Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas dan Hukum Pertama
Mansion keluarga Reynard tidak seperti rumah dalam dongeng. Tempat itu adalah monster batu hitam yang angkuh, berdiri kokoh di atas perbukitan yang dikelilingi hutan kelapa sawit dan kabut malam.
Lampu-lampu kuning yang menyorot dinding marmernya justru memberi kesan intimidasi, persis seperti mata naga yang siap menelan siapa saja yang berani melangkah melewati gerbang besinya.
Ketika Bentley hitam yang kami tumpangi berhenti tepat di depan undakan teras, pintu mobil langsung dibukakan dari luar oleh seorang pria paruh baya bersetelan pelayan rapi.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda Axel," ucap pria itu dengan membungkuk khidmat. Matanya sempat melirik ke arahku seorang gadis kuliahan yang basah kuyup, gemetar, dan mengenakan jas mahal milik tuannya namun dengan profesionalisme yang menakutkan, wajahnya kembali datar tanpa berani tanya.
Axel turun lebih dulu, meninggalkan hawa dingin yang langsung menyergap tempat yang ditinggalkannya di jok kulit mobil. Mau tidak mau, dengan kaki yang masih terasa seperti jeli, aku melangkah keluar. Begitu sepatuku menyentuh lantai teras yang bersih mengilap, aku sadar bahwa duniaku yang lama dunia Aira Pramesti sang anak panti asuhan yang sibuk memikirkan uang kos dan tugas akhir telah mati di gudang tua pelabuhan tadi.
"Ikut aku," suara Axel terdengar dari depan. Langkah kakinya konstan dan tegas, menggema di aula utama mansion yang langit-langitnya setinggi bangunan tiga lantai.
Sebuah lampu gantung kristal raksasa menjuntai di tengah ruang, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang begitu bersih hingga aku bisa melihat bayangan wajahku yang pucat pasi di sana.
Aku berjalan mengekor di belakangnya, memeluk tubuhku sendiri yang masih menggigil. Jas hitam Axel yang tersampir di pundakku setidaknya memberikan sedikit kehangatan, walau aroma tembakau dan parfum maskulin yang menguar dari kain itu terus-menerus mengingatkanku pada bahaya yang sedang berjalan di depanku. Tato ular di leher belakangnya tampak berkilau samar di bawah lampu kristal, seolah merayap naik setiap kali otot bahunya bergerak.
Kami menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Di sepanjang koridor, berjejer lukisan-lukisan tua dengan bingkai emas berukir rumit. Sebagian besar adalah potret pria-pria berwajah dingin dengan setelan jas formal dari generasi sebelumnya. Keluarga Reynard Nama yang selama ini hanya kukenal sebagai nama konglomerat donatur kampus, kini menjelma menjadi jaring laba-laba yang mengurungku.
Axel berhenti di depan sebuah pintu kayu tebal berwarna gelap di ujung koridor Barat. Dia memutar knop pintu dan mendorongnya terbuka.
"Ini kamarmu selama enam bulan ke depan," katanya tanpa menoleh.
Aku mengintip dari balik bahunya. Kamar itu luar biasa luas, mungkin tiga kali lipat dari ukuran kamar kosku. Ada tempat tidur berukuran king-size dengan sprei beludru abu-abu, sebuah sofa panjang di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah hutan, dan sebuah pintu lain yang kuyakin adalah kamar mandi. Semuanya tampak mewah, namun entah mengapa terasa mati. Seperti kamar hotel yang tidak pernah ditinggali.
"Masuk," perintahnya.
Aku melangkah ragu-ragu. Begitu kakiku melewati ambang pintu, Axel berbalik dan menutup pintu di belakang kami dengan bunyi klik yang pelan namun terdengar jelas di telingaku. Keheningan langsung menyelimuti kamar kedap suara ini. Jantungku kembali berpacu cepat saat menyadari hanya ada kami berdua di ruangan asing ini.
Axel berjalan menuju meja kecil di sudut kamar, menuangkan cairan amber dari botol kaca ke dalam gelas sloki. Dia menyesapnya sedikit, membiarkan keheningan menyiksa psikologisku sebelum akhirnya dia menaruh gelas itu kembali dengan ketukan pelan.
"Di mansion ini, ada aturan yang harus kau patuhi jika kau masih ingin melihat matahari terbit besok pagi," Axel berbalik, menyandarkan pinggulnya di tepian meja marmer. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana bahan hitamnya, matanya yang hitam menatapku lurus, menguliti sisa-sisa keberanian yang kupunya.
Aku menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokanku yang kering. "Apa... apa aturannya?"
"Pertama. Jangan pernah mencoba kabur. Mansion ini dijaga oleh tiga puluh pria bersenjata dan sistem keamanan sensor gerak. Jika kau melangkah keluar dari batas gerbang tanpa izin dariku, mereka tidak akan bertanya dulu sebelum melepaskan tembakan." Axel mengatakannya dengan nada sedatar orang yang sedang membacakan perkiraan cuaca. "Paham?"
Aku mengangguk cepat. Aku tidak sebodoh itu untuk menantang peluru.
"Kedua. Kau boleh pergi ke kampus atau menjalani aktivitas kuliahmu, tapi dengan pengawasan. Sopirku yang akan mengantar dan menjemputmu. Di luar jam kuliah, tempatmu adalah di sini." Dia menjeda kalimatnya, matanya turun menatap pergelangan tanganku yang masih menyisakan bekas merah akibat genggamannya di gudang tadi. "Dan ketiga... aturan yang paling penting. Aturan yang sudah kukatakan di gudang tadi."
Axel mulai melangkah mendekat. Setiap ketukan sepatu kulitnya di atas lantai kayu kamar terasa seperti detak jam pasir yang menghitung sisa umurku. Aku refleks mundur selangkah, namun punggungku langsung membentur pintu yang tertutup rapat Aku terperangkap.
Dia berhenti tepat di depanku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan radiasi panas dari tubuhnya yang kontras dengan udara AC kamar yang dingin. Dia sedikit merunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. Aroma alkohol samar kini bercampur dengan wangi tembakaunya.
"Jangan pernah menyentuhku," bisiknya, suaranya rendah dan serak, mengirimkan gelombang getaran aneh yang membuat bulu kudukku meremang. "Jangan pernah berinisiatif untuk mendekatiku, memegang pakaianku, atau bahkan menyentuh ujung jariku secara sengaja. Kau adalah barang pajangan di sini, Aira. Dan barang pajangan tidak punya hak untuk menyentuh pemiliknya."
"T_tapi tadi... di gudang, Anda yang memegang tangan saya," cicitku, mencoba membela diri dengan sisa-sisa keberanian yang muncul entah dari mana.
Sebelah alis Axel terangkat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sinis senyuman predator yang menganggap mangsanya menggemaskan sebelum dikoyak. Dia mengulurkan tangan kanannya, jari-jari panjangnya yang bersih namun kokoh bergerak lambat, berhenti hanya beberapa milimeter dari pipiku. Dia tidak menyentuh kulitku, namun kehangatan tangannya terasa nyata.
"Aku pemiliknya, Aira. Aku bebas menyentuh barang milikku kapan saja aku mau. Tapi aturan itu berlaku mutlak untukmu. Jika tanganmu yang kotor itu berani menyentuhku tanpa perintah..." Axel menurunkan tangannya, lalu dengan gerakan kilat yang tidak sempat ku antisipasi, dia mencengkeram gagang pistol yang terselip di balik ikat pinggangnya, memperlihatkan moncong hitamnya yang mengilat. "aku sendiri yang akan memastikan tangan itu tidak akan bisa berfungsi lagi."
Ancaman itu begitu nyata hingga napasku tercekat di tenggorokan. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya lolos satu tetes, membasahi pipiku yang dingin. Aku memejamkan mata, mengangguk pasrah.
"Saya paham, Tuan Axel. Saya paham."
"Bagus," jawabnya dingin. Dia menjauhkan tubuhnya, mengembalikan senjatanya ke balik kemeja putihnya yang setengah basah.
"Di lemari sudah ada pakaian yang sesuai dengan ukuran tubuhmu. Mandi, ganti baju, dan tidur. Besok pagi jam tujuh, aku ingin melihatmu sudah rapi di meja makan."
Tanpa menunggu jawabanku, Axel berbalik, membuka pintu kamar, dan melangkah keluar begitu saja. Pintu tertutup kembali dengan dentuman pelan, meninggalkanku sendirian dalam kamar mewah yang terasa seperti penjara bawah tanah.
Tubuhku langsung merosot ke lantai marmer yang dingin begitu dia pergi. Aku menyembunyikan wajahku di antara kedua lutut, membiarkan tangisku pecah tanpa suara. Mengapa nasibku harus seperti ini? Mengapa dari sekian banyak gudang di pelabuhan, aku harus memilih gudang milik keluarga Reynard?
“Aira, kalau hidup kasih kau pilihan pahit, pilih yang bikin kau bisa hidup besok.”
Kata-kata Ibu pengasuh panti asuhan kembali terngiang di kepalaku. Ya, aku memilih untuk hidup. Enam bulan. Aku hanya perlu bertahan selama enam bulan menjadi tawanan pria kejam itu, mematuhi semua aturan gila yang dibuatnya, lalu aku akan bebas. Aku akan kembali ke duniaku yang tenang.
Dengan sisa tenaga yang ada, aku berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian besar di sisi ruangan. Ketika kubuka pintunya, mata ku terbelalak. Di dalam sana tidak ada pakaian bekas atau baju panti asuhan yang biasa kupakai. Lemari itu penuh dengan deretan gaun, kemeja sutra, dan pakaian wanita bermerek ternama yang bahkan tidak bisa kubeli dengan uang sisa beasiswaku selama satu tahun. Semuanya tertata rapi berdasarkan warna, dari putih bersih hingga hitam pekat.
"Bagaimana dia bisa tahu ukuran tubuhku? Dan mengapa semua pakaian ini sudah disiapkan seolah-olah tempat ini memang menungguku?"
Pertanyaan itu berputar di kepalaku, menambah rasa pening yang luar biasa. Aku memilih sepasang piyama satin abu-abu yang paling sederhana, lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan sisa trauma malam ini. Di bawah guyuran air hangat, aku meraba pergelangan tanganku yang masih terasa ngilu. Kulitku yang bersentuhan dengan tangan Axel tadi terasa seperti melepuh oleh es. Dingin, namun membekas kuat.
Setengah jam kemudian, aku sudah berbaring di atas ranjang yang terlalu empuk untuk orang sepertiku. Mataku menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara suara hujan gerimis di luar sana perlahan-lahan memudar, digantikan oleh kesunyian malam mansion yang mencekam. Di atas nakas di samping tempat tidur, ponsel baru pemberian Axel tergeletak diam. Layarnya yang hitam memantulkan bayangan diriku.
Aku meraba saku piyamaku, memastikan ponsel itu ada di sana sebelum aku memejamkan mata.
Sementara itu, di ujung koridor lain, di dalam ruang kerja yang hanya diterangi oleh lampu meja yang temaram, Axel Reynard berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke halaman depan mansion. Di tangannya ada sebuah sloki wiski yang sudah kosong. Matanya menatap tajam ke arah kegelapan malam, namun pikirannya berada di tempat lain.
Pintu ruang kerja diketuk tiga kali sebelum akhirnya sesosok pria paruh baya pelayan yang menyambut mereka tadi melangkah masuk dengan kepala tertunduk.
"Tuan Muda," panggil pria bernama Bara itu dengan suara rendah. "Semua area pelabuhan sudah dibersihkan. Kamera dan ponsel milik gadis itu telah dihancurkan total tanpa menyisakan salinan data apa pun."
Axel tidak berbalik. Dia hanya mengangguk kecil, jakunnya bergerak naik turun saat dia menelan sisa rasa pahit alkohol di lidahnya.
"Bagaimana dengan latar belakangnya?"
Bara melangkah maju satu langkah, menyerahkan sebuah map dokumen berwarna cokelat ke atas meja kerja Axel.
"Namanya Aira Pramesti. Usia dua puluh satu tahun, mahasiswa tingkat akhir jurusan Komunikasi. Dia tidak memiliki catatan kriminal atau hubungan dengan faksi mafia mana pun di kota ini. Dia... dia adalah anak yatim piatu yang dibesarkan di Panti Asuhan Kasih Bunda sejak usia lima tahun."
Mendengar kata Panti Asuhan Kasih Bunda, gerakan Axel mendadak terkunci. Pria itu perlahan membalikkan tubuhnya, matanya menyipit tajam, memancarkan aura berbahaya yang membuat Bara langsung menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Panti Asuhan Kasih Bunda?" Axel mengulang nama itu, suaranya kini terdengar lebih dingin dari es di kutub.
"Benar, Tuan Muda. Menurut catatan resmi panti, dia ditinggalkan di sana oleh seseorang tanpa identitas pada belasan tahun lalu. Orang tuanya dinyatakan meninggal dalam kecelakaan, namun..." Bara menjeda kalimatnya, ragu-ragu untuk melanjutkan.
"Namun apa, Bara? Jangan membuatku membuang waktu," desis Axel, melangkah mendekati meja kerja.
Bara menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Namun setelah kami menelusuri arsip lama yang disembunyikan oleh pengelola panti yang lama... ada indikasi kuat bahwa Aira Pramesti bukanlah anak yatim piatu biasa. Nama asli ibunya yang tertera di dokumen rahasia sebelum diganti adalah... Elena Pramesti. Putri dari pria yang menghancurkan garis keturunan utama keluarga Reynard dua puluh tahun lalu."
Braakk!
Axel menghantam meja marmernya dengan kepalan tangan hingga gelas sloki di atasnya bergetar hebat. Wajahnya yang tadinya tenang kini mengeras, otot-otot di rahangnya mengetat, dan tato ular di lehernya tampak menegang seiring dengan amarah yang mendadak meluap di dadanya.
"Anak dari musuh besar ayahku..." Axel berbisik, namun suaranya sarat akan dendam yang membara. Mata hitamnya menatap map cokelat itu seolah ingin membakarnya. "Jadi, tikus kecil yang menyusup ke gudangku malam ini ternyata adalah anak dari orang yang paling ingin kuhancurkan di dunia ini? dan ternyata kamar yang sudah lama ku Siapkan sudah benar-benar akan di isi oleh orang yang tepat."
"Apa perintah Anda selanjutnya, Tuan Muda? Apakah kita harus... melenyapkannya sekarang sebelum dia mengetahui sesuatu?" tanya Bara dengan nada siaga.
Axel terdiam selama beberapa saat. Amarah di matanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan sebuah senyuman dingin yang penuh dengan rencana busuk. Dia mengingat kembali wajah ketakutan Aira di gudang tadi, air matanya yang jatuh, dan bagaimana tubuhnya gemetar saat menyentuh telapak tangannya. Gadis itu benar-benar tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya. Dia mengira dirinya hanyalah anak panti asuhan miskin yang malang.
"Tidak," jawab Axel pelan, suaranya kembali datar namun menakutkan. Dia mengambil map cokelat itu, lalu melemparkannya ke dalam perapian yang menyala di sudut ruangan, membiarkan api melahap dokumen identitas Aira hingga menjadi abu. "Mati terlalu cepat untuk anak dari seorang pengkhianat. Biarkan dia tetap di sini. Biarkan dia mengira bahwa dia hanya berutang nyawa padaku selama enam bulan."
Axel berjalan kembali ke arah jendela, menatap ke arah koridor Barat tempat kamar Aira berada.
"Aku akan membiarkannya hidup dalam sangkar emas ini, Bara. Aku akan membuatnya bergantung padaku, membuatnya merasakan apa artinya ketakutan setiap hari, dan ketika saatnya tepat... ketika dia mengira dia sudah aman..." Axel menjeda kalimatnya, matanya berkilat kejam di tengah kegelapan. "aku sendiri yang akan membongkar kebenaran itu di depan wajahnya dan menghancurkan seluruh dunianya sampai tidak bersisa."
kalo berkenan mmpir juga thor😉