NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Kemarahan yang membakar dada membuat Hani nyaris tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Sisa potongan kertas yang kasar di jilid buku harian itu seolah menjadi bukti nyata bahwa penyesalan yang ditunjukkan Reza di kantor kemarin hanyalah sebuah kepura-puraan.

Pria itu berlagak manis, memohon maaf, dan mengembalikan buku hariannya seolah-olah dia adalah pria yang telah bertobat. Namun, di balik itu semua, Reza dengan licik melenyapkan bukti tertulis mengenai kebrutalan masa lalunya di rooftop sekolah.

"Kamu pikir kamu bisa membodohiku dengan topeng barumu, Reza?" bisik Hani pada kegelapan kamarnya, jemarinya mencengkeram erat seprai tempat tidur.

Keesokan paginya, Hani tiba di kantor dengan rahang yang mengeras dan tatapan mata yang setajam silet. Begitu ia melangkah mendekati meja kerjanya yang terletak tepat di luar ruangan kepala divisi, langkah kakinya mendadak terhenti.

Meja kerjanya tidak lagi kosong. Di atas permukaan meja yang rapi itu, kini terletak sebuah buket bunga lili putih yang sangat besar dan segar. Di samping buket mewah tersebut, ada sebuah kotak bekal premium yang masih terasa hangat, ditemani selembar memo kecil dengan tulisan tangan yang sangat Hani kenal.

Hani mengambil memo itu dengan kening berkerut dalam.

Selamat pagi, Hani. Aku tahu kamu suka lili putih, dan aku ingat kamu sering melewatkan sarapan dulu saat SMA. Aku membelikan ini khusus untukmu dari restoran dekat kantor. Tolong jangan dibuang, ya? Aku menunggumu di ruangan untuk membahas agenda kita hari ini. - Reza.

Hani menatap memo itu dengan tatapan datar, lalu beralih menatap buket bunga di depannya. Alih-alih merasa tersentuh, perutnya justru mual. Perhatian manis ini terasa begitu palsu dan manipulatif setelah apa yang ia temukan di buku hariannya semalam.

Tanpa ragu sedikit pun, Hani mengangkat buket bunga lili putih yang indah itu, berjalan beberapa langkah menuju tempat sampah besar di sudut koridor divisi, lalu menjatuhkannya begitu saja ke dalam sana. Kotak bekal hangat itu pun menyusul, mendarat tepat di atas tumpukan kertas bekas.

Cklek.

Suara pintu kaca yang terbuka membuat Hani menoleh. Reza berdiri di ambang pintu ruangannya dengan senyuman hangat yang semula terukir di wajah tampannya. Namun, senyum itu seketika runtuh dan membeku saat matanya menangkap basah Hani yang baru saja membuang pemberiannya ke tempat sampah.

Keheningan yang canggung sempat merayap di antara mereka selama beberapa detik. Beberapa staf divisi administrasi yang baru datang tampak curi-curi pandang, terkejut melihat keberanian staf baru yang membuang pemberian dari anak pemilik perusahaan.

Reza menarik napas dalam, mencoba menekan rasa kecewa yang menusuk dadanya. Ia berdehem, lalu melangkah mendekati meja Hani. "Kamu... tidak menyukai bunganya?" tanya Reza, berusaha menjaga nadanya agar tetap lembut dan tidak terdengar menuntut.

Hani berbalik, bersedekap dada, dan menatap Reza dengan pandangan yang sanggup membekukan ruangan. "Saya alergi terhadap segala sesuatu yang palsu, Pak Reza," jawab Hani, menekankan setiap kata dengan artikulasi yang sangat jelas. "Dan saya ke sini untuk bekerja, bukan untuk menerima suapan berupa bunga atau sarapan gratis."

Reza tertegun, matanya menatap Hani dengan binar terluka. "Hani, itu bukan suapan. Aku tulus ingin meminta maaf dan membuat harimu di kantor ini terasa lebih nyaman. Aku tidak punya niat buruk sama sekali."

"Tulus?" Hani maju satu langkah, memperkecil jarak di antara mereka hingga Reza bisa mencium aroma parfum melati yang lembut dari tubuh wanita itu. Namun, aura yang dipancarkan Hani sama sekali tidak selembut aromanya. "Apakah merobek halaman buku harian saya juga merupakan bagian dari ketulusan Anda, Pak?"

Mendengar kalimat itu, pupil mata Reza seketika membelalak. Tubuhnya mendadak kaku, dan ekspresi wajahnya berubah tegang dalam sekejap. Perubahan drastis pada raut wajah Reza tidak luput dari pengamatan Hani. Hal itu semakin mengonfirmasi dugaannya.

"Hani... kamu..." Reza terbata, lidahnya mendadak kelu.

"Kenapa? Anda kaget karena saya menyadarinya?" Hani tersenyum sinis, kepuasan tersirat dari wajah cantiknya melihat sang penindas mulai terpojok.

"Anda menyimpan buku itu selama delapan tahun, mengembalikannya kepada saya, dan berharap saya akan tersentuh. Tapi Anda dengan pengecut menyobek halaman tempat saya menuliskan kejadian di rooftop sekolah. Kenapa, Pak Reza? Takut reputasi Anda sebagai anak konglomerat hancur jika orang-orang tahu Anda hampir membunuh siswa lain dulu?"

Reza menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya yang semula cerah kini memucat. Ia menatap ke sekeliling koridor, menyadari bahwa beberapa pasang mata stafnya mulai memperhatikan perdebatan mereka dengan penuh rasa ingin tahu.

"Masuk ke ruangan saya sekarang, Hani. Kita bicarakan ini di dalam," perintah Reza dengan nada suara yang berubah serius dan rendah, mencoba mengendalikan situasi sebelum menjadi tontonan publik. Pria itu berbalik dan melangkah cepat memasuki ruangannya.

Hani menarik napas panjang untuk menguasai emosinya, lalu mengikuti langkah Reza masuk ke dalam ruangan berpintu kaca buram tersebut. Begitu pintu tertutup rapat dan mengunci secara otomatis, Hani langsung berdiri di depan meja kerja Reza yang megah.

"Jelaskan pada saya, Pak Reza. Ke mana halaman itu?" desak Hani, menuntut jawaban.

Reza membelakangi Hani, menatap keluar jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung bertingkat di ibu kota. Bahunya tampak merosot tegang. Setelah keheningan yang menyiksa selama hampir satu menit, Reza akhirnya berbalik dan menatap Hani dengan pandangan penuh keputusasaan.

"Aku yang menyobeknya, Hani. Aku merobeknya delapan tahun lalu, beberapa hari setelah aku menemukan buku itu di kolong mejamu," aku Reza jujur, suaranya terdengar parau.

Hani mengepalkan tangannya di sisi tubuh. "Kenapa? Untuk melindungi dirimu sendiri? Untuk melenyapkan bukti bahwa kamu adalah seorang monster yang beringas?"

"Bukan!" potong Reza cepat, suaranya sedikit meninggi namun sarat akan rasa frustrasi. Pria itu mengacak rambutnya dengan kasar. "Aku merobeknya bukan untuk melindungiku, Hani. Tapi untuk melindungimu!"

Hani tertawa hambar, menganggap ucapan Reza sebagai lelucon paling konyol yang pernah ia dengar tahun ini. "Melindungi saya? Jangan membuat lelucon yang menjijikkan, Pak Reza. Anda memukuli orang di depan mata saya, lalu Anda menyobek tulisan saya dengan alasan melindungi saya? Anda pikir saya bodoh?"

Reza melangkah mendekat, matanya menatap Hani dengan kesungguhan yang teramat sangat, mencoba meyakinkan wanita di depannya. "Hani, dengarkan aku dulu. Siswa yang aku pukuli di rooftop hari itu... dia bukan siswa sembarangan. Dia adalah anak dari seorang pejabat tinggi yang punya pengaruh besar. Dan alasan aku memukulinya hari itu... adalah karena dia."

Reza menjeda kalimatnya, menatap Hani dalam-dalam. "Dia diam-diam mengambil fotomu di toilet sekolah dan menyebarkannya di grup obrolan anak-anak nakal dengan kalimat-kalimat yang sangat melecehkanmu. Aku tidak sengaja melihatnya. Aku marah besar melihatmu dilecehkan seperti itu."

Hani tertegun. Jantungnya berdesir aneh, namun ia segera menepis perasaan itu. "Lalu apa hubungannya dengan menyobek buku harian saya?"

"Karena di halaman yang kamu tulis itu, kamu menyebutkan nama dia secara lengkap sebagai korban kebrutalanku. Kamu tidak tahu seberapa berbahayanya keluarga mereka, Hani," jelas Reza, suaranya merendah penuh penyesalan. "Jika buku harian itu sampai jatuh ke tangan orang lain atau pihak sekolah, dan nama anak itu terseret bersama tulisanmu, keluarga mereka tidak akan tinggal diam. Aku merobek halaman itu dan membakar kertasnya agar tidak ada satu pun bukti yang bisa mengaitkanmu dengan insiden hari itu. Aku tidak ingin kamu terancam."

Hani membeku di tempatnya berdiri. Penjelasan Reza menghantam logikanya dengan keras. Selama delapan tahun ini, ia meyakini bahwa Reza adalah iblis tanpa belas kasihan yang memukuli orang demi kesenangan.

Namun, kenyataan bahwa Reza melakukannya untuk membelanya dari pelecehan... membuat seluruh fondasi kebencian Hani mendadak goyah.

"Kenapa..." Hani berbisik, suaranya mendadak serak. "Jika kamu peduli... kenapa setelah hari itu kamu justru terus membully-ku? Kenapa kamu membiarkan teman-temanmu mengolok-olokku karena buku harian itu?"

Reza menunduk, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes melewati pipinya. "Karena aku pengecut, Hani. Gengku tahu aku memukuli anak pejabat itu karena membelamu. Mereka mulai mengejekku, menuduhku jatuh cinta pada 'si buruk rupa'. Di usia remaja yang penuh ego, aku takut dikucilkan. Aku takut dicap lemah. Jadi, untuk membuktikan pada gengku bahwa aku tidak peduli padamu... aku ikut tertawa saat mereka merundungmu."

Reza perlahan berlutut di atas lantai marmer, tepat di hadapan Hani. Pria arogan itu kini bersimpuh di kaki asisten pribadinya. "Aku tahu alasan itu sangat menjijikkan. Aku mengorbankan mentalmu demi egoku sendiri. Itulah kesalahan terbesarku, Hani. Itulah dosa yang membuatku tidak pernah bisa tidur nyenyak selama delapan tahun ini."

Hani menatap pria yang berlutut di depannya dengan perasaan yang campur aduk luar biasa. Kemarahan, keterkejutan, dan rasa sesak bergolak di dalam dadanya hingga membuatnya sulit bernapas.

Rahasia masa lalu itu akhirnya terungkap, namun alih-alih memberikan ketenangan, hal itu justru melempar Hani ke dalam badai emosi yang lebih besar.

Tepat saat Hani hendak membuka suara untuk merespons pengakuan Reza, sebuah ketukan keras di pintu kaca ruangan membuyarkan atmosfer emosional di antara mereka.

Tok! Tok! Tok!

Hani dan Reza menoleh serentak ke arah pintu. Melalui kaca buram yang samar, siluet tubuh tinggi besar seorang pria paruh baya terlihat berdiri di sana. Detik berikutnya, pintu terbuka tanpa menunggu izin dari dalam.

Narendra Baskara masuk ke dalam ruangan dengan langkah tegap, diikuti oleh seorang pria asing berpakaian serba hitam yang membawa sebuah koper besi kecil. Wajah Narendra tampak sangat dingin, jauh berbeda dengan kehangatan yang ia tunjukkan saat meminta maaf pada Hani tempo hari.

Mata Narendra langsung tertuju pada Reza yang masih berlutut di lantai, lalu beralih menatap Hani dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Reza, berdiri. Jangan memalukan nama Papa dengan berlutut seperti itu," suara Narendra menggelegar dingin, membuat Reza perlahan bangkit berdiri dengan wajah tegang.

Narendra kemudian menatap Hani, lalu memberi isyarat kepada pria berpakaian hitam di belakangnya untuk meletakkan koper besi itu di atas meja kerja. "Nak Hani, maaf saya harus mengganggu waktu kerjamu. Tapi ada sesuatu yang baru saja ditemukan oleh tim investigasi internal perusahaan dari rekam jejak masa lalumu, yang memaksa saya untuk datang ke sini secara langsung."

Hani mengerutkan keningnya, firasat buruk mendadak menyelimuti hatinya. "Maksud Bapak apa?"

Narendra membuka koper besi tersebut, mengeluarkan selembar dokumen resmi berstempel hukum, lalu menggesernya ke hadapan Hani. "Baskara Group tidak bisa mempekerjakan seseorang yang memiliki hubungan darah dengan orang yang pernah mencoba menghancurkan perusahaan ini delapan tahun lalu. Kamu menyembunyikan identitas asli ayah kandungmu saat melamar di sini, Hani."

Mata Hani membelalak menatap dokumen di depannya, sementara Reza menatap ayahnya dengan wajah penuh kepanikan yang luar biasa.

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!