Shandra Hasanah, diusianya yang hampir kepala tiga selalu dikatain perawan tua dan dikatain memiliki wajah yang tidak cantik. Hingga suatu ketika ia dimintai menikah dengan mendiang suami adiknya, Athaya Besmana, karena sang adik yang bernama Alika dikabarkan mengalami kecelakaan dan Athaya sangat terpukul dengan kepergian sang istri.
Tak ingin membuat Athaya terus bersedih, orang tua Athaya justru meminta Shandra menjadi istri dari mendiang suami adiknya. Lalu, apa Shandra menerima permintaan orang tua Athaya?sementara Athaya masih sangat mencintai adiknya, Alika.
Ikuti kisah Shandra _Pemilik Hati Suamiku _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semuanya kecewa
Alika dan Rahardian disidang oleh seluruh keluarga besar mereka. Suasana ruang tamu malam itu terasa begitu mencekam. Tak ada lagi senyum ataupun pembelaan. Semua orang memandang keduanya dengan rasa kecewa yang sulit disembunyikan.
Tak ada yang menyangka perbuatan mereka bisa sejauh itu. Demi bisa hidup bersama Rahardian , Alika bahkan rela membuat kecelakaan palsu. Kebohongan yang selama ini mereka tutupi akhirnya terbongkar juga.
Pak Hasan dan Bu Ami menjadi orang yang paling terpukul. Berkali-kali keduanya menggeleng tak percaya sambil menatap Alika dengan mata berkaca-kaca.
“Papa nggak pernah ngajarin kamu jadi orang sekejam ini, Alika…” ucap Pak Ishaq dengan suara bergetar menahan amarah dan kecewa.
Bu Ami bahkan tak kuasa menahan air matanya. Wanita itu menutup mulutnya sambil sesekali terisak pelan.
“Mama malu, Alika … sangat malu,” lirihnya.
Alika hanya diam menunduk. Jemarinya saling me rem as gelisah di atas pangkuan. Ia tak sanggup menatap wajah orang-orang yang selama ini begitu menyayanginya, namun kini memandangnya penuh kekecewaan.
Dadanya terasa sesak.
Untuk pertama kalinya, Alika benar-benar menyadari kalau semua yang ia lakukan sudah kelewat batas. Namun di tengah keheningan itu, Rahardian justru menggenggam tangan Alika erat, seolah masih ingin melindunginya.
“Semua ini salah saya, Om… Tante,” ucap Rahardian akhirnya.
“Jangan lempar kesalahan!” bentak Bu Cici. “Kalian berdua sama-sama salah!”
Rahardian terdiam.
Sedangkan Alika perlahan mengangkat wajahnya. Matanya sudah dipenuhi air mata.
“Aku cuma nggak mau kehilangan dia…” suaranya bergetar pelan. “Aku tahu caraku salah… tapi waktu itu aku benar-benar takut.”
“Takut?” ulang Pak Hasan kecewa. “Karena takut, kamu jadi menghalalkan segala cara?”
Air mata Alika akhirnya jatuh juga. Ia menutup wajahnya sambil menangis pelan. Tak ada lagi yang bisa ia bantah. Karena semua yang dikatakan keluarganya memang benar.
"Kalian tahu, sehancur apa Atha kehilanganmu," ucap Bu Cici lirih. Mengingat itu membuatnya ikut sedih.
"Maaf, Mah ...." Suara Alika bergetar lirih.
Ruangan itu kembali hening. Tak ada satu pun yang tega memotong tangisan Alika, tetapi tak ada juga yang bisa membenarkan perbuatannya.
“Kalian tahu sehancur apa Atha waktu kehilanganmu?” ucap Bu Cici lirih. Matanya mulai berkaca-kaca saat mengingat kondisi putranya selama ini. “Dia berubah total. Jadi pendiam, sering melamun sendirian, bahkan berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi.”
Tangis Alika pecah semakin keras mendengar itu. Bahunya bergetar hebat, sementara air matanya terus jatuh tanpa henti.
“Maaf, Mah…” suaranya lirih dan patah-patah. “Aku nggak pernah berniat nyakitin Atha separah itu. Aku cuma … aku cuma takut kehilangan Rahardian.”
“Takut bukan alasan untuk menghancurkan hidup orang lain,” sahut Pak Ishaq tegas. Tatapannya tajam menyorot Alika dan Rahardian bergantian. “Kalau memang cinta, harusnya kalian menjaga orang-orang di sekitar kalian, bukan malah menyakiti mereka demi kebahagiaan sendiri.”
“Bang, jangan salahin Alika terus,” sela Rahardian cepat sambil menggenggam tangan Alika erat. “Aku yang maksa Alika buat ngelakuin semua ini. Dia cuma nurutin aku.”
Pak Ishaq langsung berdecak kasar.
“Mau siapa pun yang mulai, kalian tetap sama-sama salah!” bentaknya penuh emosi. “Kalian bikin kecelakaan palsu, membohongi semua orang, dan ninggalin luka sebesar ini buat Atha. Apa kalian pikir semua itu bisa dianggap sepele?”
Rahardian menunduk. Untuk pertama kalinya ia benar-benar tidak mampu membela diri.
Ruangan itu kembali hening. Tidak ada yang berani bersuara. Suasana terasa sesak dipenuhi kekecewaan dan amarah.
“Apa kalian nggak punya otak? Nggak punya hati?” suara Pak Ishaq kembali terdengar bergetar menahan emosi. “Kalian tahu nggak bagaimana Atha menjalani hidupnya selama ini? Dia hancur! Bahkan sampai kehilangan semangat hidup.”
Alika menangis semakin keras. Nafasnya tersengal karena terus menahan sesak di dadanya.
“Sekali lagi aku minta maaf, Mah… Pa…” ucapnya sambil terisak. “Aku sadar kami salah.”
“Perbuatan kalian nggak semudah itu untuk dimaafkan,” kata Pak Ishaq lagi dengan suara berat. “Kami semua sudah terlanjur kecewa.”
Alika semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia bahkan tak sanggup lagi menatap semuanya, terutama kedua orang tuanya.
Sementara itu, Rahardian hanya bisa menggenggam erat tangan Alika, seolah berusaha menenangkan perempuan itu meski dirinya sendiri dipenuhi rasa bersalah.
“Kenapa kalian tega melakukan semua ini," ucap Pak Hasan lirih penuh kecewa. “Kalian nggak cuma nyakitin Atha, tapi juga nyakitin semua keluarga.”
Ucapan itu membuat suasana kembali dipenuhi keheningan yang menyakitkan.
Rahadian dan Alika memang salah. Dan kesalahannya sudah tidak bisa ditolerir lagi. Namun pada akhirnya, semua sepakat mengambil keputusan terbaik untuk menghentikan semuanya sebelum dosa mereka semakin jauh.
Rahardian dan Alika harus segera menikah.
Meski rasa kecewa masih begitu besar, keduanya tetap harus bertanggung jawab atas semua yang telah mereka lakukan. Daripada terus menjalani hubungan yang dilarang agama dan kembali membuat kekacauan, pernikahan dianggap menjadi jalan paling tepat.
***
Hari ini, setelah semua kekacauan yang sempat terjadi, Shandra akhirnya kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Pagi-pagi sekali ia sudah bersiap untuk kembali mengajar anak-anak di sekolah.
Di dapur, Shandra sibuk menyiapkan sarapan sebelum berangkat kerja. Aroma ayam goreng dan sayur capcay memenuhi ruangan kecil itu. Sesekali Shandra mengecek jam di dinding sambil merapikan bekal yang akan dibawanya.
Sementara itu, Atha duduk di meja makan sambil menatap istrinya tanpa berkedip.
Pagi ini hatinya sudah jauh lebih baik.
Tak ada lagi sesak yang selama ini terus menghantui pikirannya. Semua luka dan kekacauan yang sempat datang perlahan mulai menemukan jalan untuk sembuh.
Melihat Shandra kembali tersenyum dan beraktivitas seperti biasa membuat dadanya terasa jauh lebih tenang.
“Kok lihatin aku terus?” tanya Shandra sambil melirik suaminya curiga.
Sekarang Shandra tak mengenakkan cadarnya saat berada di depan Atha.
Atha tersenyum tipis.
“Lagi memastikan kalau semua ini nyata.”
Shandra mengernyit bingung. “Maksudnya?”
Atha menarik napas pelan sebelum menjawab, “Aku cuma takut semua ketenangan ini cuma mimpi.”
Ucapan itu membuat gerakan tangan Shandra terhenti sesaat. Ia tahu betul seberapa berat hari-hari yang sudah Atha lewati.
Shandra lalu berjalan mendekat dan meletakkan segelas teh hangat di depan Atha.
“Ini nyata,” ucapnya lembut. “Dan kedepannya akan baik-baik aja.”
Tatapan Atha langsung menghangat. Perlahan ia menggenggam tangan Shandra yang berada di atas meja.
“Terima kasih karena tetap bertahan sama aku,” katanya lirih.
Shandra tersenyum kecil.
“Aku akan selalu ada buat kamu, Mas.”
Suasana pagi itu terasa begitu hangat. Tidak ada saling diam, tidak ada kesedihan, dan tidak ada rasa takut seperti hari-hari sebelumnya.
Hanya ada dua orang yang sedang berusaha memperbaiki hidup mereka sedikit demi sedikit.
aihhh jangan lah sampai kaya drama Indosiar ya Thor
aiahhh ,,semoga otak nya terbuka si atta bukanya gelap mata ingin memiliki nya kembali terus kamu di tinggal
kan
akhirnya kebongkar juga...
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya
ayo???
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya