NovelToon NovelToon
THE AGENTS : Perburuan Aset

THE AGENTS : Perburuan Aset

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Thriller / Mata-mata/Agen
Popularitas:34.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes

Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.

Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.

Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.

Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.

Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.

Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.

Siapakah agen tersebut?

Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenzo in Action

Setelah menjalani penerbangan panjang selama 18 jam dengan dua kali transit, akhirnya pesawat yang ditumpangi Zyan alias Kenzo mendarat di bandara Detroit DTW.

Hari mulai gelap ketika pria itu keluar dari bandara.

Di gerbang kedatangan sudah menunggu seorang agen yang akan mengantarkannya ke safe house lain yang digunakan Arsela saat ini.

Hanya butuh waktu setengah jam dari bandara untuk sampai di Hamtramck. Mobil yang ditumpangi Kenzo terus melaju menuju sebuah rumah yang cukup jauh dari keramaian.

Kedatangannya langsung disambut oleh Erik. Secara singkat pria itu menceritakan apa yang menimpa mereka selama tujuh hari terakhir. Mereka harus berpindah tempat karena keberadaan selalu diketahui musuh.

“Di mana Arsela?”

“Di atas.”

Erik langsung memandu Kenzo menuju lantai atas.

Arsela yang tengah duduk santai, sontak langsung berdiri begitu melihat kedatangan Kenzo. Wanita itu seketika gugup melihat cara Kenzo memandangnya. Pria itu seakan tengah memindai dirinya melalui pancaran matanya.

Tanpa mengatakan apa pun, Kenzo mengeluarkan alat dari dalam ranselnya. Alat itu hanya seukuran korek api. Dengan cepat dia sudah berada di belakang Arsela. Ditempelkannya alat tersebut di tengkuk dan pundak wanita itu.

“Apa yang kamu lakukan?!” hardik Arsela yang merasa Kenzo tidak sopan.

“Diamlah!”

Mendengar suara tegas Kenzo membuat Arsela terbungkam.

BEEP!

Layar kecil di alat tersebut menunjukkan sederet huruf dan angka seperti kode. EM4100, ID : A3F9C2D1.

“Dia sudah ditanami chip. Frekuensi 125kHz. Chip ini untuk mendeteksi keberadaannya. Inilah yang membuat posisi kalian selalu diketahui.”

Tentu saja Erik terkejut, begitu pula dengan Arsela. Dia ingat ketika bersembunyi di kediaman Camille, lalu saat melarikan diri bersama Kael, orang-orang yang menculiknya selalu bisa menemukan dirinya.

“Alat ini harus dikeluarkan,” lanjut Kenzo membuyarkan lamunan Arsela.

“Ba-bagaimana caranya?” tanya Arsela gugup.

“Dibedah,” jawab Kenzo tanpa ekspresi sedikit pun, seolah itu adalah hal enteng.

“Apa? Aku tidak mau!”

“Kamu mau atau tidak, alat itu tetap harus dikeluarkan. Apa kamu mau mereka menemukanmu dan membawamu pergi lagi?”

“Apa yang harus kami siapkan?” tanya Erik cepat.

“Apa kamu punya peralatan medis?”

“Ada.”

Secepatnya Erik turun ke bawah. Sekejap kemudian dia sudah kembali ke atas, dengan tas medis di tangannya.

“Sterilkan semua alat ini,” titah Kenzo.

Dibantu dua orang lainnya, Erik mensterilkan peralatan. Sementara Kenzo menyiapkan obat dan alat lain di dekatnya. Dia sudah duduk di belakang Arsela, bersiap untuk mengeluarkan chip dari tubuh wanita itu.

“Apa tidak ada lidocaine?” tanya Kenzo yang mencari-cari obat bius.

“Tidak ada. Apa perlu kami cari ke apotek?” Erik berinisiatif.

“Tidak usah. Jarak dari sini ke apotek cukup jauh. Aku harus secepatnya mengeluarkan chip lalu pergi dari tempat ini. Ambilkan saja handuk kecil.”

“Baik.”

“Ap—“

Belum selesai pertanyaan di mulut Arsela, Erik sudah datang membawa handuk kecil. Kenzo menggulung handuk kemudian mengarahkan ke mulut Arsela.

“Gigit ini?”

“A-Apa? Tu-tunggu … kamu akan membedahku tanpa obat bius?” tanya Arsela panik.

“Hmm … cepat gigit!”

Kenzo memegang kedua pipi Arsela dengan tangannya, menekan sedikit hingga mulutnya terbuka, lalu memasukkan gulungan handuk kecil itu. “Gigit yang kencang!”

Selagi Kenzo membersihkan kedua tangannya, jantung Arsela semakin berdegup kencang. Dibedah tanpa obat bius, yang terbayang di kepalanya hanyalah kesakitan.

Setelah memakai sarung tangannya, Kenzo langsung bersiap melakukan pembedahan. Dia meraba bagian bawah tengkuk Arsela. Dapat dia rasakan, ada benjolan kecil dan keras. Erik yang berdiri di samping Kenzo menyorotkan senter untuk membantu penerangan.

Kenzo menuangkan alkohol ke lokasi chip berada. Pelan-pelan dia mulai menyayat kulit Arsela. Wanita itu menggigit kencang handuk di mulutnya.

Dua personel yang menyaksikan adegan bedah di depannya hanya bisa meringis melihat Arsela yang tampak menahan rasa sakit.

“Kolonel sadis sekali,” bisik salah satu personel.

“Kalau di lapangan, dia tidak ada belas kasihan sama sekali,” jawab rekannya masih dengan suara berbisik.

Setelah membuat sayatan sepanjang 5 mm, Kenzo menekan kedua bagian sisi sayatan sampai chip yang tertanam muncul. Menggunakan pinset, pria itu mencabut chip tersebut dengan hati-hati. Setelah chip tercabut, diletakkan di atas nampan stainless.

Kenzo menaruh kasa di atas sayatan kemudian menekannya agar darah berhenti keluar. Kemudian dengan hati-hati dia merapatkan bekas sayatan. Beberapa kali dia mencoba, namun luka tetap terbuka.

“Siapkan jarum jahit, luka sayatannya harus dijahit,” ujar Kenzo enteng.

Jantung Arsela kembali berdetak tak karuan. Baru saja selesai merasakan sakit akibat sayatan, sekarang dia harus kembali merasakan sakitnya dijahit.

Kenzo menuangkan cairan NaCl ke luka. Setelah mengeringkan dengan kasa, dia mulai menjahit luka sayatan tersebut.

Gigitan Arsela di handuk semakin kencang. Buliran keringat sudah membasahi keningnya. Wajahnya pun sedikit memucat. Tangannya mencengkram erat sandaran kursi hingga jari-jarinya memutih.

Lima menit kemudian penderitaannya berakhir ketika Kenzo selesai menjahitnya. Pria itu mengoles bekas jahitan dengan betadine, lalu menutupnya dengan plester.

“Berikan obat pereda nyeri dan antibiotik untuknya,” titah Kenzo pada Erik. “Kalian! Bersiaplah, kita pergi dari sini sekarang.”

“Siap!”

Semuanya langsung bergerak sesuai titah Kenzo. Sementara Arsela masih terduduk lemas di kursi. Handuk di mulutnya sudah terlepas, namun rasa sakit di tengkuknya masih belum hilang.

Erik sampai di dekat Arsela dengan segelas air dan dua buah obat di tangannya.

“Minumlah.”

Arsela mengambil obat di tangan Erik, kemudian meminumnya tanpa banyak protes. Tenaganya sudah habis terkuras akibat pembedahan dadakan tadi.

“Sebaiknya kita pergi sekarang!” seru Kenzo menginterupsi waktu istirahat Arsela.

Dengan sigap Erik membantu Arsela berdiri. Pria itu terus memegangi lengan Arsela menuruni anak tangga.

Sebelum pergi, Kenzo mematikan lampu di lantai bawah, kemudian bergegas menyusul yang lain. Begitu pria itu masuk ke dalam mobil, Erik langsung menekan pedal gas. Dua kendaraan langsung meninggalkan safe house tersebut.

Hanya berselang sepuluh menit, dua mobil hitam berhenti di depan rumah. Enam pria keluar dari dalamnya. Sambil memegang senjata di tangan masing-masing, keenam orang tersebut memasuki rumah.

Tiga orang mencari di bawah, tiga orang lagi naik ke lantai dua.

Salah seorang pria memasuki ruangan yang tadi digunakan untuk operasi dadakan. Matanya langsung tertuju pada nampan stainless. Di atasnya teronggok chip yang terdapat noda darah di atasnya.

“Sial!” maki pria itu.

“Ada apa?”

“Mereka sudah menemukan chipnya!”

“Mereka masih belum jauh. Ayo kejar mereka!”

Bergegas keenam orang tersebut menuju mobil. Dua kendaraan itu langsung melesat, mengejar Arsela yang sudah dibawa pergi lebih dulu.

Di mobil yang ditumpangi Kenzo, pria itu mengambil pesawat genggam, lalu menghubungi dua agen di mobil berbeda.

BIP …

“Alpha ke Bravo, ganti,” ujar Kenzo.

BIP …

“Bravo di sini, ganti.”

BIP …

“Musuh akan mendekat T-7 mike. Lakukan diversion, ganti.”

BIP …

“Copy. Requesting permission to pop smoke? Ganti.”

BIP …

“Permission granted. Pop smoke. Tahan lima mike. Ganti.”

BIP …

“Copy. Popping smoke. Bravo out.”

Erik menekan pedal gas lebih dalam. mobil yang dikemudikannya melaju semakin cepat.

Sementara mobil di belakangnya sedikit melambat. Ketika melihat dua mobil di belakang mulai menyusul, salah seorang agen menembakkan granat asap.

DUAR!

Asap putih meledak di tengah jalan.

***

Zyan masih sadis aja😂

Mike itu istilah yg sering digunakan dalam militer artinya menit ya. T-7 Mike, artinya jarak kurleb 7 menit. Tahan 5 Mike, tahan 5 menit. Diversion artinya pengalihan. Pop smoke itu granat asap.

Sekian sekilas info🤗

1
dewi rofiqoh
Alhamdulillah, rencana pengecohan berhasil. Semoga upaya penyelamatan aset berikutnya juga lancar dan mereka tidak terdeteksi pihak vexion
Maure Nia
semoga berhasil Sergio dan dkk💪👌
Eka Burjo
tegang euy🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
woukehh 👌🏻.. perintah laksanakan 👍🏻👍🏻👍🏻
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
wouw wouw.....target udah kena pukat yg tebar Arman..... Timur dan Priya udah otw...mereka akan tandang ke meja eksekusi sebagai korban persembahan untuk di isep darahnya😭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
yuupp betul ..meskipun sdh mengecoh musuh....tdk menutup kemungkinan suatu saat akan ketauan oleh pihak musuh...dan harus siap untuk menghadapi kemungkinan itu bila terjadi ✊🏻
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
syukur deh akhirnya selamat dan tiba di safe house.....dgn penjagaan yg ketat untuk sementara' bisa lega....sebelum menghadapi masalah yg lebih besar lg 🫣
Ria alia
Yaampun udah berasa jdi agent aku ikut ama mrka beraksi 🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
ahahahahhaha sue gk berhasil nangkep Arsela sama Lyra kezelll dia.....
iddiiiihhhh Arman ngaamuk....
coba Kamu kerjakan sendiri becus gk nangkep mereka 😏
tehNci
Licik banget sih Global Pharma mendapatkan asetnya. Kedok beasiswa jadi andalan mereka. Semoga Kael dan Sergio bisa menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Timur dan Priya bisa langsung ke safe house tanpa berurusan lagi dengan global Pharma vlexion
Safitri Agus
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Safitri Agus
siap laksanakan 🫡🫡🫡
choowie
duuh kayanya bakalan bucin ini
Munas Tuti
waduuuh makin tegang mbak Author...
Lila
semakin tegang nih cerita...
Warni Khairiyah
dibikin tegang dulu,setelh selesai baru romantisan🤭
Mio Amore
ndak duk bca nya bun
RosMa🌹🌹🌹
ada cinta di mata Arsela buat Kael 😍😍
vania larasati
lanjut kak
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
cocok nih 👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!