NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12: "Kau Adalah Ibu Peri Pelindungku"

Kehangatan dari malam dongeng itu masih membekas jelas di dinding-dinding kediaman keluarga Oliver ketika fajar menyingsing.

Setelah berbagi memori tentang mendiang istrinya, Oliver tampak lebih tenang, seolah-olah sebagian batu besar yang selama dua tahun ini menghimpit dadanya telah luruh.

Pagi itu, ia bahkan menyempatkan diri mengecup kening Yoyo sebelum berangkat ke kantor—sebuah gestur sederhana yang membuat putrinya tersenyum ceria sepanjang pagi.

Hari itu, Viona memutuskan untuk mengajak Yoyo melakukan aktivitas baru di ruang keluarga lantai satu.

Mereka menggelar tikar besar di dekat jendela kaca yang menghadap ke taman belakang, dikelilingi oleh tumpukan kertas lipat warna-warni, lem, dan gunting plastik bertema animasi.

Di samping mereka, Goldie merebahkan tubuh besarnya, membiarkan ekor tebalnya sesekali dijadikan sandaran oleh Yoyo.

"Bibi Viona, lihat! Aku membuat burung camar!"

seru Yoyo riang, memamerkan selembar kertas biru yang dilipat asal-asalan hingga lebih mirip pesawat kertas yang penyok.

Viona tertawa renyah, sebuah suara yang kini memenuhi mansion dengan kehidupan.

"Wah, Camar yang sangat unik, Putri Yoyo. Dia pasti bisa terbang sangat tinggi karena punya sayap yang besar."

Yoyo terkikik geli, menempelkan hasil karyanya di atas sebuah karton besar yang mereka sebut sebagai "Peta Kerajaan Bahagia".

Sejak Viona mengenalkan konsep permainan imajinatif, Yoyo tidak lagi terjebak dalam delusi ketakutan.

Trauma emosionalnya dialihkan menjadi kreativitas.

Anak itu mulai melihat dunia luar bukan sebagai tempat kecelakaan yang menakutkan, melainkan sebagai petualangan baru yang menanti untuk dijelajahi.

Di tengah keasyikan mereka, Pak Pelayan melangkah masuk ke ruang keluarga.

Wajah tuanya yang biasanya tenang kini memancarkan riak kecemasan yang samar.

Ia memegang sebuah tablet komunikasi rumah tangga dan membungkuk sopan di hadapan Viona.

"Nyonya Viona,"

panggil Pak Pelayan dengan suara yang sengaja direndahkan agar tidak mengejutkan Yoyo.

"Ada seseorang di depan gerbang utama. Penjaga pos depan menahannya, namun dia terus berteriak dan menuntut untuk bertemu dengan Anda."

Jantung Viona berdegup sedikit lebih kencang. Firasat buruk langsung menyergap benaknya.

"Siapa, Pak Pelayan?"

"Ibu dari mantan suami Anda. Nyonya Lin," jawab Pak Pelayan datar.

"Dia membawa beberapa dokumen dan bersikap cukup agresif kepada petugas keamanan."

Mendengar nama "Nyonya Lin", tubuh Viona sempat menegang secara refleks.

Memori kelam tentang wanita paruh baya yang selalu menunjuk wajahnya, memaki ibunya, dan menuduhnya sebagai pembawa sial serta wanita gila penyakitan langsung berputar di kepalanya.

Tangan Viona yang memegang kertas lipat mulai bergetar kecil.

Yoyo, yang memiliki radar sensitif terhadap perubahan emosi orang di sekitarnya, langsung menghentikan kegiatannya.

Ia menatap Viona yang mendadak pucat. Gadis kecil itu merangkak mendekat, lalu menyentuh punggung tangan Viona yang dingin dengan jemari kecilnya yang hangat.

"Bibi Viona? Ada apa? Apakah monster bayangan datang lagi?"

tanya Yoyo, matanya bulat dipenuhi rasa cemas yang tulus.

Melihat tatapan polos Yoyo dan merasakan kehangatan dari sentuhan anak itu, Viona menarik napas dalam-dalam.

Kata-kata Oliver dari malam sebelumnya mendadak bergema di kepalanya:

“Kau aman di sini. Tidak ada yang bisa menyakitimu lagi di rumah ini.”

Viona adalah seorang ibu peri bagi Yoyo, dan seorang ibu peri tidak boleh menunjukkan kelemahan di depan putrinya.

Ia memaksakan sebuah senyuman teduh, menggenggam tangan Yoyo balik.

"Tidak apa-apa, Sayang. Hanya ada tamu yang salah alamat di depan. Bibi akan menyelesaikannya sebentar. Yoyo tetap di sini bermain dengan Goldie, ya?"

"Ksatria Emas akan menjaga gerbang dalam!"

cetus Yoyo dengan berani, menepuk dada Goldie yang langsung menegakkan telinganya seolah mengerti perintah tersebut.

Viona berdiri, merapikan rok panjangnya, dan menatap Pak Pelayan dengan tatapan yang kini dipenuhi keteguhan.

"Biarkan dia masuk ke area lobi depan, Pak Pelayan. Saya tidak ingin dia membuat keributan di depan gerbang dan mengganggu tetangga. Tapi pastikan pengawal berjaga di sekitar ruangan."

"Baik, Nyonya. Segera saya laksanakan,"

jawab Pak Pelayan, menyiratkan rasa hormat atas keberanian sang nyonya baru.

Beberapa menit kemudian, Viona berdiri di lobi utama mansion yang megah.

Pintu ganda berbahan kayu terbuka, dan seorang wanita paruh baya dengan pakaian mewah yang tampak berantakan melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Itu adalah Ibu Lin.

Wajah Ibu Lin yang biasanya dipenuhi keangkuhan kini tampak kuyu, dengan kantung mata yang menghitam dan riasan yang sedikit luntur.

Begitu matanya menangkap sosok Viona yang berdiri anggun di bawah lampu kristal lobi, kemarahan dan keputusasaan langsung meledak dari dirinya.

"Viona! Kau wanita ular!"

teriak Ibu Lin, suaranya melengking memecah keheningan lobi.

Ia mencoba menerobos maju, namun dua pengawal berbadan tegap berbaju hitam langsung bergeser, membentuk dinding kokoh yang menghalanginya dalam jarak dua meter dari Viona.

"Hentikan keributan ini, Nyonya Lin. Anda berada di kediaman keluarga Oliver,"

ucap Viona, suaranya terdengar sangat tenang, dingin, dan penuh wibawa—sebuah nada bicara yang tanpa sadar ia tiru dari Oliver.

"Kediaman Oliver?! Kau bangga sekarang, hah?!"

Ibu Lin tertawa histeris, melemparkan sebendel dokumen ke atas lantai marmer hitam di depan kaki pengawal.

"Lihat apa yang dilakukan suami barumu itu! Sejak kemarin pagi, seluruh investor menarik modal dari perusahaan Lin! Bank memblokir rekening kami, dan semua mitra bisnis memutuskan kontrak sepihak! Keluarga kami diambang kebangkrutan total dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam! Ini pasti perbuatanmu, bukan?! Kau memfitnah kami di depan Tuan Oliver!"

Viona melirik dokumen-dokumen yang berserakan di lantai.

Itu adalah surat pemutusan hubungan kerja sama dan tuntutan ganti rugi dari berbagai pihak korporasi. Oliver benar-benar menepati janjinya.

Pria itu menghancurkan keluarga Lin tanpa sisa, membalaskan setiap tetes air mata dan penderitaan yang pernah Viona rasakan selama tiga tahun.

"Saya tidak memfitnah siapa pun,"

sahut Viona datar, menatap Ibu Lin tanpa rasa takut sedikit pun.

"Apa yang terjadi pada keluarga Anda adalah akibat dari kesombongan dan kekejaman Anda sendiri. Anda memperlakukan manusia seperti sampah, dan sekarang dunia memperlakukan Anda dengan cara yang sama."

"Kau—! Kau wanita gila tidak tahu diri! Kau lupa siapa yang menampungmu saat ibumu meninggal?! Siapa yang memberimu makan?!"

Ibu Lin berteriak kalap, wajahnya memerah karena amarah yang memuncak.

"Kau pura-pura suci sekarang setelah merayu pria kaya! Tuan Oliver pasti tidak tahu kalau kau adalah wanita penyakitan yang cacat mental! Jika dia tahu kau gila dan harus minum obat penenang setiap malam, dia akan membuangmu ke jalanan seperti yang dilakukan anakku!"

Mendengar kata "wanita gila" dan ancaman bahwa ia akan dibuang lagi, ingatan buruk Viona sempat mencoba menariknya kembali ke dalam kegelapan.

Namun sebelum rasa cemas itu sempat menguasai tubuhnya, sebuah suara langkah kaki kecil terdengar berlari cepat dari arah koridor dalam.

"Tap! Tap! Tap!"

Yoyo tiba-tiba muncul di lobi utama.

Anak kecil itu mengabaikan larangan Viona untuk tetap di ruang keluarga.

Di belakangnya, Goldie berlari kencang, menggonggong rendah dengan nada peringatan yang belum pernah terdengar sebelumnya.

"Jangan berteriak pada Bibi Vionaku!"

seru Yoyo dengan suara lantang.

Anak berusia lima tahun itu langsung berdiri di depan Viona, merentangkan kedua tangan kecilnya yang pendek seolah-olah sedang menjadi perisai hidup untuk melindungi ibunya.

Wajahnya yang bulat dipenuhi keberanian yang luar biasa.

"Bibi Viona bukan wanita gila! Kau yang jahat! Pergi dari rumahku!"

Goldie berdiri di samping Yoyo, dadanya membusung, dan sepasang mata cokelatnya menatap tajam ke arah Ibu Lin sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi—seorang ksatria sejati yang siap menerkam musuh demi sang Putri dan Ratu.

Ibu Lin tertegun memandang anak kecil dan anjing besar yang mendadak menyerangnya.

"Siapa anak kecil ini...?"

Viona merasakan dadanya bergetar hebat, namun kali ini sepenuhnya karena rasa haru yang tak terbendung.

Yoyo—anak yang selama dua tahun mengurung diri karena ketakutan terhadap dunia luar—kini justru melangkah keluar dengan berani, menjadi perisai pelindung untuk dirinya.

Anak yang ia sembuhkan dengan kelembutan, kini berbalik melindunginya dengan keberanian.

Viona berlutut di belakang Yoyo, melingkarkan kedua lengannya di bahu mungil anak itu, menariknya ke dalam dekapan yang aman.

"Pak Pelayan," perintah Viona dengan nada dingin yang mutlak.

"Usir wanita ini dari properti kami sekarang juga.

Dan pastikan tim hukum Oliver Group menambahkan tuntutan atas pelecehan dan masuk tanpa izin ke dalam daftar tuntutan keluarga Lin."

"Baik, Nyonya Besar," jawab Pak Pelayan dengan senyuman dingin.

Dua pengawal langsung mencengkeram lengan Ibu Lin dengan tegas, menyeret wanita paruh baya yang terus berteriak histeris dan memaki itu keluar dari pintu lobi, sebelum akhirnya pintu kayu ek besar itu ditutup rapat, mengembalikan keheningan yang damai ke dalam mansion.

Suasana lobi kembali sunyi. Viona masih berlutut di lantai, memeluk Yoyo erat-erat.

Tubuhnya sedikit gemetar, bukan karena serangan panik, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa.

Ia membenamkan wajahnya di leher hangat Yoyo.

"Yoyo... kenapa Yoyo keluar? Bukankah Bibi menyuruh Yoyo tetap di dalam?" bisik Viona, suaranya parau menahan tangis.

Yoyo melepaskan pelukan Viona sedikit, lalu menangkup kedua pipi pucat Viona dengan tangan kecilnya yang mungil.

Mata bulat anak itu menatap Viona dengan kejernihan yang menyembuhkan.

"Karena Bibi Viona adalah Ibu Peri Pelindungku," ucap Yoyo dengan nada yang sangat serius dan tulus.

"Bibi sudah mengusir monster bayangan dari kamarku, dan Bibi membuatkan makanan yang enak untukku. Jadi, kalau ada monster jahat yang datang berteriak pada Bibi, Yoyo dan Ksatria Emas yang akan mengusirnya! Yoyo tidak akan membiarkan siapa pun membuat Bibi Viona menangis!"

Mendengar kata-kata "Ibu Peri Pelindungku" keluar dari mulut Yoyo, air mata Viona akhirnya luruh sepenuhnya.

Ia tersenyum di sela-sela tangisnya, mengecup kedua telapak tangan kecil Yoyo bergantian.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Viona merasa bahwa eksistensinya di dunia ini begitu berharga dan dilindungi dengan begitu tulus.

Goldie menjulurkan lidahnya, menjilat air mata di pipi Viona, memicu tawa kecil di antara mereka berdua.

Tepat pada saat kehangatan itu tercipta, pintu lobi kembali terbuka perlahan.

 Sosok tegap Oliver melangkah masuk.

Pria itu tampaknya langsung pulang dari kantor begitu menerima laporan darurat dari Pak Pelayan tentang kedatangan Ibu Lin.

Jas biru dongker miliknya tampak sedikit berantakan karena ia bergerak tergesa-gesa.

Oliver menghentikan langkahnya, menatap pemandangan di depannya:

dokumen yang berserakan di lantai, putrinya yang berdiri dengan gagah, dan Viona yang sedang menghapus air matanya sambil tersenyum di atas lantai marmer.

Oliver berjalan mendekat, lalu berlutut di samping mereka berdua.

Tangannya yang besar terulur, merangkul bahu Viona dan Yoyo sekaligus, menarik mereka berdua ke dalam dada bidangnya yang hangat dan kokoh.

"Apakah kalian berdua baik-baik saja?"

tanya Oliver, suaranya rendah, berat, dan sarat akan kekhawatiran yang mendalam yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

"Kami baik-baik saja, Ayah!" seru Yoyo dengan bangga dari dalam dekapan.

"Aku dan Goldie baru saja mengalahkan monster nenek sihir yang berteriak pada Bibi Viona!"

Oliver melirik Viona yang berada di dalam pelukannya.

Tatapan mata elangnya melembut sempurna saat melihat bahwa wanita itu tidak mengalami serangan panik berkat keberanian putrinya.

"Kau melakukannya dengan baik, Yoyo. Kau adalah putri Ayah yang paling berani,"

bisik Oliver, mengecup puncak kepala putrinya, sebelum akhirnya pandangannya tertuju lurus ke dalam manik mata jernih Viona.

"Dan untukmu, Viona... maafkan aku karena membiarkan sampah dari masa lalumu mengotori rumah ini. Aku memastikan bahwa setelah hari ini, keluarga Lin tidak akan pernah memiliki nama atau suara lagi di kota ini."

Viona tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan sambil menyandarkan kepalanya sedikit di bahu Oliver, menikmati rasa aman yang melimpah yang diberikan oleh pria itu dan putrinya.

"Tidak apa-apa, Oliver. Justru karena kejadian hari ini... aku menyadari satu hal,"

bisik Viona tulus, menatap Yoyo yang kini sedang memeluk leher Goldie.

"Aku datang ke rumah ini untuk menjadi pelindung bagi Yoyo di bawah selembar kertas kontrak. Tapi hari ini, anakmu dan dirimu... telah menjadi pelindung sejati bagi jiwaku yang rapuh."

Oliver tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan mempererat pelukannya di bahu Viona, menyalurkan kehangatan dan komitmen yang tak tertulis yang melampaui batas kontrak pernikahan mereka.

Di lobi mansion yang megah dan kini sepenuhnya damai itu, status Viona sebagai

"Ibu Peri Pelindung"

 bukan lagi sekadar dongeng fiksi—melainkan sebuah realita baru yang telah mengakar kuat di dalam hati sang tirani dingin dan putrinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!