Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketenangan di Dalam Api Unggun
Mereka pun melangkah berdua menuju cahaya terang. Semakin dekat, semakin terlihat jelas celah itu bukan pintu biasa, melainkan seperti sobekan tipis di udara yang memancarkan cahaya keemasan tidak stabil, seolah dinding pembatas dua dunia sedang roboh perlahan. Angin hangat namun menyakitkan keluar dari sana, membawa bisikan-bisikan yang makin gaduh.
“Ini adalah tempat inti desa dulu,” bisik Su-ho sambil berhenti di tepi celah. “Saat longsor datang, batu kunci gerbang desa hancur di sini. Kini batas dunianya ikut terlepas.”
Ia menoleh ke Soo-jin dengan tatapan serius namun tenang. “Aku tidak bisa menutupnya sendirian. Aku penjaga, tapi kau membawa kekuatan dari dunia nyata—keseimbangan yang hilang di sini. Taruhlah tanganmu di sebelah tanganku, dan bayangkan damai, bayangkan tempat ini kembali utuh dan tenang.”
Soo-jin mengangguk mantap. Ia mengangkat tangannya perlahan, menyandingkannya tepat di samping tangan Su-ho di depan celah yang berdenyut itu.
“Tutup matamu,” perintah Su-ho pelan. “Bicaralah pada tempat ini, katakan pada jiwa-jiwa di sini bahwa rumah mereka sudah aman.”
Soo-jin memejamkan mata, lalu berbicara dengan suara lembut namun penuh keyakinan:
“Tempat ini adalah rumah kalian yang abadi. Tidak ada yang perlu dikejar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Istirahatlah dengan tenang di sini.”
Seketika cahaya dari celah itu memudar perlahan. Angin menderu pelan, lalu mereda. Dari ujung celah mulai tumbuh cahaya lembut yang menyatu—mengisi sobekan itu perlahan, seperti luka yang sembuh. Di belakang mereka, puluhan jiwa yang gelisah mulai bersinar lembut, menyatu dengan cahaya itu, seolah memberi kekuatan pada kedua tangan mereka.
Sampai akhirnya—celah itu menutup rapat sepenuhnya. Tidak ada lagi cahaya yang keluar, tidak ada lagi angin yang menderu. Di hadapan mereka kini hanya ada tembok batu yang halus dan tenang, persis seperti yang seharusnya.
Su-ho menarik tangannya perlahan, tersenyum lega sekali. “Terima kasih, Soo-jin. Kau benar-benar menolong kami semua.”
Seketika lorong batu itu memudar, dan Soo-jin merasa seolah diangkat perlahan ke atas. Pemandangan di depannya berubah—kembali ke tanah berumput di pinggir hutan, kabut gelap sudah hilang sama sekali.
“Dia ada di sini!” seru Min-woo yang pertama kali melihatnya terjatuh pelan di antara semak belukar.
Mereka semua langsung berlari mendekat. Soo-jin membuka matanya perlahan, dan yang pertama ia lihat adalah wajah cemas Min-woo, Seung-hyun, serta teman-teman perempuannya yang menangis lega.
“Soo-jin! Kau di mana saja? Kami mencarimu sampai lelah!” Hye-jin langsung memeluknya erat.
“Aku… aku baik-baik saja,” jawab Soo-jin lemah namun tersenyum. Ia menoleh sekilas ke arah pepohonan di belakangnya—di sana, samar terlihat sosok Su-ho melambaikan tangan terakhir sebelum perlahan menghilang di balik bayangan pohon pinus.
Malam itu, saat api unggun mulai menyala terang dan teman-teman yang lain bernyanyi riang, Soo-jin duduk agak menjauh menatap ke dalam hutan. Ia tahu, meski tidak ada yang percaya atau melihatnya, ia telah menyelamatkan banyak jiwa, dan mendapatkan teman baru yang menjaga hutan ini dengan setia.
Setelah memastikan Soo-jin duduk dengan nyaman di dekat api unggun, Min-woo menatapnya lekat dengan tatapan masih menyisakan kekhawatiran.
“Soo-jin… apa yang sebenarnya terjadi padamu di dalam sana?” tanyanya pelan.
Soo-jin menunduk sejenak, lalu mengangkat wajah dengan senyum tipis. “Aku juga tidak tahu persis. Rasanya aku hanya tersesat, dan jalan pulang terasa sangat jauh.”
Ia memilih menyimpan rapat semua pertemuannya dengan Su-ho, desa yang terkubur, dan tugas yang baru saja ia selesaikan. Itu adalah rahasia antara dirinya, penjaga hutan, dan jiwa-jiwa yang kini sudah damai.
“Lain kali hati-hati ya,” pesan Min-woo lembut. “Jangan menjauh terlalu jauh tanpa memberi tahu kami.”
“Iya. Terima kasih… terima kasih sudah begitu mengkhawatirkanku,” jawab Soo-jin tulus.
Min-woo tersenyum lega, lalu perlahan mengelus puncak kepala Soo-jin dengan penuh kehangatan.
Soo-jin kemudian mengalihkan pandangannya ke arah nyala api yang menari-nari cantik di tengah mereka. Cahaya jingga memantul di matanya, dan di dalam hatinya, ia merasa damai.
Di tengah riuh tawa teman-teman sekelas, Soo-jin sesekali melirik ke arah pinggiran hutan yang remang. Dan di sana, tepat di batas cahaya api unggun dan bayangan pepohonan, ia melihatnya.
Sosok Su-ho berdiri tenang di balik batang pohon besar, menatapnya dengan senyum lembut yang sama seperti tadi. Di tangannya masih ada apel hijau itu, dan pelan ia menggigit sedikit bagian bekas gigitan yang sudah ada, seolah memberi tanda perpisahan yang tak perlu kata-kata.
Hanya Soo-jin yang bisa melihatnya. Tidak ada orang lain yang menoleh, tidak ada yang menyadari keberadaannya di sana.
Soo-jin tersenyum tipis, lalu perlahan mengangguk pelan—seolah berkata "selamat tinggal dan terima kasih".
Su-ho pun membalas anggukan itu, lalu perlahan tubuhnya menyatu dengan gelapnya hutan, menghilang sepenuhnya. Namun ketenangan yang ia bawa tetap tertinggal di hati Soo-jin, menemani hangatnya nyala api unggun di hadapannya.
Perlahan riuh di sekitar api unggun mereda. Soo-jin bersama teman-teman perempuannya berjalan masuk ke dalam tenda, menyelimuti diri dan tak lama kemudian terlelap dalam tidur yang damai.
Hanya Min-woo dan Seung-hyun yang masih duduk diam di luar, menonton sisa-sisa bara api yang mulai meredup. Suara jangkrik mulai terdengar jelas memecah keheningan malam.
“Min-woo…” panggil Seung-hyun pelan, matanya menatap ke arah tenda Soo-jin. “Kau juga merasakan hal yang aneh pada Soo-jin tadi, kan?”
Min-woo mengangguk perlahan, tidak mengalihkan pandangan dari bara api. “Iya.”
“Mustahil dia hanya tersesat,” lanjut Seung-hyun dengan nada yakin. “Bahkan jika benar-benar tersesat, kita pasti akan langsung menemukan jejaknya. Dia perempuan, tidak mungkin berjalan sejauh itu sendirian tanpa suara.”
“Iya, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres,” jawab Min-woo lembut namun pasti. “Tapi dia belum mau bercerita sekarang. Dan aku rasa… suatu saat nanti dia akan menceritakannya sendiri saat dia sudah siap.”
Min-woo menatap samar ke arah tenda tempat Soo-jin beristirahat, lalu menambahkan pelan dengan nada penuh keyakinan:
“Pasti dia bisa mengatasinya sendiri. Dia lebih kuat dari yang kita kira. Dan sekarang… dia sudah kembali bersama kita. Itu yang paling penting.”
Seung-hyun tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Min-woo pelan. “Benar. Selama dia ada di sisi kita, kita tidak akan membiarkannya menghadapi hal berat sendirian.”
Mereka pun bangkit berdiri, memadamkan sisa bara api dengan hati-hati, lalu masuk ke dalam tenda masing-masing. Malam itu hutan kembali sunyi, dijaga oleh ketenangan yang kini sudah utuh kembali.