Disclaimer: No plagiat, no boom like❗
Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kejar-kejaran
Bel istirahat masih menyisakan beberapa menit lagi. Koridor SMA Harapan dipenuhi murid-murid yang berlalu lalang. Di tengah ramainya suasana itu, Faris berjalan menyusuri koridor dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Wajahnya ditekuk sejak tadi, jelas menunjukkan suasana hatinya yang sedang tidak baik.
"Sial..." Gerutu Faris pelan.
Bayangan kejadian di lapangan olahraga tadi kembali terlintas di kepalanya. "Mana disalahin lagi satu barisan," gumamnya sambil mengacak rambutnya sendiri.
Cowok itu menghela nafas panjang. Semakin diingat, semakin kesal pula perasaannya. "Belum cukup dipermalukan, masih disuruh push-up seratus kali."
Faris menggeleng pelan, seolah ingin membuang sial yang datang sejak pagi. Tanpa menghentikan langkahnya, Faris terus menyusuri koridor menuju salah satu ruang kelas di lantai tiga. Tujuannya jelas, kelas XII IPA D — kelas tempat tiga sahabatnya berada.
Faris baru saja hendak masuk ke dalam kelas XII IPA D. Namun, di saat yang bersamaan, seseorang melangkah keluar. Alhasil, keduanya terlonjak kaget.
"Anjiirr!"
"Setaan!"
Lex yang melangkah keluar sambil membawa bungkus jajanan di tangannya refleks mundur selangkah. Sementara Faris ikut mundur sambil memegangi dadanya sendiri.
"Gila, Ris!" Gerutu Lex sambil mengusap dada. "Ngagetin aja, lo!"
"Ngagetin pala lo!" Balas Faris tak kalah kesal. "Lo yang keluar tiba-tiba."
Lex mendengus pelan, lalu melirik bungkus plastik di tangannya. "Gue mau buang sampah, woi."
"Ya, buang aja," sahut Faris ketus. "Emangnya gue ngelarang?"
Lex menaikkan sebelah alis. "Iya, tapi jangan nongol persis di depan pintu juga, nyet! Jantung gue hampir copot."
"Copot ya syukur," jawab Faris sambil melenggang masuk. "Minimal berkurang satu beban gue."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Faris melangkah ke dalam ruangan. Sementara Lex berjalan menuju tong sampah yang berada dari depan kelas.
Suasana kelas itu sedang cukup ramai. Beberapa murid mengobrol di bangkunya masing-masing, sementara yang lain sibuk menikmati sisa waktu istirahat.
Perhatian Faris langsung tertuju pada satu sudut kelas. Di bangku paling belakang, Dhyo dan Andre tampak membungkuk sambil memegangi perut masing-masing. Bahu keduanya bergetar hebat. Tawa mereka terdengar sampai beberapa bangku di depan.
Dhyo bahkan sampai mengusap sudut matanya yang mulai berair karena terlalu banyak tertawa. Sementara Andre yang biasanya paling tenang pun kali ini tak jauh berbeda, ia berkali-kali menutup mulutnya, tapi tawanya tetap lolos.
Faris mengernyit heran. Kedua alisnya bertaut saat melangkah mendekati mereka. "Woi," panggilnya datar.
Tak ada jawaban. Dhyo justru semakin terbahak-bahak hingga tubuhnya hampir menyentuh meja. "Hahaha, astaga!"
Faris semakin bingung. Ia berhenti tepat di depan bangku mereka, lalu melirik keduanya secara bergantian.
"Woi!" Seru Faris sedikit lebih keras. "Lo berdua kesambet apaan, dah? Ketawa kayak lagi menang undian."
Bukannya menjawab, Dhyo malah menepuk-nepuk meja berulang kali. "Buseett! Gak kuat, Ndre!"
Andre buru-buru menggeleng sambil berusaha mengatur nafas. "Sumpah," ujarnya di sela-sela tawa. "Ini... Ini gak ada obatnya."
Faris memandang keduanya bergantian dengan kening yang semakin berkerut. Satu orang yang tertawa, masih masuk akal. Tapi kalau Andre sampai ikut-ikutan seperti ini? Jangan-jangan, memang ada sesuatu yang tidak beres.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang melangkah mendekat dari arah pintu kelas. Lex kembali masuk setelah membuang sampah. Baru beberapa langkah memasuki kelas, ia langsung melihat Dhyo dan Andre yang masih tertawa tanpa henti di bangku belakang.
Faris yang berdiri di depan mereka segera menoleh. "Lex," panggilnya dengan nada heran. "Ini berdua kenapa?"
Lex menghentikan langkahnya. Tatapannya bergantian mengarah pada Dhyo, lalu Andre. Awalnya, ekspresinya datar. Namun, begitu melihat Dhyo dan Andre yang masih ngakak, pertahanannya runtuh begitu saja.
"Ppffttt! Hahaha!" Tawa Lex pecah seketika. Bahkan, ia membungkuk sambil memegangi lututnya sendiri. "Jangan ngakak lagi, woi! Gue kira udah selesai."
Dhyo yang mendengar suara Lex justru semakin tidak terkendali. Sementara Andre sampai membalikkan badan, berusaha mengatur nafas, tetapi usahanya sia-sia.
Melihat tiga sahabatnya kini kompak tertawa tanpa alasan yang jelas, Faris hanya berdiri mematung. Sebelah alisnya terangkat sedikit lebih tinggi. "Sumpah, kalian bertiga kerasukan?" Ujarnya heran. "Ketawa mulu kayak orang kurang kerjaan."
Lex berusaha menarik nafas panjang untuk menghentikan tawanya. Meski begitu, sudut bibirnya masih terus berkedut. "Bukan... Bukan gue," ujarnya sambil menggeleng kecil. "Lo tanya aja tuh sama Dhyo."
Faris langsung mengalihkan pandangannya ke arah Dhyo. Kini, rasa bingungnya berubah menjadi rasa curiga. Ada sesuatu yang jelas-jelas disembunyikan oleh tiga sahabatnya itu. Dan entah mengapa, firasatnya berubah menjadi tidak enak.
Dhyo akhirnya berhasil mengatur nafasnya, meski sisa tawanya masih terdengar pelan. Dengan senyum usil yang belum juga hilang, ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponsel.
"Woi, Ris," ujar Dhyo sambil mengangkat ponsel itu. "Mau lihat sesuatu, gak?"
Faris menyipitkan mata, "Apaan?"
Tanpa banyak bicara, Dhyo menekan layar ponselnya. Beberapa detik kemudian, sebuah video mulai berputar. Tentu saja, ponsel itu tidak diberikan pada Faris. Dhyo tetap memegangnya sambil mengarahkan layar ke depan wajah sahabatnya itu.
Awalnya, Faris hanya menatap datar. Namun sesaat kemudian, wajahnya membeku. Di layar ponsel, tampak jelas lapangan sekolah. Rekaman itu diambil dari lantai tiga gedung tepat dari arah XII IPA D yang menghadap ke lapangan olahraga.
Dari balik rekaman itu bahkan terdengar suara tawa seseorang yang jelas-jelas adalah Dhyo sendiri. "Hahaha, Ndre, Lex! Lihat, woi!"
Video berhenti tepat setelah ketua kelas ikut tersungkur. Rahang Faris langsung mengeras. Tanpa aba-aba, ia langsung mengulurkan tangan hendak merebut ponsel itu. "Hapus!"
Namun, Dhyo sudah lebih dulu menarik ponselnya ke belakang punggung. "Hapus apaan?!" Sahut Dhyo, sisa tawa masih ada di wajahnya. "Ini aset berharga, bro!"
Faris masih berusaha mengambil ponsel Dhyo. "Hapus videonya!"
Dhyo terkekeh sambil terus menghindar, sementara Lex yang berdiri di samping malah menyeringai lebar. "Gak semudah itu, bos!" Celetuk Lex santai.
Andre yang sejak tadi hanya menjadi penonton mengangkat kedua tangannya sambil terkekeh. "Jangan libatkan gue," ujarnya di sela-sela tawa. "Gue cuma ikutan nonton."
Padahal, semua ini berawal dari satu jam yang lalu. Saat kelas XII IPA B sedang mengikuti pelajaran olahraga, kelas XII IPA D justru mendapat jam kosong karena guru mata pelajaran mereka berhalangan hadir.
Merasa bosan di dalam kelas, Dhyo sempat iseng berdiri di dekat jendela yang menghadap langsung ke lapangan sekolah. Awalnya, ia hanya berniat merekam suasana olahraga untuk dijadikan unggahan iseng di media sosial. Namun siapa sangka, yang terekam justru momen paling memalukan dalam hidup Faris.
Tatapan Faris semakin tajam, dingin, dan menusuk. Rahangnya juga semakin mengeras, sementara tangannya mulai mengepal di sisi tubuh.
"Hapus," hanya satu kata. Nada suaranya rendah, tetapi cukup membuat beberapa murid di sekitar mereka spontan menoleh.
Dhyo yang berhadapan dengan Faris sempat terdiam beberapa saat. Lalu, tawanya kembali pecah. Lex malah menyandarkan punggungnya ke dinding sambil menyeringai lebar.
Tatapan dingin Faris sama sekali tidak membuat mereka gentar. Maklum saja, sudah bertahun-tahun berteman, ekspresi seperti itu nyaris menjadi pemandangan sehari-hari bagi geng mereka.
"Waduh," gumam Lex pura-pura takut. "Babang Faris udah marah, cuy!"
Andre ikut mengangguk pelan, meski jelas masih menahan tawa. Faris tetap menatap Dhyo tanpa berkedip. "Gue bilang sekali lagi, hapus."
Dhyo mengangkat bahunya santai. "Kalau enggak?"
Faris bahkan belum sempat menjawab. Lex tiba-tiba menyela dengan wajah penuh ide usil. "Eh, Dhyo. Upload aja ke Instagram. Lumayan, konten bagus nih."
"Ide bagus!" Seru Dhyo sambil mengangguk-angguk. "Entar caption-nya, efek domino live action!"
Lex tertawa sampai memukul-mukul dinding. Sementara Andre yang semula dikira akan menjadi penengah justru mengangguk setuju. "Gue vote upload."
Faris menatap ketiganya bergantian, kesabarannya benar-benar sedang diuji. "Jadi, kalian memang udah gak sayang nyawa?"
Kalimat itu justru membuat mereka bertiga kembali tertawa. Melihat tidak ada satu pun yang berpihak padanya, Faris langsung bergerak cepat. "Woi!"
Tangan Faris kembali menyambar ponsel di tangan Dhyo. Namun, refleks Dhyo ternyata jauh lebih cepat. Ia langsung melompat dari bangkunya. Belum sempat Faris menangkapnya, Dhyo sudah berbalik badan.
"Lariiii!" Seru Dhyo. Dalam sekejap, ia sudah berlari keluar kelas secepat kilat sambil menggenggam ponselnya erat-erat. "Toloonngg! Ada maling hp!" Teriaknya asal sambil ngakak.
Faris langsung mengejar tanpa berpikir panjang. "Balik, woi! Hapus videonya!"
Suara langkah kaki mereka menggema di koridor. Di belakang, Lex sampai menepuk meja karena terlalu keras tertawa. "Lari, Dhyo! Jangan kasih celah!"
"Fix, ini bakal seru," gumam Andre yang masih tertawa.
Tanpa berpikir panjang, Lex langsung ikut berlari keluar kelas. "Woi, Ndre! Buruan, kita nonton!"
Andre menggeleng geli, lalu ikut menyusul. Tak sampai beberapa detik, koridor lantai tiga berubah menjadi arena kejar-kejaran dadakan. Dhyo berlari paling depan sambil tertawa terbahak-bahak, Faris mengejar di belakangnya dengan wajah merah padam. Sementara Lex dan Andre menyusul di belakang sebagai penonton yang justru semakin memperkeruh keadaan.
Suasana yang semula dipenuhi murid-murid yang sedang menikmati waktu istirahat mendadak berubah riuh.
"Eh, itu mereka kenapa?"
"Malah main kejar-kejaran di koridor."
"Heh, hati-hati dong!"
Beberapa murid spontan menepi agar tidak menjadi korban tabrakan. Ada yang menggeleng heran, ada pula yang langsung kesal melihat tingkah GMA yang tidak ada habisnya.
Sementara di kantin sekolah, Tya akhirnya tiba di kantin setelah selesai membantu Bu Rina di ruang UKS. Ia langsung menghampiri meja Starla dan Megan yang sedari tadi sudah menunggunya.
"Hai Tya," sapa Megan dengan seutas senyum.
"Udah selesai?" Tanya Starla.
Baru saja Tya hendak duduk, bahkan belum sempat mengatakan sepatah kata pun, suara keributan dari arah lantai tiga terdengar cukup jelas hingga ke area kantin. Refleks, Tya menghentikan gerakannya dan mendongak ke arah gedung sekolah dengan raut wajah penuh tanda tanya.
Starla ikut mendongak, berusaha mencari sumber keributan itu. "Itu apaan, sih?" Gumamnya heran. "Ribut banget di lantai tiga."
Megan yang sedang membuka botol minumnya ikut menoleh ke arah gedung sekolah. "Jangan-jangan ada yang berantem?"
Tya tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terarah ke lantai tiga. Di sela-sela suara riuh itu, samar-samar terdengar suara seseorang yang berteriak. Disusul gelak tawa yang familiar.
"DHYOOO! BALIKK, WOII!"
Tya menghela nafas panjang. "Fix, itu Faris sama gengnya." Ia menggeleng kecil, lalu kembali berujar dengan nada pasrah. "Emang bener, GMA itu minus akhlak semua."
Megan dan Starla langsung menoleh bersamaan. "Tapi," lanjut Tya sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Gue sampai sekarang gak tau GMA itu singkatan apa."
Hening beberapa saat. Detik berikutnya, Starla tiba-tiba memetik jari. "Geng Motor... Ambyar?" Ujarnya spontan.
"Ppfftt!" Megan hampir saja tersedak minumannya. Lalu, ia justru tertawa.
Sementara Tya langsung menutup mulutnya, ia ikut tertawa karena jawaban spontan dari sahabatnya itu.
Starla yang melihat reaksi keduanya malah ikut tertawa. "Lah, salah ya?"
Tya menggeleng sambil masih terkekeh. "Entahlah," ujarnya di sela-sela tawa. "Tapi, kayaknya cocok juga."
Megan yang lebih dulu berhasil meredakan tawanya akhirnya menggeleng pelan. Ia kemudian mendorong sebuah mangkuk bakso hangat yang sejak tadi berada di depannya ke arah Tya. Di sampingnya, segelas es teh manis ikut digeser mendekat.
"Nih, buat lo," ujar Megan sambil tersenyum. "Tadi gue sama Starla udah pesenin."
Tya sempat sedikit bingung. Tatapannya bergantian menatap mangkuk bakso itu, lalu kembali menatap dua sahabatnya. "Lho, serius?"
Starla mengangguk santai, "Iya. Tadi lo kan bantu Bu Rina. Takutnya pas balik, antreannya udah panjang."
"Tenang aja," sambung Megan. "Udah dibayarin juga sama Starla."
Mata Tya langsung membulat. "Eh, jangan gitu dong. Nanti gue ganti."
Starla langsung mengibaskan tangan. "Santai aja kali, Ty. Kita udah sahabatan lama, masih aja gak enakan."
"Iya, Ty," sahut Megan. "Kita ini sahabat, udah sepantasnya saling berbagi."
Sudut bibir Tya perlahan terangkat membentuk senyum hangat. "Hmm, thanks ya."
"Gak usah sungkan kali, Ty," ujar Starla. "Buruan dimakan. Entar udah masuk, lho."
Tya mengangguk kecil, lalu menarik mangkuk bakso itu mendekat. Kehangatan kuah yang masih mengepul seolah langsung mengusir rasa lelah setelah membantu Bu Rina di UKS.
Di sudut kantin, obrolan ringan tiga sahabat itu kembali mengalir di sela-sela makan siang mereka. Sementara suara keributan di lantai tiga perlahan mulai mereda, meski sesekali masih terdengar samar di kejauhan.
Tak ada yang tahu bagaimana akhir dari kejar-kejaran itu. Yang jelas, bagi sebagian besar murid sekolah itu, hari ini kembali menjadi satu lagi hari yang diwarnai tingkah absurd empat sahabat yang seolah tak pernah kehabisan ide membuat kekacauan.
^^^Bersambung...^^^