Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23.
Tiga hari Salindra di rawat di rumah sakit rasanya seperti setahun. Hari ini ia sudah di perbolehkan pulang setelah Dokter memeriksa dan semua kondisinya normal. Tapi Salindra tetap harus rutin minum vitamin dan obat sesuai saran Dokter.
Setelah keluar dari ruangan Salindra bersama Jayanti kakaknya berjalan menuju parkiran, Salindra naik di jok belakang, Jayanti menyalakan mesin dan mereka keluar dari area rumah sakit pulang ke rumah.
Salindra merebahkan tubuhnya di tempat tidur karena badannya masih terasa lemas. Jayanti membuat jahe hangat dan membawakan roti ke dalam kamar adiknya.
"Hari ini Kakak masuk siang, kamu di rumah sendirian tidak apa-apa kan! Kakak tidak bisa nemenin kamu," pesan Jayanti meletakkan minuman dan roti di atas meja.
"Iya, aku tidak apa-apa sendirian. Aku bukan anak kecil lagi yang harus dijaga dua puluh empat jam," canda Salindra tersenyum tipis.
"Ya sudah, kalau begitu Kakak berangkat. Jangan lupa obatnya diminum," Jayanti pamit berangkat kerja.
Begitu Kakaknya pergi, Salindra segera makan dan minum obat. Baru akan memejamkan mata pintu ruang tamu ada yang mengetuk. Ia beranjak turun dari tempat tidur dengan langkah pelan menuju ruang tamu dan membuka pintu.
Seseorang berdiri di depan rumahnya sambil membelakangi pintu, Salindra melihat orang tersebut sambil mengerutkan alisnya. Orang itu berbalik sambil tersenyum yang dipaksakan melihat Salindra dengan wajah pucat.
"Siapa?" tanya Salindra ingin tahu.
Perempuan muda itu melihat ke arah dalam rumah dengan hati penasaran. Salindra tidak mengenalnya ragu mengajak tamu masuk ke dalam rumah sebelum memperkenalkan diri. Karena tidak mendapat tanggapan Salindra hendak menutup kembali pintu namun, perempuan itu akhirnya membuka percakapan.
“Aku Marcella, saudara tiri kamu," jawabnya dengan senyum penuh arti.
Salindra tertegun mendengar kata saudara tiri dari mulut perempuan di depannya. Dadanya terasa sakit seperti tertindih batu besar, tiba-tiba tubuhnya terasa bergoyang seperti ada gempa ia memegang pintu dengan kuat. Matanya memperhatikan perempuan di depannya dengan lekat.
Salindra yang belum pulih sempurna merasakan kepalanya berdenyut. Ingin rasanya mengusir perempuan itu tapi rasa penasarannya tinggi membuatnya ingin tahu tentang Marcella.
“Silahkan masuk!" Salindra mempersilahkan masuk Marcella.
Saat Marcella masuk pandangannya menyapu seluruh isi dalam rumah, matanya menangkap bingkai di dinding, tiba-tiba teringat mamanya yang sudah tiada, airmatanya tertahan di dalam kelopak mata.
Salindra melihat ekspresi wajah Marcella tersenyum getir. "Mereka adalah keluargaku," kata Salindra.
Marcella terdiam sesaat kemudian duduk sambil menopang kaki kirinya pada kaki kanannya sambil menyenderkan punggungnya.
"Kelihatan sekali keluarga yang harmonis. Tapi, tidak untuk sekarang," kata Marcella seolah merendahkan status Salindra saat ini.
Salindra tidak ingin memperburuk masalah apalagi kondisinya masih lemas untuk membalas perkataan Marcella. Ia memejamkan matanya sebentar lalu berkata.
"Jika kedatanganmu hanya untuk menghinaku lebih baik pulang, karena kita tidak saling kenal,"
Mata Marcella melebar mendengar pengusiran terhadap dirinya dari mulut Salindra. Ia tidak menyangka jika Salindra akan bersikap semena-mena kepadanya yang ia tahu dari Kamila, Salindra anaknya penurut dan sopan. Tapi, kenyataannya justru berbanding terbalik dengan cerita Kamila mama angkatnya.
"Aku ke sini ingin mengenal keluarga angkatku, karena selama ini aku tidak diijinkan bertemu dengan saudara angkatku yang bernama Salindra dan Jayanti," sahut Marcella sambil mencari sosok Jayanti yang sedari tadi tidak kelihatan.
"Oh iya, Kak Jayanti mana... tidak kelihatan?" tanya Marcella.
"Apa kamu punya urusan dengan Kak Jayanti?" sahut Salindra cepat.
"Bukan cuma urusan, aku juga ingin berkenalan dengan Kak Jayanti, kita kan satu keluarga jadi menyambung tali silaturahim," kata Marcella merendahkan nada suaranya lebih sopan.
"Kak Jayanti kerja masuk sift siang," jawab Salindra dengan malas.
“Kak Jayanti bekerja di mana?" tanya Marcella ingin menelisik keluarga mama Kamila.
“Tidak semua harus dipertanyakan, jadi aku tidak perlu menjawab," Salindra merasa sebal dengan pertanyaan Marcella.
"Baiklah, kita bicara yang lain saja, tentang kita berdua. Bagaimana?" Marcella
“Kamu sakit ya, wajahmu pucat sekali," katanya lagi saat melihat wajah Salindra nampak pucat
Salindra merasa situasi berbeda saat tatapan Marcella seperti ingin mengulik kehidupan pribadinya.
"Aku tidak punya waktu bicara omong kosong, lebih baik kamu pulang," sewot Salindra beranjak dari tempat duduknya.
"'Apakah kedua orang tuamu tidak mengajarkan sikap sopan santun, atau seperti ini sikapmu terhadap kedua orang tuamu, sampai mereka tidak mengurusmu karena kamu membangkang dan tidak penurut?" bentak Marcella melihat sikap Salindra yang mencoba menghindarinya.
Salindra terkejut rasanya ingin menampar wajah Marcella tapi tangannya terasa kebas bahkan mengangkat saja enggan, ia hanya menoleh sambil tersenyum sinis.
"Lalu, bagaimana dengan sikapmu sendiri datang ke rumah orang bersikap arogan dan sombong, urus saja hidupmu dengan baik supaya menjadi orang benar, tidak usah ikut campur urusan orang lain kalau tidak tahu permasalahannya," ucap Salindra masuk ke dalam kamar dan menutup pintu sambil menyenderkan tubuhnya di daun pintu dengan memejamkan mata.
Di luar Marcella menahan amarahnya menatap pintu kamar Salindra. "Kamu akan menerima akibatnya karena sudah melawanku, aku pastikan hidupmu hancur, Salindra,"
Setelah mengucapkan kata-kata Marcella meninggalkan rumah Salindra sambil terus menggerutu dan mengumpat sesekali melihat ke rumah Salindra.
Beberapa menit kemudian Salindra membuka pintu melihat apakah Marcella masih berada di ruang tamu. Ia merasa lega ternyata Marcella sudah pergi, tapi perasaanya masih sakit teringat perkataan Marcella. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan anak tiri ibunya dan menghinanya secara langsung.
Dalam hati Salindra tidak merasa takut dengan ancaman Marcella, ia akan berusaha tetap kuat. Salindra menutup pintu kembali dan merebahkan tubuhnya lalu memejamkan mata karena rasa kantuknya semakin terasa berat.
...----------------...
Brakk
Marcella melempar tas mungil begitu saja, lalu duduk dengan napas memburu dadanya naik turun rasa emosi yang cukup menguras tenaganya membuatnya lelah. Ia merebahkan tubuhnya dengan kasar di tempat tidur.
Seseorang berjalan menghampirinya sambil membawakan minuman kepadanya. "Apa yang kamu dapatkan dari saudara tirimu itu?"
Marcella menatap orang yang duduk di sampingnya kemudian bangun dan duduk meraih gelas lalu, meneguknya sekaligus habis.
"Ternyata benar dugaanku kedua saudara itu hidup menderita setelah perceraian kedua orang tua mereka," kata Marcella.
"Apakah kamu senang melihat mereka menderita, atau kasihan dan ingin membantu mereka?" tanya orang tersebut sambil membelai wajah Marcella dengan lembut.
"Aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku, malam ini kamu datangi rumahnya," perintah Marcella menatap tajam orang di sampingnya.
Orang tersebut terkejut mendengar perintah Marcella. Ia tidak setuju dengan idenya karena bisa membuat semua kacau rencananya untuk mendekati perempuan pujaan hatinya yang sudah dalam genggamannya saat ini.
“Jangan aku, lebih baik cari orang lain saja, aku tidak mau berurusan dengan orang lain selain kamu," sahutnya menolak dengan halus.
Marcella melirik pria di sampingnya kemudian tersenyum senang. "Arman, kamu setia sekali sama aku. Terimakasih,"
Marcella memeluk Arman dari samping dan mencium pipi pria tersebut dengan senang hati. Arman tidak berani menyentuh apalagi berbuat melebihi batas. Ia akan menjaga perempuan yang disayang. meskipun Marcella menginginkannya tapi, dengan tegas Arman tidak mau melakukannya.
Arman baru mendekati Marcella beberapa bulan terakhir, karena Marcella mudah sekali dirayu meskipun bukan dengan harta.
"Aku akan menyuruh orang lain untuk menjalankan rencanaku untuk membuat Salindra terpuruk dan semakin hancur," katanya dengan tatapan benci penuh amarah.