NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 — Pagi yang Tidak Lagi Sama

Subuh di Bali datang dengan cara yang lembut.

Suara azan dari kejauhan menyatu dengan angin laut yang masuk melalui celah jendela kamar hotel. Cahaya langit masih samar, biru keabu-abuan, belum sepenuhnya terang, namun cukup untuk membuat ruangan terlihat tenang.

Diara perlahan membuka matanya.

Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar.

Lalu ia menyadari sesuatu.

Terlalu dekat.

Tangannya terasa hangat.

Ada sesuatu yang melingkari pinggangnya.

Dan saat ia menoleh sedikit…

jantungnya langsung berhenti sepersekian detik.

Jifan.

Ia masih tidur.

Wajahnya tenang.

Napasnya stabil.

Dan tangannya…

masih melingkar di pinggang Diara.

Diara membeku.

Matanya membesar sedikit.

Pikirannya langsung kacau dalam satu detik.

Ini terlalu dekat.

Terlalu nyata.

Terlalu… tidak terduga.

Ia menatap wajah Jifan lebih lama.

Bukan karena berani.

Tapi karena tidak bisa berpaling.

Wajah itu saat tidur terlihat berbeda.

Tidak sedingin biasanya.

Tidak setegas biasanya.

Lebih… manusiawi.

Lebih tenang.

Diara merasakan sesuatu yang asing di dadanya.

Cepat.

Tidak stabil.

Dan itu membuat pipinya perlahan memanas.

“Aku…”

Suara itu hampir tidak keluar.

Ia buru-buru menutup mulutnya sendiri.

Tangannya tidak berani bergerak.

Karena setiap sedikit gerakan bisa membuat posisi ini semakin jelas.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup pernikahannya…

Diara menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui terlalu cepat.

“Ini… tidak baik kalau aku terus melihatnya.”

Tapi matanya tidak bergerak.

Detik demi detik berlalu.

Dan Diara tetap menatap Jifan.

Sampai…

Jifan bergerak sedikit.

Matanya terbuka perlahan.

Hening.

Dua pasang mata bertemu.

Dan waktu seolah berhenti.

Jifan langsung sadar.

Matanya sedikit melebar.

Namun tangannya…

tidak langsung lepas.

“Apa yang kamu lakukan?” suara Jifan keluar pelan, masih sedikit serak karena baru bangun.

Diara langsung panik.

“Aku… aku tidak… aku baru bangun…”

Kata-katanya berantakan.

Tidak jelas.

Jifan menatapnya lama.

Namun ekspresinya tidak sedingin biasanya.

Lebih… tenang.

Lebih lembut dari yang pernah Diara lihat.

“Kenapa kamu menatapku?” tanya Jifan lagi.

Nada suaranya rendah.

Namun tidak tajam.

Diara semakin gelagapan.

“Tidak… aku tidak sengaja…”

Matanya tidak berani menatap langsung.

Namun yang membuatnya semakin panik adalah satu hal:

tangan Jifan masih di pinggangnya.

Tidak dilepas.

Jarak mereka masih sama seperti tadi.

Terlalu dekat.

Diara bisa merasakan detak jantungnya sendiri.

Terlalu cepat.

“Mas… tanganmu…”

Diara menunjuk pelan.

Jifan menunduk sedikit.

Lalu baru menyadari.

“…oh.”

Tapi bukannya langsung menarik tangan…

ia hanya menggeser sedikit.

Tidak benar-benar melepas.

Dan itu membuat Diara semakin gugup.

“Maaf,” kata Jifan akhirnya.

Singkat.

Namun berbeda dari biasanya.

Diara menggeleng cepat.

“Tidak apa-apa… aku juga…”

Kalimatnya tidak selesai.

Suasana menjadi canggung.

Namun tidak dingin seperti sebelumnya.

Lebih seperti… tidak tahu harus bagaimana.

Jifan duduk perlahan.

Tangannya akhirnya dilepas.

Diara langsung duduk juga, membenahi jilbabnya yang sedikit berantakan.

Wajahnya masih merah.

Beberapa detik mereka hanya diam.

“Subuh sudah azan,” kata Jifan akhirnya.

Diara mengangguk.

“Iya…”

Jifan berdiri.

“Shalat.”

Kata itu sederhana.

Namun kali ini terdengar lebih lembut.

Mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah di kamar hotel itu.

Tidak banyak kata.

Tidak banyak gerakan yang berlebihan.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Lebih tenang.

Lebih… terhubung.

Setelah shalat, Diara duduk diam.

Sementara Jifan merapikan sajadah.

“Lapar?” tanya Jifan tiba-tiba.

Diara menoleh.

“…sedikit.”

“Sarapan dulu sebelum meeting.”

Diara mengangguk.

“Baik.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, mereka bersiap tanpa jarak yang terlalu kaku.

Tidak seperti sebelumnya.

Ada sedikit percakapan kecil.

Ada sedikit perhatian.

Dan itu terasa… baru.

Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di ruang makan hotel.

Sarapan sederhana.

Roti, telur, kopi, dan buah.

Jifan duduk di seberang Diara.

Namun kali ini…

tidak ada keheningan yang terlalu menekan.

“Apa kamu siap meeting hari ini?” tanya Jifan.

Diara mengangguk.

“Siap.”

Jifan memperhatikan sekilas.

“Bagus.”

Hanya itu.

Namun Diara merasakan sesuatu yang berbeda.

Setelah sarapan, mereka menuju ruang meeting proyek Villa Sagara.

Ruangan itu sudah dipenuhi tim.

Arsitek.

Investor.

Manajer proyek.

Dan beberapa staf Syahrezan Group.

Diara masuk bersama Jifan.

Semua mata langsung tertuju pada mereka.

Jifan berhenti di depan.

Lalu berbicara dengan nada formal.

“Mulai meeting.”

Semua duduk.

Namun Diara langsung merasakan sesuatu yang tidak ia harapkan.

Di salah satu sisi ruangan…

Shaka ada di sana.

Arshaka Aradhana.

Diara sedikit terdiam.

Namun ia tetap profesional.

Shaka tersenyum saat melihatnya.

“Diara, kita ketemu lagi.”

Sebelum Diara menjawab…

Jifan sudah berbicara lebih dulu.

“Dia istri saya.”

Semua orang di ruangan itu langsung terdiam sepersekian detik.

Jifan melanjutkan.

“Dan lead interior designer untuk Villa Sagara.”

Suara itu tenang.

Namun tegas.

Shaka sedikit mengerutkan alis.

Namun tetap tersenyum kecil.

Diara menatap Jifan sekilas.

Ia tidak menyangka Jifan akan mengatakan itu di depan semua orang.

Namun Jifan tidak melihatnya.

Ia hanya menatap seluruh tim.

Dan untuk pertama kalinya…

ada sesuatu di matanya yang berbeda.

Bukan dingin.

Bukan datar.

Tapi…

protektif.

Dan Diara menyadarinya.

Di dalam dirinya, sesuatu bergerak pelan.

Sangat pelan.

Tapi nyata.

Dan pagi itu…

tidak ada lagi batas yang sama seperti sebelumnya.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!