Series Kedua
Sebelum membaca novel ini hendaknya terlebih dulu baca novel Terjerat Rasa.
Sebuah kisah cinta yang kembali terulang dalam ruang waktu dan jiwa yang berbeda, bertemu kembali merangkai kisah cinta dan mengarungi peliknya kehidupan.
Mutiara Mikha Aditama adalah gadis kalem nan cantik yang tangguh, ia jarang tersenyum karena badai kehidupan itu terlalu kuat mengepungnya.
Akankah ada seseorang yang mampu membebaskan Mutiara dari kepungan badai kehidupan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Awal kebersamaan
Pagi itu Bastian untuk pertama kalinya mengantar Mutiara berangkat ke tokonya.
Pukul 05 40 wib. Jalanan sudah terlihat ramai, namun mereka masih dapat melewati kemacetan.
Diantar seorang supir, Mutiara dan Bastian duduk di bangku belakang. Meskipun berdampingan, namun masih tetap berjarak.
*
"Tampaknya kamu begitu takut dengan orang asing, apakah kamu pernah mengalami hal yang menakutkan?" tanya dan tebak Mutiara dengan suara lembutnya.
Mendengar pernyataan Mutiara, Bastian terdiam sejenak.
"Kelas 3 SD, aku pernah mengalami korban penculikan salah sasaran. Seseorang memberikan lolipop kepadaku. Aku sangat bahagia lalu langsung mengikutinya. Entah apa yang terjadi, sempat tidak sadarkan diri dan ternyata aku sudah berada di sebuah lokasi gudang yang gelap, setelah terbangun, aku benar-benar ketakutan. Untungnya saat itu, orang tuaku sudah membawa segerombolan polisi untuk menemukanku. Kerja cepat pengawal sungguh berjasa, dari sejak itu aku benar-benar privasi dengan orang asing!" tatapan Bastian menatap jauh ke masa lalu.
"Ouh, begitu!"
*
Tanpa terasa, mobil mewah berwarna putih itu tiba tepat di depan toko Mutiara.
"Pukul 4 sore aku akan menjemputmu!" ucap Bastian.
"Baiklah, hati-hati yah!" pesan manis Mutiara melambaikan tangannya pada mobil Bastian. Pria itu hanya membalas dengan senyuman tipisnya.
Pagi itu, di perjalanan kerja Bastian, ia masih memikirkan tentang tindakan Mutiara kepadanya. Bastian begitu terkesan kepada pertolongan sigap dan totalitas gadis itu, hal itu membuat sosok Bastian tidak perlu lagi merasa khawatir bersama Mutiara. Ia juga terlihat tersenyum-senyum geli sendiri, mengingat adegan kentutnya yang sangat memalukan dihadapan seorang wanita, benar-benar merusak reputasi Bastian sebagai pemuda T.O.P
"Si Bos kenapa yah, tiba-tiba senyum-senyum sendiri?" batin sang supir bertanya-tanya, diam-diam ia memperhatikan majikan dari kaca spion tengah.
"Apa ada yang Lucu Tuan!"
"Fokus menyetir!" hentak jutek Bastian kembali berwajah cool menegangkan.
"Baik Tuan!"
*
Seharian penuh, Mutiara dan Bastian sama-sama menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing dengan profesional.
"kenapa Oma tidak bisa dihubungi, padahal aku kangen banget," batin Mutiara tiba-tiba teringat dengan pesan sang nenek.
"Jika kamu sudah di toko, jangan pernah singgah ke rumah ini, itu hanya membuat kakekmu sedih, pulanglah disaat kamu benar-benar memiliki waktu untuk kami!"
"Aku harus menyelesaikan semua tugas ini dengan cepat agar bisa tidur kembali bersama Oma!" ucap kangen Mutiara.
*
Pukul 16.05, sore hari. Sebuah mobil mewah telah terparkir tepat di depan super cake.
Mutiara masuk dengan kondisi tergesa-gesa, ia sudah mengenal jika pemilik plat itu adalah Bastian.
"Maaf yah, aku telat!"
"Hem!' ucap dingin Bastian.
"Kamu tidak menggunakan jasa supir?"
"Aku pikir, aku harus berlatih membiasakan diri untuk menyetir di kota ini!"
"Baiklah!"
Mobil itu melaju dengan santai.
*
Sore itu, Bastian dan Mutiara mulai menjalankan perjalanan awal bisnis keduanya, masih tetap dalam dampingan Jin Hui. Sekelompok mereka memperhatikan gedung yang akan menjadi pusat pembuatan dan penjualan super cake yang lebih besar. Bastian dan Mutiara juga berfoto bersama, lanjut melakukan pertemuan dengan beberapa staf yang terlibat dalam projects itu. Bastian begitu detail menjelaskan apa-apa saja langkah yang harus mereka kerjakan.
*
Pekerjaan selesai.
"Apa saya perlu mengantar Tuan?" tanya Jin Hui.
"Tidak perlu, aku bisa bersama Mutiara!"
"Baiklah Tuan, hati-hati, saya akan tetap mengutus pengawal untuk melindungi kalian!"
"Terima kasih!"
*
Bastian dan Mutiara Kembali ke dalam mobil.
"Kamu lelah?" tanya Bastian menatap Mutiara.
"Lumayan!"
"Bagaimana jika kita makan malam dulu!" pinta Bastian.
"Yah, aku punya tempat yang bagus," jawab riang Mutiara.
"Boleh!"
*
Mutiara membawa Bastian ke tempat lokasi kuliner kaki lima yang ramai, tempat serba menjual segala macam makanan khas tradisional Indonesia.
"Wah, ramai?" komentar awal Bastian menatap suasana yang sibuk itu.
"Yah, mereka berjualan sampai pagi!" jawab Mutiara mulai membawa Bastian mencari lokasi tempat duduk.
"Hem, kamu sering makan disini?"
"Beberapa kali, bersama temanku, selain enak harganya terjangkau?"
"Teman pria?" tanya Bastian.
"Bukan, teman wanita!"
"Hem!"
"Ouh Iyah, apa kamu keberatan jika aku memilih tempat lokasi makan di tempat seperti ini?" tanya Mutiara.
"Ouh, tidak masalah, mungkin ini alasan Papa dan Mama mengapa aku harus di tempatkan di Jakarta terlebih dulu yaitu di kota yang sangat padat penduduknya, agar aku bisa melawan rasa trauma masa kecilku yang terlalu menjaga privasi terhadap orang-orang asing."
"Iyah juga sih!"
Sambil menunggu pesanan mereka, keduanya terlibat ngobrol asyik di lokasi tempat duduk yang saling berhadapan memperlihatkan jelas wajah keduanya. Sesekali Mutiara mengasah kemampuan belajar bahasa Jerman nya bersama Bastian, senyum dan tawa mulai menghiasi wajah mereka.
Tidak lama kemudian.
Pesanan keduanya telah terhidang yaitu nasi goreng, sate dan sajian seafood bakar yang segar menggugah selera.
"Wah, aku takut, aku bisa kentut lagi di hadapan kamu!" celetuk Bastian spontan membuat Mutiara tertawa geli.
"Ahahahaha!" sampai menutup mulutnya.
"Oh Iyah, benar-benar sudah enakan kan?" tanya Mutiara.
"Hem, terima kasih yah!" senyum Bastian malu-malu.
"Iyah!"
*
Terlihat Bastian begitu bersemangat menyantap sajian menu makan malam mereka hingga keringat di dahinya mulai bercucuran, dengan sigap Mutiara mengambil tisu lalu mengusap keringat Bastian, pria itu reflek menatap wajah Mutiara hingga membuat sang gadis menjadi canggung.
"Maaf!"
Bastian hanya tersenyum manis, lalu menerima tisu dari tangan Mutiara dan melapnya sendiri.
Setelah makan, keduanya belum langsung pulang, mereka berjalan lambat sambil mengitari malam romantis di kota besar.
"Bagaimana makanannya?" tanya penasaran Mutiara.
"Good?"
"Aku pikir, kita perlu berolahraga jalan sejenak, karena sudah makan terlalu banyak!" pinta Bastian.
"Hahahaha, benar!" sambut Mutiara.
Hal yang membuat Bastian betah menatap wajah Mutiara adalah tidak pernah bosan memandang wajah manis wanita itu.
"Selain kuliner, Indonesia juga terkenal dengan wisatanya," ucap Mutiara.
"Kapan-kapan kau boleh menjadi guide nya yah!" pinta Bastian.
"Aku juga belum pernah mengelilingi wisata di Indonesia ini!" jawab jujur Mutiara.
"Ouh Iyah, alasannya?"
"Selain tidak punya waktu, keuanganku juga terbatas!" jawab jujur Mutiara.
"Kasihan banget!" ejek senyum Bastian.
Mutiara hanya tersenyum.
"Setidaknya kau bisa menjadi guide pribadiku, karena itu juga merupakan salah satu resolusi yang harus aku jalankan selama di Indonesia!"
"Baiklah!" ucap bersemangat Mutiara.
Terlihat Bastian mengabadikan momen kebersamaan mereka di ponselnya.
Mutiara hanya memperhatikan tingkah Bastian.
"Aku jarang sekali berada di tempat umum bebas seperti ini, sangat khawatir dengan jebakan-jebakan yang tanpa kita sadari!"
"Insya Allah, di Indonesia aman!" ucap Mutiara.
"Iyah sih!"
Bastian mengambil video wajah Mutiara.
"Jangan rekam aku, aku jelek!" ucap gadis itu tertawa menghindar.
"kamu itu memang jelek, siapa juga yang bilang kamu cantik?" ucap senyum Bastian.
Mutiara tertawa-tawa menghindari sorotan rekaman Bastian.
*
"Sebelum pulang, aku juga mau berfoto!" pinta Mutiara menyodorkan ponselnya.
"Pakai ponsel ku saja!" jawab Bastian.
Mutiara mulai bergaya dengan gaya kocak dan wajah jeleknya membuat Bastian geleng-geleng tertawa kecil lalu mengambil gambar terakhir Mutiara dengan gaya senyum manisnya yang menjadi favorit pemuda itu. Keduanya juga mengambil foto bersama, lalu kembali pulang
ikut merasa senang dan gembira dengan akhir cerita yang berakhir bahagia, Farel pun akhirnya mnyadari kesalahannya serta mau meminta maaf.
Setiap kehidupan ada hal2 yang harus kita lalui baik ataupun buruk. terkadang kita menanyakan mengapa hal2 buruk harus menimpa diri kita..namun yakinlah setiap kejadian yg kita lalui adalah garis hidup yg harus kita lalui yang mngkin saja memberikan pelangi buat hidup kita kedepannya.
Begitu juga dengan kehidupan Mutiara..yg sedari kecil harus menderita, memiliki ibu yg gila dan ayah yg sudah tiada. Namun berkat doa, jerih payah, usaha, kepintaran dan hati yang tulus menerima semua kehidupannya dengan ikhlas dan sabar semuanya akhirnya berakhir bahagia dan indah untuknya
Tentunya banyak hal yg dapat kita petik dari novel ini seperti ttg kasih sayang seorang nenek dan Bunda Adinda kpd cucu dan anaknya. Serta ketulusan hati mutiara dalam mnjalani kehidupannya
Terima kasih Kak Mai atas novelnya..ditunggu utk novel berikutnya.
Tetap semangat, sehat selalu dan sukses utk karya2nya...🙏
ini adiknya Mutiara akan seumuran sama anaknya dong 🤭🤭🤭
semoga bs mngikuti jejak Bastian dan Mutiara 🤭🤭
jgn kalah lahh..coba dekatin Tiffani
itulah buah dari kedengkian dan keserakahanmu..
dan alhamdulillah semua happy ending dengan pasangan'y masing", trimakasih banyak buat ka'Sarah yang telah membuat karya luar biasa ini banyak hikma yang di petik dari kisah MH banyak pelajaran hidup terutama PERJUANGAN, SABAR juga Keikhlasan... jangan menyerah dengan ke ada'n di saat qita berasa dalam titik terendah selalu berserah diri dan berpasrah kepada Allah...
trimakasih banyak ka'sarah di tunggu lagi karya" hebat mu tetep semangat dan sehat selalu ya🤗🤗🤗🥰🥰🥰🥰