Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Pahlawan Terselubung
Warna merah darah dari hologram Sistem berkedip makin cepat di pelupuk mata Budiman, bersaing hebat dengan suara dentingan kalkulator ilmiah yang saling bersahutan dari luar ruangan.
[ DING! ]
[ Peringatan Krisis Integritas Laporan Keuangan! ]
Status Rahasia: Sistem mendeteksi adanya aktivitas audit independen tanpa izin dari 45 orang calon Akuntan di Sumatera Barat.
Konsekuensi: Jika manipulasi 'Bakar Uang Sengaja Rugi' Anda terbongkar oleh manusia biasa, reputasi Anda sebagai Charming Entrepreneur akan hancur dan Sistem akan otomatis merestrukturisasi seluruh otak manajemen Anda!
Misi Tambahan Instan: Alihkan perhatian para auditor amatir tersebut dalam waktu 30 menit, atau seluruh rahasia saldo Anda akan dipublikasikan di sosial media mereka!
Budiman yang tadinya menikmati makanan yang dibuatkan sang adik, mendadak berdiri bagai disengat listrik. Persetan dengan semua ini! Jika trik sengaja merugi selama ini sampai ketahuan oleh orang yang ada di sini, dia bukan hanya akan semakin gagal menjadi miskin, tapi akan dianggap sebagai Sultan Arab yang nyangkut di desa kecil ini yang sengaja menyembunyikan identitas demi kemaslahatan umat!
"Minggir, Etek! Ambo harus menyelamatkan masa depan Ambo!" pekik Budiman panik, langsung menerobos Etek Nur dan Mimi yang melongo memegangi rantang.
"Uda Diman! Jangan keluar dulu, Da! Kondisi di luar sangat menegangkan!" teriak Anto mencoba menahan, tapi Budiman sudah telanjur mendobrak pintu kantornya.
Begitu pintu terbuka, pemandangan di toko ini sudah persis seperti aula ujian negara. Empat puluh lebih calon akuntan duduk bersila di lantai, laptop menyala di mana-mana, sementara tumpukan nota pembelian, resi truk tronton Jakarta, dan buku kas harian Budiman Mart sudah dipreteli satu per satu.
Mila, si otak di balik gerakan ini, berdiri di tengah ruangan sambil memegang sebuah tablet. Wajah gadis berkulit putih bersih itu tidak lagi segenit dan sepercaya diri tadi. Wajahnya ... pucat lebih pucat pasi.
Bukan hanya Mila, ketua mereka yang berkacamata tebal di sebelahnya terlihat sedang menyeka air mata menggunakan ujung lengan almamaternya.
"Mila ... kau ... apa yang kalian lakukan pada buku kas Ambo?!" bentak Budiman bersiap mengamuk demi mengusir mereka.
Namun, begitu mendengar suara Budiman, Mila langsung menoleh. Detik itu juga, matanya berkaca-kaca penuh rasa haru dan bersalah yang teramat dalam. Dia melangkah maju dengan tubuh gemetar, lalu membungkuk hormat di depan Budiman.
"Uda Diman ... maafkan Mila. Maafkan kami yang sudah berprasangka buruk dan meragukan ketulusan bisnis Uda selama ini," ujar Mila dengan suara serak menahan tangis.
Budiman mengedipkan matanya berkali-kali. Kebingungan massal langsung menyerang otaknya. "Hah? Meragukan apa?"
Ketua angkatan yang berkacamata tebal tadi ikut maju, memegang hasil cetakan spreadsheet keuangan Budiman Mart dengan tangan yang gemetar hebat.
"Uda Diman, kami para calon akuntan sudah memeriksa alur kas toko ini sejak pertama kali berdiri. Awalnya kami mencari kelemahan manajemen Uda. Tapi ... setelah kami bedah sampai ke akar-akarnya, kami semua justru menangis, Da!" ujar si Ketua dengan suara sesenggukan.
"Kenapa kalian menangis, setan?! Apa yang salah dengan angka-angka itu?!" teriak Budiman frustrasi, batinnya menjerit ketakutan kalau trik ruginya ketahuan.
Mila mendongak, menatap Budiman dengan tatapan penuh pemujaan tertinggi.
"Uda sengaja memanipulasi margin keuntungan menjadi minus kan, Da? Uda sengaja menjual mi instan langka dan minyak goreng di bawah harga pasar Jakarta, bahkan menanggung biaya ongkos kirim tronton raksasa itu sendirian dari dompet pribadi Uda? Logika akuntansi mana pun akan menyebut ini kegilaan. Tapi setelah kami hitung pakai metode Social Return on Investment (SROI) ... kami baru sadar!"
Mila menarik napas dalam, air matanya resmi menetes.
"Uda Budiman sebenarnya sedang melakukan Subsidi Silang Massal Terselubung demi menyelamatkan daya beli masyarakat dari inflasi yang terjadi saat ini! Bahkan Uda rela terlihat 'rugi' dan 'bodoh' di pembukuan, rela dituduh tidak bisa bisnis oleh retail besar, demi memastikan etek-etek di kampung ini bisa makan enak dengan harga murah! Ini bukan sekadar laporan keuangan, Da... ini adalah Kitab Suci Kemanusiaan dalam bentuk angka!"
DEGG!
Kali ini Jantung Budiman serasa merosot sampai ke jempol kaki. Rahangnya pun mengeras. Sepasang matanya yang sayu mendadak berkedut hebat menahan emosi yang bergejolak di dalam dada.
‘Subsidi silang terselubung kepala bapak kau?! Awak emang beneran pengen rugi, woi! Pembukuan itu emang beneran hancur biar awak miskin!’ jerit Budiman dalam hati, tangannya mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Dia bersumpah demi apa pun, kalau yang ada di depannya ini bukan perempuan, pasti sudah disentilnya ginjal mereka satu per satu .
Belum sempat Budiman membantah, Anto yang sejak tadi mendengarkan dari belakang langsung berlutut di lantai sambil memegangi kepalanya dengan dramatis.
"Allahu Akbar! Strategi yang luar biasa! Jadi itu alasan Uda selalu marah kalau Ambo menaikkan harga seratus perak?! Sungguh, jiwa sosial Uda sudah mencapai maqam tertinggi dalam dunia retail! Ambo bangga jadi ipar Uda!" raung Anto histeris, membuat emak-emak di luar yang mendengarkan lewat jendela langsung ikut terisak haru dan mengusap air mata pakai ujung jilbab.
"Onde mande, Diman ... mulia sekali hati kau ..." terdengar suara tangisan Etek Nur dari dalam, sementara Mimi menatapnya dengan pandangan mata yang makin berbinar-binar penuh cinta.
Vilmey yang baru saja mendekati kerumunan itu pun ikut tertegun. Matanya membulat, menatap Budiman dengan rasa kagum yang kini sudah bercampur dengan rasa hormat tingkat tinggi.
'Uda Diman ... kamu bahkan rela mengorbankan keuntungan pribadimu demi menyejahterakan warga kampungmu? Kamu bukan cuma pebisnis handal, kamu adalah pahlawan tanpa tanda jasa...' batin Vilmey, hatinya kini sudah 1000% terkunci mati untuk Budiman.
Budiman berdiri mematung di ambang pintu dengan napas yang memburu. Alih-alih lemas, jiwanya justru bergolak berapi-api karena gemas dan kesal.
Di tengah keputusasaan yang berat, karena penyamarannya dipelintir menjadi aksi kemanusiaan se-provinsi, warna biru keemasan Sistem kembali menyala dengan lambang piala raksasa di depan wajahnya.
[ DING! ]
[ Selamat! Pengalihan Perhatian Sukses Besar lewat Jalur Kesalahpahaman Akuntansi Berjamaah! ]
[ Dampak Plot: Karena laporan 'Kedermawanan Terselubung' Anda telah divalidasi akuntan amatiran, Budiman Mart resmi dinobatkan sebagai 'UMKM Berdampak Sosial Terbaik' tingkat nasional! ]
[ Dana Hibah Penghargaan dari Kementerian Koperasi dan UMKM sebesar Rp2.000.000.000,00 (Dua Miliar Rupiah) sedang dalam perjalanan menuju rekening Anda ... ]
Budiman menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan perlahan demi menjaga sisa-sisa kewarasannya yang tinggal lima persen. Dia tidak boleh pingsan. Cowok sekaya dia haram hukumnya tumbang hanya karena kejutan dua miliar rupiah. Dia harus tetap tegak, memikirkan cara bagaimana membakar uang hibah sialan ini secepat mungkin.
"Uang lagi ... uang lagi ... kenapa udaha untuk rugi begitu susah?" gumam Budiman dengan suara dingin dan berat, membuat para mahasiswa mengira sang miliarder sedang merendah dengan sangat elegan.
Namun, sebelum Budiman sempat mengusir orang-orang genius itu, suara deru sirine mobil polisi mendadak terdengar meraung-raung dari arah jalan raya. Suara bising itu langsung membelah kerumunan warga, memecah suasana haru di pelataran parkir, dan tiga mobil patroli polisi berhenti tepat di depan ruko Budiman Mart dengan ban yang mencit hebat.
Budiman langsung menoleh tajam ke arah mobil polisi tersebut, dahi dan alisnya bertaut rapat. 'Apalagi ini?! Siapa lagi yang melaporkan toko awak?!' batinnya, bersiap menghadapi badai baru.
[ bersambung ]