Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke Medan perang
Duke Leonidas segera maju selangkah, wajahnya penuh kekhawatiran yang nyata namun kini bercampur rasa bangga melihat kekuatan putrinya. "Tidak bisa, Bella! Itu gila! Medan perang penuh bahaya, dipenuhi pasukan musuh dan sihir hitam yang menyebar. kamu putriku, jika terjadi sesuatu padamu..."
"Ayah, tolong!" seru Bellatrix, menatap ayahnya dengan mata yang basah. "Dia adalah pelindung kekaisaran ini! Dia adalah orang yang takdirnya terikat dengan hidupku! Jika dia mati, keseimbangan elemen akan hancur. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
Kaisar Alaric sempat mengerutkan kening, tangannya mencengkeram lengan singgasana erat. "Risikonya terlalu besar, Bella. Dan kau sendiri yang bilang jangkauan teleportasimu belum sampai sejauh itu tanpa tahu titik lokasi yang tepat. Kau bisa tersesat."
"Aku tahu!" akui Bellatrix jujur. "Aku belum bisa melompat sejauh itu sendirian. Itulah sebabnya aku memohon izin. Tapi tolong... jangan halangi aku. Setiap detik yang berlalu, nyawanya semakin terancam."
Di sampingnya, Bunda Elara sudah tak sanggup lagi menahan tangis. Ia menoleh ke arah Permaisuri Seraphina yang pun sudah basah wajahnya.
"Suamiku..." ucap Seraphina pelan. "Kita sudah melihat bukti ikatan mereka, dan kita baru saja melihat kebusukan yang ada di sini. Jika kita melarangnya sekarang, kita tidak hanya menghukum Thiago, tapi juga membelenggu takdir Bellatrix sendiri."
Elara berlutut juga di samping putrinya. "Biarkan ia pergi. Ia sudah menunjukkan kekuatan yang cukup untuk melindungi dirinya."
Keheningan kembali menyelimuti aula. Akhirnya Kaisar menghela napas panjang lalu mengangguk mantap.
"Baiklah," ucapnya tegas. "Kau diizinkan pergi, Bella. Tapi syaratnya kau tidak pergi sendirian. Aku, Permaisuri, Ayah, Ibumu dan pasukan pengawal terbaik akan ikut bersamamu lewat gerbang sihir kerajaan."
Bellatrix bangkit berdiri perlahan, air mata haru mengalir kembali. "Terima kasih... terima kasih banyak."
Ia tahu, perjalanan ini bukan hanya untuk menyelamatkan orang lain. Ini adalah saat ia akhirnya berani menerima takdirnya, menyatukan kekuatannya, dan menjadi pelindung sesungguhnya.
.
.
.
Duchess Elara memastikan dirinya siap ikut serta tanpa ragu sedikit pun. Ia tidak akan membiarkan putrinya menghadapi bahaya besar ini tanpa pendamping orang tua yang paling mengerti jiwanya. Ia mengenakan pakaian perjalanan yang nyaman namun tebal, membawa tas berisi ramuan penyembuh pusaka keluarga yang hanya sedikit orang yang tahu cara membuatnya, dan berdiri tegak di samping suami serta penguasa.
"Aku adalah penyembuh terlatih juga, Yang Mulia," ucap Elara pada Kaisar saat ditanya apakah ia yakin. "Kekuatan yang ada pada Bella mengalir juga dari darahku. Aku bisa membantunya, dan aku tidak akan membiarkan anakku sendirian di sana."
Tidak ada yang berani menentangnya. Segera mereka semua bergerak menuju ruang bawah tanah istana tempat tersimpan Gerbang Perantara struktur batu kuno yang terhubung langsung dengan titik-titik sihir di seluruh kekaisaran. Dengan kekuatan gabungan Kaisar, Permaisuri, dan Duke Leonidas, gerbang itu menyala dengan cahaya biru pekat, membuka jalan langsung menuju markas sementara pasukan di perbatasan utara.
Saat melangkah melewati cahaya itu, Bellatrix merasakan tarikan ruang dan waktu yang memusingkan, namun hatinya semakin tertusuk rasa sakit yang tajam. Semakin dekat ia ke sana, semakin jelas ia bisa merasakan betapa beratnya napas Thiago, betapa kacau aliran energinya, dan betapa dalamnya kegelapan yang menelan kesadarannya.
Mereka tiba di balik benteng pertahanan markas, disambut oleh panglima yang wajahnya pucat pasi dan penuh keringat dingin. Tanpa menunggu laporan panjang lebar, Bellatrix langsung berlari menuju tendan perawatan darurat yang didirikan di bagian paling belakang garis depan.
Pemandangan di sana membuat siapa pun yang melihatnya menahan napas ngeri.
Di atas tikar tebal yang terhampar di tanah yang masih lembap dan berbau anyir darah, terbaring tiga orang yang paling dicintai dan dipercaya di kekaisaran ini.
Udara di sekitar mereka terasa sangat dingin, seolah musim dingin yang paling kejam telah turun hanya di area itu, dan bau sihir hitam yang menyengat menusuk hidung siapa pun yang mendekat.
Yang paling parah tentu saja Thiago. Tubuhnya yang biasanya tegap dan berotot kini terkulai lemah. Urat-urat hitam pekat yang tadi dirasakan Bellatrix kini terlihat nyata menyebar ke seluruh tubuhnya. Mulai dari lengan kanan yang menjadi titik awal serangan, naik ke leher, menyebar ke seluruh dada, hingga menjalar ke pelipis wajahnya. Kulitnya yang biasanya hangat karena elemen apinya kini terasa dingin seperti es, bibirnya membiru, dan keringat dingin terus membasahi keningnya tanpa henti.
Sesekali tubuhnya tersentak hebat, tangannya mencengkeram tanah hingga kuku menancap, dan matanya terbuka setengah bukan dengan tatapan sadar, melainkan tatapan liar, kosong, dan penuh amarah yang dikendalikan paksa. Ia bergumam kata-kata yang tak jelas, kadang berteriak rendah seolah sedang berperang dengan bayangan di dalam kepalanya sendiri. Kekuatan apinya yang biasanya melindungi justru kini berperang melawan tubuhnya sendiri, terjebak dan dipelintir oleh racun hitam itu.
Namun Thiago tidak sendirian dalam penderitaan ini. Alexander dan Silas, yang dengan berani melompat ke depan untuk melindunginya dari serangan mematikan itu, juga tidak luput dari dampak buruk yang mengerikan.
Alexander, Duke muda yang tenang dan bijaksana, terbaring di sisi kiri Thiago. Tubuhnya terpental menabrak batang pohon besar saat menahan gelombang pertama serangan itu, hingga tulang rusuknya retak dan punggungnya memar hebat. Namun yang lebih berbahaya adalah percikan energi hitam yang menyambar dadanya saat tamengnya hancur. Urat hitam yang sama kini melingkar di sekitar jantungnya, tidak sepekat milik Thiago namun sangat berbahaya karena posisinya yang tepat di pusat kehidupan. Wajahnya yang biasanya tegas kini pucat pasi, napasnya terdengar seperti suara parau yang menyakitkan, dan sesekali ia batuk mengeluarkan darah bercampur asap hitam. Ia tidak sadarkan diri, namun alisnya terus berkerut menahan rasa sakit yang luar biasa, seolah ia sedang bermimpi buruk tentang kehancuran yang tak bisa ia cegah.
Sedangkan Silas, tangan kanan Thiago yang gesit dan penuh semangat, terbaring di sisi kanan dengan luka yang paling mengerikan secara fisik. Serangan itu menyambar lengan kiri dan seluruh sisi tubuhnya saat ia berusaha menangkis dengan pedangnya.
Pedang andalannya kini retak menjadi dua, dan di tubuhnya terlihat bekas luka bakar yang aneh bukan merah menyala, melainkan hitam legam yang terlihat seperti daging yang membusuk perlahan.
Racun sihir hitam itu merambat cepat ke arah lehernya, membuatnya sesekali tersentak dan meronta lemah dalam tidurnya yang penuh siksaan. Wajahnya yang selalu ceria kini penuh keringat dan ketakutan, mulutnya bergerak pelan memanggil nama Thiago dan Alexander, seolah sadar bahwa ia sedang berjuang untuk tetap tinggal di dunia ini bersama mereka.
Mereka bertiga terikat oleh satu nasib yang sama. Mereka berusaha melindungi yang lain, namun justru terkena dampak paling kejam dari sihir terlarang itu. Jika Thiago yang memiliki potensi kekuatan terbesar pun lumpuh seperti ini, maka Alexander dan Silas yang pertahanan jiwanya jauh lebih sederhana pasti menderita dua kali lipat lebih berat. Racun itu menyebar lebih cepat, menyerang organ vital lebih ganas, dan mematikan harapan untuk sembuh dengan cara biasa.
Bellatrix berlutut di tepi tikar itu, tangannya gemetar hebat saat hendak menyentuh lengan Thiago namun berhenti takut menyakiti lebih lanjut. Air matanya jatuh menetes ke tanah tanpa suara.
"Mereka bertiga..." bisiknya parau, menoleh ke arah orang tuanya dan Kaisar. "Mereka berusaha menyelamatkan satu sama lain. Dan sekarang semuanya terluka parah. Tidak ada tabib biasa yang bisa menyembuhkan luka jenis ini."
Duchess Elara mendekat perlahan, memeriksa denyut nadi mereka satu per satu dengan wajah yang semakin suram.
"Racun ini memakan inti kehidupan mereka, Bella. Racun ini tidak hanya melukai daging, tapi juga merusak aliran energi jiwa. Hanya kekuatan air murni tingkat tertinggimu yang bisa membersihkannya. Tapi kau tidak bisa melakukannya sendirian sambil menahan kegilaan Thiago."
Bellatrix menatap wajah Thiago yang penuh perjuangan, lalu menatap Alexander dan Silas yang berkorban tanpa ragu. Tekadnya kembali mengeras sekuat baja.
"Aku akan membasmi kegelapan ini dari tubuh mereka bertiga, dan aku tidak akan membiarkan satu pun dari mereka pergi."
lagian mereka kyk gk ad kerjaan ngintipin 🤣🤣🤣🤣