Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan yang Mulai Terasa
Dalam temaram cahaya lampu kamar, Ayu melingkarkan tangannya pada bahu Arhan, menatap suaminya itu dengan tatapan intens, binar matanya penuh kemenangan. Wanita licik itu telah mengalahkan dua wanita sekaligus dalam hidup Arhan. Pertama Dira dan yang kedua ibu Arhan sendiri yang sengaja ditinggal beberapa hari sampai dengan ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.
Arhan balas menatap wajah Ayu, lamat-lamat. Pria itu mulai merasakan perubahan perasaanya pada Ayu, getaran dalam dada nya kini mulai terkikis, wajah Ayu yang selama selalu menarik dalam pandangannya kini terlihat seperti biasa aja. Hati yang terpaut dengan Ayu kini mulai melonggar.
"Mas..." suara Ayu yang dibuat semanja mungkin, sarat akan keinginan yang akan diutarakan dan harus terpenuhi oleh Arhan.
Arhan menyunggingkan senyumnya, terkesan hambar dan dipaksakan. Setelah sidang perceraian bersama Dira hari itu, Arhan merasakan semangat yang ada didalam dirinya pun ikut hilang. Bayangan Dira yang menemaninya selama lima tahun, selalu kembali terbayang.
Wajah mungil dengan senyum tipis manis itu selalu datang tanpa diundang. Bahkan Arhan sering memimpikan Dira yang datang dengan membawa menggendong seorang bayi mungil yang sangat lucu.
"Iya, sayang?" Arhan mengelus pelan kepala Ayu, mengisyaratkan rasa cinta yang masih dalam dari lubuk hatinya. Arhan yang denial dengan perasaanya.
"Kamu udah resmi kan cerai sama wanita yang tidak pernah kamu cinta itu, kamu bahagia gak mas?" Ayu membelai pelan pipi Arhan.
"Hem..." seketika tubuh Arhan membeku, apa dia merasakan kebahagiaan setelah melepas wanita yang menemani hidupnya selama lima tahun. Dalam relung hatinya, ia merasa setitik kebahagian nya yang ikut hilang, hampa, sepi dan begitu senyap.
"Seneng dong sayang, mas bisa sepenuhnya nikmatin hidup sama kamu." begitu terasa kaku, Ayu merasa kejanggalan dalam gerak-gerik suaminya itu. Tapi Ayu tidak ingin membahas akan hal itu, yang penting ia telah menjadi sangat penguasa sesungguhnya dirumah mewah dan besar milik Arhan ini. Bahkan Ayu sudah menguasai seluruh akses uang di ATM Arhan.
"Yaudah aku mau istirahat dulu mas, katanya kamu lapar, tadi aku udah isi kulkasnya loh dibawah. Sekalian bikinin aku spageti aku juga lapar," ujar Ayu, yang kemudian merebahkan tubuhnya pada kasur yang empuk.
Arhan mematung diambang pintu kamar, sorot matanya tertuju pada Ayu yang sedang terbaring nyaman diatas ranjang sambil memainkan ponselnya, serta semua kemauannya harus Arhan penuhi dengan cepat. Keadaan berbalik, dulu Arhan yang diperlukan bak raja oleh Dira, sekarang Arhan yang selalu dimanfaatkan oleh Ayu.
Arhan berjalan menuju dapur yang sudah gelap. Matanya menatap sendu setiap sudut dapur yang tersimpan banyak kenangan bersama sang ibu dan Dira disana. Bayang Dira yang bersenandung kecil sambil mengaduk masakan diatas wajan masih terlihat jelas, Dira yang selalu memasak masakannya, Dira yang selalu memenuhi kebutuhan nutri Arhan dengan baik. Mencatat jadwal masakan kesukaan Arhan, semuanya terjadwal dan terstruktur dengan baik.
Pandangan Arhan beralih pada meja makan, kosong, sepi, gelap serta hening yang sangat mencekam. Tidak ada makan hangat yang terhidang disana, tidak ada teko yang berisi teh dengan aroma Jasmin kesukaannya. Semua itu telah hilang setelah Dira pergi. Tidak ada senyuman tulus Dira yang menyiapkan makan malam untuknya.
Semua masih terbayang jelas dalam pandangan Arhan. Tiga bulan sudah Dira pergi meninggalkannya, bukannya bayangan itu menghilang dengan seiring waktu, tapi bayangan itu justru semakin terlihat dalam pandangannya.
Arhan menarik nafasnya, ada getaran aneh dalam rongga dadanya, seperti rasa sedih yang tertahan.
Arhan mulai bergerak, membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan masakan disana.
'Mas...Dira udah masak loh...'
Brak...
Arhan menutup keras pintu kulkas dengan satu kali hentakan. Suara Dira terdengar begitu jelas pada telinganya, sontak Arhan menggulir pandangannya pada setiap sudut. Berharap ia dapat menemukan sosok wanita pemilik suara halus itu. Tapi nihil, suasana dapur itu masih tetap sama kosong dan sepi.
*
"Satu suap lagi, nanti tante Ra buatkan pancake dengan selai blueberry kesukaan Lara." Dira mencoba membujuk Lara untuk makan, karena harus meminum obat. Lara terserang flu dan batuk.
Lara yang sedang sibuk menonton televisi kartun kesukaannya itu sontak menatap Dira dengan tatapan berbinar. "Satu suap lagi ya tante." Lara dengan tatapan memohon.
"Oke, setelah ini Lara minum obat dan bobo, nanti siang tante Ra buatkan pancake nya."
"Makasih tante, Ra."
Tidak lama, Arya berjalan dengan langkah tegapnya. Jas kerja berwarna biru tua telah melekat rapi pada tubuhnya, rambut yang terpotong rapi menambah ketampanan pada wajah pria matang. Sepatu pentofel yang mengkilat mengetuk tegas pada lantai marmer yang berkilau, menciptakan gema yang terasa sangat mahal dirumah mewah.
Suara ketukan sepatu yang teratur dan intens itu membuat Dira yang sedang menyuapkan nasi kedalam mulut Lara menoleh, seketika pergerakan Dira terasa kaku, canggung selama tiga bulan tinggal dirumah Arya, Dira mulai merasakan rasa yang berbeda didalam hatinya.
"Lara, papa berangkat kerja dulu ya. Kamu istirahat, nanti papa kasih hadiah yang banyak buat Lara." ucap Arya, tubuh tegapnya berjongkok disamping Dira, di hadapan Lara yang sedang bersandar pada sofa.
"Oke, papa..." Lara kembali fokus dengan tontonan kesukaannya.
Sementara Arya, sorot matanya kini mulai beralih pada wanita yang sedang duduk sambil memangku mangkuk kecil bekas Lara makan. "Makasih ya Ra..." sorot mata itu begitu intens menatap wajah Dira yang sudah terlihat segar lagi ini.
Membuat jantung Dira berdebar tak karuan, perhatian Arya selam ini, secara diam-diam telah menumbuhkan benih didalam hati Dira.
"Sama-sama mas, anggap saja sebagai balas Budi." ucap Dira disertai dengan kekehan diakhirnya.
"Gak dibalas pun gapapa Ra." Arya sambil menaikan sebelah alisnya, kemudian bergerak untuk mencium kedua pipi gembul putrinya.
"Ra..."
"Hemmm, iya mas?" Dira mendongak, menatap tubuh jangkung didepannya.
"Pipi gembulnya kok udah hilang si, kamu kemanakan pipi gembul yang sangat lucu itu, tapi sayang walaupun pipi gembul itu masih ada tapi mas sudah tidak lagi menciumnya."
Deg.
ketika jantung Dira mengentak kuat lagi, disertai desiran panas dipipi.
"Yaudah mas berangkat dulu, mas titip Lara ya.." ucap Arya, sambil memupuk pelan puncak kepala Dira.
Bersambung