NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: tamat
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengganti

Naomi berdiri di depan gerbang besar keluarga Atlas, melambaikan tangan kepada ketiga sahabatnya yang masih berada di dalam mobil.

“Terima kasih sudah mengantarkanku,” ucap Naomi sambil tersenyum. “Masuklah dulu. Kita minum teh sebentar.”

Sonya yang duduk di kursi pengemudi menoleh dan tersenyum lembut. Namun sebelum ia sempat menjawab, Timmy sudah lebih dulu menyahut dengan wajah dramatis.

“Tidak, tidak. Aku tidak mau masuk,” katanya cepat. “Di dalam sana ada harimau ganas. Aku masih ingin hidup.”

Yura langsung menahan tawa. “Harimau ganas apanya? Itu cuma Kak Max.”

Timmy menggeleng mantap. “Justru itu. Tatapannya saja sudah cukup membuatku merasa seperti mangsa.”

Naomi mengerutkan keningnya. “Kalian ini berlebihan sekali.”

Sonya terkekeh pelan. “Maaf, Na. Lain kali saja, ya. Kami juga masih ada urusan.”

Naomi akhirnya mengangguk. “Baiklah. Hati-hati di jalan.”

“Iya. Kamu juga jangan macam-macam,” balas Yura sambil tersenyum penuh arti.

Mobil Sonya perlahan meninggalkan gerbang Atlas. Naomi memandangi mereka hingga kendaraan itu menghilang di tikungan, lalu ia berbalik dan melangkah masuk ke halaman luas mansion.

Begitu memasuki ruang tamu, langkahnya terhenti.

Barang-barang belanjaan yang tadi dikirim lebih dulu telah memenuhi hampir seluruh ruangan. Kardus pakaian, kotak makanan, perlengkapan, semuanya tertata rapi namun jumlahnya memang tidak sedikit.

Di tengah ruangan, Nyonya Arumi dan Tuan Bastian sudah duduk menunggunya.

“Naomi,” panggil Nyonya Arumi lembut.

Naomi langsung menegakkan tubuhnya. “Ma … Pa .…”

Tuan Bastian menatap tumpukan barang itu lalu kembali pada Naomi. “Boleh Papa tahu, untuk apa semua ini?”

Naomi meringis kecil, mengira orang tua angkatnya marah. “Maaf, Pa … Ma … Naomi mungkin terlalu banyak membeli.”

Nyonya Arumi buru-buru menggeleng. “Bukan begitu maksud Mama. Kami tidak marah. Mama hanya ingin tahu, kamu berencana apa?”

Tuan Bastian menimpali dengan nada tenang, “Apakah kamu ingin menyumbang ke panti asuhan? Atau ingin membuka usaha kecil? Kalau itu rencananya, Papa bisa membantu menyiapkannya.”

Naomi terdiam sejenak. Ia menatap kedua orang tua angkatnya itu dengan ragu.

“Bukan untuk itu, Ma, Pa,” ucapnya pelan.

“Kemudian untuk apa?” tanya Nyonya Arumi, keningnya sedikit berkerut.

Naomi menggigit bibir bawahnya. Ia jelas tidak mungkin mengatakan tentang badai salju besar yang akan datang. Tentang dunia yang akan berubah.

Akhirnya ia berkata pelan, “Ma … Pa … percaya pada Naomi?”

Tanpa berpikir panjang, keduanya langsung mengangguk.

“Tentu saja,” jawab Tuan Bastian tegas.

“Kami selalu percaya padamu,” tambah Nyonya Arumi lembut.

Naomi menarik napas panjang. “Kalau begit, biarkan Naomi menyimpan semua ini. Naomi yakin, semua barang ini akan sangat berguna di masa depan.”

Keduanya saling pandang sebentar. Tidak ada keraguan di mata mereka, hanya rasa percaya.

“Baik,” kata Tuan Bastian akhirnya.

“Kalau itu keinginanmu, Mama dan Papa mendukung,” ujar Nyonya Arumi.

Senyum Naomi mengembang lega. “Terima kasih, Ma. Terima kasih, Pa.”

Baru saja suasana menjadi hangat, pintu utama kembali terbuka.

Maximilian Atlas masuk dengan langkah panjang. Jas mahal masih melekat rapi di tubuhnya, meski rambutnya sedikit berantakan, seolah ia baru saja melepas ikatan formalitas setelah hari yang panjang. Aura dinginnya tetap kuat, membuat ruangan terasa berbeda.

Naomi tanpa sadar menahan napas sesaat.

Ding!

Tiba-tiba suara Sila terdengar di sampingnya, berbisik pelan, [“Tampan sekali, bukan, Tuan? Ayo, Nona, jatuh cintalah sedikit saja.”]

Naomi langsung menggelengkan kepala kecil.

“Dasar Sila,” gumamnya dalam hati.

Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Max. Ia mengerutkan keningnya. “Kamu kenaap? Pusing?”

Naomi tersentak. “Tidak … tidak apa-apa.”

Tatapan Max kemudian beralih pada tumpukan barang di ruang tamu. “Semua ini milik siapa?”

Nyonya Arumi menjawab santai, “Milik Naomi. Katanya ingin disimpan.”

Max kembali menatap Naomi sejenak. Tatapannya dalam, sulit ditebak.

“Hm.” Ia hanya mengangguk singkat. “Pastikan tersusun rapi.”

“Baik,” jawab Naomi cepat.

Tanpa berkata lagi, Max berjalan menuju tangga dan naik ke lantai atas menuju kamarnya.

Setelah ia menghilang dari pandangan, Nyonya Arumi tersenyum pada Naomi. “Kamu juga sebaiknya beristirahat. Bersihkan diri dulu.”

“Iya, Ma.”

Naomi menatap sekali lagi barang-barang yang memenuhi ruang tamu itu. Dalam hatinya, ia berjanji semuanya akan menjadi penyelamat saat waktunya tiba.

Dengan langkah mantap, ia berjalan menaiki tangga menuju lantai atas.

*

*

Malam itu suasana mansion Atlas terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu taman menyala lembut, sementara dari lantai dua, cahaya ruang kerja Maximilian masih tampak terang.

Naomi berdiri di depan pintu ruang kerja itu sambil membawa secangkir latte hangat—minuman favorit Max. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya mengetuk pintu.

Tok!

Tok!

Tok!

“Masuk!” terdengar suara berat dan tenang dari dalam.

Naomi membuka pintu perlahan. Max sedang duduk di balik meja kerjanya yang besar, membaca laporan dengan ekspresi datar seperti biasa. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya tergulung rapi, terlihat tangannya yang kekar.

Naomi melangkah mendekat dan meletakkan cangkir di samping tangannya.

“Latte-mu, Kak,” ucapnya pelan.

Max melirik sekilas ke cangkir itu, lalu menatap Naomi. “Ada apa?”

Naomi tersenyum kecil, tetapi jelas terlihat ragu. Tangannya saling bertaut di depan tubuhnya.

“Tidak ada apa-apa,” jawabnya cepat.

Max menutup map laporan dengan tenang. “Naomi.” Ia menegakkan punggungnya. “Katakan saja.”

Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup membuat Naomi merasa tidak mungkin berbohong.

Naomi menghela napas pelan. “Mobil pemberian Kak Max … rusak parah.”

Tangan Max yang semula hendak mengambil cangkir latte itu terhenti sesaat. Namun wajahnya tetap datar. Ia memang sudah mengetahui laporan itu sejak sore tadi. Ia hanya menunggu Naomi mengatakannya sendiri.

“Siapa yang melakukannya?” tanyanya tenang.

Naomi menunduk sedikit. “Carlos dan Viviane.”

Sorot mata Max berubah lebih tajam, meski suaranya tetap stabil. “Bagaimana bisa?”

“Saat aku keluar dari kampus mobilku sudah rusak kak,” jawab Naomi jujur.

Max terdiam beberapa detik. “Lalu?”

Naomi semakin tidak enak. “Tapi … aku juga sudah menghancurkan dua mobil mereka.”

Alis Max terangkat tipis. “Oh?”

“Aku tidak bisa menahan diri,” ucap Naomi pelan. “Aku marah.”

Ruang kerja itu hening sejenak.

Kemudian Max bersandar di kursinya. “Itu tidak sebanding.”

Naomi langsung mengangkat wajahnya. “Maksudnya?”

“Harga mobil milikmu jauh lebih mahal,” jawab Max tenang. “Dua mobil mereka tidak menutup kerugian.”

Naomi tercekat. “Aku tidak memikirkan soal harga.”

Max mengambil latte-nya dan menyesapnya perlahan. “Tidak apa-apa. Nanti aku ganti.”

Naomi langsung menggeleng cepat. “Tidak perlu, Kak. Aku tidak enak. Itu salahku juga.”

“Aku tidak suka penolakan,” potong Max singkat.

Naomi terdiam.

“Atau,” lanjut Max pelan, menatapnya lurus, “kamu mau mengganti mobil itu?”

Naomi mengernyit. “Mengganti dengan uang? Aku bisa—”

“Bukan dengan uang,” sela Max.

Naomi menegang. “Lalu dengan apa?”

Sudut bibir Max terangkat tipis, nyaris tak terlihat. “Nanti aku beri tahu.”

Jantung Naomi berdetak lebih cepat. “Kak Max .…”

Max meletakkan cangkirnya kembali di meja. Tatapannya berubah dingin ketika ia mengingat nama Carlos dan Viviane.

“Lain kali, kalau ada yang merusak milikmu hancurkan sekalian dengan orangnya saja,” katanya santai.

Naomi membeku. “Kak .…”

“Aku tidak bercanda,” lanjutnya tenang. “Kalau mereka berani menyentuhmu, mereka harus siap menanggung akibatnya.”

Naomi menatap Max cukup lama. Di balik wajah datarnya, ia tahu pria itu benar-benar marah.

Namun entah mengapa, bukannya takut, Naomi justru merasa aman.

“Aku tidak ingin membuat masalah lebih besar,” ucap Naomi pelan.

Max menatapnya dalam. “Masalah sudah ada sejak mereka menyentuhmu.”

Suasana kembali hening.

Akhirnya Naomi mengangguk kecil. “Baiklah. Tapi lain kali, aku akan lebih berhati-hati.”

“Bukan berhati-hati,” koreksi Max. “Lebih tegas.”

Naomi tersenyum tipis. “Baik, Kak.”

Max kembali membuka laporannya. “Sudah malam. Istirahatlah.”

Naomi berbalik menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. “Terima kasih karena selalu di pihakku.”

Max tidak mengangkat kepala, tetapi jawabannya terdengar jelas. “Aku selalu di pihakmu.”

Naomi menutup pintu perlahan. Di dalam ruang kerja itu, Max terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengambil ponselnya.

Matanya kembali dingin.

Besok, seseorang harus belajar bahwa menyentuh milik Maximilian Atlas bukanlah pilihan yang bijak.

1
Fahreziy
👣👣👣👣
LENY
AKHIRNYA SEMUA BAHAGIA ❤👍HAPPY ENDING
LENY
VIVIANE MAU MATI PUN GAK BERTOBAT AMPUN MENINGGAL DLM KEBENCIAN TERIMALAH KARMA PERBUATAN JAHATMU😡
LENY
DUH KEL CAESAR AMIT2 LAKI2 PENGECUT PECUMDANG DAN IBUNYA MATRE GAK TAHU MALU UNTUNG NAOMI SADAR SEVERA PUTUSIN JGN MAU DGN LAKI2 PENGECUT GAK PUNYA PENDIRIAN😡😡
LENY
TERLALU BERTELE TELE MAX INI GREGETSN BANGET LIHATNYA🙈
LENY
ITULAH WANITA GOBLOK JAHAT TAHUNYA CUMA BER FOYA FOYA BELANJA OTAK KOSONG RASAKAN KAMU VIVIANE 😡😡🙈🙈
LENY
ANEH MAX INI GAK SUKA NAOMI SAMA COWOK LAIN TAPI DIA PENGECUT GAK BERANI TERUS TERANG DGN PERASAANNYA MAU SAMPE KAPAN DIAM AJA😡🙈
LENY
RASAKAN KAU MAX TERLALU LAMBAN DIBILANG GOBLOK TAPI PINTAR 😅😅
LENY
GREGETAN LIHAT MAX INI SAMPE KAPAN MAU UTARAKAN PERASAANNYA SAMA NAOMI AMPUN DEH 🙈
LENY
TUAN LEON NY RUBY TERLALU GOBLOK GAMPANG DITIPU ULAR BETINA VIVISNE 😅😅😅🙈🙈
LENY
MAX KOK GOBLOK BENER BILANG CINTA AJA SUSAH AMAT KEBURU KIAMAT MAX 🙈
LENY
HA HA HA BARU TAHU RASA KAU VIVIANE WANITA JALANG KAHAT😡😡KELUARGA ELIOS AKAN MENYESAL MANYAYANGI KAMU DAN MENGORBANKAN ANAK KANDUNG SENDIRI 🙈😡
LENY
ZANE GOBLOK HRS NYA MULAI WASPADA DAN CARI TAHU KEBENARANNYA. GAL MUNGKIN 2 ORANG FITNAH MAX DAN NAOMI BUKAN TUKANG FITNAH
LENY
VIVIANE LG GADIS JALANG JAHAT LICIK MENCURI TUNGGULAH KEHANCURAN MU VIVIANE😡😡
LENY
ZANE KL MELAKUKAN PENYELIDIKAN YA HRS DIAM2 LAH KL KETAHUAN SAMA JG BOHONG JGN KAGET KL OMONGAN NAOMI BENAR CECILIA MU BERKHIANAT. KASIHAN ZANE 🙈🙏
LENY
BARU SADAR DASAR KELUARGA GOBLOK BARU TAHU MEMELIHARA ULAR SAMPAH BUSUK DI RUMAH SENDIRI. ANAK KANDUNG JD KORBAN 😡
LENY
BAGUS NAOMI PASTI MEREKA ADA MAUNYA ITU DASAR KEL JULID GAK TAHU MALU 😡😡
LENY
SIIP NY ARUMI SDH RESTU AYO MAX BERGERAK CEPAT 😅❤
LENY
SHINTA MIMPI MAU JADIIN SELENA DGN MAX 😅😅
LENY
BAGUS GOOD JOB NY ARUMI KEREN BENER ❤❤👍BIAR TAHU RASA TUH NY LILY😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!