NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Perhatian Alya, Part 1.

Setelah gerombolan preman pimpinan Garong itu pergi sambil tertawa puas, suasana lorong sepi di samping gudang tua itu kembali sunyi. Bumi terbaring diam di atas tanah becek selama beberapa menit, mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Pukulan di wajah dan tendangan keras di perutnya serta hantaman balok kayu di tulang keringnya membuat seluruh tubuhnya mati rasa.

Dengan sangat perlahan, Bumi memiringkan badannya, lalu bertumpu pada siku kirinya yang gemetar. Ia merangkak sedikit untuk memungut dompet kainnya yang dibuang Garong begitu saja. Dompet itu kosong melompong, bahkan sapu tangan kain dari Mak Sumi pun raib.

"Ya Allah... tega banget mereka," bisik Bumi lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Hati Bumi bergetar hebat. Rasa sedih yang mendalam berbaur dengan amarah yang tertahan di dalam dadanya. Ia merasa sangat frustrasi. Baru saja kemarin ia diusir dari desanya karena fitnah, kini di ibu kota, uang hasil peras keringatnya siang dan malam dirampas tanpa sisa oleh kekejaman preman.

"Gua harus kuat... gua gak boleh tumbang di sini," gumam Bumi mencoba menyemangati diri sendiri, meskipun air matanya hampir menetes karena menahan perih.

Dengan memegang dinding gudang tua yang berdebu, Bumi memaksakan dirinya untuk berdiri. Kakinya yang dihantam balok kayu terasa sangat linu dan goyah saat menapak tanah. Sambil memeluk tas karung goninya dengan erat, Bumi mulai berjalan tertatih-tatih, menyeret kakinya yang cedera menuju ke arah jalan pulang kosannya.

Langkah kaki Bumi sangat lambat dan goyah. Setiap beberapa meter, ia harus berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang terasa sesak akibat hantaman di perut tadi. Jalanan pinggiran pasar sudah makin temaram oleh remang-remang lampu jalan.

Ketika langkahnya yang limbung itu mulai melewati warung nasi sederhana milik keluarga Alya, sebuah suara melengking yang sangat familier mendadak memanggil namanya dari dalam warung.

"Mas Bumi? Eh, Mas Bumi, tunggu!"

Bumi menghentikan langkahnya, menoleh perlahan dengan sisa-sisa tenaganya. Ternyata orang itu adalah Alya. Gadis itu langsung keluar dari pintu samping warung sambil membawa sebuah nampan kosong. Namun, begitu Alya melangkah mendekati pembatas warung dan melihat kondisi Bumi di bawah cahaya lampu neon, langkah kakinya seketika terhenti. Wajah Alya berubah menjadi sangat terkejut, matanya terbelalak lebar.

"Astaga, Mas Bumi! Kamu kenapa?!" pekik Alya setengah berteriak, langsung meletakkan nampannya di atas meja dengan sembarangan dan berlari menghampiri Bumi ke pinggir jalan.

Bumi mencoba memaksakan sebuah senyuman di wajahnya yang lebam, meskipun hal itu justru membuat sudut bibirnya yang pecah kembali berdarah. "Eh... Mbak Alya. Belum tidur, Mbak?"

"Tidur gimana! Mas Bumi, muka kamu kenapa bisa hancur begini? Ya ampun, itu darah di bibir masih basah! Bajunya juga kotor semua penuh tanah! Kamu habis diapain, Mas?" tanya Alya bertubi-tubi dengan raut wajah yang dipenuhi rasa panik dan khawatir yang luar biasa.

"Gak apa-apa kok, Mbak Alya. Cuma... ada sedikit masalah di lorong dekat gudang tua tadi," jawab Bumi berusaha menutupi masalah agar Alya tidak panik.

"Gak apa-apa gimana! Ini bengkak semua begini matanya! Udah, ayo masuk dulu! Masuk ke dalam warung sekarang, jangan bantah!" perintah Alya tegas, langsung memegang lengan Bumi yang tidak terluka untuk membantunya berjalan masuk ke dalam warung nasi yang sudah sepi pelanggan itu.

Alya menuntun Bumi duduk di bangku kayu panjang yang biasa dipakai pembeli. Dengan tergesa-gesa, Alya berjalan ke belakang dan kembali dengan membawa sebuah baskom kecil berisi air hangat, kain bersih, dan kotak obat kecil.

"Mas Bumi, duduk yang tenang ya. Saya mau bersihin darahnya dulu. Tahan dikit kalau perih," kata Alya sambil memeras kain hangat dengan cekatan.

Bumi agak memundurkan kepalanya, merasa sangat sungkan. "Aduh, Mbak Alya... gak usah repot-repot begini, Mbak. Saya beneran gak enak banget. Dari semalam saya udah ngerepotin Mbak terus, udah dikasih kasur, sekarang malah bikin repot ngurusin ginian. Biar saya bersihin sendiri aja nanti di kamar mandi kosan."

"Mas Bumi bisa diam gak sih? Jangan banyak alesan!" potong Alya galak namun matanya menatap Bumi dengan penuh kelembutan. "Kalau dibiarin kotor begitu nanti infeksi. Udah, diam! Taruh karungnya di bawah dulu."

Bumi akhirnya pasrah, ia menurunkan tas karungnya ke lantai semen dan membiarkan Alya dengan telaten menyeka sisa darah dan tanah di pelipis serta sudut bibirnya menggunakan kain hangat.

"Aw... perih, Mbak," ringis Bumi sedikit saat kain hangat itu mulai menyentuh luka terbukanya.

"Makanya, tahan dikit... Mukanya sampai babak belur gini? Pasti Mas, habis berantem ya?" Cerocos Alya sambil terus mengobati luka Bumi dengan hati-hati.

Saat Alya sedang sibuk mengobati Bumi, tirai pembatas dapur belakang terbuka. Ibu Alya keluar dengan membawa sebuah wajan besar yang baru selesai dicuci. Begitu melihat Bumi yang sedang diobati dalam kondisi mengenaskan, wanita paruh baya itu langsung meletakkan wajannya dan mendekat dengan wajah cemas.

"Ya Allah, Nak Bumi! Kenapa kamu, Le? Kok wajahmu bisa bonyok-bonyok kayak gini?" tanya Ibu Alya ikut khawatir, langsung berdiri di sebelah anaknya.

Bumi segera menegakkan posisi duduknya, mencoba kuat dan tidak menunjukkan kelemahannya di depan orang tua itu. "Eh, Ibu... selamat malam. Ini gak apa-apa kok, Bu. Cuma lecet-lecet dikit aja tadi di jalan, biasa namanya juga kuli pasar. Ibu gak usah khawatir ya, saya ngga apa-apa."

"Ngga ap-apa gimana, itu wajah mu babak belur gitu, Nak. Kamu ini senang bohong ya biar orang gak cemas," sahut Ibu Alya sambil menggeleng-gelengkan kepala, tahu betul kalau pemuda di depannya ini sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.

Bumi hanya bisa nyengir kuda, menahan rasa linu di sekujur tubuhnya. Namun, di tengah kepungan rasa sakit fisik itu, dalam pikiran Bumi sekarang sebenarnya sedang berkecamuk hal lain yang jauh lebih berat. Ia tahu ia tidak memiliki uang sepeser pun lagi di kantongnya. Sementara itu, sejak sore tadi setelah panggul sawi, perutnya belum kemasukan makanan apa pun. Seolah mengonfirmasi isi pikirannya, mendadak dari dalam perut Bumi terdengar suara keroncongan yang sangat nyaring dan panjang.

Kriuuuuk...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!