Lestari, adalah murid jurusan sastra tingkat pertama yang pendiam dan tertutup, ia menjalani hari-harinya tanpa pernah berniat menjadi pusat perhatian. Bersama dua sahabatnya, Indah dan Puspa, ia lebih nyaman menghabiskan waktu dengan aktifitas sama yang berulang dan terkesan monoton. walau demikian di jurusan sastra, lestari terkenal sebagai murid yang selalu ikut lomba sastra.
Berbeda dengannya, Galang merupakan murid IPS tingkat pertama yang ceria, aktif, dan terkenal hampir seluruh murid di SMA BlueSky. Galang juga aktif ikut lomba seputar jurusan, menggambar dan matematika
Pertemuan pertama bagi galang adalah ketika ia menyaksikan lestari diatas panggung, di pesta pengenalan murid baru.
walau awalnya lestari terkesan sulit didekati, namun perlahan hubungan mereka mulai menjadi dekat. Saat galang datang ke smp tempat dulu di bersekolah, atas permintaan gurunya dulu
galang malah kecelakaan dan hilang ingatan sementara. seperti apa hubungan cinta di antara mereka setelahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourclvl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
udah balik lagi ke vila
“halo pak rama” panggil galang
Saking hanyutnya pak rama memikirkan pemilik kambing itu. Ia sampai tidak sadar jika ada galang, pemilik villa elite itu.
“lho kok den galang sampai berkunjung? Apakah kerusakannya parah, den? Sampai kamu datang sendiri kerumah bapak?”
“enggak pak, saya kangen aja kerumah bapak. Udah lama juga saya enggak ke villa ini. Bapak sekeluarga gimana kabarnya?”
“bapak sehat, si ibu juga sehat, ini baru aja dia pergi ke kebun teh. Mau saya panggilkan dia kesini kah? Jarang- jarang aden ke villa dan mampir juga kerumah bapak” tawar pak rama pada galang
“enggak perlu pak, ini teh kambingnya punya siapa? Perasaan kalau dilihat jaraknya lumayan buat ke villa saya. Saya tadi kaget pas anak buah saya bilang ada kambing, kirain bercanda” ujar galang, bergurau.
Saat sedang asiknya berbincang antara galang dan pak rama, tiba- tiba datang seorang bernama udin. Dan ternyata dia adalah pemilik kambing itu.
“lho din kamu ngapain kesini?” tanya pak rama yang melihat udin datang dengan canggungnya.
“itu kambing saya, pak rt hehe” jawab udin cengengesan
“oh jadi kamu yang punya kambing ini?” ujar galang datar
“iya den, maafkan kambing saya yang masuk villa aden yah.. Kalau harus ganti rugi apa boleh saya cicil den? Saya cuman punya kambing ini aja” ucap udin sambil menunduk.
“kamu kasih makan apa kambing ini biasanya? Kok sampai baru sepagi ini udah memakan rumput di taman saya” ucap galang, pura- pura sebal dengan orang ini
Sebenernya ia hanya ingin menjahili sedikit, agar kelak orang itu bisa bertanggung jawab dengan peliharaannya sendiri.
“dengan rumput saja yang saya cari di sekitar sini den” jawab udin, sambil tetap menunduk
“apakah kamu bisa membaca dan menulis?” tanya galang lagi
“bisa den, saya bisa baca dan tulis”
“kalau begitu bawa kertas/buku kemari dan juga pulpen”
Udin terdiam sejenak. Ia bingung, apa hubungan ganti rugi dengan membawa kertas dan pulpen. Tapi kemudian ia segera berlari kerumahnya yang tak jauh dari sana. Kemudian ia kembali, dan memberikan kertas dan pulpen pada aden itu.
Galang pun menulis di kertas itu. Pakan apa saja yang bisa diberikan pada kambing selain rumput. Begitu membaca isinya, sejenak udin tampak ragu. Karena ia belum pernah melihat ada warga desa lain yang memberikan pakan ini pada kambing mereka.
“nih, jangan hanya memberinya rumput basah. Kamu masih punya padi kering kan? Berikan itu padanya, ia suka memakannya. Jika ragu, cobalah, aku akan menunggu disini” ucap galang.
Tanpa berkata apa- apa udin pun melakukannya. Dan benar ternyata kambingnya mau makan selain rumput.
“mau makan den, kambingnya mau makan!” ujar udin kegirangan
“tapi kenapa aden memberi tau saya tentang ini? Untuk ganti ruginya bagaimana? Saya kira tadi kertas dan pulpen ini untuk menulis surat hutang” ujar udin lagi
“tidak perlu, saya kemari bukan untuk menuntut ganti rugi. Lagi pula yang dimakan hanya rumput aja” jawab galang, santai.
Udin mengucapkan terimakasih beberapa kali. Dan galang pun menanggapinya dengan senyuman manis.
“den galang rencana disini berapa lama?” tanya pak rama
“mungkin sekitar sepuluh hari pak. Selain karena libur sekolah, saya juga kebetulan mau ada hal yang lakukan disini, didekat vila”
“sekolah? Apa bapak boleh tau, aden kelas berapa?” tanya udin.
Ia kira tuan muda ini minimal sedang kuliah. Tapi kalau bahasa yang di pake adalah sekolah, berarti belum sampai masuk universitas.
“saya baru kelas satu sama pak” jawab galang
Dan sontak membuat udin terkejut.
“kenapa kaget pak? Haha”
“udin ini, baru pindah kesini belum lama. Jadi ini juga pertama kali dia ketemu aden” jawab pak rama
“oalah pantes, saya kira, saya nya yang jarang ketemu warga lain, sampai asing sama pak udin”
“udah berapa lama pak tinggal disini?” tanya galang pada udin
“belum lama den, baru beberapa bulan” jawabnya
“maaf tuan muda saya mengganggu pembicaraan anda, tapi kita harus kembali ke vila. Karena aden kan juga belum sarapan. Ini ranti menelpon saya. Katanya sarapan sebentar lagi siap” bisik raka, galang pun menanggapinya dengan anggukan kecil.
“oh ya pak rama saya pamit dulu ya, laper nih belum sarapan hehe”
“enggak sarapan di rumah bapak aja? Tadi si ibu udah selesai masak” tawar pak rama
“si ranti udah masak ram, biarin aja den galang juga kayaknya capek habis perjalanan jauh belum ada istirahat langsung kesini. Lain kali aja gimana? Atau nanti pas den galang udah agak mendingan, kita atur waktu lagi” ucap pak slamet menengahi.
“oh ya juga ya, yaudah bapak tidak akan maksa aden. Tapi sebelum balik ke jakarta harus mampir makan kemari loh ya”
“nanti biar pak slamet yang atur ya, kami pamit dulu ya pak rama, pak udin, dan semuanya” ucap galang, lalu ia, pak slamet dan raka pun berjalan kembali ke vila
“aden kalau capek apa mau pake motornya pak rama? Kalau iya kita balik lagi aja mumpung belum jauh” usul pak slamet
“enggak perlu pak, saya masih bisa jalan kok, nanti kalau enggak kuat tinggal minta gendong om raka aja, enggak apa- apa kan om?”
“tentu aja tuan muda”
Setelah 10 menit berjalan, mereka pun sampai di vila. Dari luar pagar, sudah tercium aroma masakan ranti.
“ohoy sedap juga baunya nih” celetuk galang
“haha ayo mari den kita masuk dan makan” ujar pak slamet
“bentar pak, saya mau cuci kaki dulu ya, kalian duluan aja” ucapnya.
Lalu ia melipir ke kran yang tidak jauh dari pos satpam. Raka dan pak slamet pun masuk ke vila lebih dulu.
Setelah mencuci kaki dan tangan, galang pun segera masuk ke dalam vila dan menuju meja makan. Ranti sudah menyiapkan banyak sekali makanan. Sampai seisi meja penuh dengan piring berisi makanan.
“banyak banget mbak, masaknya” ucap galang, yang baru tiba
“maaf den, saya kesenangan dengan kedatangan aden. Sampai enggak sadar kalau udah masak sebanya ini”
“enggak apa- apa mbak. Cuman apa uang buat beli bahannya cukup? Nanti tolong laporin ke saya ya abis berapanya. Kalau nolak, saya enggak mau makan lho!” perintah galang pada ranti
“baik den, terimakasih” jawab ranti sambil sedikit terisak
“mbak kenapa sedih?” tanya galang khawatir
“dia cuman terharu den. Setau bapak, di majikan sebelumnya. Setiap dia masak di luar dari uang yang di jatah, katanya tidak pernah di ganti” bukan mbak ranti yang menjelaskan, melainkan pak slamet
“betul den. Tadinya saya pikir tidak apa- apa kalau aden emang tidak mau menggantinya. Mbak ingin berterima kasih dengan aden yang sudah mempertemukan dengan keponakan mbak ini. Tapi siapa sangka aden mengatakan akan menggantinya. Maaf kalau mbak sedih ya den, mbak cuman terharu aja” jawab ranti, sambil menghapus air matanya
“ealah, tak kira ada apa.. udah- udah ayo semuanya mari makan!” seru galang.