Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerakan Sang bayi
Beberapa bulan berlalu, dan usia kandungan Annisa kini memasuki tujuh bulan. Perutnya sudah terlihat membulat jelas, terlihat cantik dan sehat, menandakan bahwa janin di dalamnya tumbuh dengan baik. Setiap hari, Chensi semakin sering mengamati perubahan itu, matanya selalu bersinar setiap kali melihat gerakan halus yang kadang terlihat menonjol dari balik kain gamisnya.
Sore itu, mereka duduk kembali di bangku taman yang sama. Angin sore bertiup sejuk, membawa aroma bunga yang semakin harum. Annisa terlihat lebih rileks, tangannya sesekali mengusap lembut perutnya dengan senyum yang terukir manis di wajahnya.
Chensi duduk di sampingnya, menatap gerakan tangan gadis itu dengan pandangan penuh rasa ingin tahu dan sayang. Ia sudah sering mendengar bahwa bayi di dalam kandungan bisa merespons sentuhan dan suara, namun ia belum pernah benar‑benar merasakannya sendiri.
“Annisa…” panggilnya pelan, suaranya terdengar sedikit ragu.
Annisa menoleh, tersenyum lembut. “Ya, Tuan?”
“Bolehkah aku merasakannya? Gerakan anak kita itu?” tanyanya hati‑hati, takut jika permintaannya akan dianggap melanggar batas. “Aku hanya ingin merasakan kehadirannya secara langsung, bukan hanya melihat dari jauh.”
Annisa tertegun sejenak, lalu wajahnya sedikit memerah. Ia mengangguk perlahan, lalu mengangkat sedikit ujung hijabnya, memperlihatkan bagian perut yang membulat itu. “Boleh, Tuan. Hati‑hati saja, jangan terlalu di tekan.”
Dengan sangat hati‑hati dan penuh rasa hormat, Chensi mengangkat tangannya. Ia menempelkan telapak tangannya yang hangat secara perlahan di atas perut Annisa. Jantungnya berdebar kencang, bahkan lebih kencang daripada saat ia menghadapi masalah bisnis yang paling rumit sekalipun.
Beberapa detik terasa hening, hingga tiba‑tiba terasa satu dorongan lembut di bawah telapak tangannya. Lalu diikuti dengan gerakan lain yang terasa jelas, seolah bayi itu sedang menendang atau berputar di dalam sana.
Chensi tertegun seketika, matanya membelalak tak percaya. Ia merasakan detak kecil kehidupan yang terhubung langsung dengan dirinya. Suatu rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata‑kata—campuran antara keajaiban, rasa syukur, dan ikatan darah yang terasa nyata sekali.
“Dia bergerak… dia benar‑benar ada di sini,” bisiknya dengan suara bergetar, matanya tiba‑tiba berkaca‑kaca. “Ini anak kita, Annisa… darah daging kita berdua.”
Annisa menatapnya dengan pandangan yang lembut, melihat sisi lain dari lelaki itu yang jarang terlihat—sisi yang lembut, penuh haru, dan tanpa topeng kekuasaan atau kekerasan apa pun.
“Dia sudah mulai aktif akhir‑akhir ini, Tuan. Kadang dia menendang keras jika saya terlalu lama duduk atau bergerak,” jawabnya pelan.
Chensi tetap membiarkan tangannya menempel di sana, sesekali mengusapnya dengan sangat lembut. Ia berbicara dengan suara rendah dan lembut, seolah berbicara langsung pada bayi itu.
“Dengarkan Ayah, Nak. Tumbuhlah sehat dan kuat di sana. Ayah dan Ibu akan menjagamu, memberimu segalanya yang terbaik. Jangan khawatir, kita akan menjadi keluarga yang utuh, meski dengan cara kita sendiri.”
Mendengar kata‑kata itu, rasa haru kembali meluap di hati Annisa. Keraguan yang sempat menghantuinya pagi itu perlahan memudar. Ia sadar, apa pun batasan yang ada di antara dirinya dan Chensi, ikatan darah ini adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan, tidak bisa diubah, dan akan tetap ada selamanya.
Namun di balik rasa bahagia itu, satu pertanyaan lain kembali muncul di benaknya. “Jika anak ini lahir nanti, dia akan tumbuh di tengah dua keyakinan yang berbeda. Bagaimana kami akan mengajarkannya? Apakah dia akan bingung? Atau apakah dia bisa menerima kenyataan bahwa ayah dan ibunya memiliki jalan hidup yang berbeda?”
Seolah bisa membaca pikiran gadis itu, Chensi mengangkat wajahnya, lalu menatap Annisa dengan pandangan yang sudah memikirkan hal itu jauh‑jauh hari.
“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu,” ucapnya pelan. “Kita berbeda jalan, dan kita tidak bisa mengubahnya. Tapi aku sudah memikirkan solusinya. Kita akan mengajarkan anak ini kedua nilai kebaikan yang kita yakini. Dia akan mengetahui ajaran Ibu, dia juga akan mengetahui ajaran Ayah. Kelak saat dia cukup besar, dia yang akan memilih jalannya sendiri dengan bebas, tanpa paksaan dari siapa pun.”
Ia menggenggam tangan Annisa yang tergeletak di atas pangkuannya.
“Kita tidak harus menjadi satu dalam keyakinan untuk menjadi keluarga yang utuh. Kita cukup menjadi satu dalam rasa sayang, tanggung jawab, dan keinginan untuk membesarkannya dengan kasih sayang. Itu sudah lebih dari cukup.”
"Apakah Tuan tidak merasa keberatan jika nanti anak kita mengikuti keyakinan saya?" Tanya Annisa masih tidak percaya. Karena ia masih teringat dengan ucapan Chensi beberapa bulan yang lalu. Dia mengatakan nanti anaknya harus mengikuti keyakinannya. Tapi baru saja ia mendengar kata-kata itu. Memberikan hak pada anaknya untuk memilih.
"Hmm... Aku sama sekali tidak keberatan. Dia berhak memilih dan meyakini mana ajaran yang benar menurut penilainya. Biarkan dia memilih jalannya sendiri."
Annisa mendengarkan dengan hati yang perlahan merasa lebih tenang. Mungkin jalan mereka tidak biasa, mungkin tidak sesuai dengan pandangan banyak orang, namun ia sadar—setiap jalan yang didasari rasa hormat dan kebaikan, pasti akan membawa kebaikan pula untuk masa depan anak mereka.
“Semoga Tuhan meridhai jalan kita, Tuan,” bisiknya lirih.
“Semoga,” jawab Chensi dengan senyum yang tulus, lalu kembali menempelkan telapak tangannya di atas perut Annisa, menikmati setiap gerakan kecil yang menjadi tanda harapan baru bagi mereka berdua.
Annisa mengangguk dan tersenyum lembut. Hatinya merasa sangat lega dengan jawaban Chensi.