NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31 Buku dari Puri Candra

"Ia membawa buku persediaan lama milik Permaisuri Candra Dewi, dari malam sebelum beliau jatuh sakit."

Setelah Adi mengucapkan kalimat itu, Puri Timur yang baru saja tenang kembali terasa seperti menahan napas.

Anindya masih duduk di dekat dipan. Tubuhnya lelah setelah malam panjang, tetapi begitu nama Permaisuri Candra Dewi disebut, kantuk di matanya hilang.

Arjuna berdiri di dekat meja. Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak.

Nama ibunya selalu membuat ruangan di sekitarnya berubah. Bukan karena ia menyebutnya keras-keras, melainkan karena ia terlalu lama menyimpannya di tempat yang paling sunyi.

"Bawa Emban Sumini masuk," katanya.

Adi memberi hormat dan keluar.

Anindya memandang Arjuna. "Aku bisa kembali ke kamar jika Kakanda ingin mendengarnya sendiri."

"Tidak." Jawaban Arjuna datang cepat, lalu melembut. "Kau tetap di sini jika tubuhmu sanggup."

"Aku sanggup duduk."

"Kalau mulai pusing, katakan."

Anindya mengangguk.

Tidak lama kemudian, seorang perempuan tua masuk dengan langkah perlahan. Rambutnya sudah memutih, tetapi kainnya rapi dan punggungnya tidak bungkuk. Di tangannya ada bungkusan kain cokelat yang diikat dengan tali lama.

Ia berlutut begitu melihat Arjuna.

"Hamba, Emban Sumini, menghadap Yang Mulia Pangeran Mahkota dan Gusti Putri."

"Bangun," kata Arjuna. Suaranya rendah. "Kau dulu mengurus catatan Puri Candra?"

"Benar, Yang Mulia. Hamba mengurus persediaan dapur dalam, kain, obat, dan persembahan harian Permaisuri Candra Dewi sampai tiga hari sebelum beliau wafat."

Tiga hari.

Anindya melihat tangan Arjuna menegang di sisi meja.

Emban Sumini membuka bungkusan. Di dalamnya ada buku tua dengan sampul kulit yang tepinya sudah mengelupas. Bau lembap dan daun pengusir serangga naik dari halaman-halamannya.

"Hamba menyimpan ini karena pada malam itu catatan resmi diganti," kata Sumini. "Yang tersisa di Puri Candra sekarang bukan buku yang sama."

Arjuna tidak langsung menyentuh buku itu. "Mengapa baru sekarang kau datang?"

Sumini menunduk. "Karena selama ini Puri Candra dikunci, dan orang yang bertanya terlalu banyak tentang Permaisuri Candra biasanya dipindahkan, sakit, atau diam selamanya. Saat Yang Mulia membawa Eyang Maha kembali, hamba berpikir mungkin pintu yang lama tertutup mulai retak."

Anindya merasakan tengkuknya dingin.

Ini bukan cerita lama yang sudah mati. Ini sesuatu yang masih dijaga oleh orang-orang hidup.

Arjuna akhirnya membuka buku itu.

Halaman pertama berisi daftar kain, beras, minyak pelita, bunga, dan obat harian. Tulisannya rapi, kecil, dengan angka yang disusun seperti catatan dagang. Anindya tanpa sadar mendekat sedikit.

"Boleh aku melihat?" tanyanya.

Arjuna menggeser buku itu kepadanya.

Sumini menatap gerakan itu. Di matanya muncul kilatan kecil, bukan terkejut, melainkan lega.

"Permaisuri Candra juga suka membaca angka sendiri," katanya pelan.

Anindya menunduk pada buku, membiarkan kalimat itu tinggal di udara tanpa dijawab. Ia membalik halaman dengan hati-hati.

Pada catatan dua hari sebelum sakit, semuanya tampak biasa. Jamu pemulih, air bunga, kain bayi halus, minyak kelapa, buah delima.

Kain bayi.

Anindya berhenti.

"Beliau sedang mengandung?"

Ruang itu menjadi lebih sunyi.

Arjuna menutup mata sesaat. "Ya."

Sumini menggenggam ujung kainnya. "Usia kandungan belum besar, tetapi Puri Candra sudah menyiapkan beberapa barang. Permaisuri sangat berhati-hati. Beliau meminta semua obat dicatat dua kali."

Anindya melihat halaman berikutnya.

Di sana, tulisan berubah.

Tidak seluruhnya. Hanya beberapa baris di bagian tengah. Angkanya tampak sama rapi, tetapi tekanan tinta berbeda. Ada bekas halaman yang pernah basah lalu dikeringkan.

"Ini ditulis oleh orang lain," kata Anindya.

Arjuna menatapnya.

Anindya menunjuk baris ketiga. "Lihat angka empat di sini. Emban Sumini membuat angka empat terbuka di bagian atas. Baris ini tertutup. Lalu jarak antar kata lebih lebar. Seseorang menyalin beberapa barang dan memasukkan daftar baru."

Sumini mengangkat wajah. "Gusti Putri bisa melihatnya?"

"Aku terbiasa membaca buku dagang keluarga." Anindya menahan halaman agar tidak robek. "Barang apa yang seharusnya tidak ada di sini?"

Sumini menelan ludah.

"Jamu penenang kuat. Serbuk bunga kecubung. Air rebusan kulit pohon pule. Semua itu tidak pernah dipakai Permaisuri Candra saat mengandung."

Wulan yang berdiri di samping hampir bersuara, tetapi menahannya.

Arjuna bertanya, "Siapa yang membawa barang itu?"

Sumini memandang pintu seolah takut dinding pun mendengar.

"Malam itu Emban Agung Darma datang dari sisi kediaman Baginda. Ia berkata Baginda memerintahkan ramuan khusus agar Permaisuri bisa tidur. Tabib pribadi Puri Candra menolak, tetapi esok paginya tabib itu dipindahkan ke wilayah timur dengan alasan keluarganya sakit."

Anindya merasa perutnya mencelos.

Emban Agung Darma adalah orang Naradewa. Bukan Ratih. Bukan Baskara.

Arjuna tidak berkata apa-apa.

Justru diamnya membuat Anindya lebih takut. Ia melihat wajah suaminya menjadi terlalu tenang, seperti air yang membeku di permukaan sementara arus di bawahnya menghantam batu.

"Lanjutkan," kata Arjuna.

Sumini menggigit bibir. "Setelah Permaisuri minum ramuan itu, beliau tidak bangun dengan benar. Beliau demam, tetapi tubuhnya dingin. Hamba ingin mengirim kabar ke keluarga Cendekia, tetapi pintu Puri Candra dijaga. Pada hari ketiga, Baginda datang sendiri. Setelah itu, kami semua dipisahkan."

"Apa yang terjadi pada anak dalam kandungan?" tanya Anindya pelan.

Sumini menunduk sampai dahinya hampir menyentuh lantai.

"Tidak ada yang berani bertanya, Gusti Putri."

Kalimat itu lebih buruk daripada jawaban.

Anindya menatap buku tua di depannya. Angka-angka yang kecil itu tiba-tiba terasa seperti napas orang mati yang tertahan di antara halaman.

"Kakanda," katanya pelan, "ini belum cukup sebagai tuduhan."

"Aku tahu."

"Tapi cukup untuk menunjukkan jalan."

Arjuna membuka mata.

Kali ini, Anindya melihat rasa sakitnya tanpa tirai. Bukan kemarahan seorang pangeran. Bukan strategi seorang pewaris takhta. Melainkan luka seorang anak yang baru menyadari bahwa kematian ibunya mungkin bukan takdir istana, melainkan keputusan seseorang.

Ia mengulurkan tangan di bawah meja.

Arjuna menatap tangan itu sebentar, lalu menggenggamnya.

Pegangannya dingin.

Namun ia tidak melepaskan.

***

Di Puri Raja, Prabu Naradewa menerima kabar itu sebelum tengah hari.

Emban Agung Darma berlutut di lantai marmer, suaranya hati-hati.

"Baginda, Emban Sumini meminta menghadap Puri Timur. Ia membawa sesuatu dari Puri Candra."

Naradewa sedang memegang buah delima. Pisau kecil di tangannya berhenti tepat di tengah kulit merah.

"Sesuatu?"

"Menurut orang yang melihat, sebuah buku tua."

Pisau itu menekan terlalu dalam. Sari delima merembes ke jari Naradewa seperti darah tipis.

Emban Agung Darma menunduk lebih rendah.

Untuk waktu yang lama, Naradewa tidak berbicara.

Ketika akhirnya ia tersenyum, senyum itu tidak mencapai matanya.

"Arjuna mulai membuka kamar ibunya."

Tidak ada yang berani menjawab.

Naradewa meletakkan buah delima yang terluka di piring emas.

"Panggil Pangeran Mahkota besok pagi," katanya. "Aku ingin bertanya, sebagai ayah, apa sebenarnya yang ia cari dari kuburan masa lalu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!