Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Kompensasi Dapur dan Lembaran Rencana Baru
Nadine melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh tepian tempat tidur, menatap kepergian Kyle dengan kejengkelan yang sudah mencapai puncaknya.
(Pria itu benar-benar mengira dia bisa mengendalikan seluruh hidup saya hanya dengan selembar draf amandemen sepihak.)
Nadine menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk, menatap langit-langit kamar dengan kalkulasi baru yang mulai terbentuk di dalam otaknya yang sangat dingin.
Ia tidak akan membiarkan Kyle menang begitu saja tanpa memberikan perlawanan finansial yang setimpal.
Sebagai seorang wanita yang hanya mencintai uang, ia segera merumuskan cara terbaik untuk memeras balik dompet suaminya melalui celah draf kontrak yang masih longgar.
Hari berikutnya tiba dengan sangat cepat bagi ritme hidup Nadine yang selalu teratur dan disiplin.
Sebelum jam dinding di dapur mewah menunjukkan pukul lima, ia sudah berdiri tegak di depan meja konter marmer dengan celemek abu-abu yang terikat rapi di pinggang rampingnya.
Aktivitas memasak adalah satu-satunya momen berkualitas yang selalu dijaga oleh Nadine untuk melepaskan segala kepenatan dari analisis pasar modal yang rumit.
Selain itu, ia juga sangat bersemangat karena hari ini adalah waktu penagihan untuk porsi makanan tambahan milik Kyle yang dihargai sebesar lima puluh juta rupiah per bulan.
(Saya akan memastikan setiap butir nasi dan potongan bahan makanan hari ini bernilai setara dengan harga emas batangan di pasar internasional.)
Nadine mulai memotong beberapa bumbu dapur dengan ketukan pisau yang sangat cepat dan berirama konstan, menyalurkan seluruh kekesalannya melalui gerakan tangannya yang lincah.
Ia memutuskan untuk membuat menu bubur ayam abalon premium, sebuah hidangan kelas atas yang membutuhkan teknik memasak lambat dan ketelitian ekstra.
Sifat cerobohnya yang kerap mengabaikan sekitar membuat Nadine tidak menyadari kehadiran sesosok tubuh tegap yang melangkah masuk ke dalam area dapur tanpa suara.
Kyle Ernest berdiri bersandar pada daun pintu, mengamati punggung istrinya dengan sepasang mata kelabu yang menunjukkan ketertarikan yang sangat mendalam namun tersamar dengan baik.
Pria beraura es itu selalu menyukai momen domestik seperti ini, di mana ia bisa melihat sisi lain dari Nadine yang biasanya hanya peduli pada lembaran uang kertas.
Tanpa memberikan peringatan apa pun, Kyle melangkah maju dan melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang ramping Nadine dari arah belakang.
Nadine tersentak kaget hingga hampir saja menjatuhkan pisau dapurnya ke atas lantai marmer akibat refleks tubuhnya yang sangat ceroboh terhadap kejutan fisik.
"Tindakan Anda ini sangat tidak aman dan bisa merusak kualitas pisau impor saya yang sangat mahal, Pak Kyle."
"Saya hanya sedang membantu menjaga keseimbangan tubuh Anda yang selalu terlihat goyah setiap kali memegang peralatan tajam."
Kyle tidak melepaskan pelukannya, justru semakin merapatkan tubuh tegapnya hingga tidak ada jarak sedikit pun yang tersisa di antara mereka.
Nadine bisa merasakan embusan napas hangat Kyle yang menerpa tengkuk lehernya secara konstan, menciptakan sensasi menggelitik yang sangat mengganggu fokus berpikirnya.
(Pria tsundere ini benar-benar semakin licik, menggunakan alasan keamanan hanya untuk mencuri-curi keintiman fisik di pagi hari.)
"Pelukan ini tidak ada di dalam draf pasal tambahan, jadi silakan lepaskan tangan Anda sekarang juga sebelum saya mengenakan denda kenyamanan."
"Masukkan saja semua denda itu ke dalam tagihan bulanan saya, karena saya sama sekali tidak keberatan membayar untuk hak istimewa memeluk istri saya sendiri."
Kyle membisikkan kalimat itu dengan suara bariton yang sangat rendah dan serak, sengaja menguji tingkat ketahanan mental Nadine yang terkenal keras kepala.
Nadine menggertakkan giginya kesal, berusaha keras menahan debaran aneh di dadanya yang mulai berdenyut dengan kecepatan yang tidak rasional bagi kesehatannya.
"Saya menuntut kenaikan biaya kontrak memasak sebesar sepuluh persen jika Anda terus mengganggu aktivitas dapur saya seperti ini."
"Saya akan melipatgandakannya menjadi dua puluh persen jika Anda bersedia membiarkan saya tetap berada di posisi ini selama lima menit lagi."
Kelicikan halus Kyle yang selalu menggunakan uang sebagai alat tawar-menawar akhirnya berhasil membungkam argumen logis Nadine yang tidak pernah bisa menolak keuntungan finansial.
Nadine terpaksa diam dan melanjutkan aktivitas mengaduk bubur abalonnya dengan wajah yang merona merah padam, membiarkan tubuhnya tetap dikunci oleh dekapan hangat sang suami.
Penulis rasa, Nadine memang sangat tangguh di depan dewan direksi, tetapi di hadapan rayuan finansial suaminya, dia benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk menolak (kekeke)