"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Audit Meja Bundar
Senin pagi bergulir dengan ketegangan yang bisa dirasakan sejak melangkah masuk ke dalam lobi utama Pradipta Tower. Jika pada hari biasa gedung pencakar langit ini memancarkan kesibukan korporat yang dinamis, hari ini atmosfernya terasa seberat timah. Ini adalah hari pertama audit tahunan—sebuah ritual pembantaian finansial di mana setiap divisi akan dikuliti habis-habisan oleh dewan komisaris, dan faksi Elena Pradipta sudah siap mengasah pisau mereka.
Ayana melangkah keluar dari lift lantai eksekutif dengan penampilan yang tidak kalah tajam. Ia mengenakan setelan celana kain hitam dengan blazer senada, lengkap dengan kemeja putih berkerah kaku di dalamnya. Di saku blazernya, pulpen gel hitam andalannya terselip rapi, bersandingan dengan kartu identitas akses penuh berlapis emas yang diberikan oleh Hermawan Pradipta.
Begitu memasuki ruang tunggu utama di depan ruang rapat pleno, ia melihat Karina sedang membolak-balik berkas dengan wajah sepucat kertas kalkir.
"Dokter Ayana! Syukurlah Anda sudah di sini," bisik Karina setengah meratap, buru-buru menghampiri Ayana. "Ibu Elena sudah di dalam bersama perwakilan firma audit eksternal. Mereka membawa tiga boks kontainer berisi dokumen transaksi lima tahun terakhir. Ini bukan audit biasa, Dok. Ini interogasi terbuka."
"Di mana Pak Arka?" tanya Ayana, matanya melirik ke arah pintu kayu jati raksasa yang tertutup rapat.
"Pak Arka sedang di dalam ruang kerja pribadinya, bersiap-siap. Tapi, Dok... saya sempat melihat beliau memijat leher belakangnya tadi. Saya takut tekanan darahnya naik sebelum rapat dimulai," lapor Karina cemas.
Ayana tidak membuang waktu. Ia mengetuk pintu ruang kerja Arka dua kali, lalu langsung melangkah masuk tanpa menunggu jawaban.
Di dalam ruangan, Arkananta sedang berdiri membelakangi meja kerja, menatap dinding kaca luar sembari membetulkan kancing manset di pergelangan tangan kirinya. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap tiga potong (three-piece suit) pesanan khusus dari London yang membuatnya tampak seperti seorang panglima perang yang siap turun ke medan laga. Namun, Ayana yang memiliki mata klinis langsung menangkap kedutan halus di pembuluh darah pelipis pria itu.
"Bagaimana kondisi Anda, Pak Bos?" tanya Ayana tanpa basa-basi, berjalan mendekat dan langsung meraih pergelangan tangan kanan Arka untuk memeriksa denyut nadinya.
Arka tidak menarik tangannya. Ia hanya mengembuskan napas pendek melalui hidung, membiarkan jemari lentik Ayana menekan urat nadinya selama tiga puluh detik. "Saya baik-baik saja, Ayana. Ini hanya audit rutin. Jangan terlalu berlebihan."
"Denyut nadi Anda sembilan puluh lima kali per menit. Itu terlalu tinggi untuk ukuran orang yang hanya mau menghadiri 'audit rutin'," skakmat Ayana sembari menatap tajam ke dalam sepasang mata elang Arka. Ia melepaskan tangan Arka, lalu merogoh saku blazernya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minyak esensial aroma peppermint dan lavender yang sudah diraciknya sendiri.
"Oleskan ini di belakang telinga dan pergelangan tangan Anda. Sekarang," perintah Ayana tidak menerima bantahan.
Arka menaikkan sebelah alisnya, menatap botol kecil itu dengan pandangan skeptis. "Saya tidak memakai minyak wangi jalanan seperti ini, Dokter."
"Ini bukan minyak wangi jalanan, Pak Kapitalis! Ini aromaterapi klinis untuk merangsang syaraf vagus Anda agar tetap rileks di bawah tekanan. Mau saya oleskan sendiri atau Anda lakukan sekarang sebelum saya gunakan hak veto saya untuk membatalkan rapat ini?" ancam Ayana dengan mata bulatnya yang melebar menantang.
Arka mendengus kalah. Ia merebut botol itu dari tangan Ayana, lalu mengoleskannya kasar di belakang kedua telinganya. Aroma segar peppermint yang bercampur dengan kelembutan lavender seketika menguar di antara mereka, memberikan efek dingin yang instan di kulit leher Arka. Ajaibnya, otot-otot rahang pria itu yang tadinya kaku perlahan-lahan mulai mengendur.
"Puas?" desis Arka, mengembalikan botol itu ke tangan Ayana.
"Sangat puas," senyum Ayana manis. "Sekarang, mari kita hadapi tante Anda yang bermulut tajam itu."
Pintu ruang rapat pleno terbuka, dan kehadiran Arkananta yang didampingi oleh Dokter Ayana serta Karina di belakangnya seketika menghentikan seluruh bisik-bisik di dalam ruangan meja bundar tersebut.
Di ujung meja seberang, duduk Elena Pradipta dengan gaun formal berwarna merah marun yang mencolok. Rambutnya disasak tinggi, dan perhiasan berlian di lehernya berkilau di bawah lampu ruangan. Di samping kanan dan kirinya, berderet para auditor senior berpakaian hitam dengan wajah-wajah tanpa ekspresi.
"Selamat pagi, Arka," sapa Elena dengan senyuman yang teramat manis namun menyimpan bisa ular di dalamnya. Matanya kemudian beralih ke arah Ayana, menatapnya dengan pandangan merendahkan dari balik kacamata bermereknya. "Dan... selamat pagi untuk 'bayangan' barumu. Saya tidak tahu kalau rapat komite keuangan internal sekarang boleh dihadiri oleh staf medis rumah sakit."
Arka tidak langsung duduk. Ia meletakkan kedua telapak tangannya yang besar di atas sandaran kursi kebesarannya, menatap Elena dengan pandangan dingin yang sanggup membekukan ruangan.
"Dokter Ayana berada di sini atas otoritas mutlak dari Kakek, Tante Elena," suara berat Arka bergema penuh wibawa, memotong aura dominasi yang coba dibangun oleh tantenya. "Jika Tante keberatan dengan kehadirannya, silakan hubungi firma hukum Kakek di Singapura untuk mencabut dokumen hak vetonya terlebih dahulu. Jika tidak bisa... silakan buka berkas auditnya sekarang. Saya tidak punya waktu untuk obrolan tidak penting."
Wajah Elena sempat berubah masam selama satu detik sebelum ia kembali menguasai dirinya. Ia memberi isyarat kepada auditor utama di sampingnya untuk memulai presentasi.
"Baik, mari kita mulai," ujar sang auditor utama, membuka sebuah proyektor layar besar yang menampilkan grafik arus kas keluar-masuk anak perusahaan Pradipta Group dalam kuartal terakhir. "Kami menemukan adanya anomali pengeluaran sebesar tiga belas persen pada divisi riset dan pengembangan medis di bawah pengawasan langsung CEO. Kami membutuhkan penjelasan detail, atau kami terpaksa membekukan sisa anggaran untuk kuartal berikutnya."
Rapat pun berubah menjadi medan pertempuran angka yang sangat sengit. Elena dan tim auditornya terus-menerus melemparkan pertanyaan-pertanyaan menjebak, mencoba memojokkan posisi Arka, mencari celah sekecil apa pun di mana pria itu mungkin membuat kesalahan keputusan akibat kelelahan mental.
Satu jam berlalu. Suasana di dalam ruangan semakin memanas. Ayana yang duduk di kursi pengamat tepat di belakang Arka terus memantau setiap pergerakan fisik pasien VIP-nya itu. Ia memperhatikan bagaimana jemari tangan kanan Arka mulai mengetuk-ngetuk meja dalam ritme yang tidak teratur—sebuah tanda bahwa tingkat stres pria itu sudah mendekati ambang batas toleransi.
Tiba-tiba, sebuah suara dari luar gedung terdengar sayup-sayup menembus kaca kedap suara lantai 50.
Wiuuu... wiuuu... wiuuu...
Itu suara sirine mobil pemadam kebakaran yang sedang melintas di jalur protokol di bawah gedung. Meskipun volumenya sangat pelan—bahkan mungkin hanya setara dengan volume tiga persen karena tebalnya kaca gedung—bagi telinga Arka yang sudah terstimulasi oleh stres rapat, suara itu bertransformasi menjadi pemicu yang sangat berbahaya.
Gerakan tangan Arka yang sedang memegang pulpen mendadak membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Elena yang memiliki mata jeli langsung menangkap perubahan ekspresi keponakannya. Siasat culasnya keluar. "Arka? Kenapa diam saja? Auditor sedang menunggu jawabanmu terkait laporan akuisisi lahan di Surabaya. Kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kamu butuh... obat penenang Swiss-mu lagi?" sindir Elena dengan nada yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh seluruh dewan komisaris di ruangan.
Beberapa komisaris mulai berbisik-bisik, menatap Arka dengan pandangan ragu.
Ayana tahu ini adalah momen krusial. Jika ia membiarkan Arka jatuh ke dalam serangan panik di depan para pemegang saham, karier pria itu akan tamat hari ini juga, dan faksi Elena akan mengambil alih perusahaan.
Ayana berdiri dari kursinya. Langkah kakinya terdengar tegas saat ia berjalan mendekat ke samping kursi Arka.
"Mohon maaf, Ibu Elena dan para anggota dewan komite," suara Ayana yang jernih dan sarat akan otoritas medis memotong jalannya rapat. Ia meletakkan tangan kirinya di atas pundak jas abu-abu Arka—memberikan tekanan taktil yang stabil dan hangat untuk melakukan grounding instan pada syaraf pria itu.
"Sebagai kepala tim medis pribadi CEO, saya menyatakan bahwa Pak Arkananta saat ini sedang berada di bawah pengaruh kelelahan fisik akibat jam kerja yang melebihi batas standar klinis. Berdasarkan Surat Otoritas Medis Penuh yang sah, saya meminta waktu skorsing rapat selama sepuluh menit untuk melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital pasien," ujar Ayana lantang tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya.
Elena langsung berdiri dari kursinya dengan wajah memerah karena marah. "Lancang sekali kamu, Dokter muda! Ini rapat internal korporasi tingkat tinggi! Kamu tidak punya hak untuk menghentikan—"
"Saya punya hak veto mutlak yang ditandatangani oleh Hermawan Pradipta, Ibu Elena!" potong Ayana tajam, matanya menatap lurus ke arah Elena dengan kilat keberanian yang membuat sang direktur keuangan senior itu seketika bungkam. Ayana mengeluarkan lembaran kertas berstempel lilin merah dari tasnya dan meletakkannya di atas meja bundar dengan ketukan yang solid. "Jika Anda memaksakan rapat ini berlanjut tanpa izin medis saya, dan terjadi sesuatu pada kesehatan fisik CEO utama perusahaan... maka firma hukum kami akan memastikan Anda bertanggung jawab penuh atas tuntutan pidana kelalaian medis."
Ruangan rapat seketika sunyi senyap. Tidak ada satu pun komisaris yang berani membantah argumen hukum dan medis yang dilemparkan oleh Ayana.
Arka mendongak, menatap Ayana yang sedang berdiri tegak di sampingnya bagai sebuah benteng pelindung yang tak tergoyahkan. Di bawah sentuhan hangat tangan Ayana di pundaknya, gaung suara sirine di luar gedung mendadak lenyap sepenuhnya dari kepala Arka. Fokusnya kembali utuh, dan rasa hangat yang menjalar dari tangan wanita itu berhasil mencairkan seluruh sisa kepanikan di dadanya.
Arka berdiri dari kursinya, merapikan jas abu-abunya dengan gerakan yang teramat tenang dan penuh wibawa. Ia menatap Elena dengan senyuman tipis yang sarat akan kemenangan. "Rapat diskors selama sepuluh menit sesuai perintah Dokter pribadi saya. Tante Elena... silakan nikmati kopi Anda selagi Anda masih memiliki kesempatan untuk duduk di ruangan ini."
Arka kemudian melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah yang tegap dan kokoh, diikuti oleh Ayana yang berjalan di sampingnya dengan kepala tegak. Pertempuran di meja bundar babak pertama hari ini resmi dimenangkan oleh aliansi sang dokter rewel dan sang CEO kaku, meninggalkan Elena Pradipta yang hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dada.
.
Bersambung.
💪💪