area bahu jalan berumput yang menurun.
Brakkk! Juarerggg!
Mobil itu berguncang hebat, melompati gundukan tanah sebelum akhirnya terhenti setelah menghantam sebuah pohon rindang yang cukup besar.
Airbag di bagian kemudi dan penumpang depan seketika mengembang dengan letupan keras, menahan tubuh Anita dan Vano.
Hanya selisih satu detik setelah mobil Anita meluncur ke bahu jalan, truk tronton tadi melesat lewat di jalur utama, menghantam pembatas jalan beton dengan keras hingga menimbulkan percikan api dan suara dentuman yang menggelegar.
Asap tipis mulai keluar dari kap mesin mobil Anita. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara tangisan histeris Vano yang ketakutan.
"Vano... Vano, kamu nggak apa-apa, Nak?" tanya Anita dengan napas tersengal-sengal. Badannya terasa pegal dan kepalanya sedikit pening akibat benturan, namun berkat sabuk pengaman dan airbag, dia tidak mengalami luka serius.
Dia segera melepaskan sabuk pengamannya dan memeluk Vano dengan erat.
"Nggak apa-apa, Sayang. Mama di sini. Kamu aman."
Di jalur utama, beberapa puluh meter dari lokasi kejadian, Alvin menghentikan sepeda motornya di tepi jalan. Dari balik kaca helmnya yang hitam, mata dinginnya menatap ke bawah, ke arah mobil Anita yang ringsek di bagian depan setelah menabrak pohon.
Dia mengamati selama beberapa detik, memastikan tidak ada ledakan, dan melihat pintu mobil yang perlahan terbuka dari dalam.
Alvin mendengus pelan melalui hidung. Targetnya ternyata memiliki refleks yang jauh lebih luar biasa dari yang dia perkirakan. Kerumunan warga dari pemukiman terdekat mulai berlarian menuju lokasi truk dan mobil Anita untuk memberikan pertolongan.
Menyadari situasinya sudah tidak lagi kondusif untuk melakukan eksekusi lanjutan tanpa menarik perhatian, Alvin memutar tuas gas motornya. Suara raungan mesin motor sport-nya kembali menggema membelah rintik hujan yang mulai turun, sebelum akhirnya dia melesat pergi dan menghilang di belokan jalan, meninggalkan teror nyata yang baru saja dimulai bagi kehidupan Anita.
Dengan sisa tenaga yang ada, Anita mendobrak pintu mobil yang sempat macet. Sambil terisak, dia keluar dari kabin yang mulai dipenuhi asap, membopong tubuh kecil Vano yang masih menangis histeris ke dalam pelukannya.
Air mata Anita luruh deras, membasahi pipinya yang pucat pasi saat kakinya melangkah tertatih-tatih di atas rumput basah. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena rasa sakit fisik akibat benturan, melainkan karena rasa takut yang teramat sangat kehilangan putra semata wayangnya.
Sambil mendekap erat kepala Vano di bawah rintik hujan, Anita menangis tersedu-sedu, menatap ke arah jalanan tempat motor hitam misterius itu baru saja melesat pergi.
Di tengah kepanikan warga yang mulai berdatangan untuk menolongnya, sebuah kesadaran dingin menusuk benak Anita, ini bukan kecelakaan biasa. Seseorang baru saja mencoba membunuhnya dan anaknya secara terencana.
Bersambung