Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. SBR
...~•Happy Reading•~...
Valeri tercengang mendengar yang dikatakan Janet. "Kau akan bikin kopi lagi?" Valeri tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Itu yang terjadi, Bu. Maaf, saya buru-buru." Janet tidak meneruskan ucapannya, agar tidak terjadi perdebatan yang membuat dia kena akibatnya.
Janet segera meninggalkan Valeri yang masih berdiri diam. 'Ada apa dengan Pak Gevaro? Mengapa minta office girl itu terus bikin kopi?' Valeri membatin sambil melihat punggung Janet. Dia tersentak saat melihat jalan Janet. 'Ternyata body office girl itu...' Valeri tidak meneruskan saat menyadari body Janet terlihat sangat seksi.
'Boss sok bersikap dingin. Padahal pikirannya kotor, sampe gak bisa bedakan kelas wanita.' Valeri ngedumel sendiri tentang bossnya yang dikira tertarik pada office girl.
~▪︎▪︎
Di dalam ruangan CEO, Jensen tidak berkomentar atau bertanya tentang sikap bossnya. Dia mempersiapkan materi yang diperlukan untuk meeting. "Jensen, sudah dapat informasi tentang plat nomor mobil yang saya minta?"
"Belum, Pak. Nanti saya hubungi lagi, setelah jam kantor." Jensen menjawab cepat. Dia tidak menyangka bossnya menginginkan informasi secepatnya. Sehingga dia tidak mendesak kenalannya di kepolisian.
"Segera tanya. Ini sudah jam kerja." Gevaro mendesak. Sehingga Jensen meletakan yang sedang dikerjakan.
Ketika hendak telpon, pintu ruang kerja diketok. "Buka." Perintah Gevaro yang berpikir Janet sudah kembali membawa kopi.
"Ini, kopinya, Pak. Silahkan." Janet meletakan kopi di depan Gevaro, sopan.
Gevaro tersenyum dalam hati melihat Janet tetap sopan, walau sedang kesal. Dia mengambil cangkir dan langsung cicipi. "Ok." Ucap Gevaro.
Bahu Janet langsung jatuh, sebagai tanda merasa lega. 'Kau sedang mengujiku rupanya. Kau tidak bisa menekanku lagi.' Janet berkata dalam hati sambil menunggu perintah selanjutnya.
"Maaf, Pak. Kopi-kopi ini mau saya singkirkan dari sini?" Janet tidak tahan hanya berdiri diam. Sehingga dia mengalihkan untuk membersihkan kopi yang tidak diminum Gevaro.
"Kopi yang pertama dibuang." Ucap Gevaro sambil menunjuk cangkir yang dibawa Valeri. "Yang ini ditambahkan es dan bawa lagi ke sini." Permintaan Gevaro membuat Janet melihatnya.
'Dia benar-benar sedang mengerjaiku.' Janet membatin. Tetapi yang terucapkan dua kata. "Baik, Pak." Janet segera merapikan cangkir kopi di atas meja.
Jensen yang sedang menunggu untuk telpon kenalannya, jadi melihat bossnya. 'Ada apa dengan boss? Mengapa minta office girl itu mondar-mandir ke sini?' Jensen heran, karena permintaan terakhir akan membuat Janet kembali lagi ke ruang kerja bossnya.
Janet keluar sambil membawa nampan berisi kopi. 'Kau mau uji kesabaranku? Tunggu dan lihat saja. Aku akan membuat matamu juling melihatku.' Janet membatin dengan kesal. Dia yakin, Gevaro sedang sembunyi di balik nama belakangnya untuk mengerjai dia.
Valeri yang melihat Janet dari jauh jadi gatal hati. Dia berlaku seakan mau ke toilet. "Gimana, sudah puas lihat boss?" Tanya Valeri sambil lalu.
"Belum, Bu. Saya diminta balik lagi. Jadi maaf, saya harus buru-buru." Janet menyalurkan rasa kesalnya dengan jawaban yang membuat Valeri ingin menggaruk tembok.
'Diminta balik lagi? Apa Pak Gevaro pagi-pagi sudah mengkhayal?' Valeri bertanya sambil melihat punggung Janet. 'Astaga, kalau dia pegang nampan seperti itu, betuk tubuh seksinya terlihat jelas.' Valeri membatin sambil menatap Janet tidak berkedip.
Janet tiba di pantry dan menghembuskan nafas panjang berulang kali untuk melegakan dadanya sebelum melakukan permintaan Gevaro. Dia butuh udara segar untuk bisa konsentrasi. "Jan, apa yang kau kerjakan pagi ini? Mengapa tidak ikut dengan kami?" Reni yang masuk ke pantry, terkejut melihat Janet sedang menghembuskan nafas sambil mengangkat tangan dan berputar dalam pantry.
"Maaf, Ren. Aku diminta bikin minum buat boss..." Janet menceritakan yang dia lakukan, membuat Reni menatapnya, seakan tidak percaya.
"Beliau sedang balas dendam karna kejadian itu?" Reni ingat kejadian Janet menumpahkan air kotor yang hampir memandikan kaki pimpinan.
"Entahlah, Ren. Aku sedang berusaha fokus, agar rasanya sesuai keinginan. Supaya aku gak diminta bikin ulang."
"Ok. Kerjakan dulu. Nanti baru kita ngobrol. Aku ke sini, karna kau gak nyusul-nyusul." Reni mengusap lengan Janet lalu meninggalkan pantry.
'Dia bisa membuatku jadi barista.' Janet membatin sambil melihat dua cangkir kopi di atas meja. 'Jangan coba-coba tukar. Ikut maunya.' Suara hati mengingatkan saat Janet melihat cangkir pertama masih utuh dan berpikir untuk digunakan.
'Iya. Ikut maunya saja.' Janet memutuskan lalu menyingkirkan kopi pertama. Dia kembali membaca aturan pakai. 'Untung belum dibuang.' Janet membatin sambil mengambil bungkusan sachet.
Tidak lama kemudian, dia membawa kopi dalam cangkir baru dan gelas kecil berisi batu es. 'Kau tidak bisa mengerjaiku, kalau kopi ini kurang dingin. Tambahkan sendiri menurut seleramu.' Janet membatin sambil berjalan menuju ruang kerja CEO.
Janet menghembuskan nafas kuat, sebelum masuk. "ini kopinya, Pak. Silahkan." Ucap Janet sopan setelah meletakan cangkir dan gelas di depan Gevaro. 'Cerdik.' Bisik hati Gevaro saat melihat gelas berisi batu es.
"Ini sudah bisa dibawa." Gevaro menunjuk cangkir kopi yang sudah kosong. "Tunggu ditelpon untuk ambil ini." Gevaro menunjuk cangir kopi dingin yang dibawa Janet.
"Baik, Pak. Permisi." Janet segera meninggalkan ruangan. Dia tidak menyangka Gevaro tidak mencicipi kopi dingin seperti sebelumnya.
Valeri yang melihat Janet dari jauh jadi gatal bibir, karena wajahnya berbeda setelah berdiri di depan pintu. Tapi dia tidak berani mendekati Janet, sebab harus diselesaikan dokumen yang dibutuhkan Jensen.
~▪︎▪︎
Setelah Janet keluar, Jensen mendekati bossnya. "Pak, pemilik mobil itu bernama Andri. Dia berprofesi sebagai sopir mobil online. Jadi mobil kemarin itu, sepertinya sedang menjemput penumpang, mungkin karyawan di sini..." Jensen menjelaskan yang diperoleh dari kepolisian.
"Mobil online?" Gevaro seakan bertanya pada diri sendiri. 'Tidak mungkin dia menjemput penumpang membawa anak dan memanggil Janet dengan Mama.' Gevaro menggeleng. "Kau dapatkan alamatnya?" Gevaro jadi penasaran.
"Iya, Pak. Alamatnya di pinggir kota, tidak jauh dari sini..." Jensen menjelaskan lagi.
"Baik." Gevaro menghabiskan kopi dingin. "Biarkan ini di sini." Gevaro menunjuk cangkir kopi yang sudah kosong. "Mari kita pergi meeting." Gevaro melangkah keluar, diikuti Jensen.
Setelah di luar, Jensen mendekati Valeri. "Jangan masuk ke ruang kerja boss untuk merapikan apa pun." Ucap Jensen tegas. Dia khawatir Valeri merapikan meja dengan mengangkat cangkir kopi.
~▪︎▪︎
Menjelang sore, sebelum pulang kerja, Janet menuju ruang kerja CEO. "Kau ke sini lagi?" Dia disambut Valeri yang baru keluar dari ruang kerja bossnya.
"Iya, Bu. Saya tidak berdaya, kalau dipanggil pimpinan." Janet berkata tenang sekalian menjelaskan, bukan maunya datang ke ruang pimpinan, tapi dipanggil.
"Itu karna kau menggoda beliau." Valeri berkata tanpa membuka lebar mulutnya, agar tidak didengar dari ruang kerja bossnya.
"Bu, apa dipanggil untuk mengerjakan tugas itu termasuk menggoda?" Janet yang sedang kesal dipanggil lagi, jadi membalas Valeri dengan tuduhannya.
Pertanyaan Janet yang terdengar biasa, tapi seakan menusuk telinga, lidah dan hati Valeri yang baru keluar dari ruang kerja pimpinan.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...