NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Jalan Menuju Bukit dan Pembalasan sang Pengelana

Ketegangan di alun-alun Desa Rawa Bening memuncak, namun Askara sama sekali tidak terpengaruh oleh provokasi kesatria lokal tersebut. Pria berzirah besi itu telah menarik setengah bilah pedangnya, menanti reaksi ketakutan atau perlawanan fisik dari sang pemuda misterius. Namun, Askara bertindak seolah-olah pria di hadapannya itu hanyalah embusan angin lalu yang tidak berarti. Ia memalingkan wajahnya sepenuhnya dari sang kesatria, kembali berlutut dengan satu kaki di depan wanita paruh baya yang masih gemetar.

"Ibu, abaikan orang ini," ucap Askara dengan nada suara yang tenang namun memotong seluruh keangkuhan sang kesatria. "Di mana sarang para bandit itu? Katakan padaku ke arah mana mereka membawa putrimu pergi. Aku yang akan menjemputnya kembali."

Wanita itu tertegun, matanya yang sembap menatap tidak percaya ke arah Askara. Di tengah keputusasaannya, kehadiran pemuda berjubah hitam ini bagaikan seberkas cahaya di kegelapan malam. "M-mereka... mereka membawa Elena ke arah bukit berbatu di sebelah utara desa, Tuan. Ada sebuah gua tua yang dijadikan markas oleh mereka di balik lereng bukit itu. Tapi... mereka sangat banyak dan kejam!"

"Hei! Beraninya kau mengabaikanku, Nirmala sialan!" bentak kesatria lokal itu, melangkah maju dengan pedang yang kini telah terhunus sepenuhnya.

Namun, sebelum bilah besi itu sempat mengarah kepadanya, Askara bangkit berdiri dan memberikan satu tatapan dingin dari balik tudung hitamnya. Tekanan mental yang tak kasat mata membuat sang kesatria mendadak mematung, kakinya terasa berat untuk melangkah maju. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Askara berbalik dan melangkah tegap meninggalkan alun-alun desa, membelah kerumunan penduduk yang menatapnya dengan pandangan campur aduk antara kagum dan cemas. Langkah kakinya membawa tekad bulat menuju bukit utara.

Perjalanan menuju kaki bukit tidak memakan waktu lama bagi fisik Askara yang terlatih. Setelah melewati jalanan setapak yang gersang dan mendaki lereng berbatu, ia akhirnya tiba di depan sebuah mulut gua yang cukup besar. Beberapa bendera usang dengan simbol tengkorak terpasang di sekitarnya—menandakan dengan jelas bahwa tempat ini adalah markas kelompok bandit bertopeng.

Begitu melangkah masuk ke dalam area luar gua, kehadiran Askara langsung memicu alarm bahaya. Belasan pria dengan pakaian compang-camping dan senjata tajam keluar dari balik batu-batu besar, mengepung Askara dari segala arah.

"Oi, oi! Siapa pengelana bodoh berjubah hitam ini?" teriak salah satu kroco bandit dengan tawa mengejek yang nyaring.

"Datang ke markas kami seorang diri? Apakah kau sudah bosan hidup, hah? Atau kau ingin menyerahkan jubah bagusmu itu sebagai upeti kepada kami?"

"Lihat dia, bertingkah misterius seperti penyihir hebat!

Hahaha!" sahut bandit lainnya, memicu gelak tawa riuh dari kelompok penjahat tersebut. Di mata mereka, seorang pemuda yang datang sendirian tanpa membawa pasukan atau memancarkan hawa mana dasar yang besar hanyalah mangsa empuk yang siap dikuliti.

Askara berdiri diam di tengah kepungan, kedua tangannya tersembunyi di balik kain jubah hitamnya. "Di mana anak gadis dari desa bawah?" tanya Askara dingin, mengabaikan segala hinaan mereka.

"Bukan urusanmu, Keparat! Habisi dia!" perintah sang provokator bandit.

Secara serentak, para kroco bandit itu mengangkat tangan dan senjata mereka. Aliran mana amatir mulai bergolak di sekitar mereka. Tiga orang bandit di barisan depan merapalkan sihir elemen angin berwujud bilah udara tajam, sementara dua orang di samping melepaskan sihir bola api tingkat rendah. Lima serangan sihir itu melesat bersamaan, membelah udara gua yang pengap menuju tepat ke arah tubuh Askara.

Wusss! Wusss!

Para bandit itu menyeringai, bersiap melihat tubuh pengelana misterius itu hancur berantakan. Namun, apa yang terjadi berikutnya membuat senyuman di wajah mereka membeku secara instan.

Askara melangkah maju satu langkah, menarik kedua tangannya dari balik jubah dan merentangkannya ke depan secara terbuka. Serap.

Suara desingan hampa yang aneh bergema di dalam gua. Bilah-bilah angin tajam dan bola-bola api yang melesat cepat itu mendadak melengkung di udara, seolah-olah ditarik oleh daya gravitasi yang tak terlihat. Begitu menyentuh telapak tangan Askara, seluruh serangan sihir tersebut langsung berputar masuk, mengecil, dan tersedot habis ke dalam dadanya tanpa menyisakan sepercik debu pun. Tidak ada ledakan, tidak ada luka. Hanya ada pendaran cahaya elemen yang sesaat melintas di pembuluh darah lengannya sebelum padam total.

Stamina Askara terkuras sedikit, namun jumlah sihir amatir seperti ini sama sekali tidak membebani fisiknya. "Hanya segini kemampuan sihir kalian?" gumam Askara pelan.

"A-apa?! Sihir kita hilang?!" teriak kroco bandit itu dengan mata membelalak horor, mundur selangkah karena ketakutan yang mendadak menyerang mental mereka.

"Sekarang, giliran kubalas," ucap Askara dingin.

Gabungkan.

Di dalam wadah dadanya, Askara dengan cepat menyatukan energi sihir angin dan sihir api yang baru saja ia serap. Penggabungan dua elemen dasar dari para kroco ini terasa sangat mudah dan instan bagi Askara yang sudah terbiasa menahan energi monster tingkat tinggi. Energi itu melebur menjadi satu kesatuan baru: Badai Peluru Api.

Askara menghentakkan kedua telapak tangannya ke arah kerumunan bandit di depannya.

BOOM! BOOM! BOOM!

Belasan peluru api yang berputar kencang dengan kecepatan sihir angin melesat keluar dari tangannya secara brutal. Serangan balik itu menghantam para kroco bandit dengan telak. Ledakan demi ledakan tercipta di dalam gua, melemparkan tubuh-tubuh mereka menghantam dinding batu hingga tak sadarkan diri. Senjata-senjata mereka terlempar berantakan, dan dalam hitungan detik, belasan kroco bandit yang tadi tertawa sombong kini terkapar di lantai gua dengan luka bakar dan memar yang parah. Mereka kalah telak oleh sihir mereka sendiri yang digandakan oleh Askara.

Suasana gua mendadak menjadi sangat sunyi, menyisakan kepulan asap hitam dan deru napas ketakutan dari beberapa bandit yang masih setengah sadar.

Dari kegelapan bagian dalam gua, terdengar suara langkah kaki yang berat dan lambat. Sesosok pria bertubuh besar dengan zirah kulit tegap dan sebilah pedang besar berselimut aura petir biru melangkah keluar. Wajahnya dipenuhi amarah yang membara melihat seluruh pasukannya dilumpuhkan dengan begitu mudah oleh satu orang. Ia adalah sang Pemimpin Bandit.

"Mengalahkan para kroco tidak membuatmu menjadi pahlawan di sini, Pengelana Sialan," desis sang pemimpin bandit, mengangkat pedang besarnya yang memercikkan kilatan listrik berbahaya. "Aku sendiri yang akan memotong-motong tubuhmu dan menjadikannya makanan monster hutan!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!