NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Cacat

Wanita Yang Kubuat Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat
Popularitas:74.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."

Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Ilona sibuk merangkai buket pesanan yang akan diambil lusa. Bukan buket bunga asli, melainkan buket bunga artifisial, jadi bisa dibuat jauh-jauh hari. Mawar putih 50 tangkai, untuk acara lamaran katanya.

Tangannya berhenti saat baru menancapkan beberapa tangkai ke spon. Tadi siang, Elang juga memesan buket, mawar merah asli. Budget bebas katanya, yang penting mawar kualitas bagus. Dia ingin yang terbaik, mahal tak masalah.

Beruntung sekali wanita-wanita yang akan dilamar itu. Sementara ia, jalan dua tahun, Arya belum juga melamarnya. Bahkan saat tahu ia akan dilangkahi Eliana, Arya juga seperti tak peduli.

Dret dret dret

Ponsel Ilona yang ada di atas meja bergetar, ada nama Arya di layar saat ia melihat.

Ilona menarik napas terlebih dulu sebelum mengangkat. Baru saja difikirkan, laki-laki itu telepon, panjang umur.

"Halo?"

"Lon... maaf banget."

Suara Arya kedengeran serak, seperti orang baru bangun. "Aku baru bangun. Semalam kerja capek banget, sampai gak sadar aku ketiduran seharian full. Biasalah, jaga IGD emang kerjaan gak pasti, kadang nganggur, tapi keseringan capek banget."

Ilona diem, seperti sedang memutar kaset lama yang ia sudah hafal isinya. Entah sudah berapa kali sejak mereka resmi jadian, alasan seperti ini diucapkan.

"Tadi aku beneran niat ke taman. Sumpah," ujar Arya. "Tapi pas pulang shift malam, niat tidur bentar, tapi bablas. Bangun-bangun HP mati. Kehabisan baterai. Makanya gak denger kamu telepon."

Ilona menahan perih di dada. "Iya nggak apa-apa, Ya. Aku ngerti. Kamu pasti capek banget."

"Aku ngerasa bersalah banget, Beb..."_

Kata itu nyangkut di udara.

Beb?

Ilona langsung beku.

Selama hampir 2 tahun bersama, Arya tidak pernah manggil dia "Beb". Paling kalau bukan nama, ya sayang.

Di seberang, Arya juga langsung sadar. Ia panik. Ada jeda beberapa detik, sibuk mencari alasan.

"...eh maksudnya Lon, sayang." Arya tertawa ringan, tapi terdengar seperti dipaksakan. "Gara-gara semalam jaga IGD sama Imel, dia kan bab, beb, bab, beb, gitu kalau manggil orang, jadi ketularan."

Mungkinkah hal seperti itu bisa nular? Tapi Ilona tak ingin memperpanjang masalah ini. Hanya satu kata, ia tak mau memancing perdebatan. "Oh... gitu." Kalimat itu meluncur begitu saja meski benak dipenuhi banyak sekali pertanyaan.

"Sekali lagi aku minta maaf ya."

"Besok, kamu shift pagi?" tanya Ilona.

"Iya."

"Kapan libur?"

"Akhir pekan aku libur."

Ilona tersenyum. "Aku pengen ja_"

"Maaf, aku pulang kampung minggu depan."

"Oh..." Ilona tak bisa menyembunyikan kekecewaan pada nada suaranya. Padahal ada sebuah kafe baru yang sedang viral di sosmed, ia ingin pergi kesana.

"Udah dulu ya, aku mau mandi, lalu keluar cari makan. Laper banget."

"E... nanti malam..." Ilona ragu untuk mengatakan, apakah malam ini Arya bisa datang ke rumah? Sejak acara pernikahan Eliana 2 minggu lalu, mereka belum pernah bertemu. "Nanti malam sibuk gak? Kalau gak sibuk, Ibu masak rawon hari ini."

"Maaf ya, aku gak bisa. Aku udah janji mau bantuin skripsinya Amar."

Ilona tahu Amar, dia tetangga kos Arya. "Ya udah."

"Sekali lagi, maaf ya."

Ilona menggigit bibir, menahan sesak di dada. "Iya, gak papa."

Telepon mati.

Ilona menurunkan HP pelan, meletakkan kembali ke atas meja. Ditatapnya layar yang udah gelap. Semakin hari, ia merasa semakin jauh dengan Arya. Ia merapikan peralatan membuat buket, mood nya buruk, takut nanti malah jadinya jelek.

"Lon, udah selesai?" tanya Bu Ella, ibunda Ilona. "Perasaan baru sebentar." Padahal ia baru mau duduk untuk membantu.

"Besok aja dilanjutin, Bu."

"Arya bisa kesini gak? Ibu masak banyak. Nanti biar dia bawa pulang, bisa buat makan di kos sampai besok."

"Mas Arya sibuk."

Sebagai Ibu yang telah membersamai selama 28 tahun, Bu Ella bisa melihat apa yang dirasakan putrinya dari tatapan mata. "Kalian baik-baik sajakan?"

Ilona yang tenggorokannya tercekat, hanya menjawab dengan anggukan.

Setelah semua barang di meja masuk ke dalam kardus, Ilona mengambil tongkat yang tadi ia sandarkan di dinding sambil sofa. Jika di rumah, ia lebih sering memakai tongkat yang dijepit di ketiak.

Dengan lengan yang menjepit tongkat, Ilona berdiri, mengangkat kardus berisi bahan buket untuk dipindahkan ke rak, meski agak kesusahan.

"Biar ibu aja." Bu Ella meminta Ilona meletakkan kembali kardus yang lumayan besar itu.

"Lona bisa kok, Bu." Ilona kekeh memindahkan kardus tersebut. Tapi karena ukuran yang besar, sementara sebelah lengannya subik menahan tongkat, kardus tersebut jatuh. Ia meringis, saat jari kakinya sakit tertimpa kardus. Untung isinya tidak berantakan keluar.

Bu Ella buru-buru mengambil kardus tersebut, meletakkan ke rak.

"Maaf ya Bu, aku selalu ngerepotin Ibu." Ilona membuang muka, menyembunyikan air matanya.

"Kamu gak pernah ngerepotin Ibu." Bu Ella kembali menghampiri Ilona setelah meletakkan kardus. "Kaki kamu sakit?"

Ilona menggeleng. "Aku ke kamar dulu ya, Bu." Ia berjalan dengan tongkat menuju kamarnya. Dulu kamarnya ada di lantai dua, namun sejak kecelakaan itu, ia pindah ke bawah, sementara Ibunya tidur di lantai atas, karena hanya ada 1 kamar di lantai bawah.

Di atas ranjang, Ilona menarik roknya ke atas, menatap kaki kanannya yang hanya sebatas paha. Ia menangis, kepalan tangannya memukul paha tersebut. Ia selalu mengenakan pakaian panjang untuk menutupinya, namun nanti setelah menikah, apa yang ada di fikiran pasangannya saat melihat kakinya. Jijik? Mungkin saja.

Pasangan?

Tangis Ilona makin menjadi-jadi. Arya terasa semakin jauh. Mungkinkah ia juga akan meninggalkannya, seperti dulu Davin juga pergi?

Ia tertawa.

Siapa juga yang akan mau dengan wanita yang bisanya hanya merepotkan sepertinya?

...----------------...

Sabtu jam 11 siang, di sebuah hotel mewah, Elang melangsungkan lamaran dengan Alisya. Tadi pagi, sebenarnya ia hendak mengambil sendiri buket di rumah Ilona, tapi tak ada waktu, dan akhirnya meminta orang untuk mengambil kesana.

Buket dengan 20 tangkai mawar merah kualitas premium itu begitu cantik, demikian pun dengan wanita yang saat ini memegangnya. Alisya begitu cantik dengan kebaya maroonnya. Meski begitu, fikiran Elang justru kacau. Bukan wajah cantik Alisya, tapi setiap menatap buket di tangan Alisya, ia teringat Ilona.

Acara itu hampir kacau saat Elang tiba-tiba ngeblank. Di depan para tamu undangan, ia lupa kalimat yang sudah disusun rapi untuk diucapkan di acara ini, kalimat lamaran untuk Alisya. Untung saja, ia bisa segera menguasai keadaan. Kalimat yang keluar dari bibirnya bukan serangkaian kalimat indah yang bikin baper, tapi setidaknya, masih bisa menyelamatkan wajahnya di hadapan pada tamu.

"Kamu kenapa sih?" Bu Aida menanyakan itu saat acara selesai, saat semua tamu sudah meninggalkan hotel, tersisa dua keluarga inti saja. "Kamu kayak banyak ngelamun dari tadi. Ini itu acara penting loh!" Ia melotot.

"Ma, apa Mama tahu bagaimana kondisi korban yang aku tabrak 8 tahun silam?" Elang berani bertanya soal itu karena mereka hanya berdua saja, di pojokan.

Kening Bu Aida mengernyit. Ada apa tiba-tiba Elang membahas masa lalu.

"Ma, apa Mama tahu, seperti apa kondisi korban?"

"Ma, Mama tidak tahu." Sebenarnya Bu Aida tahu, tapi ia sengaja tidak memberi tahu Elang, takut anaknya itu kepikiran, dan tak fokus menempuh pendidikan di Jerman.

"Dia cacat, Mah. Cacat permanen. Gara-gara aku."

"Sudahlah, tidak usah membahas masa lalu. Semua sudah berlalu." Bu Aida mengusap bahu putranya. "Tidak usah cari tahu lebih jauh, fokus sama masa depan kamu."

1
RosMa🌹🌹🌹
Ilona masih trauma..
RosMa🌹🌹🌹
Bisa jujur gak kamu Lang..
RosMa🌹🌹🌹
😅😅😅😅😅
RosMa🌹🌹🌹
aku pun sama takutnya sama kayak kamu Ken...
RosMa🌹🌹🌹
😅😅😅😅
RosMa🌹🌹🌹
jangan jatuh cinta sama Elang ya Ilo...
RosMa🌹🌹🌹
betul tuh keluarga si elang kaya harta tapi miskin hati
Felycia Fernandez
😭 ternyata dia punya trauma kk
Sitichodijahse RCakra
sedih bngt part ini😭
Siti Arbaati
waduh, elaaang....kok jadi aku yang baper 😄
Patrick Khan
walah elang yaopo iki 🤣🤣🤣ilona malah berbunga2 engk😁😁
Hani Ekawati
Aku baru inget, sosok ayahnya Ilona belum dimunculkan ya? kemaren baru diceritakan klo ayahnya pensiunan tentara tapi belum ada muncul ngobrol bareng Ilona. Pengen tau reaksi ayahnya Ilona pas ngeliat si Belang.😂
yutantia 10: Ayahnya sudah meninggal kak.
total 1 replies
Hani Ekawati
Dih dasar buaya 🙄 ngambil kesempatan dalam kesempitan 🙄
Hani Ekawati
Minta maaf yang dimaksud Elang bukan itu, Ilona.
Hani Ekawati
Sekarang kamu bisa lihat kan Lang dampak yang kamu akibatkan dari tabrak lari kamu, selain Ilona kehilangan satu kaki, Ilona juga mengalami trauma berat. Bisa kamu bayangkan Lang bagaimana dampak psikologis Ilona pas awal awal Ilona kehilangan satu kaki.
Hani Ekawati
Ilona mengalami trauma berkepanjangan
Septi
walah... 🤦🏻
Sugiharti Rusli
makanya banyak orang juga terlibat cinlok yah kalo masih pada jomblo sih ga masalah, kalo salah satu atau dua" nya sudsh menikah yang bahaya kan dan terjadi perselingkuhan tuh akhirnya,,,
Sugiharti Rusli
bisa jadi dari sini cinta mulai berkembang pada mereka b-2, jadi istilah dulu 'witing tresno jaranan soko kulino' yah terjadi sama mereka
Sugiharti Rusli
asal jangan nanti dipergoki oleh ibunya Ilona saja tuh mereka,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!