Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Rumah sakit
Gavin menoleh, dan seketika wajahnya berubah masam. Rasa malas langsung mendominasi mimik mukanya.
"Yoo, Dek! Makan gak ajak-ajak nih. Bayarin lah sekalian," sapa Arga dengan nada sok akrab sambil menepuk pelan pundak Gavin.
Dengan kasar, Gavin menepis tangan Arga dari bahunya. "Apaan sih?! Jangan sok asyik deh. Aku gak pernah menganggap kamu kakakku!"
Arga malah tertawa meriah mendengar penolakan itu. Ia berteriak ke arah murid-murid di sekitar kantin, "Biasa, guys! Dia lagi tsundere saja ini, hahaha!"
Sontak seluruh pasang mata di kantin menatap ke meja mereka. Gavin langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasa sangat malu dan marah hingga telinganya memerah.
"Gak punya malu banget nih orang... Cepat pesan sana, nanti aku yang bayar! Tapi ingat, jangan sok dekat-dekat lagi!" seru Gavin pasrah.
Arga tersenyum puas, lalu berteriak nyaring ke seluruh penjuru kantin, "Woi semuanya! Pesan saja sepuasnya kata Gavin! Hari ini dia yang bayar semua!"
Gavin yang sedang minum langsung tersedak hebat. "Bohong dia! Jangan didengar!" teriak Gavin panik, sementara Arga sudah terkekeh puas dan melangkah pergi.
Arga kemudian menghampiri bangku di sudut lain, di mana Dimas sedang duduk sendirian. "Nah, ini dia! Ke mana saja kamu, Dim?"
Dimas menoleh dan tersenyum tipis. "Ada kok, Ga. Cuma lagi jarang keluar kelas saja."
"Gak ada yang mengganggumu lagi, kan?" tanya Arga memastikan.
"Gak ada kalau sekarang. Ini semua berkat bantuanmu, Ga," jawab Dimas tulus.
"Wkwk, baguslah kalau begitu."
Sisa hari di sekolah dilalui Arga dengan aktivitas biasa. Ia bahkan sempat dihukum berdiri di depan kelas beberapa kali karena tertidur lelap saat jam pelajaran berlangsung.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Arga, Devan, dan Hendra sudah berdiri di dekat gerbang utama sekolah, menunggu kedatangan dua guru pendamping mereka. Mereka bertiga berdiri saling berjauhan, sibuk dengan ponsel dan pikiran masing-masing.
Nabila yang berjalan keluar gerbang bersama teman-temannya sempat melirik Devan dengan senyum mengejek. "Dah, Kak Devan! Selamat menikmati hukumannya ya!"
Devan berdecak kesal. "Awas saja kamu ya, Nabila!"
Nabila malah menjulurkan lidahnya sambil berlari kecil. "Nanti Mama pasti marah besar sama Kakak, haha!"
Arga hanya memperhatikan tingkah mereka sambil fokus mengunyah cemilan keripik di tangannya, sedangkan Hendra hanya menyandarkan tubuhnya di tembok pagar dengan wajah berlipat.
Tidak lama kemudian, Pak Bima dan Guru BK berjalan mendekati gerbang. "Nah, begini dong, kelihatan akur. Ayo kita berangkat sekarang."
Mereka pun bersiap menuju lokasi dengan kendaraan masing-masing. Devan dan Hendra membawa motor mereka, sementara Arga memilih untuk menumpang di mobil Pak Bima.
Saat Arga duduk di kursi penumpang depan dan memasang sabuk pengaman, ia menatap Pak Bima dengan raut wajah yang mendadak serius.
"Hati-hati menyetirnya ya, Pak. Nanti kalau kecelakaan dan Bapak mati, kasihan keluarga Bapak bakal sedih lagi," tutur Arga santai namun dalam.
Pak Bima melotot kaget, nyaris menyemburkan air liurnya. "Sembarangan banget itu mulut kalau bicara!"
Arga hanya menyunggingkan senyum tipis tanpa membalas lagi. Di balik tatapan santainya, ingatan Arga berkelana ke masa lalu.
Dalam kehidupan sebelumnya, Pak Bima meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas tragis yang terjadi di rentang waktu ini.
Karena itulah, Arga bertekad untuk berada di dekat sang guru demi memastikan takdir buruk itu tidak terulang kembali.
Tepat pukul 4 sore, mobil Pak Bima dan dua sepeda motor di belakangnya akhirnya memarkirkan kendaraan di area parkir sebuah bangunan besar.
"Nah, sampai juga kita di Rumah Sakit Harapan," ucap Pak Bima sambil mematikan mesin mobil.