NovelToon NovelToon
Penyesalan Yang Terlambat

Penyesalan Yang Terlambat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:580
Nilai: 5
Nama Author: Amak Mpis

"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."

"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."

Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbongkarnya identitas Black.

Semua orang diam, hanya ada tangisan Lila dan erangan kesakitan dari Black, Bintang membatu, dia mau berfikir jika Black hanya ingin membuat Lila berhenti dengan semua pertanyaannya tapi disisi lain hatinya sangat senang jika apa yang Black ucapkan barusan itu benar. 

“Black, jangan bohongi adek gue, nantinya lo juga yang akan tersiksa dan akan ada di dalam bayang-bayang Rain terus.” Andra tak mau jika adiknya berhenti karena kebohongan, terlebih dia tak mau Bintang berharap pada seseorang yang salah. 

Black diam dan terus memegangi kepalanya sampai Andra terus mencecarnya dengan berbagai ucapan. 

“Gue memang Rain, tolong berhenti, gue gak kuat,” Black terduduk masih sambil memegangi kepalanya sambil mencoba merogoh kantong bajunya untuk mengambil ponsel. 

Bintang maju dan memegang pundak Rain. “Lo beneran Rain istri gue? Bukan karena lo yang mau menghibur Lila?”

“Gue emang Rain, gue istri lo, tolong suruh dia berhenti, kepala gue sakit.” Black sudah tidak peduli jika identitasnya terbongkar, sakit yang dia rasakan sudah tak bisa dia tahan. 

“Kita kerumah sakit, ya?” Black hanya mengangguk, pandangannya kabur dan semakin lama semakin gelap. 

“Rain bangun, jangan gini, bangun.” Bintang menangis melihat Black yang sudah pingsan. 

“Bawa ke rumah sakit sekarang, Tang!” Pinta Resta mencoba menyadarkan Bintang dari tangisannya. 

Bintang mengangkat badan Black sementara ketiga temannya berlari ke mobil untuk menyiapkan mobil. Mereka membawa Rain ke rumah sakit terdekat dengan kecepatan cukup tinggi. 

“Andra, jangan kenceng-kenceng meskipun lo panik yang kita bawa ini ibu hamil.” Jems sudah berpegangan pada mobil dengan sangat kencang sementara Bintang masih fokus pada Black dan Resta yang juga sudah berpegangan. 

Andra memelankan mobilnya tapi masih terhitung kencang dan tak lama mereka sampai di rumah sakit, Black langsung ditangani dokter. 

“Lo tenang Tang, Black pasti selamat.”

“Ndra, apa yang tadi gue denger itu benar apa hanya sandiwara Black biar Lila berhenti?”

“Gue berharap itu benar agar tak ada lagi kebohongan di antara Black dan Lila tapi sulit sekali untuk gue mempercayainya.”

“Sebentar, gue masih bingung, kenapa yang Black bilang kepalanya sakit, padahal kita gak ada yang memegang kepalanya?” Tanya Jems yang tiba-tiba teringat dengan kejanggalan kecil itu. 

“Apa Black itu memang Rain yang amnesia dan tadi dia memaksa otaknya untuk mengingat tentang Rain jadi kepalanya sakit?” Jawab Resta.”

“Dengan kata lain dia benar Rain tapi dia belum ingat sepenuhnya tentang dirinya di masa lalu jadi ada bagian dimana dia terlalu memaksa otaknya untuk mengingat siapa dirinya,” Jelas Jems. 

Bintang masih mencerna semua spekulasi dari kedua temannya, dia ingin percaya dengan spekulasi dari kedua temannya tapi dia juga takut jika kepercayaannya kali ini akan membuatnya kecewa lagi dengan kebenaran jika Black bukan Rain. 

Tak lama dokter keluar dan mereka langsung berdiri mengerubungi dokter. “Gimana keadaan istri saya dok?” Tanya Bintang. 

“Dia sudah baik-baik saja, tapi lain kali tolong jangan paksa dia untuk mengingat sesuatu yang belum saatnya dia ingat, kalau keadaan ini terus berlangsung kemungkinan dia tidak akan bisa mengingat apapun yang sudah dia ingat jauh lebih besar.”

“Jadi benar dia amnesia, dok?” Tanya Jems yang sudah sangat penasaran. 

“Iya, dia pasien saya sejak tiga bulan ini dan saya orang kepercayaan kakek Ares, tapi rasanya saya tak pernah melihat kalian?”

Mereka semua diam tak ada yang berani menjawab. “Saya sudah menghubungi kakek Ares, kalian boleh pulang, mungkin sebentar lagi kakek akan datang.”

“Ijinkan saya menjaganya, dok. Saya suaminya.”

“Kakek Ares tak mengijinkan siapapun mendekati Black selain orang yang sudah dia kenal, maaf.”

“Tolong dok, saya ini suaminya, saya bukan orang lain, tolong saya.”

“Saya paham jika kamu mungkin suaminya tapi saya tak bisa memastikan jika apa yang kamu ucapkan itu benar, jika kamu mau tetap menunggu Black, silahkan tunggu disini sampai kakek Ares datang dan kamu minta izin sendiri.”

Tak lama terdengar suara tongkat yang beradu dengan lantai, disana tampak dua orang kakek nenek dan satu orang pria. 

“Ada apa ini? Kenapa kalian ribut di depan kamar cucu saya?”

“Kakek saya sudah tahu jika Black itu memang Rain, tolong ijinkan saya menunggu Black, saya ingin menebus kesalahan saya, tolong kek saya mohon.”

“ Jadi kamu sudah tahu semuanya? Kamu sudah membuat cucu saya jadi seperti ini, dengan alasan apa saya harus mengijinkan kamu menjaga cucu saya, atau jangan-jangan kamu malah yang akan memperburuk keadaan cucu saya?”tanya kakek Ares sementara nenek Ayu sudah lebih dulu masuk kedalam kamar karena tak mau melihat Bintang. 

“Saya tahu saya salah, sekarang maupun dulu tapi saya beneran mau menebus kesalahan saya kek, saya benar benar menyesal.”

“Kamu menyesal karena orang yang sudah mulai kamu sukai itu adalah Rain atau karena kamu memang sudah menyesali kesalahan kamu dulu? Meskipun saya tidak membersamai cucu saya dari dulu bahkan saya tak bisa membantunya saat dia ada dititik terpuruknya, setidaknya saya tak ingin mengulang kesalahan saya dulu dengan tetap membiarkan kamu menemui cucu saya, kamu adalah orang yang paling cucu saya benci.”

“Sebenci apapun Rain pada saya tapi saya tetap ayah dari anak yang Rain kandung. Saya mohon kek, saya hanya mau menebus kesalahan saya dulu.”

“Lo sudah sebrengsek itu masih bilang kalau lo akan menebus kesalahan lo? Sementara sahabat lo saja tak ada yang mau membela lo, mereka semua diam tak ada yang membantu lo.” Bintang menatap ketiga sahabatnya yang memang sedari tadi hanya diam, Bintang sadar dengan ucapan Alvin jika sahabatnya saja tak ada yang mempercayai kesungguhannya. 

Bintang sadar mau memaksa dengan cara apapun tak akan mengubah sudut pandang dari semua orang karena dia sadar kesalahannya dulu dan sifatnya dulu memang sangat tak bisa dimaafkan. 

Di tengah perdebatan antara kakek Ares, Alvin dan Bintang pintu kamar Rain terbuka dan menampakkan nenek Ayu dengan tatapan tajamnya, dibanding kakek Ares jauh lebih seram tatapan nenek Ayu, diamnya nenek Ayu bisa mengubah Bintang yang sebelumnya masih memaksa kini diam membeku. 

“Biarkan dia masuk, Black mau ketemu sama dia,” Ucap nenek Ayu lalu masuk kembali ke kamar Rain. 

Singkat, padat, jelas. Hanya dengan beberapa kata dari nenek Ayu bisa langsung membuat kakek Ares dan Alvin mengubah keputusan mereka. 

“Silahkan kamu masuk, tapi jangan harap kamu bisa macam-macam,” Ucap kakek Ares yang kemudian ikut masuk menyusul nenek Ayu. 

Bintang masuk dengan perasaan bahagia, dia mengira jika Black sudah mau menerimanya, sementara ketiga sahabat Bintang malah berpikir hal lain. 

“Kalian tahu nenek itu siapa gak? Kenapa tatapannya malah jauh lebih seram daripada kakek Ares?” Tanya Jems yang entah kenapa otaknya sekarang sedang nyambung. 

“Ndra, bukannya setelah pertemuan kita kemarin sama mereka lo sempet mencari tahu tentang ketiga perusahaan yang mereka pimpin?” Tanya Resta menanyakan hasil pencarian Resta. 

“Gak banyak yang gue dapatkan, terlalu sulit untuk gue bisa mencari tahu tentang mereka, secara mereka orang yang sangat berbahaya tapi memang dibanding dengan kakek Ares jauh lebih berbahaya nenek Ayu, karena cara mereka berbeda.”

“Maksud lo cara mereka berbeda apa?”

“Kakek Ares jika sudah marah dengan seseorang akan membalas dengan kekerasan, tindakan ataupun ucapannya yang sangat pedas, tapi jika nenek Ayu akan membalas dengan menjatuhkan mental dari musuhnya. Namun, untuk sebagian orang yang tidak tahu mereka akan mengira jika kakek Ares adalah orang yang paling berbahaya dibanding ketiga orang itu.”

“Terus Alvin gimana, level berbahayanya sama kaya siapa?”tanya Resta. 

Belum sempat Andra menjawab, perhatian mereka teralih dengan terbukanya pintu kamar Black dan menampakkan Bintang disana. 

“Tang, lo kenapa?”

BERSAMBUNG. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!