***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Naya dan Raka telah sampai direstoran yang sudah Raka pesan,
"Kok sepi gini yaa?" tanya Naya heran.
"Nggak tau ya, apa jangan jangan cuma kita lagi yang disini." goda Raka terkekeh geli mengingat Raka memang memboking restoran ini untuk dinner romantis mereka berdua.
"Palingan juga udah kamu booking semuanya." cibir Naya membuat Raka semakin tertawa karena ketauan.
"Yahh ketauan deh,"
Keduanya duduk dimeja yang menghadap pemandangan kota, lampu kerlap kerlip membuat suasana semakin indah karena mereka berada dilantai paling atas.
"Indah banget.." kata Naya takjub dengan keindahan kota jogja.
"Hmm perasaan kamu udah lama tinggal disini kok malah kamu juga yang kagum." kekeh Raka.
"Ya aku kan nggak pernah ketempat kayak gini, mahal! mendingan buat jajan anak anak." kata Naya jujur.
"Kamu selalu bikin aku kagum." puji Raka.
Naya hanya tersenyum, tak berapa lama ada alunan musik yang sangat indah dan romantis.
Rasanya Naya teringat 5tahun yang lalu kala Mereka masih bersama sebagai sepasang kekasih, Raka pernah mengajak Naya dinner seperti ini, saat Raka menyatakan cinta dulu.
"Seneng nggak?" tanya Raka.
"Seneng banget."
"Aku mau bilang sesuatu sama kamu." kata Raka.
"Bilang apa sih?"
"Minggu depan kita nikah ya?" kata Raka membuat Naya tersenyum, Raka mengajaknya menikah, tentu saja Naya senang tapi...
"Kok diem?" tanya Raka saat Naya tak segera merespon.
"Apa ini nggak kecepeten? kamu kan baru aja cerai?" tanya Naya terlihat ragu.
"Padahal aku maunya besok aja, tapi berkasnya masuk seminggu lagi jadi mundur deh." Jelas Raka.
"Ditolak nih?" goda Raka membuat Naya sedikit panik.
"Eng-enggak ditolak, aku cuma binggung aja emang nya nggak kecepeten ya?"
"Enggak sayang, kamu kan udah hamil jadi kalau bisa dicepetin lah, nanti kalau kamu ngidam atau butuh apaa apa kan udah ada aku." jelas Raka barulah Naya paham.
"Iya sih, tapi apa kamu udah yakin sama aku? nanti aku kamu cerain lagi kayak istrimu yang sekarang." Cibir Naya.
"Enggak mungkin lah sayang, kamu nggak tau gimana paniknya aku waktu dulu kamu nggak ada diapartemen." kata Raka membuat Naya menatap Raka lalu menunduk.
"Sayang... kok malah sedih?" tanya Raka.
"Bukannya dulu kamu yang ninggalin aku? kenapa seolah olah aku yang ninggalin kamu?" batin Naya sedih.
"Sayang...." Raka terlihat cemas.
"Iya udah aku mau.." jawab Naya membuat Raka tersenyum sumrigah.
"Makasih sayang, aku janji bakal bahagiain kamu dan anak kita." kata Raka mencium tangan Naya.
"Tapi meskipun udah nikah, aku masih mau ngerawat anak anak panti, apa kamu juga mau nganggep mereka seperti anak kamu sendiri?" tanya Naya.
"Jelas mau dong sayang, biar mereka nggak cuma punya Bunda tapi juga punya Ayah." kata Raka membuat Naya tersenyum bahagia.
"Makasih."
Keduanya pun menikmati makan malam berdua dan terlihat sama sama bahagia karena setelah 5 tahun terpisah keduanya bisa bersama lagi.
...
"Jadi benar wanita itu sudah kembali?" tanya Clara pada seorang pria.
"Tepatnya Raka lah yang menemukan wanita itu." kata Pria itu.
"Pantas saja dia langsung menceraikan ku! lihat saja aku akan memberi mereka pelajaran." kata Clara terlihat marah.
"Sudahlah sayang, tak usah kau hiraukan mereka, lebih baik kita bersenang senang, aku sudah sangat menginginkan mu." kata Pria itu membawa Clara kedalam pangkuannya.
"Kau pikir hanya Kau saja yang ingin, aku juga ingin, beri aku kesenangan malam ini karena besok aku akan memberi pelajaran pada wanita itu." kata Clara yang sudah mengalungkan kedua tangan nya dileher pria itu.
Keduanya pun bergulat dikamar hotel yang disewa oleh Clara.
...
Tak berbeda jauh dari Clara, kini Raka dan Naya sudah sampai rumah panti, namun rumah panti itu terlihat sepi sekali.
"Apa anak anak sudah tidur?" gumam Naya.
"Tentu saja sudah, ini sudah pukul 11 malam sayang." Jelas Raka barulah Naya sadar jika sudah malam.
"Lalu dimana Anna, biasanya Ia nongkorng didepan?".
"Hmm, mungkin mereka sedang bersenang senang dikamar,"
"Siapa yang kau maksud mereka?" tanya Naya penasaran.
"Anna dan Nathan tentunya." balas Raka membuat Naya terkejut.
"Astaga, jadi??" Naya membegap mulutnya tak percaya.
"Hmm, ya sudah ayo sayang kita juga harus kekamar istirahat." ajak Raka menarik tangan Naya hingga kini keduanya sudah berada dikamar.
"Apa kau tidak pulang?" tanya Naya.
"Tentu saja pulang disini." kekeh Raka.
"Padahal tinggal seminggu lagi, jika sudah menikah kita bebas melakukan apa saja." kata Naya.
"Aku sudah puasa seminggu kemarin sayang, jadi sekarang sudah waktunya melepas rindu, sudahlah sayang sini kemarilah." Raka menarik tubuh Naya membawa ke pangkuannya.
Naya hanya pasrah saja, karena Naya tidak munafik jika Ia juga merindukan Raka.
Raka mulai melumat bibir Naya, pelan tapi pasti. Tangannya pun sudah menjelajahi tubuh Naya.
Setelah puas berciuman, Raka membawa tubuh Naya diranjang hingga kini Naya berada dibawah Raka, namun saat Raka hendak mencium leher Naya, tiba tiba Naya membegap mulutnya dengan tangan kiri sedang tangan kanannnya mendorong Raka, Naya segera berlari kekamar mandi.
Hoekkkk...
Hoekkkkk...
Naya memuntahkan semua isi perut yang baru saja Ia makan bersama Raka.
"Sayang, apa kau baik baik saja?" tanya Raka yang membantu mengelus punggung Naya.
''Entahlah, rasanya mual sekali! biasanya hanya saat bangun tidur, aneh sekali malam malam masih merasakan mual." Kata Naya yang juga binggung dengan mual dadakannya.
"Ya ampun Baby, jangan nakal didalam sana, kasian Bunda sayang." kata Raka sambil mengelus perut Naya penuh sayang membuat Naya tersenyum bahagia.
"Apa perlu kupanggilkan dokter?" tanya Raka.
"Tak perlu, mualnya sudah hilang." kata Naya.
"Ya sudah yuk kita kembali ke ranjang lagi," kata Raka terlihat tak sabar membuat Naya hanya mengangguk.
Keduanya sudah berbaring diatas ranjang, Naya menghadap langit langit atap sedangkan Raka menghadap Naya sambil tangannya terus menjelajahi tubuh Naya.
"Eughhh" Naya melenguh saat Raka memainkan milik Naya.
Raka tersenyum lalu kembali mengukung tubuh Naya dan hendak mencium leher Naya, baru saja bibir Raka menempel dileher Naya, Ia kembali terkejut Naya mendorongnya dan berlari lagi kekamar mandi.
Hoekkk.... Hoekk... tak ada yang keluar namun perut Naya rasanya mual sekali.
"Lebih baik aku panggilkan dokter ya?" kata Raka dengan raut wajah cemas.
Naya menggeleng lemah "Sepertinya aku tau masalahnya." kata Naya lirih.
"Apa sayang?"
"Sepertinya Baby kita tidak ingin ayahnya menyentuh bunda malam ini." kata Naya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Benarkah seperti itu?" tanya Raka terlihat tak percaya.
"Hmm, apa kau tak menyadari setiap ingin menyentuhku, aku langsung mual." jelas Naya.
''Astaga Baby, ternyata kau sangat pelit! baiklah ayahmu ini akan berpuasa lagi selama seminggu." kata Raka sambil mengelus perut Naya membuat Naya tersenyum geli.