NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Baru

Pagi itu indira bangun dengan perasaan aneh. Bahagia ada, tapi takut juga ada.

Dia liat hapenya. Chat dari aditia udah masuk jam 6 pagi. "Selamat pagi ind, udah bangun belum calon istri orang hehe".

Indira senyum sendiri sambil balas. "Udah dit, pagi juga. Jangan panggil gitu malu".

"Emang kenapa, kan bener. Jawab aditia cepet".

Indira gak balas lagi. Dia buru-buru mandi terus siap-siap ke sekolah.

Hari ini dia ngajar 6 jam full. Jam istirahat pun kepotong rapat wali kelas.

"Indira, kamu kenapa dari kemarin bengong terus" tegur pak kepsek pas rapat.

"Ee enggak pak, cuma kurang fokus aja" jawab indira.

"Kalau ada masalah pribadi, selesaikan dulu. Kasihan anak-anak" ucap pak kepsek lagi.

Indira angguk. "Iya pak, maaf".

Hatinya jadi gak enak. Dia emang lagi kepikiran aditia terus.

Jam pulang sekolah aditia udah nunggu di parkiran. Kayak janji kemarin.

"Naik ind, kita ke toko buku ya" ucap aditia.

Indira masuk mobil. "Dit, aku capek banget hari ini. Boleh gak kita pulang aja dulu".

Aditia liat wajah indira. Matanya sembab, kayak kurang tidur.

"Ya sudah, kita pulang. Tapi mau mampir beli sate dulu gak. Kamu kan suka" tawar aditia.

Indira geleng. "Gak usah dit, makasih ya".

Di perjalanan mobil hening. Aditia sesekali liat indira dari kaca spion.

"Ind, kamu kenapa. Marah sama aku" pancing aditia.

"Enggak dit, aku cuma capek aja. Banyak pikiran" jawab indira pelan.

" Pikiran tentang apa. Tentang aku" tanya aditia lagi.

Indira diem. Gak tau mau jawab apa.

Sesampai di depan rumah, indira langsung turun. "Makasih ya dit udah nganter".

"Eh tunggu dulu ind" cegah aditia.

Indira balik badan. "Kenapa".

"Besok aku jemput kamu lagi ya. Kita ngobrol yang bener. Aku kangen ngobrol sama kamu" ucap aditia.

Indira tarik napas. "Besok aku ada acara keluarga dit. Ke rumah mas renal. 40 hari meninggalnya udah lewat, tapi keluarga mau kumpul doa lagi".

Aditia terdiam. Mukanya langsung berubah.

"Oh gitu ya. Ya sudah gak apa-apa" jawab aditia datar.

Indira liat raut wajah aditia jadi dingin. Dia jadi gak tega.

"Dit, aku bukan mau ngejauh. Aku cuma... aku bingung" ucap indira.

"Bingung kenapa ind. Bingung milih aku apa milih masa lalu kamu" tanya aditia suaranya pelan tapi nusuk.

Indira nangis. "Aku gak milih siapa-siapa dit. Aku cuma janda yang takut salah langkah lagi".

Aditia keluar dari mobil. Dia jalan ke arah indira terus peluk indira dari belakang.

"Sssttt jangan nangis. Aku ngerti kok. Kamu butuh waktu, aku kasih waktu" bisik aditia di telinga indira.

Indira nangis di pelukan aditia. Rasanya anget tapi bersalah banget.

"Maafin aku ya dit" ucap indira terisak.

"Udah, gak usah minta maaf. Masuk rumah, istirahat. Besok kabarin aku ya" ucap aditia sambil lepas pelukannya.

Indira masuk rumah. Tutup pintu. Dia senderan terus nangis kenceng.

"Mas renal, aku capek mas. Aku sayang kamu. Tapi aku juga sayang aditia. Aku harus gimana" pintahnya ke foto renal.

Malam itu indira gak tidur. Dia buka WA keluarga besar. Grup "Keluarga Wijaya".

Imel ngetik. "Besok jam 10 ya kita kumpul di rumah. Doa bareng buat almarhum".

Indira cuma liat, gak bales. Tangannya gemetar.

Jam 2 malam aditia chat lagi. "Ind, udah tidur belum".

Indira liat chat itu lama. Akhirnya dia balas. "Belum dit".

"Kenapa belum tidur. Masih kepikiran aku" goda aditia.

"Enggak, kepikiran mas renal" jawab indira jujur.

Aditia read doang. Gak balas lama.

Indira langsung nyesel. "Maaf dit, aku gak bermaksud nyakitin kamu".

"Gak apa-apa ind. Aku ngerti. Kamu cinta sama dia dulu. Wajar kalau masih kepikiran" balas aditia akhirnya.

Indira nangis lagi baca chat itu. Aditia terlalu baik, bikin dia makin bersalah.

Paginya indira bangun jam 8. Dia telat ke acara doa di rumah keluarga.

Sesampai di sana semua udah kumpul. Imel, lia, reno, om, tante, sepupu.

"Indira, sini duduk" panggil mama mertua.

Indira duduk di samping foto mas renal. Ada bunga melati, ada makanan kesukaan almarhum.

Doa dimulai. Indira ikut baca alfatihah tapi pikirannya ke aditia.

"Ya Allah, aku mohon tunjukkan aku jalan yang lurus" batinnya.

Selesai doa, acara makan-makan. Imel nyamperin indira.

"Gimana, udah ada cowok baru belum" sindir imel sambil senyum sinis.

Indira diem. "Mba, hari ini hari doa mas renal. Tolong jangan bahas itu" jawab indira tegas.

Imel ketawa. "Lah kok marah. Aku kan cuma nanya. Adik iparku kan cantik, pasti banyak yang ngantri".

Reno yang denger langsung negur kakaknya. "Kak, udah. Jangan gitu".

Imel pergi sambil cibir. Indira nahan air mata.

"Ndira, kamu gak apa-apa kan" tanya lia.

"Gak apa-apa kak, aku kuat" jawab indira.

Padahal hatinya remuk. Omongan imel itu keinget terus.

Jam 3 sore indira pamit pulang. Dia naik ojek online.

Sesampai di rumah hapenya bunyi. Chat dari aditia. "Gimana acaranya ind, lancar".

Indira balas. "Alhamdulillah lancar dit".

"Terus kamu gimana, udah baikan belum hatinya" tanya aditia.

Indira bingung mau jawab apa. Dia ketik terus hapus. Ketik lagi hapus lagi.

Akhirnya dia balas. "Aku masih berantakan dit. Aku takut kalau kita lanjut, aku malah nyakitin kamu".

Chat aditia gak dibalas 10 menit. Indira panik.

Terus masuk telpon dari aditia. Indira angkat.

"Hallo dit" ucap indira pelan.

"Ind, denger ya. Aku gak maksa kamu cepet move on. Aku cuma mau kamu tau, aku di sini" ucap aditia.

Indira nangis lagi di telpon. "Tapi aku capek dit. Capek jadi bahan omongan keluarga. Capek jadi janda yang disalahin terus".

"Aku tau ind. Makanya aku mau jagain kamu. Biar gak ada yang berani nyakitin kamu lagi" jawab aditia.

Indira diem. Dia ngerasa tenang denger suara aditia.

"Besok kita ketemu ya. Gak usah ngomongin status. Kita jalan aja, ngerasain angin" ucap aditia.

"Dit, aku takut" bisik indira.

"Takut kenapa sayang" tanya aditia lembut.

"Takut kalau aku jatuh cinta lagi terus kamu ninggalin aku juga" jawab indira jujur.

Aditia diem sebentar. "Ind, aku gak janji gak akan mati. Tapi aku janji selama aku hidup, aku gak akan ninggalin kamu".

Indira tutup telponnya. Dia peluk guling sambil nangis.

"Ya Allah, kenapa ujiannya berat banget. Baru 2 bulan mas renal pergi, aku udah disuruh milih lagi" batinnya.

Malam itu dia tidur jam 4 subuh. Mimpinya ketemu mas renal.

Mas renal senyum. "Indira, kamu berhak bahagia. Jangan nangis terus ya".

Indira bangun dengan bantal basah. Dia liat foto mas renal.

"Mas, kalau kamu setuju aku sama aditia, kasih aku tanda ya" pintahnya.

Hari itu dia masuk sekolah dengan mata panda. Intan langsung nyamperin.

"Ndira, kamu kenapa. Mata bengkak gitu" tanya intan.

"Gak apa-apa ntan, kurang tidur aja" jawab indira.

"Jujur deh, kamu sama aditia udah jadian belum" desak intan.

Indira kaget. "Kok kamu tau nama aditia".

"Ya dari kamu lah kemarin nyebut pas tidur. Aditia... aditia gitu" goda intan.

Indira tutup muka pake tangan. "Astagfirullah ntan, malu aku".

Intan ketawa. "Udah ngaku aja. Aku dukung kok. Yang penting kamu bahagia".

Indira senyum tipis. "Iya ntan, aku lagi coba bahagia lagi".

Jam istirahat aditia chat. "Jadi jadi kita jalan sore ini".

Indira balas. "Iya dit, tapi aku mau ke makam mas renal dulu ya".

"Gak apa-apa ind. Aku anter. Abis dari makam baru kita jalan" balas aditia.

Indira kaget. "Kamu mau ikut".

"Iya, aku mau kenalan sama almarhum. Biar dia tau, aku bakal jaga kamu baik-baik" jawab aditia.

Indira nangis baca chat itu. Cowok macam apa aditia ini, pikirnya.

Sore itu indira di anter aditia ke makam mas renal. Dia bawa bunga melati.

"Mas, ini aditia. Dia baik mas. Dia mau jagain aku" ucap indira sambil naruh bunga.

Aditia ikut duduk. "Mas renal, maaf kalau aku datang. Tapi saya janji, saya akan sayang indira kayak mas sayang dia".

Angin berhembus pelan. Daun jatuh satu-satu.

Indira ngerasa itu tanda dari mas renal. Dia genggam tangan aditia.

"Dit, aku mau coba sama kamu. Pelan-pelan ya" ucap indira sambil nangis.

Aditia peluk indira di depan makam. "Iya sayang, pelan-pelan. Aku sabar".

Dan di sanalah, di antara nisan dan bunga melati, indira milih buka hati lagi.

Bukan karena lupa sama mas renal. Tapi karena dia tau, orang yang pergi pasti mau orang yang ditinggal bahagia.

Ujian baru dimulai hari itu. Ujian buat indira nerima cinta baru.

Ujian buat aditia ngebuktiin dia pantas dijaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!