NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

di ujung keputusasaan

Dokter masuk terlebih dahulu lalu duduk di kursinya. Aku pun ikut duduk di hadapannya, terpisah oleh meja kerja yang cukup luas di ruangan itu.

“Maaf, siapa hubunganmu dengan pasien?”

“Aku kakaknya,” jawabku pelan dan lemah.

Dokter itu mengangguk pelan sambil menatapku dengan pandangan yang penuh pertimbangan. “Begini, kamu sebenarnya beruntung. Meski sempat mengalami pendarahan yang cukup deras, adikmu berhasil selamat dan kondisinya perlahan mulai membaik. Namun, operasi harus segera dilakukan. Benturan keras di bagian kepalanya telah memengaruhi kerja otak, dan dia kehilangan cukup banyak darah. Keadaannya tergolong sangat berbahaya; jika penanganan terlambat, nyawanya bisa terancam sewaktu-waktu.”

Mataku terbelalak tak percaya mendengarnya. “Berapa… berapa kira-kira biayanya, Dok?”

“Enam ratus juta rupiah.”

Seketika dunia seolah berhenti berputar di sekelilingku. Aku terpaku diam di tempat, detak jantung berpacu begitu kencang hingga dadaku terasa sesak dan nyeri seakan mau pecah.

Melihat keadaanku yang begitu terguncang, dokter segera berusaha menenangkan. “Saya sangat paham ini adalah beban yang sangat berat untuk kamu tanggung sendirian. Saya beri kamu waktu sebentar, cobalah tenangkan dirimu terlebih dahulu ya.”

Aku bangkit perlahan dari kursi, melangkah keluar ruangan dan menutup pintu itu pelan-pelan dari luar. Kaki terasa begitu berat seolah terikat beban timah, nyaris terhuyung saat aku berjalan menuju ruang perawatan tempat Aslan berbaring. Hatiku terasa seperti diremas kuat hingga terasa perih, namun aku buru-buru menyeka air mata yang mulai menetes, menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan hati, lalu melangkah masuk seolah tidak ada hal berat yang baru saja kudengar.

Aku melangkah masuk perlahan ke dalam ruangan itu. Ruangannya terang namun terasa dingin, bau obat-obatan yang khas menyengat hidung. Di tengah ruangan itu, Aslan terbaring diam di atas ranjang, dipisahkan oleh tirai berwarna biru dari pasien-pasien yang lain di sebelahnya.

Tiba-tiba aku melihat dia mulai menggerakkan kepalanya perlahan. Matanya masih tampak sayu dan berat saat berusaha membukanya.

“Kak… kita ada di mana? Kenapa seluruh tubuhku terasa sangat sakit sekali…”

Aku segera mendekat ke tepi ranjang, berusaha menahan suaraku agar tidak terdengar bergetar saat menjawab. “Kita berada di rumah sakit, Dik. Bagian mana yang terasa paling sakit?”

Dia mencoba tersenyum lemah yang nyaris tak terlihat. “Tidak apa-apa Kak, rasanya sudah agak berkurang. Tapi Kakak… Kakak tidak apa-apa kan? Tidak terluka?”

Aku hanya bisa mengangguk cepat berkali-kali, takut jika aku mencoba berbicara, air mataku pasti akan tumpah seketika. Tak lama kemudian aku memutuskan untuk keluar sebentar, menutup pintu ruangan itu dengan sangat pelan agar Aslan bisa beristirahat dengan tenang.

Aku duduk bersandar tepat di depan pintu ruangannya, menatap lantai keramik yang mengkilap dan licin itu. Pikiran di kepalaku berputar kacau tak menentu. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? gumamku pelan di dalam hati, penuh rasa putus asa yang mulai menyelimuti. Enam ratus juta… dari mana aku bisa mencari uang sebanyak itu dalam waktu sesingkat ini…

Pikiranku semakin kusut dan penuh kebingungan. Akhirnya aku bangkit perlahan dari tempat dudukku, berjalan tanpa arah yang jelas, mataku melirik ke sana kemari tanpa sadar hingga akhirnya kakiku membawaku berdiri tepat di depan pintu keluar rumah sakit.

Malam itu kota terlihat sangat terang benderang. Lampu-lampu jalan menyala terang berderet rapi, gedung-gedung tinggi berkilauan dengan cahaya lampunya di sekelilingku, dan orang-orang berjalan lalu lalang sibuk dengan segala urusan masing-masing. Aku meremas ujung bajuku yang terlihat kotor, berdebu dan sudah mulai lusuh, lalu berusaha menguatkan hatiku sekuat tenaga — demi keselamatan Aslan, apa pun akan kulakukan, tak ada yang takkan kucoba.

Aku memberanikan diri menghadang salah satu orang yang sedang berjalan lewat. “Maafkan saya mengganggu… bisakah saya memohon bantuan Bapak atau Ibu? Adikku harus segera menjalani operasi, tapi kami membutuhkan uang sebanyak enam ratus juta. Saya berjanji sekuat hati, suatu hari nanti saya pasti akan membayarnya kembali…”

Orang itu hanya menatapku dengan pandangan yang penuh keangkuhan dan ketidaksukaan, lalu membentakku dengan suara keras. “Hei kau anak tidak tahu diri! Dasar pengemis bau dan kotor! Berani sekali kau mencoba menipu orang lain! Pergi sana dari hadapanku, dasar orang gila!”

Hati rasanya seperti ditusuk benda tajam berkali-kali mendengarnya, namun aku tetap berusaha menghadang orang berikutnya yang lewat. Namun hasilnya selalu sama saja: aku ditolak mentah-mentah, dimaki dengan kata-kata yang menyakitkan, dan dianggap sebagai pembohong yang hanya ingin mencari keuntungan semata. Tak jauh dari tempatku berdiri, terlihat seorang anak kecil yang sedang menunjuk ke arahku sambil berbicara kepada ibunya.

“Ibu, lihatlah! Ada seorang anak yang terus-menerus menodongkan diri meminta uang kepada semua orang yang lewat!”

Ibunya hanya melirik sekilas dengan pandangan yang penuh rasa jijik dan meremehkan, lalu segera menarik tangan anaknya agar menjauh sambil berkata, “Sudahlah jangan dilihat lagi, Nak. Dia itu hanya seorang penipu saja. Lihat saja pakaiannya begitu kotor dan pasti baunya tidak sedap. Ayo kita berjalan lebih cepat, nanti dia mendekat kepada kita.”

Aku hanya bisa berdiri diam kaku di tempatku berdiri, menahan isak tangis yang rasanya sudah hampir meledak keluar dari kerongkonganku.

Setetes demi setetes air mata mulai jatuh perlahan membasahi pipiku. Rasanya aku ingin sekali menyerah pada kenyataan yang begitu kejam ini, namun belum — semangat untuk menyelamatkan Aslan belum padam sedikit pun di hatiku. Aku menunduk menatap tubuh dan pakaianku sendiri; penuh debu, noda lumpur, dan masih ada sisa noda darah yang sudah mulai kering.

Kakiku kemudian membawaku kembali masuk ke dalam rumah sakit, menuju kamar mandi umum yang tersedia di sudut lorong. Di depan cermin kaca yang bersih itu, aku melihat betapa kusam dan berantakannya penampilanku saat ini. Aku menyalakan keran air, lalu membasuh wajah dan kedua tanganku dengan air yang terasa dingin menusuk tulang. Aku juga mengusap debu dan noda yang ada di bajuku sekuat tenaga yang kupunya. Setelah itu aku merapikan rambutku sebaik mungkin hanya dengan bantuan jari tanganku — memang hasilnya belum terlihat rapi sempurna, namun setidaknya tidak seberantakan saat tadi pagi.

Aku kembali keluar menuju halaman depan rumah sakit. Sekali lagi aku memberanikan diri menghadang siapa saja yang lewat di depanku, memohon bantuan sekuat hatiku meski rasa malu terasa sampai ke ubun-ubun. Namun aku tak peduli lagi dengan rasa maluku, ini semua demi nyawa adikku yang sedang terancam. Lama-kelamaan jalanan itu mulai terasa semakin sepi, tak ada lagi orang yang terlihat berjalan lewat di situ. Akhirnya aku pun duduk sendirian di atas bangku beton yang ada di depan pintu, dan pertahanan hatiku akhirnya runtuh sepenuhnya.

“Ibu… Ayah… di mana kalian sekarang? Apa yang harus kulakukan sendirian ini? Aku sepertinya kakak yang tidak berguna, aku hanya bisa menangis dan tidak bisa melakukan apa-apa…”

Namun perlahan aku kembali mengangkat kepalaku yang tertunduk lemas. “Selama aku masih bernapas dan masih memiliki tenaga, aku takkan pernah membiarkan sesuatu yang buruk menimpa Aslan. Aku akan melakukan apa saja demi dia.”

Aku bangkit berdiri kembali, menatap deretan gedung-gedung tinggi yang masih menyala terang di kejauhan. Kakiku melangkah menyusuri jalanan kota yang udaranya mulai terasa semakin dingin, hingga akhirnya aku berhenti di depan sebuah bangunan besar yang dindingnya terbuat dari kaca bening. Dari luar aku bisa melihat orang-orang sedang duduk dengan tenang menikmati hidangan mereka di dalam sana. Aku merasa ragu sejenak, namun akhirnya aku memberanikan diri untuk melangkah mendekat — namun belum sempat aku berkata apa-apa, dua orang penjaga yang berdiri di sana langsung menghadang jalanku dengan kasar.

“Pergi dari sini sekarang! Tempat ini bukan tempat bagi pengemis sepertimu!”

Belum sempat aku menjelaskan maksud kedatanganku, mereka sudah mendorongku menjauh dengan kasar. Aku pun pergi menuju gedung yang ada di sebelahnya, namun kejadiannya persis sama — aku diusir keluar tanpa sempat ditanya apa maksudku. Di tempat lain yang tampak sangat mewah dan megah yang tak kutahu namanya, aku berusaha berbicara secepat mungkin sebelum mereka menyuruhku pergi.

“Mohon dengarkan saya sebentar! Saya datang bukan untuk meminta sedekah, saya ingin melamar pekerjaan! Saya sanggup mengerjakan apa saja yang diperintahkan!”

Namun tak ada satu pun yang mau mendengarkan permohonanku, para penjaga tetap saja mengusirku dengan cara yang kasar dan tidak sopan.

Aku terdorong mundur perlahan, hanya bisa menatap bangunan-bangunan itu dengan hati yang penuh keputusasaan, lalu terus berjalan pergi tanpa tujuan yang pasti. Melihat banyak toko dan tempat usaha sudah mulai menutup pintunya, hatiku terasa semakin sedih dan sepi. Aku terus berjalan saja menyusuri jalanan kota itu tanpa arah dan tujuan yang jelas. Namun saat pikiranku mulai sedikit lebih jernih, aku menyadari bahwa aku telah berjalan cukup jauh dari rumah sakit. Di tempat ini hanya terlihat sebuah lorong panjang yang cukup gelap, tak ada rumah penduduk maupun bangunan lain yang terlihat di sekelilingnya. Aku menoleh ke kiri dan kanan dengan rasa takut yang mulai muncul kembali, berusaha mencari jalan untuk kembali ke arah rumah sakit. Namun tepat saat aku berbalik badan, terlihat ada tiga orang pria dewasa yang sudah berdiri diam di belakangku. Entah sejak kapan mereka ada di sana, kini mereka berdiri menghalangi jalan yang harus kulewati.

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!