NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Surat Kuasa Palsu dan Pengkhianatan Hukum

Bab 31: Surat Kuasa Palsu dan Pengkhianatan Hukum

​Malam setelah Hana menjatuhkan talak cerai secara verbal di ruang tengah, rumah mewah itu mendadak menjelma menjadi sunyi yang mencekam. Angin malam yang berembus kencang di luar bergesekan dengan ranting-ranting pohon mangga, menciptakan bayangan-bayangan serupa monster yang menari di dinding kamar utama lantai dua.

​Di dalam kamar yang pengap tanpa pendingin ruangan itu, Hana berbaring miring di atas ranjangnya. Kedua tangannya mendekap perut bawahnya yang sesekali masih berdenyut nyeri pasca-keguguran. Fisiknya yang belum pulih seratus persen, ditambah guncangan batin yang bertubi-tubi, membuat kesadaran Hana berada di titik paling rapuh. Tidurnya tidak pernah nyenyak; ia terus-menerus terjebak dalam mimpi buruk tentang bayinya yang menangis di dalam kegelapan.

​Di bawah bantalnya, tersimpan sebuah map berisi dokumen-dokumen penting: sertifikat tanah ruko warisan almarhum ayahnya, surat kepemilikan hak paten nama dagang "Rasa Hana", serta beberapa lembar saham keluarga. Dokumen-dokumen itu adalah jembatan terakhir yang menghubungkan Hana dengan masa lalunya, sekaligus satu-satunya benteng pertahanan finansial yang ia miliki.

​Namun, Hana tidak pernah menyadari bahwa di balik pintu kamarnya yang tertutup, sepasang mata liar sedang mengintai dengan keserakan yang tak bertepi.

​Di lantai bawah, tepat di dalam kamar tamu yang remang-remang, Adrian duduk di tepi ranjang dengan napas yang memburu kasar. Di hadapannya, Ibu Broto sedang mondar-mandir dengan wajah cemas, sementara Santi berdiri di dekat pintu sembari memegangi sebotol kecil obat tidur cair yang ia beli dari apotek luar secara ilegal.

​"Adrian, kita tidak punya waktu lagi!" bisik Ibu Broto dengan suara yang ditekan, matanya melotot tajam. "Kalau besok pagi pengacara Hana benar-benar datang membawa surat gugatan cerai dan menyita seluruh aset restoran, kita tamat! Ibu tidak mau kembali hidup melarat di kampung! Kamu juga mau dipenjara karena tidak bisa membayar utang bank dua miliar?!"

​Adrian meremas rambutnya sendiri hingga berantakan. "Tapi bagaimana caranya, Bu? Hana memegang semua sertifikat dan dokumen itu di kamarnya. Dia tidak akan pernah mau menandatangani surat pengalihan aset atau penjualan ruko itu!"

​Santi melangkah mendekat dengan senyuman yang teramat tipis dan licik. Ia mendudukkan dirinya di samping Adrian, melingkarkan lengannya di bahu pria itu dengan manja. "Mas Adrian... Santi punya cara. Tadi sore, Santi melihat Mbak Hana meminum obat pereda nyeri pasca-kuret dari dokter. Obat itu efeknya bikin mengantuk berat. Santi sudah menyiapkan cairan penenang tambahan ini. Kita campurkan sedikit ke dalam air hangat yang biasa Mbak Hana minta sebelum tidur."

​Santi meraba saku celananya, mengeluarkan selembar kertas putih kosong yang di bagian bawahnya telah ditempeli meterai sepuluh ribu rupiah.

​"Begitu Mbak Hana tidak sadarkan diri, kita naik ke atas. Mas Adrian ambil dokumen-dokumen itu dari bawah bantalnya. Kita bawa tangan Mbak Hana untuk membubuhkan tanda tangan di atas kertas kosong ini. Dengan tanda tangan asli di atas meterai ini, kita bisa meminta bantuan pengacara Mas Adrian untuk menyulapnya menjadi Surat Kuasa Mutlak Pindah Tangan Aset. Semua ruko, tanah, dan hak paten 'Rasa Hana' akan resmi beralih atas nama Mas Adrian secara hukum," bisik Santi dengan nada suara yang teramat lembut namun mengandung racun yang mematikan.

​Adrian menatap kertas kosong bermeterai itu dengan tubuh yang bergetar. Hatinya bergejolak hebat antara sisa-sisa nurani kelelakiannya dan rasa takut yang teramat sangat akan kemiskinan serta jeruji besi. Ia menatap Santi, melihat bibir merah yang kemarin malam ia lumat dalam gairah durjana.

​"Apakah... apakah ini aman, Santi?" tanya Adrian dengan suara parau, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja merencanakan perampokan terbesar terhadap istrinya yang sedang berduka.

​"Tentu saja aman, Mas. Pengacara Mas Adrian kan punya kenalan notaris yang bisa disuap untuk melegalisir dokumen ini seolah-olah ditandatangani secara sukarela di depan saksi. Demi masa depan kita, Mas... demi anak yang nanti akan Santi lahirkan untuk Mas," rayu Santi, menempelkan pipinya di dada Adrian.

​Ego dan keserakan Adrian akhirnya menang mutlak. Dengan anggukan pelan, ia merestui rencana kotor tersebut, membakar habis sisa kemanusiaan yang ia miliki sebagai seorang suami.

​Jelang tengah malam, sunyi kembali menguasai rumah. Santi melangkah perlahan menuruni lorong dapur, membawa nampan berisi segelas air hangat yang telah dicampur dengan beberapa tetes cairan obat tidur. Dengan langkah yang sengaja dibuat sesunyi mungkin, ia menaiki anak tangga menuju kamar Hana.

​Tok... Tok...

​"Mbak Hana... ini Santi. Santi membawakan air hangat untuk Mbak minum sebelum tidur," ucap Santi dari balik pintu dengan nada suara yang dibuat sangat sopan dan penuh perhatian palsu.

​Di dalam kamar, Hana yang baru saja terbangun karena kram perutnya membuka mata dengan sayu. Kepalanya terasa sangat pening dan berat. "Taruh saja di meja luar, Santi. Aku tidak butuh," jawab Hana dengan suara lemah.

​"Tapi Mbak, kata Mas Adrian, Mbak Hana harus minum air hangat ini supaya obat nyerinya bekerja dengan baik. Santi taruh di meja samping tempat tidur ya, Mbak?" Santi membuka pintu kamar tanpa izin, melangkah masuk dengan senyuman santun yang menyembunyikan iblis di dalam dadanya.

​Hana yang terlalu lemas untuk berdebat hanya bisa memejamkan matanya kembali. "Pergilah..."

​Santi meletakkan gelas itu di atas meja nakas, lalu dengan gerakan cepat memantau posisi tas dan bantal Hana sebelum akhirnya melangkah keluar dengan senyuman kemenangan.

​Satu jam berlalu. Pengaruh obat tidur dosis tinggi yang dicampurkan Santi mulai bekerja dengan sempurna. Hana tenggelam dalam tidur yang teramat lelap, tubuhnya lemas tak bertenaga di atas kasur, tak lagi mampu merasakan rangsangan dari luar.

​Klek.

​Pintu kamar utama terbuka perlahan. Adrian masuk terlebih dahulu dengan wajah tegang, diikuti oleh Santi yang membawa selembar kertas kosong bermeterai dan sebuah pulpen hitam.

​Adrian melangkah mendekati ranjang, menatap wajah pucat Hana yang terlelap dengan napas yang teratur namun berat. Ada rasa berdegup kencang di dada Adrian saat ia perlahan menyusupkan tangannya ke bawah bantal Hana, menarik keluar map biru berisi sertifikat ruko dan hak paten nama dagang asli buatan mertuanya.

​"Cepat, Mas. Ambil tangannya," bisik Santi dengan mata yang berbinar serakah, tidak sabar ingin menguasai harta warisan tersebut.

​Adrian menggenggam jemari kanan Hana yang tergeletak lemas di atas kasur. Kulit tangan Hana terasa begitu dingin, sedingin es, membuat bulu kuduk Adrian meremang. Dengan perlahan, Adrian menyelipkan pulpen di antara jemari Hana, lalu menuntun tangan istrinya yang tak berdaya itu untuk menggoreskan tanda tangan di atas kertas kosong bermeterai yang sudah disiapkan oleh Santi.

​Tangan Hana yang lemas digerakkan secara paksa, menuliskan goresan tanda tangan yang selama ini menjadi simbol otoritasnya atas seluruh bisnis keluarga.

​"Dapat! Kita dapat, Mas!" bisik Santi kegirangan, merampas kertas itu dari tangan Adrian dengan wajah yang dipenuhi oleh kemenangan yang menjijikkan. Ia menatap tanda tangan Hana dengan tatapan penuh kepuasan, seolah-olah ia baru saja berhasil meruntuhkan takhta sang ratu.

​Sebelum keluar, Santi menatap wajah lelap Hana dengan pandangan menghina. Ia meludah pelan ke arah lantai di samping ranjang Hana. "Mimpi yang indah, Mbak Hana... Besok saat Mbak bangun, Mbak sudah tidak punya apa-apa lagi di dunia ini," batin Santi dengan kelicikan yang luar biasa pekat.

​Keesokan paginya, matahari baru saja terbit ketika Hana membuka matanya dengan kepala yang terasa sangat berat, seolah-olah dihantam oleh benda tumpul yang besar. Butuh waktu beberapa menit bagi Hana untuk mengumpulkan kesadarannya. Ia menoleh ke arah meja nakas, melihat gelas air hangat semalam yang sudah kosong setengah.

​Seketika, sebuah firasat buruk menghantam dada Hana. Dengan panik, ia langsung menyusupkan tangannya ke bawah bantal.

​Kosong.

​Map biru berisi seluruh sertifikat ruko warisan ayahnya dan hak paten "Rasa Hana" telah lenyap dari tempatnya.

​Jantung Hana berdegup dengan kencang, rasa panik menjalar hingga ke ujung jari-jarinya. Dengan sisa-sisa kekuatan fisiknya yang masih rapuh, Hana turun dari ranjang, menyeret langkah kakinya keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.

​Namun, begitu sampai di ruang tamu bawah, Hana disuguhkan oleh pemandangan yang teramat meremukkan dadanya.

​Adrian duduk di sofa dengan angkuh, memegangi map biru miliknya. Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas necis—seorang notaris korup sewaan Adrian—beserta pengacara hitamnya. Ibu Broto duduk di kursi seberang sembari melipat tangan dengan senyuman jemawa, sementara Santi berdiri di belakang Adrian dengan gaun baru yang modis, menatap Hana dengan pandangan mata yang penuh penghinaan.

​"Adrian... kembalikan map dokumenku!" tuntut Hana, suaranya bergetar hebat karena amarah dan rasa terpukul yang bertumpuk.

​Adrian mendongak, menatap Hana dengan sorot mata yang teramat dingin, tanpa ada sisa-sisa rasa bersalah atau kehangatan seorang suami yang dulu pernah ada. Ia meletakkan selembar kertas di atas meja kaca—surat pengalihan aset mutlak yang kini telah dilengkapi dengan tanda tangan asli Hana, stempel notaris, dan kekuatan hukum yang sah.

​"Dokumen ini sudah bukan milikmu lagi, Hana," sahut Adrian dengan nada suara yang datar dan kejam. "Mulai pagi ini, seluruh ruko warisan ayahmu, tanah, serta hak paten nama dagang 'Rasa Hana' telah resmi beralih kepemilikan atas namaku secara hukum. Kamu sudah menandatangani surat kuasa mutlak ini tadi malam di depan saksi-saksi."

​"Bohong!!! Aku tidak pernah menandatangani apa pun!" teriak Hana, air mata kekecewaan dan rasa dikhianati yang teramat dahsyat akhirnya pecah membasahi wajahnya yang pucat. Tubuhnya berguncang hebat di tengah ruang tamu yang luas itu. "Kalian... kalian menjebakku! Kalian merampok hartaku di saat aku sedang berduka karena kehilangan anakku!"

​"Halah! Jangan berisik di sini, Hana!" bentak Ibu Broto sembari berdiri dari kursinya, menatap Hana dengan pandangan muak. "Tanda tangan di kertas ini asli! Notaris juga sudah mengesahkannya secara hukum! Kamu tidak punya hak sepeser pun lagi atas rumah ini, restoran, maupun ruko itu! Semua ini adalah ganti rugi atas kerugian bisnis yang sudah kamu timbulkan karena resep gagalmu!"

​Santi maju satu langkah, menatap Hana yang sedang bergetar menahan tangis dengan senyuman miring yang teramat puas. "Mbak Hana... lebih baik Mbak terima kenyataan saja. Mas Adrian sekarang sudah memegang kendali penuh. Mbak Hana tidak punya apa-apa lagi di kota ini. Jadi, untuk apa Mbak masih bertahan di sini?"

​Pengkhianatan yang teramat kotor dan terencana ini berjalan begitu mulus di depan mata Hana. Ia, seorang istri sah yang baru saja kehilangan bayinya, kini harus menyaksikan seluruh harta peninggalan almarhum ayahnya dirampas dengan cara yang paling keji oleh suaminya sendiri, ibu mertuanya, dan pelayan rumah tangganya.

​Hana jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin, menutupi wajahnya dengan kedua tangan saat tangis kehancuran batinnya pecah memenuhi seisi ruangan. Di hadapannya, tiga antagonis itu tersenyum lebar di atas penderitaannya, mengira mereka telah berhasil mengubur sang ratu dapur ke dalam jurang kemiskinan yang terdalam tanpa menyadari bahwa air mata Hana hari ini adalah harga termahal yang harus mereka bayar dengan darah mereka sendiri di masa depan.

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Anonim
HANA BALASKAN DENDAM MU... BUNUH SEMUA NYA... HABISI SEMUANYA TATAKAE TATAKAE
Anonim
lemah amat anjing 🖕
Anonim
BUNUB SEMUA NYA ANJING ... TUMBALKAN SEMUA NYA
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!