Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
"Karyawanmu sepertinya punya banyak waktu luang di jam kerja. Apakah bergosip masuk ke dalam Key Performance Indicator (KPI) di perusahaan ini?" kata Grizla, matanya menyapu ruangan.
Siska mendadak pucat. Dia segera berbalik menghadap para stafnya dengan wajah gusar.
"Semuanya! Kembali ke meja masing-masing dan lanjutkan pekerjaan kalian! Jangan sampai saya potong bonus bulanan kalian karena malas!"
Mendengar ancaman itu, para karyawan langsung bubar kocar-kacir, meski telinga mereka tetap dipasang lebar-lebar.
Rian, yang mejanya paling dekat dengan lift, berpura-pura sibuk dengan komputernya sambil melirik ke arah dua wanita itu.
Di sana, Grizla melipat tangannya di dada, menatap Siska dengan pandangan menilai.
"Kamu terlalu lunak pada mereka, Siska. Pantas saja laporan keuangan kuartal lalu agak tersendat," sindir wanita itu tajam.
"Maaf, Nyonya. Saya akan menertibkan mereka setelah ini," jawab Siska, suaranya bergetar menahan emosi sekaligus rasa takut. "Mari, liftnya sudah terbuka. Ruangan Direktur Utama sudah dikosongkan untuk Anda."
Sebelum melangkah masuk ke dalam lift, Grizla sempat melirik ke arah Rian yang sedang mencuri pandang. Detik itu juga, Rian merasakan aura dingin yang menusuk.
Begitu pintu lift tertutup, lobi langsung kembali meledak dalam kasak-kusuk yang lebih heboh dari sebelumnya.
"Gila... Bu Siska yang galak begitu aja langsung mati kutu!" seru Rian setengah berbisik pada rekan di sebelahnya. "Siapa sebenarnya perempuan itu? Jangan-jangan... dia pemilik saham mayoritas yang baru?"
Langkah kaki Grizla dan Siska menggema samar di atas lantai marmer lobi gedung perusahaan yang megah itu.
Siska berjalan setengah langkah di depan, menggunakan kartu akses khusus untuk membuka pintu pembatas menuju lorong privat.
Tepat saat pintu lift CEO berdenting terbuka, sebuah lift karyawan di ujung lorong seberang juga terbuka.
Antonio keluar dari sana sambil sibuk memeriksa berkas di tangannya. Namun, instingnya mendadak terusik oleh sebuah siluet yang sangat familier.
Antonio menghentikan langkahnya. Matanya menyipit tajam, menatap lurus ke arah punggung seorang wanita berblazer hitam yang hendak melangkah masuk ke dalam lift khusus.
"Tunggu..." gumam Antonio pada dirinya sendiri.
Jantungnya berdesir aneh. Postur tubuh itu, cara berjalan itu... sangat tidak asing.
"Ada apa, Antonio? Apakah ada berkas yang tertinggal?" tanya Tiara yang berjalan di sampingnya, ikut menghentikan langkah.
Antonio tidak menjawab. Fokusnya terkunci. "Wanita di depan lift CEO itu... siapa?"
"Oh, itu Bu Siska. Tapi saya kurang tahu siapa wanita yang bersamanya."
Penasaran membuat Antonio melangkah lebar, mencoba mengejar jarak agar bisa melihat wajah wanita itu dengan lebih jelas. "Nona Siska! Tunggu sebentar!" serunya setengah berteriak.
Namun, seruan itu kalah cepat dengan sistem otomatis gedung. Sebelum Antonio sempat mendekat dalam jarak pandang yang ideal, Grizla dan Siska sudah melangkah masuk.
Pintu lift CEO yang tebal dan berlapis cermin itu pun tertutup rapat, memutuskan pandangan mereka.
Antonio terpaku di depan pintu lift yang kini sudah bergerak naik. Ia mengusap dagunya, dahi berkerut dalam karena rasa penasaran yang bercampur dengan ketidakpercayaan.
Antonio mengembuskan napas berat, matanya masih menatap angka lift yang terus bergerak ke atas.
"Wanita itu... kenapa mirip sekali dengan Grizla?" gumam Antonio pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.
Ia menggelengkan kepala seolah berusaha mengusir pikiran konyol itu dari benaknya. "Tapi itu mana mungkin Grizla," batinnya menolak keras.
"Grizla kan menganggur. Jangankan bekerja di perusahaan elite ini, mencari kerja di ruko biasa saja dia kesusahan. Lagipula, ku telepon kemarin malam pun ponselnya tidak aktif, entah pergi ke mana dia."
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..