Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Di Luar Perhitungannya
Pintu di belakang Alden tertutup.
“Ini kamarku juga,” ucap Alden akhirnya. Suaranya rendah. Dingin.
Belvina terkekeh pelan. Bukan tawa manis. Lebih seperti sindiran tipis.
“Kalau begitu, harusnya kamu lebih tahu cara masuk yang benar.”
Alis Alden terangkat sedikit. Tertarik. Ia mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Berhenti tidak jauh darinya.
“Sejak kapan kamu jadi seperti ini?” tanyanya.
Nada suaranya masih datar. Tapi kali ini, ada sesuatu di baliknya. Menggali. Menguji.
Belvina menatapnya tanpa berkedip.
“Sejak aku sadar,” jawabnya ringan. Jawaban yang… tidak menjawab.
Alden menyipitkan mata. “Jangan buang waktuku.”
Tekanan mulai terasa. Namun Belvina tidak goyah. Ia justru berdiri, melipat kedua tangan di dada dengan santai.
“Buang waktumu?" ulangnya. Ia tertawa pendek. Sinis. "Bukannya kamu yang datang ke sini?” balasnya tenang. “Atau aku yang salah ingat?”
Udara di antara mereka terasa menegang. Tak terlihat, tapi terasa.
Alden menatapnya lebih lama. Lebih dalam. Seolah mencoba membongkar sesuatu yang tersembunyi.
Namun yang ia temukan-- tetap sama. Tenang. Datar. Tak terbaca. Dan itu... membuatnya semakin tidak nyaman.
Alden melangkah mendekat. Satu langkah. Lalu satu lagi.
Jarak di antara mereka lenyap terlalu cepat.
Belvina tidak mundur. Namun bahunya mengeras tipis. Cukup untuk terlihat.
Alden menangkapnya. Matanya menyipit sedikit. Bukan curiga. Tertarik.
Ia mengangkat tangan. Perlahan. Hampir menyentuh—
Belvina menahan napas. Kecil. Tapi cukup.
Gerakan itu berhenti di udara.
Senyum tipis muncul di sudut bibir Alden.
“Takut?” tanyanya rendah.
Belvina menegakkan dagu.
“Jangan terlalu dekat.”
Alih-alih mundur, Alden justru menutup jarak yang tersisa.
“Bukannya ini yang kamu mau selama ini?”
Kalimat itu jatuh pelan. Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Belvina bergetar.
Potongan ingatan lewat begitu saja. Singkat. Tidak nyaman.
Ia mengangkat dagunya lebih tinggi.
“Itu yang lama,” ucapnya tenang. “Bukan aku.”
Untuk pertama kalinya, Alden benar-benar diam.
Tatapan mereka bertabrakan di jarak sedekat itu. Dan kali ini, tidak ada kelembutan. Tidak ada rayuan. Tidak ada ketergantungan.
Hanya, dua orang yang saling menilai. Saling menahan. Saling menolak mundur.
Perlahan, Alden menurunkan tangannya. Namun matanya tidak lepas.
“Menarik,” gumamnya. “Kalau ini permainan,” lanjutnya pelan, “kamu telat memulai.”
Suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Bukan dingin sepenuhnya lagi. Ada sesuatu yang lain.
Belvina tidak menjawab. Namun di dalam dirinya, ia baru menyadari satu hal.
Dekat seperti ini… terlalu dekat. Dan ia—tidak terbiasa.
Bukan karena tertarik. Tapi karena ia belum pernah berada sedekat ini dengan seorang pria tanpa bisa menghindar.
Dan ia membencinya.
Yang lebih ia benci, pria di depannya menyadari semuanya.
Namun kali ini, Belvina tidak lagi hanya bertahan. Ia menatapnya lurus. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum manis. Lebih seperti… memahami sesuatu.
“Sekarang aku paham,” ucapnya pelan.
Alden tidak langsung merespons. Alisnya sedikit berkerut.
“Paham apa?”
Belvina memiringkan kepala sedikit. Tatapannya turun sejenak, lalu kembali ke mata pria itu.
“Kenapa kamu tidak pernah tertarik.”
Kalimat itu ringan. Tapi jatuhnya tidak ringan.
Rahang Alden mengeras samar.
Belvina melanjutkan, suaranya tetap tenang.
“Bukan karena aku kurang berusaha,” ucap Belvina tenang.
Ia berhenti sebentar.
“Tapi karena kamu memang tidak punya kapasitas untuk membalas.”
Udara terasa menegang.
Tatapan Alden berubah. Tidak lagi sekadar dingin. Ada sesuatu yang terusik. Lebih dalam.
Belvina melangkah sedikit mendekat. Sekarang jarak mereka benar-benar tipis.
Namun berbeda dari tadi. Kali ini, dia yang memegang kendali.
“Harusnya aku sadar lebih cepat,” lanjutnya pelan. “Meminta sesuatu dari orang yang tidak ingin memberi…”
Sudut bibirnya naik tipis.
“…itu sia-sia.”
Ia mengangkat dagunya.
“Dan aku… tidak akan menjatuhkan harga diriku untuk mengemis cinta.”
Tangannya terangkat. Ujung jarinya menyentuh ringan dada Alden. Tidak kasar. Namun cukup untuk menegaskan.
“Pada pria—”
ia berhenti sepersekian detik, menatap langsung ke matanya,
“yang tidak pantas dicintai.”
Hening. Benar-benar hening.
Tatapan Alden mengeras. Lebih tajam dari sebelumnya.
“Jaga bicaramu.”
Nada suaranya turun. Berat. Berbahaya.
Namun Belvina tidak mundur. Sedikit pun tidak.
“Kenapa?” balasnya tenang.
“Karena akhirnya aku berhenti?”
Tatapannya menelusuri wajah Alden tanpa rasa gentar.
“Bukankah itu yang kamu inginkan selama ini?”
Beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Untuk pertama kalinya, bukan Belvina yang terpojok dalam percakapan itu.
Alden menyadarinya. Dan itu, mengganggunya. Lebih dari yang seharusnya.
Belvina mengalihkan pandangan lebih dulu. Namun bukan karena kalah. Melainkan karena… selesai.
“Kalau tidak ada yang penting,” ucapnya datar, “keluar.”
Nada suaranya tidak tinggi. Tidak emosi. Justru itu, yang membuatnya terasa seperti perintah.
Alden tidak langsung bergerak. Tatapannya masih tertuju padanya. Mengamati. Menghitung ulang. Menilai ulang.
Wanita di depannya, masih wajah yang sama. Masih tubuh yang sama. Namun jelas, bukan orang yang sama lagi.
Dan untuk alasan yang tidak ia sukai, itu membuatnya… tertarik.
“Keluar?”
Ia mengulang kata itu pelan. Nada suaranya rendah. Berat. Berbahaya. Tatapannya turun sedikit, menatap Belvina dari atas ke bawah.
Bukan kagum. Lebih seperti… menilai.
“Kamu lupa satu hal.”
Ia mendekat lagi. Perlahan. Terukur.
“Ini rumahku.”
Satu langkah lagi.
“Dan kamu—”
Ia berhenti. Tepat di depannya. Jarak mereka kembali menghilang.
“Masih istriku.”
Kalimat itu tidak keras. Tidak tinggi. Namun mengandung sesuatu yang lain— klaim.
Kepemilikan.
Belvina menegang sedikit. Refleks. Cepat.
Namun kali ini, Alden tidak melewatkannya. Matanya menangkap setiap perubahan kecil itu.
Dan berbeda dari sebelumnya, kali ini, ia tidak berhenti.
Tangannya terangkat. Bukan kasar. Tapi tegas. Ujung jarinya menyentuh dagu Belvina, mengangkatnya sedikit. Memaksa tatapan mereka bertemu.
“Jadi,” bisiknya rendah, “jangan bertingkah seolah-olah kamu bisa mengusirku.”
Nada itu dingin. Namun ada lapisan lain di bawahnya. Sesuatu yang lebih gelap. Lebih personal.
Belvina menatapnya lurus. Jantungnya berdetak lebih cepat. Namun matanya, tetap tajam.
“Kalau status itu satu-satunya yang kamu punya,” balasnya pelan, “berarti memang tidak banyak yang bisa dibanggakan.”
Ujung jari Alden masih di dagunya. Diam. Tidak bergerak. Namun rahangnya mengeras.
Ucapan Belvina tidak hanya mengganggu. Tapi… mengenai.
Dalam.
Alden sedikit menunduk. Wajahnya lebih dekat sekarang. Terlalu dekat.
“Jangan uji kesabaranku,” ucapnya pelan.
Bukan ancaman kosong. Nada suaranya cukup untuk menjelaskan itu.
...✨“Berhenti mengejar bukan berarti kalah. Kadang itu satu-satunya cara untuk tidak merendahkan diri.”...
...“Ketertarikan yang tidak dibalas bukan luka. Yang jadi luka adalah tetap bertahan di sana.”...
...“Beberapa jarak tidak diciptakan untuk didekati, tapi untuk menyadarkan.”✨...
.
To be continued
Semua proyek yang belum berjalan juga dihentikan.
Seraphina sudah terlalu lama menikmati hasil kelicikannya. Kini tinggal menunggu kehancurannya.
Sifat jahat Seraphina meronta tak mau kalah.
Semoga perbuatan nekatnya mau mencelakakan Belvina yang sedang mengandung tidak terlaksana.
Seraphina tidak sadar kalau perbuatannya pasti segera diketahui Alden.
Kepala keuangan di perusahaannya terlibat kerja sama dengan Seraphina dengan membocorkan situasi internal perusahaan. Menjual data perusahaan kepada Seraphina.
Licik sekali Seraphina. Bertahun-tahun Alden baru mengetahui perbuatan jahat Seraphina. Bertahun-tahun pula Alden merasa berhutang budi pada Seraphina.
Menjadikan Seraphina sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.
Sekarang tinggal penyesalan yang sangat terlambat Alden sadari. Istrinya banyak terluka karena dirinya lebih membela Seraphina.
Orang-orang yang mengawasi Belvina mestinya siaga tidak jauh dari Belvina berada.
Alden sudah memilih Balvina, Seraphina tidak terima.
Jelas Alden akan marah kalau Belvina sampai kenapa-napa. Apalagi karena ulah Seraphina.
Kalimat-kalimat selanjutnya yang terucap dari Alden membuat Seraphina terdiam. Seperti tak percaya.
Seraphina telah meninggalkan ruangan Alden.
Dimas takut Seraphina berbuat nekat.
Alden pun berpikiran sama. Bahkan takut kalau Belvina yang akan jadi sasaran.
Seraphina sudah berada diruang kerja Alden.
Alden tanpa basa basi bicara soal kejadian di klub malam. Tentang foto-foto mereka berdua kepada Belvina.
Seraphina pura-pura terkejut mendengarnya. Dan berkata tidak tahu soal itu.
Tapi tak lama kemudian, pura-pura terkejut itu menjadi benar-benar terkejut.
Masih pura-pura tidak mengerti dengan rekaman yang sudah Alden lihat.
Seraphina mau mengelak apa lagi. Alden mempunyai bukti rekaman.
Kata-kata Belvina terus terngiang di telinganya.
Seraphina menahan amarah.
Seraphina menghubungi seseorang, dengan ponselnya.
Dia menyuruh orang tersebut menjatuhkan Belvina. Tidak peduli dengan Belvina yang diawasi cukup ketat oleh Alden.
Kalau Belvina sudah mode datar, Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Alden baik. Maunya, Belvina terus terang bicara apa yang menjadikan kesal terhadap dirinya. Biar dia tahu kesalahannya.
Omongan Seraphina yang bikin Belvina kesal, ditanyakan pada Alden.
Belvina setelah mendengar penjelasan dari Alden, mestinya sadar kalau omongan Seraphina itu supaya Belvina terpancing kemarahannya.
Kemarahan Ibu hamil bisa membahayakan bayi dalam kandung. Itu yang dikehendaki Seraphina.
Sayangnya Belvina tak terpengaruh dengan Seraphina. Tidak terpancing untuk marah.
Kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Belvina membuat Seraphina tak berkutik.
Kebanggaannya diperlakukan istimewa oleh Alden, tak ditanggapi Belvina sesuai harapannya.
Belvina tak bisa diremehkan. Pasti akan mekawan dengan cara yang elegan. Seperti saat ini.
Tidak perlu marah pakai teriak-teriak.
Belvina mesti hati-hati kalau dekat Seraphina. Mesti waspada terhadap gerak-gerik Seraphina. Jangan sampai membahayakan kehamilannya.